NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Sandiwara Hati

Sinar matahari pagi menembus celah tirai ruang kerja Direktur Operasional. Setelah beberapa hari beristirahat total pasca-insiden di koridor, Alya sudah kembali beraktivitas di kantor pusat Nusantara Industri Utama. Wajahnya tampak segar, anggun, dan memancarkan aura ketenangan yang makin matang.

Namun, ada satu hal yang berubah drastis di lantai dua gedung kantor tersebut: sikap Rendy.

Sejak hari di mana Alya pingsan histeris karena melihat ujung besi di tangannya, ada sesuatu yang bergeser secara aneh di dalam dada Rendy. Rasa bersalah yang tak biasa, bercampur dengan bayangan wajah pucat Alya yang gemetaran ketakutan, terus-menerus mengusik pikiran pria itu. Perempuan gemuk yang dulu selalu ia anggap remeh, yang dulu hanya ia jadikan sapi perah demi harta dan posisinya, kini mendadak memegang kendali penuh atas emosinya.

Rendy merasa bersalah. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah menjadi pemicu trauma seseram itu bagi Alya. Hatinya terus terusik—sebuah perasaan asing yang merayap pelan, mengetuk kesadarannya bahwa Alya bukan lagi sekadar objek yang bisa ia mainkan sesuka hati.

Tok, tok, tok.

Pintu ruang kerja Alya terketuk pelan. Suara ketukannya tidak lagi kasar atau terburu-buru seperti biasa, melainkan sangat halus dan sopan.

"Masuk," ujar Alya tenang tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

Pintu terbuka. Rendy melangkah masuk seraya membawa sebuah nampan kayu kecil. Di atasnya tertutup cangkir keramik berisi teh krisan hangat dan sepiring kue beras kukus kesukaan Alya—makanan ringan rendah kalori yang biasa dipesan Alya dari restoran langganannya.

Rendy mengenakan kemeja putih bersih tanpa jas, lengannya tergulung rapi hingga siku. Sikapnya tampak jauh lebih rendah hati, matanya tidak lagi memancarkan keangkuhan atau keserakahan yang liar, melainkan kehangatan yang sangat lembut.

"Alya..." panggil Rendy pelan, melangkah mendekati meja kerja. Ia meletakkan nampan itu dengan sangat hati-hati di sudut meja agar tidak mengganggu berkas-berkas Alya. "Ini teh krisan hangat. Aku minta bagian pantry buatkan khusus, tanpa gula, persis seperti yang kamu suka. Ada kue beras kukus juga buat ganjal perut sebelum makan siang."

Alya menghentikan ketikan jemarinya. Ia mendongak, menatap Rendy dengan mata jernihnya. Ada sedikit kilatan heran di sudut mata Alya, melihat perubahan drastis pada pria di hadapannya ini.

"Terima kasih, Rendy," jawab Alya datar, namun tetap santun. "Tapi kamu tidak perlu repot-repot melakukan ini. Kamu kan Manajer Operasional, bukan staf pantry."

Rendy mengukir senyuman tipis—senyuman yang tampak sangat tulus, tanpa ada polesan kebohongan yang biasa ia tampilkan. Ia menarik kursi di depan meja Alya, lalu duduk dengan posisi tubuh yang sangat sopan.

"Aku tidak merasa repot sama sekali, Al," tutur Rendy dengan suara berat yang pelan dan penuh kelembutan. "Sejak kejadian kemarin... sejak aku lihat kamu pingsan dan ketakutan setengah mati di depan mataku... aku tidak bisa tidur nyenyak, Al. Aku terus memikirkanmu."

Alya menyandarkan tubuhnya di kursi kerja, bersedekap dada seraya mengamati raut wajah Rendy. "Memikirkanku? Kenapa?"

Rendy menundukkan kepalanya sejenak, menghela napas panjang yang sarat akan rasa penyesalan. "Aku sadar, selama ini aku terlalu kasar sama kamu. Aku terlalu memaksakan kehendakku, selalu menuntut, dan tidak pernah benar-benar mendengarkan perasaanmu. Dulu aku pikir, dengan bersikap tegas dan dominan, aku bisa membimbingmu. Tapi ternyata... aku cuma menyakitimu."

Rendy mendongak kembali, menatap langsung ke dalam mata Alya. Binar matanya tampak begitu jujur, seolah seluruh kesombongan yang melingkupinya selama bertahun-tahun telah luruh berkat rasa takut kehilangan Alya.

"Alya, perempuan gemuk yang dulu selalu berdiri di sampingku... ternyata sungguh-sungguh mengusik hatiku," aku Rendy jujur, suaranya agak bergetar. "Aku tidak tahu trauma apa yang kamu simpan, Al. Tapi melihatmu begitu ketakutan kemarin... hatiku rasanya ikut diiris. Aku mau berubah. Aku sungguh-sungguh mau berubah demi kamu."

Alya membeku sejenak di tempat duduknya.

Di kehidupan pertamanya, Alya akan menangis sejadi-jadinya dan langsung luluh jika mendengar kata-kata manis ini keluar dari mulut Rendy. Dulu, inilah impian terbesar Alya: melihat Rendy berubah menjadi pria yang penuh kasih sayang, perhatian, dan tulus mencintainya tanpa memandang bentuk tubuhnya.

Namun kini, di kehidupan kedua ini, pendengaran Alya sudah kebal.

Meski begitu, Alya adalah seorang dalang yang cerdas. Ia tahu persis bagaimana memanfaatkan momentum ini. Jika Rendy mulai melunak dan percaya bahwa Alya mulai merasa nyaman berada di sisinya, maka seluruh pertahanan pria itu akan runtuh sepenuhnya menjelang hari pembalasan.

Alya menurunkan tangannya, jemarinya memegang cangkir teh hangat yang dibawakan Rendy. Ia menyesapnya sedikit, lalu menatap Rendy dengan raut wajah yang melunak secara halus.

"Kamu benar-benar berniat berubah, Rendy?" tanya Alya lembut, menyembunyikan kebohongan di balik binar matanya.

Mata Rendy seketika berbinar terang oleh harapan. "Demi Allah, Al! Aku tulus! Mulai hari ini, aku tidak akan pernah meninggikan suaraku lagi di depanmu. Aku tidak akan memaksamu. Aku cuma mau ada di sisimu, membantumu, dan memastikan kamu merasa aman dan nyaman kalau ada di dekatku."

Rendy berdiri perlahan, lalu memitnah posisi berkas di meja Alya yang agak berantakan, menatanya dengan sangat rapi dan cekatan. "Kamu fokus saja pada kesehatan dan pekerjaanmu. Semua urusan lapangan yang berat biar aku yang tangani. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu tinggal panggil aku. Apapun itu, Al."

Alya menyunggingkan senyum tipis yang tampak sangat hangat di mata Rendy. "Terima kasih banyak, Rendy. Sikapmu hari ini... jujur membuatku merasa jauh lebih tenang."

Kata 'terima kasih' dan senyuman halus dari Alya terasa seperti obat penawar yang sangat manis bagi dada Rendy. Pria itu merasa kehangatan yang sudah lama hilang di antara mereka kini mulai kembali merayap masuk. Rasa bersalah di dadanya sedikit terangkat, digantikan oleh tekad membara untuk terus menunjukkan ketulusannya pada Alya.

"Sama-sama, Al," ujar Rendy penuh semangat. "Ya sudah, kamu nikmati tehnya ya. Aku kembali ke ruanganku dulu untuk menyelesaikan laporan anggaran."

"Iya, selesaikan tugasmu baik-baik ya," sahut Alya manis.

Rendy mengangguk mantap, lalu melangkah keluar dari ruangan Alya dengan senyuman lebar di bibirnya. Langkah kakinya terasa begitu ringan. Pria itu meyakini bahwa perlahan tapi pasti, rasa nyaman Alya kepadanya sudah mulai tumbuh kembali.

Begitu pintu ruangan tertutup rapat dan langkah kaki Rendy menjauh, raut kehangatan di wajah Alya menghilang seketika. Alya meletakkan kembali cangkir teh krisan itu ke atas nampan.

Ia bersandarkan di kursinya seraya menyunggingkan senyum sinis yang amat dingin.

"Ketulusan?" bisik Alya pada dirinya sendiri di dalam ruangan yang hening. "Kenapa baru sekarang kamu merasa terusik, Rendy? Kenapa baru setelah kamu menusukku di kehidupan pertama, kamu pura-pura punya hati di kehidupan ini?"

Alya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketulusan semu yang ditunjukkan Rendy tidak sedikit pun menggoyahkan dendamnya. Justru sebaliknya, hal itu makin mempermudah jalan Alya untuk menjatuhkan Rendy ke dalam jurang kehancuran yang paling dalam.

Tiba-tiba, telepon genggam Alya di atas meja bergetar. Nama Kai tertera di layarnya.

Alya mengangkat telepon itu, dan seketika nada suaranya berubah menjadi sangat tulus, hangat, dan dipenuhi rasa bahagia yang nyata.

"Halo, Kai?" panggil Alya lembut.

"Selamat siang, wanitaku," suara berat Kai terdengar mengalun merdu melalui sambungan telepon. "Bagaimana perasaanmu hari ini? Pekerjaan di kantor tidak terlalu berat, kan?"

"Aku baik-baik saja, Kai. Sangat baik," jawab Alya seraya terkekeh pelan. "Baru saja ada pertunjukan 'ketulusan' yang sangat menarik di ruang kerjaku."

Di ujung telepon, Kai terdengar menghela napas pelan, tahu betul siapa yang dimaksud oleh Alya. "Si bajingan Rendy itu mengganggumu lagi?"

"Tidak mengganggu dalam artian buruk," potong Alya santai. "Dia justru berubah 180 derajat. Dia membawakanku teh hangat, bicara dengan sangat lembut, dan bilang kalau dia sangat menyesal telah membuatku takut. Dia bilang... aku sungguh-sungguh mengusik hatinya sekarang."

Hening sejenak di seberang telepon. Udara dingin kecemburuan dan ketegasan khas Kai terasa menembus sambungan seluler.

"Dia cuma sedang panik karena merasa posisinya terancam, Alya," ujar Kai dingin dan tegas. "Pria seperti Rendy tidak tahu artinya ketulusan. Yang dia cintai cuma dirinya sendiri dan uang keluargamu."

Alya tersenyum hangat mendengarkan keprotektifan Kai. "Aku tahu, Kai. Aku sangat tahu. Kamu tidak perlu cemas, hatiku tidak akan pernah terkecoh oleh sandiwara murahannya."

"Bagus," sahut Kai, suaranya mendadak melunak penuh kasih sayang. "Karena sore ini saya sudah memesan meja untuk kita makan malam bersama di restoran Atico. Saya yang akan menjemputmu langsung ke kantor pukul lima."

"Pukul lima? Baik, aku tunggu ya, Kai," jawab Alya penuh rasa kehangatan.

Sore hari pukul 16.45 WIB.

Sesuai dengan janjinya, Rendy benar-benar membuktikan perubahan sikapnya. Selama seharian penuh, ia tidak sama sekali merepotkan Alya. Ia menyelesaikan seluruh berkas laporan operasional dengan sangat rapi, menolak tawaran Siska untuk minum kopi bersama, dan fokus penuh untuk memberikan kesan terbaik bagi Alya.

Siska yang memperhatikan perubahan sikap Rendy seharian itu mulai merasa terabaikan dan kesal.

Di koridor depan ruang kerja Alya, Siska mengadang langkah Rendy yang sedang membawa sebuah kotak berisi kue camilan sore untuk Alya.

"Rend!" panggil Siska dengan suara berbisik yang ketus. "Kamu ini kenapa sih seharian ini? Kok malah rajin banget ngelayanin Alya kayak pelayan?! Biasanya juga kamu yang nyuruh-nyuruh dia!"

Rendy menepis tangan Siska yang memegangi armatur kemejanya secara halus namun tegas. "Jaga sikapmu, Siska! Ini di lingkungan kantor!"

Siska membelalak kaget. "Rend! Kamu bentak aku?! Kenapa sih?! Gara-gara Alya pingsan kemarin kamu jadi aneh begini?!"

Rendy menatap Siska dengan raut wajah dingin yang tidak pernah Siska lihat sebelumnya. Rasa bersalah pada Alya dan benih-benih perasaan aneh yang mengusik dadanya membuat Rendy makin ilfiel melihat sifat Siska yang kekanak-kanakan dan selalu menuntut.

"Siska, dengar ya," kata Rendy dengan suara rendah namun tajam. "Alya itu sedang trauma dan sakit! Selama ini kita terlalu berlebihan sama dia! Aku cuma mau memperbaiki hubunganku sama calon istriku, apa itu salah?!"

"Calon istri?!" seru Siska hampir meledak, menahan amarah di dada. "Terus aku ini apa, Rend?! Anak di dalam kandunganku ini apa?!"

"Ssssh! Diam!" bisik Rendy panik seraya menatap sekeliling koridor yang sepi. "Jangan keras-keras! Aku tidak lupa sama tanggung jawabku ke kamu dan anak itu! Tapi untuk sekarang, biarkan aku fokus membuat Alya nyaman berada di sisiku lagi! Kalau Alya makin percaya sama aku, posisi kita di perusahaan ini akan makin aman!"

Siska menggigit bibirnya rapat-rapt, matanya memerah oleh rasa cemburu dan kekecewaan. Ia melihat ada perbedaan besar di mata Rendy—Rendy tidak lagi sekadar berpura-pura, tapi pria itu sungguh-sungguh mulai terpesona dan peduli pada Alya.

"Kamu berubah, Rend..." bisik Siska gemetaran. "Kamu beneran jatuh cinta sama perempuan gemuk itu, kan?!"

"Aku cuma melakukan apa yang harus aku lakukan!" tegas Rendy keras kepala, lalu berjalan melangkahi Siska menuju pintu ruang kerja Alya.

Rendy mengetuk pintu, lalu melangkah masuk dengan senyuman hangat yang mengembang kembali di wajahnya.

"Alya," panggil Rendy lembut. "Ini ada camilan sore dari—"

Kalimat Rendy terhenti seketika.

Di dalam ruang kerja itu, Alya tidak sendiri.

Kai Aditya sudah berdiri anggun di samping meja kerja Alya. Kai mengenakan setelan jas kustom warna biru navy yang sangat elegan, berdiri tegap dengan satu tangan berada di dalam saku celana. Kai sedang membantu Alya memasangkan syal sutra di leher wanita itu dengan gerakan yang amat sangat lembut dan penuh perhatian.

Alya mendongak menatap Kai seraya tersenyum begitu manis dan bahagia—sebuah senyuman tulus yang tidak pernah sekalipun Alya berikan kepada Rendy seharian ini.

Melihat kehadiran Rendy yang memegang kotak kue, Kai membalikkan badan perlahan. Tatapan mata Kai yang tajam dan dingin mengunci sosok Rendy secara mutlak.

"Pak Rendy," panggil Kai dengan nada suara yang tenang namun sarat pamer kekuasaan. "Terima kasih atas perhatian Anda pada Bu Alya seharian ini. Tapi sore ini, tugas Anda sudah selesai."

Rendy menggenggam kotak kue di tangannya rapat-rapt hingga kardusnya agak melengkung. Rasa cemburu yang membakar dadanya mendadak menyeruak hebat. "Pak Kai... Saya cuma mau mengantarkan camilan sore untuk calon istri saya sebelum dia pulang."

Alya melangkah mendekati Kai, lalu tanpa ragu melingkarkan tangannya di lengan tegap Kai di depan mata Rendy dan Siska yang mengintip dari balik pintu yang terbuka sedikit.

"Terima kasih untuk kuenya, Rendy," tutur Alya santai dengan raut wajah penuh kenyamanan di samping Kai. "Tapi aku dan Pak Kai sudah ada janji makan malam di luar. Kamu bisa bagikan kuenya untuk Siska dan staf yang lain ya."

Kai menundukkan kepalanya sedikit menatap Alya, mengusap punggung tangan Alya yang melingkar di lengannya dengan sangat penuh kasih sayang.

"Ayo, Sayang. Mobil sudah siap di bawah," bisik Kai lembut di dekat telinga Alya, cukup keras untuk didengar oleh Rendy.

"Ayo," sahut Alya manis.

Mereka berdua berjalan melewati Rendy yang berdiri membeku di tengah ruangan. Udara ketegangan dan kekalahan telak menyelimuti tubuh Rendy. Pria itu menatap punggung Alya yang melangkah pergi bersama Kai dengan dada yang terasa sesak dan terbakar.

Usaha ketulusan yang ia tunjukkan seharian ini... perubahan sikap yang ia pamerkan dengan susah payah... ternyata sama sekali tidak bisa menandingi kenyamanan dan perlindungan nyata yang diberikan oleh Kai Aditya.

Rendy mengepalkan tangannya rapat-rapat, menyadari bahwa perempuan gemuk yang dulu ia sia-siakan kini telah menjadi sosok yang paling tak tergapai dan paling meremukkan hatinya.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!