NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng yang Hancur dan Konsekuensi

Ruang kerja CEO hari itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Dania masuk dengan senyum manis yang biasa ia pasang, membawa secangkir kopi hitam kesukaan Dean dan beberapa map berkas di dadanya. Sejak Valerie diputuskan oleh Dean sebulan lalu, Dania merasa benar-benar di atas angin. Dia yakin posisinya sebagai sekretaris sekaligus calon pendamping Dean sudah semakin dekat dan tak tergoyahkan.

"Kopi Anda, Pak Dean. Dan ini berkas log harian yang Kak Timoty minta tadi," ucap Dania lembut. Dia sengaja mencondongkan tubuhnya sedikit saat meletakkan cangkir di meja kerja, memamerkan keanggunannya.

Dean tidak menyentuh kopi itu. Matanya yang tajam bak elang menatap lurus ke arah laptop di mejanya, lalu perlahan beralih menatap Dania. Tatapan itu begitu sedingin es, hingga membuat bulu kuduk Dania mendadak merinding. Di sebelah kanan, Timoty duduk dengan dahi berkerut, merasakan ketegangan yang sangat tidak nyaman di dalam ruangan kedap suara ini.

"Dania," panggil Dean, suaranya datar namun sarat akan tekanan psikologis yang mencekam. "Duduk."

Dania tersenyum kikuk, lalu mengambil posisi duduk di sebelah kakaknya. "Ada apa ya, Pak Dean? Kenapa suasananya tegang sekali?"

Dean tidak menjawab dengan kata-kata. Dia memutar laptopnya menghadap ke arah Timoty dan Dania, lalu menekan tombol play. Di layar, berputar sebuah video analisis digital forensik dari firma independen di luar kota, lengkap dengan grafik log aktivitas komputer serta rekaman CCTV koridor.

Di dalam video analisis itu, terlihat jelas bahwa sistem log kantor telah ditanam skrip manipulasi tiga hari sebelum insiden sabotase draf final proyek Singapura terjadi. Kamera tersembunyi bahkan menangkap momen saat Dania memanfaatkan kedatangan Valerie sebulan lalu—saat Valerie yang masih berstatus mahasiswi sengaja datang membawakan makan siang untuk Dean di sela-sela jadwal kuliahnya. Saat Valerie pergi ke toilet dan meninggalkan tas kuliahnya di atas kursi meja depan, Dania terekam kamera menyelinap masuk, lalu memasukkan flashdisk tiruan berisi data palsu ke dalam tas Valerie untuk dijadikan bukti sabotase.

Tidak hanya itu, layar laptop kemudian menampilkan transkrip obrolan Dania dengan seorang peretas bayaran berinisial 'X' untuk memanipulasi log sistem kantor, di mana perintah eksekusinya dikirimkan dari alamat MAC ponsel pintarnya sendiri yang terhubung ke jaringan nirkabel apartemen Grand Orchid—alamat tempat tinggal Dania.

Wajah Dania seketika berubah pucat pasi, sekujur tubuhnya melemas hingga map berkas di tangannya terjatuh ke lantai. "P-Pak Dean... ini... ini tidak seperti yang Anda lihat. S-saya dijebak... ini fitnah..." Dania mulai menangis, mencoba memainkan peran sebagai korban lemah seperti biasanya.

"Cukup, Dania!" bentak Timoty, suaranya menggelegar menghantam dinding ruangan. Timoty menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya sekaligus murka yang teramat sangat pekat. Tubuhnya bergetar hebat saat membaca lembar demi lembar analisis forensik digital tersebut. "Kamu... kamu benar-benar melakukan ini?! Kamu memanipulasi anak kuliah yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis kita hanya untuk memfitnahnya?! Kamu menghancurkan proyek miliaran rupiah perusahaan ini?!"

"Kak, tolong aku... aku melakukan ini karena aku mencintai Pak Dean! Anak kuliah ingusan yang berisik seperti Valerie tidak pantas bersanding dengan CEO seperti Pak Dean! Dia hanya akan merepotkan!" jerit Dania histeris, topeng lemah lembut dan lugunya runtuh total di depan mata mereka.

Dean berdiri dari kursi kebesarannya. Dia berjalan perlahan mendekati Dania, mengabaikan air mata wanita itu yang kini terlihat sangat menjijikkan di matanya. Rasa bersalah yang teramat sangat besar kepada Valerie membuat dada Dean bergemuruh hebat. Logika yang selama ini dia agungkan dalam hidup justru telah membuatnya menjadi pria bodoh yang menuduh gadis polos tanpa mau mendengar kejujurannya.

"Karena kamu adalah adik dari sahabatku, Timoty," ucap Dean dengan suara rendah yang mencekam, memberikan penekanan yang mutlak. "Aku tidak akan memasukkanmu ke dalam penjara demi menghargai hubungan baik keluargamu dengan keluargaku. Tapi jangan pernah berharap kamu bisa lepas begitu saja dari konsekuensi hukum industri."

Dean menatap Timoty sejenak, lalu kembali menatap Dania dengan dingin. "Hari ini juga, kamu dipecat secara tidak hormat dari perusahaan ini. Seluruh jaringan industri bisnis dan asosiasi korporat di kota ini akan menerima surat referensi hitam atas namamu. Aku sendiri yang akan memastikan tidak akan ada satu pun perusahaan, sekecil apa pun, yang mau menerimamu bekerja sebagai sekretaris atau posisi administrasi apa pun di negeri ini."

Dania terbelalak, merosot dari kursinya hingga bersujud di lantai marmer. "Pak Dean, saya mohon... jangan lakukan itu... Jangan hancurkan karier dan masa depan saya..."

"Kamu sudah menghancurkan hidupku, Dania!" desis Dean, untuk pertama kalinya dia kehilangan kendali atas ketenangannya, suaranya bergetar menahan amarah yang pekat. "Kamu memanfaatkan kepolosan Valerie yang tidak tahu urusan kantor untuk memfitnahnya, membuatnya merasa dibuang oleh semua orang! Dan untuk konsekuensi kedua... Timoty, maafkan aku." Dean beralih menatap sahabatnya dengan tatapan kaku yang tak terbantahkan. "Hari ini juga, aku menarik seluruh investasi dan saham gabungan perusahaanku dari bisnis logistik keluarga kalian. Aku tidak bisa lagi bekerja sama dengan keluarga yang memelihara ular di dalamnya."

Timoty memejamkan matanya erat-erat, tertunduk lesu dengan air mata yang samar di sudut matanya. Dia tahu ini adalah kesalahan fatal adiknya yang sudah melewati batas kemanusiaan, memfitnah seorang mahasiswi yang tulus demi obsesi pribadi. Tarikan investasi puluhan miliar dari Dean akan membuat bisnis keluarganya yang sedang goyang di luar kota terancam bangkrut, namun Timoty tahu dia tidak memiliki hak moral sedikit pun untuk membela adiknya saat ini.

"Aku mengerti, Dean. Maafkan keluargaku... Maafkan kelakuan Dania," ucap Timoty dengan suara parau yang sarat akan penyesalan mendalam. Dia berdiri, lalu menarik paksa lengan Dania yang terus menangis dan memohon di lantai. "Ayo keluar, Dania! Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan busukmu ini di depan Papa dan Mama. Mulai hari ini, seluruh fasilitasmu dicabut!"

Timoty menyeret adiknya yang terus berteriak histeris dan menangis meraung-raung keluar dari ruangan kerja CEO. Beberapa staf kantor di koridor depan hanya bisa menonton dengan tatapan cemas dan bisik-bisik pelik, menyaksikan bagaimana sekretaris junior yang dulu tampak begitu tertindas kini diusir dengan cara yang paling memalukan.

Setelah pintu jati tebal itu kembali tertutup rapat, keheningan yang mencekam kembali menguasai ruangan kerja Dean. Pria itu merosot di kursi kebesarannya, menyugar rambutnya dengan frustrasi yang luar biasa hebat. Penyesalan yang teramat sangat besar menghantam dadanya hingga terasa sesak dan mencekik lehernya.

Dia ingat bagaimana dia membentak Valerie sebulan lalu di ruangan ini, menuduh gadis itu egois, impulsif, dan merusak pekerjaannya karena cemburu buta. Padahal, Valerie hanyalah anak kuliah polos yang tulus datang membawa makanan untuknya setelah mengalami perlakuan tidak adil di rumah orang tuanya sendiri. Logika fungsional yang dia agungkan selama ini ternyata telah mengubahnya menjadi monster kaku yang paling kejam.

Dean segera meraih ponsel pribadinya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia menekan nomor kontak Valerie, bersiap untuk membuang seluruh sisa egonya demi memohon ampun pada gadis itu. Namun, suara operator yang dingin kembali menyambutnya dari seberang telepon: “Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi...”

Valerie telah memblokirnya total dari seluruh jalan hidupnya. Dan saat itulah, Dean menatap kursi kosong di ruangannya dengan tatapan mata yang sepenuhnya hancur. Dia menyadari sebuah kebenaran yang menampar kesadarannya dengan sangat keras: membersihkan nama Valerie dari fitnah Dania dan menghancurkan karier wanita licik itu ternyata jauh lebih mudah daripada menyembuhkan luka batin di hati gadis yang telah dia hancurkan hancur-hancuran di masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!