NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Hampir tak terkontrol

Lanjut...

Aura yang awalnya hanya berpura-pura tidur demi menghindari interaksi lebih jauh, perlahan-lahan menyerah pada rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya.

Ritme derum mesin mobil yang stabil, hawa hangat dari jaket milik Fadil yang menyelimutinya, serta embun malam yang membasahi kaca kendaraan justru berubah menjadi pengantar tidur yang sempurna.

Kesadarannya benar-benar menguap, membawanya tenggelam ke dalam tidur yang lelap.

Beberapa saat kemudian...

Mobil sedan hitam itu akhirnya berhenti sempurna di dalam garasi rumah mereka yang luas.

Fadil mematikan mesin. Ruang dalam kabin pun seketika menjadi sunyi, yang hanya dihiasi deru pendingin udara yang perlahan mati dan ketukan halus sisa bintik air hujan di atas kap mobil.

Fadil lalu memutar tubuhnya, dan menatap Aura yang masih terlelap. Napas wanita itu teratur dan halus, wajahnya tampak begitu polos tanpa ada lagi raut cemas atau garis ketegangan yang tadi sempat menghiasi parasnya.

Fadil mengamati helai-helai rambut halus Aura yang menempel di pipinya. Kemudian ia menyandarkan siku pada lingkar setir, menatap Aura dalam hening selama beberapa menit.

Ada dorongan kuat di dalam hatinya untuk mengelus pipi lembut itu, namun Fadil menahannya. Pria itu menyadari betapa padatnya aktivitas Aura seharian ini, menyiapkan bahan makanan, merapikan rumah, hingga mendampinginya belanja hingga larut malam.

Oleh karena itu, Fadil tidak berniat membangunkannya.

Dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan suara gaduh, Fadil melepas sabuk pengamannya. Ia keluar dari pintu kemudi, melangkah melingkari bagian depan mobil, lalu membuka pintu penumpang di sebelah Aura dengan sangat hati-hati.

Fadil melepas sabuk pengaman Aura, lalu merengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya. Tangan kirinya menyangga bagian bawah lutut Aura, sementara tangan kanannya menopang punggung dan bahu wanita itu dengan kokoh.

Dengan satu gerakan Fadil menggendong Aura turun dari mobil. Akan tetapi, gadis itu tetap terlelap, kepalanya menyandar pasrah di dada bidang Fadil, seakan-akan tubuhnya sudah terlalu lelah untuk menyadari perubahan posisi tersebut.

Fadil merapatkan tubuh Aura ke dadanya, seakan menikmati kehangatan dan wangi vanila berpadu melati yang menguar halus dari helai rambut perempuan bergelar istrinya itu.

Menggunakan siku dan kakinya, Fadil menutup pintu mobil serta pintu utama rumah, lalu melangkah perlahan melintasi lantai marmer ruang tengah yang temaram.

Namun, ketika baru saja memasuki area ruang tengah yang lapang, kestabilan lelap Aura terganggu. Refleks keseimbangan tubuhnya bekerja saat merasakan sensasi tubuhnya seakan melayang di udara dan berada dalam dekapan erat seseorang.

"Apa aku sedang bermimpi?," batinnya.

Kemudian kedua kelopak mata Aura terbuka dengan perlahan. Pandangannya yang semula kabur oleh rasa kantuk seketika membelalak penuh tatkala iris matanya menangkap garis rahang tegas dan wajah Fadil dari jarak yang amat dekat.

"Mas...!" pekik Aura.

Aura menyadari posisinya yang sedang berada di dalam gendongan Fadil dan langsung panik.

Mengingat kembali komitmennya di mobil tadi, bahwa ia harus menjaga jarak dan tidak boleh terlalu dekat dengan pria ini, Aura mulai menggerakkan tubuhnya, dan berontak pelan.

"Mas, turunkan..." desak Aura, dengan suara yang naik satu oktav.

Fadil pun menunduk, lalu menghentikan langkah kakinya tepat di samping sofa panjang ruang tengah. Pria itu menatap tepat ke dalam mata Aura yang panik.

"Kamu sudah bangun?" tanya Fadil.

"Iya, jadi tolong turunkan," pinta Aura seraya memegang bahu Fadil, dan berusaha melepaskan diri.

"Biar aku antar ke kamar," balas Fadil dan berniat melanjutkan langkahnya menuju tangga lantai dua.

Mendengar ucapan Fadil, Aura pun membelalakkan matanya lebih lebar. Rasa cemas dan ketakutan akan batas-batas diri membuat penolakannya makin menjadi-jadi. "Tidak usah! Aku bisa sendiri! Mas, tolong... lepaskan!"

Aura menggerakkan kakinya dan mendorong dada bidang Fadil dengan sekuat tenaga agar tubuhnya diposisikan turun ke lantai. Ia tidak memperhitungkan bahwa gerakan dadakan itu merusak keseimbangan Fadil yang tumpuannya belum sepenuhnya siap.

"Aura, diam—"

Kalimat warning Fadil terputus. Kaki Fadil tersandung ujung karpet tebal di bawahnya, hingga kehilangan keseimbangan secara drastis, dan Fadil tidak sempat lagi menegakkan tubuhnya.

Pria itu secara refleks mendekap tubuh Aura makin erat untuk melindungi kepala wanita itu agar tidak membentur lantai yang keras.

Hingga...

Mereka pun terjerambab bersama ke bawah, yang beruntung langsung mendarat di atas permukaan sofa empuk yang tebal.

Brug!!

Dentuman keras tubuh mereka yang jatuh menyerap ke dalam busa sofa. Aura terhenyak saat punggungnya menyentuh sandaran sofa, namun sebelum ia sempat menghela napas, bobot tubuh tinggi besar Fadil langsung menindihnya dari atas.

Posisi mereka kini terikat rapat. Fadil menahan bobotnya dengan kedua siku yang menumpu di sisi kiri dan kanan kepala Aura, sementara tubuh bagian depannya menempel lekat pada tubuh Aura.

Di dalam keheningan ruang tengah yang temaram, mereka saling bertatapan dalam beberapa saat tanpa ada yang bersuara. Keheningan itu begitu pekat hingga detak jantung keduanya yang bertabur kencang terdengar saling beradu tajam.

Deg... deg... deg... deg... deg... deg!

Irama dada Fadil berdegup begitu keras dan cepat, bergetar langsung menembus dada Aura. Aura bahkan bisa merasakan napas Fadil yang sedikit memburu, dan menyapu hangat permukaan kulit wajah dan lehernya.

Menyadari situasi ini sangat berbahaya bagi pertahanan hatinya dan merasa keadaan tidak akan baik-baik saja jika dibiarkan lebih lama, Aura pun bernapas dengan cepat. Tangannya kemudian terangkat, dan mencoba mendorong dada Fadil kembali.

"Mas... lepas... aku mau bangkit..." bisik Aura dengan suara yang bergetar.

Namun, bukannya menjauh, Fadil justru makin mengunci posisinya, dengan tatapannya yang semakin dalam dan tajam.

Tangannya yang menumpu di samping kepala Aura bergeser tipis, dan memenjarakan wanita itu sepenuhnya.

"Aura, tetap seperti ini beberapa saat," pinta Fadil. Suaranya berubah menjadi sangat serak, rendah, dan penuh desakan.

Aura terpaku. Suara permintaan itu begitu intim hingga melumpuhkan seluruh kerja otot-otot tubuhnya, hingga pandangan mereka kembali terkunci.

Di dalam benak Fadil, bayangan kelelahan Aura, penolakan dingin wanita itu selama di mobil tadi, serta rasa takut akan kehilangan kehadiran Aura mendadak melebur menjadi satu dorongan emosi yang tak tertahankan.

Kini, Fadil perlahan merebahkan kepalanya lebih rendah. Wajahnya bergerak mendekat secara presisi, dan mengikis tiap sentimeter jarak yang tersisa di antara bibir mereka, hingga Aura dapat merasakan hembusan napas hangat Fadil yang kian merapat, dan menempel di permukaan bibirnya.

Sensasi itu membuat seluruh syaraf di tubuh Aura menjerit. Di tengah pusaran rasa cinta yang menggoda, akal sehatnya berteriak keras mengingatkan statusnya sebagai pengantin pengganti dan bayang-bayang Keisya yang belum tuntas.

Tepat saat bibir Fadil hampir saja menyentuh bibirnya, refleks pertahanan diri Aura mengambil alih, hingga ia memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah kanan.

Ciuman Fadil pun mendarat di tempat yang salah. Bibir hangat pria itu tergelincir melewati sudut bibir Aura, dan wajah tegas Fadil akhirnya justru menyusup di ceruk leher kanan Aura.

Keheningan seketika membeku di ruang tengah itu.

Hembusan napas hangat Fadil tertahan tepat di kulit leher Aura, menyebarkan desiran dingin sekaligus panas yang luar biasa di sepanjang tulang belakang wanita itu.

Kedua tangan Aura menegang di atas dada Fadil, dan meremas kain kemeja suaminya dengan gemetar.

Sementara itu, Fadil tidak bergerak selama beberapa detik. Bibirnya yang menempel pasrah di ceruk leher Aura merasakan denyut nadi wanita itu yang berpacu liar bagaikan kepakan sayap burung yang terperangkap.

Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat dalam posisi menyusup di leher Aura. Fadil menyadari jika ia telah terseret oleh emosinya sendiri, dan gerakan memalingkan wajah Aura adalah sebuah penolakan halus yang tegas.

Dengan mengumpulkan seluruh kendali dirinya, Fadil perlahan menjauhkan wajahnya dari leher Aura. Ia mengangkat kepalanya kembali, dan menatap Aura yang kini masih memalingkan wajahnya ke kanan dengan mata terpejam erat dan napas yang tersendat-sendat.

Fadil menarik napas panjang, dan mencoba menetralkan degup jantungnya yang masih bergemuruh hebat.

"Maaf..." bisik Fadil.

Pria itu kemudian menegakkan tubuhnya, melepas kuncian tangannya di sofa, dan berdiri perlahan dari atas tubuh Aura. Ia kemudian membalikkan badan, dan membelakangi sofa seraya merapikan kemejanya yang sedikit berantakan.

Aura perlahan membuka matanya, kemudian duduk di sofa, dan menarik jaket milik Fadil untuk menutupi bagian dada dan tubuh depannya yang terasa dingin.

Ia menundukkan kepalanya dan tak berani menatap punggung pria yang duduk di sampingnya itu.

"Maafkan aku, Aura. Aku... aku tidak bermaksud mengontrol diriku seperti tadi," ujar Fadil tanpa menoleh. "Kamu benar. Sebaiknya kamu segera istirahat di kamar."

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya aura plong, sudah gak ada beban.. tinggal menata hatinya lagi, semoga Fadil tetap mempertahankan pernikahannya😊
Aurora: wkwkwkw...😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
katakanlah Aura, kebenaran yang terlalu lama kamu pendam sendiri akan membuat luka di kemudian hari...
Aurora: Betul betul betul...
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
nyamuknya besar banget Farah 🤣🤣🤣
Aurora: lah... kalau sampai di lahap habis dong Aura 🤣🤣🤣😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya bagus dan gak ngebosenin.. authornya juga asyik 🥰 semangat terus kak, jangan patah semangat untuk berkarya🤗 sukses slalu😊
𝐀⃝🥀Weny: sama² kak🥰🥰
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
orang tua kalau ngeliat keluarga anaknya bahagia jadi ikut senang.. gak seperti bayangannya karena sebelumnya Fadil sangat menolak pernikahan itu😊
Aurora: Makasihh kakak..🥰🥰🙏🙏
total 13 replies
sunaryati jarum
Tidak apa-apa Aura kamu bangun kesiangan kan sudah ada Mbok.Semoga bibit unggul Mas Fadil ada yang tumbuh,Ya.
Aurora: hehehe iya ya, semoga...🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Jadi candu dan move on dari Kesya ya Nak Fadil,semoga Kesya menemukan orang yg tulus mencintainya.Dan Ryan si pemerkosa dapat karmanya,siapun yang terlibat saat itu juga mendapat karmanya.Bahagia selalu Aura, Fadil,Kesya.dan Farhan mantan calon suami Aura.
sunaryati jarum
Pagi- pagi sudah sarapan Aura, mantaaap
𝐀⃝🥀Weny
walaah.. aku pikir kalau mau dikasih tiket untuk bulan madu🤦🤣🤣🤣🤣
Aurora: xixixixi... bulan madunya di rumah aja dulu, ydha cape itu juga 🫣🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
kasihan auranya samapi kecapean kyk gitu.. gara² si Fadil, kyk orng kesurupan 🤣🤣
Aurora: hmmm... perdebatan batin yang bergelora tuh 😅😅
total 7 replies
Aurora
wkwkwkk... jangan bikin Fadil malu dong kak..🤣🤣🤣🤭
𝐀⃝🥀Weny
ciiiee... mas Fadil, sudah tau rasanya minta lagi dan lagi 🤣 tadinya aja gak mau sekamar sama aura😜
sunaryati jarum
Akhirnya terjadi penyatuan juga, selamat kalian sudah jadi suami istri seutuhnya
sunaryati jarum
Nah jadilah suami istri sesungguhnya, semoga Kesya entar tidak ingin merebut suami kamu, karena selama ini kalian hidup rukun dan saling menyayangi
sunaryati jarum
Mungkin Fadil makin lama makin nyaman , apalagi Aura sabar,patuh ,dan lebih muda kan
Aurora: yes, betul bangetttt 😅🤗
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
waaah... si Fadil pagi² dh menang banyak lagi tuuuh🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: hadeeech🤦🤣🤣🤣
total 8 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya gol juga🤣🤣🤣
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣
Aurora: wkwkwk bahaya ta🤭🙏
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
iya mas Fadil, kamu juga milikku mas😂😂😂
Aurora: betul bangetttt 😅
total 11 replies
sunaryati jarum
Cie- cie mulai romantis nih
sunaryati jarum
Nah karena terbiasa bersama dalam satu atap,dan Aura sangat tulus menjalankan kewajiban, lambat laun tumbuh cinta dan membakar kebencian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!