Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Palsu
"Siapa yang sudah menyuruhmu dan motifnya apa?" tanya Rendra setelah berhadapan dengan Tono.
Mereka saat ini ada di sebuah ruangan. Hanya bertiga, Tono, Callie, dan Rendra. Callie yang memakai masker pun duduk di depan pintu. Sedangkan Rendra berhadapan dengan Tono yang tengah ketakutan. Walaupun kata Callie akan diberi kesempatan untuk hidup, tetap saja Tono ketakutan. Jika salah bicara, pasti akan ada masalah lagi. Tono menghela nafasnya pelan kemudian merogoh sakunya. Callie melihatnya dan langsung waspada. Siapa tahu Tono menyimpan sebuah senjata dalam sakunya dan itu luput dari pantauan Rendra.
"Saya nggak tahu siapa namanya dan apa motifnya, tapi saya punya foto orang yang menyuruh kami." Ternyata Tono masih menyimpan ponselnya karena tadi Rendra belum sempat memeriksa semua. Bahkan Tono dan teman-temannya baru ditangkap paksa beberapa menit yang lalu. Setelahnya baru Callie datang.
"Ini fotonya saya ambil dari samping. Hanya satu orang saja yang saya ambil fotonya. Ada laki-laki dan perempuan," ucap Tono sambil menyerahkan ponselnya.
"Untuk apa kamu mengambil gambar mereka? Aneh," sindir Callie dengan tatapan sinisnya. Pasalnya jika sedang bekerjasama, dia tak mau fotonya diambil sembarangan.
"Saya ambil diam-diam, Nona. Kami ini preman, yang perlu bukti. Kalau pembayarannya macet, kami bisa mencari dan mengejarnya. Kalau nggak tahu wajahnya, susah kita mencari dan menagihnya." ucap Tono memberikan alasan.
Alasan yang masuk akal, tapi tetap masih mencurigakan.
Rendra pun memberikan ponsel itu kepada Callie. Namun Callie langsung mengambil sarung tangan kemudian baru memeriksa ponsel itu. Callie menyipitkan matanya seperti mengenali postur badan seseorang di dalam foto ponsel itu. Callie pun mencari beberapa pesan dan nomor yang ada di ponsel tersebut. Callie menekan panggilan pada nomor yang sedari tadi menghubungi Tono.
"Kamu bisa bica..."
"Halo, Tono. Seharian nggak kasih kabar itu gimana? Kok bisa target malah sekarang ada di rumah sakit? Katanya udah ada di gudang tua? Kalian pasti teledor menjaganya kan?" teriak seseorang di seberang sana. Namun anehnya bukan suara cowok atau cewek pasti, tapi terdengar mendayu-dayu. Sehingga Callie dan Rendra bingung sebenarnya ini cowok menggunakan suara cewek atau bagaimana.
"Bicara," ucap Rendra tanpa suara pada Tono.
"Target dibantu sama orang. Mereka diselamatkan oleh seseorang," jawab Tono seadanya.
"Bodoh. Bayaran kalian takkan aku lunasi," serunya lagi.
Klik...
"Dia laki-laki atau perempuan sih?" tanya Callie setelah panggilan ditutup dari orang di seberang sana.
Laki-laki, Nona. Sengaja pakai suara waria begitu biar tidak bisa dikenali. Bahkan saat bertemu kami pun begitu,
Licik,
Ternyata orang yang menyuruh Tono dan teman-temannya untuk membawa Mika juga Axel ke gudang tua itu menggunakan suara palsu. Callie menghela nafasnya kasar. Orang yang mereka hadapi kali ini sangat licik dan penuh perhitungan. Namun bukan berarti Callie tidak bisa mengungkap semuanya. Callie pun mengirimkan rekaman suara panggilan telfon dari pelaku ke nomornya yang lain. Dia akan mengembalikan suara asli dari orang yang menghubungi Tono. Nanti dia akan meminta bantuan pada Papanya untuk mengurus hal ini.
"Cek keluarganya orang ini, Kak."
"Aku lepaskan kamu. Tapi ingat bahwa kamu masih dalam pantauan kami. Jika orang itu ingin menemuimu, hubungi nomor yang tadi aku gunakan untuk mengirim file. Ingat... Ponselmu juga sudah aku sadap. Jika sampai kamu lari dan membohongi kami, habis lah nasibmu." ucap Callie yang kemudian pergi dari hadapan Tono.
"Terimakasih, Nona. Saya tidak akan membohongi atau melakukan kesalahan yang sama lagi," ucap Tono merasa bersyukur diberi kesempatan untuk berubah dan hidup lebih baik.
Kamu pikir bisa bebas begitu saja? Tidak akan pernah, sebelum pelaku tertangkap. Setelah itu, bye.
***
Prang...
"Apa yang Uncle Onand lakukan?" teriak Callie sambil menendang sebuah tabung kecil yang sedang dipakai oleh Ronand.
Bunyi pecahan tabung kaca itu menggema dalam ruangan. Setelah mengurus Tono, Callie langsung pergi ke laboratorium khusus milik Opanya. Ternyata di sana sudah ada Ronand yang begitu serius membuat campuran beberapa zat kimia. Namun saat Ronand hendak meneteskan suatu zat, Callie langsung menendang tabung kaca kecil itu hingga menabrak tembok dan pecah. Jika sampai zat tersebut tercampur dengan cairan yang telah terbentuk, pasti akan terjadi ledakan. Entah apa yang dilakukan oleh Ronand sampai laki-laki itu tidak fokus.
"Itu nggak boleh dicampur sama cairan yang dibuat Uncle tadi," serunya membuat Ronand tersadar. Pipet di tangannya terjatuh dan Ronand langsung mengusap wajahnya.
"Maaf, Uncle lagi banyak pikiran." Tangannya gemetaran karena shock bisa terhindar dari maut. Jika sampai terjadi ledakan, sudah pasti Ronand akan celaka. Beruntung Callie datang dan menggagalkan itu semua.
"Kalau lagi banyak pikiran, jangan buat racikan begini. Please... Keselamatan kita jauh lebih penting," ucap Callie yang langsung memeluk Ronand dari samping.
"Iya. Terimakasih, keponakan Uncle yang cantik."
"Tadi habis darimana?" tanya Ronand pada Callie.
Callie pun menjelaskan tentang orang-orang yang membawa Mika dan Axel ke gudang tua. Ronand mendengarkan dengan seksama sambil membersihkan pecahan kaca yang ada di lantai. Terutama cairan yang sudah berceceran itu bisa membahayakan. Callie tampaknya kelelahan karena harus mengurus beberapa masalah. Beruntung Ronand mengirimkan tambahan pengawal untuk menjaga dirinya dimana pun.
"Nanti bisa kita kembalikan itu jadi suara asli," ucap Ronand menanggapinya dengan santai. Mudah baginya untuk mengembalikan suara asli dari penelpon tersebut.
"Kalau dari badannya, kaya familiar sih. Tapi aku lupa-lupa ingat," ucap Callie yang malas berpikir berat.
"Nanti biar Uncle yang kembalikan itu suara aslinya. Kita fokus buat obat untuk menyadarkan Mika dan Axel. Mereka juga perlu kita tanyakan bagaimana kronologinya. Apalagi di sana tidak ada CCTV," ucap Ronand membuat Callie menganggukkan kepalanya.
"Callie mau buat obatnya dulu. Uncle istirahat saja daripada oleng kaya tadi," sindir Callie yang dibalas kekehan pelan oleh Ronand.
Ronand pun masuk ke sebuah ruangan di samping tempat membuat berbagai obat dan racun. Dia akan beristirahat sebentar untuk menghilangkan semua pikiran buruk yang bersarang di dalam otaknya. Sedangkan Callie segera mengambil jas khusus, masker medis, dan sarung tangan untuk memulai eksperimennya.
"Sepertinya plastik Mika terlalu senang dengan mimpinya jadi nggak mau bangun," gumam Callie yang langsung mencampurkan beberapa zat kimia ke dalam sebuah tabung kecil.
"Aku kirimkan juga itu mimpi buruk tembak dor dor dor biar plastik Mika bangun," Callie terkekeh pelan membayangkan dia masuk dalam mimpi Mika kemudian sepupunya itu terbangun.
Sssssssss...
Wow...
Cailan warna hitam ini akan membuat plastik Mika bangun,
Callie, Mika kejang-kejang.
Apa?
pokoknya buat mika hamil yea thourr,, bila perlu kembar