NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Bekas di Leher

"Masuk."

Suara Renard dari interkom terdengar lebih dingin daripada pendingin ruangan.

Liana merapikan kerah blusnya sebelum membawa tablet ke dalam kantor. Renard berdiri di depan jendela dengan kedua tangan di saku celana. Di bawah sana, kendaraan memenuhi Jalan Sudirman seperti aliran logam yang nyaris tak bergerak.

"Tutup pintunya."

Liana menurut. "Bapak ingin membahas revisi kontrak regional?"

"Bukan."

Renard berbalik. Tatapannya langsung jatuh ke leher Liana.

Ia refleks menyentuh kerahnya.

"Ada apa dengan lehermu?"

Pertanyaan itu datang begitu lugas hingga Liana kehilangan jawaban selama dua detik.

"Leher saya?"

"Bekas merah di belakangnya."

Panas menjalar dari dada ke telinga Liana. Ia ingat persis kapan bekas itu muncul. Menjelang akhir terapi, pasien yang sedang demam karena gejalanya sempat membenamkan wajah di bahunya. Bibir pria itu menyentuh tengkuknya terlalu lama sebelum ia sadar dan meminta maaf.

Pria yang sama kini menatapnya seperti hendak menemukan pelaku kejahatan.

"Itu bukan urusan pekerjaan, Pak."

Alis Renard terangkat sedikit. "Jadi memang ada seseorang?"

Liana nyaris tertawa karena gugup. Bosnya sedang cemburu pada dirinya sendiri, lalu memarahinya atas sesuatu yang dilakukan sendiri.

"Saya tidak bilang begitu."

"Mbak Liana." Nada Renard berubah menjadi nada seorang CEO yang sedang menolak proposal buruk. "Kamu baru tinggal sendiri di Jakarta. Jangan mudah percaya kepada laki-laki yang asal-usulnya tidak jelas. Orang yang meninggalkan bekas seperti itu tidak sedang menghormatimu."

Liana menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tersenyum.

"Baik, Pak. Saya akan mengingat nasihat Bapak."

"Aku serius."

"Saya juga serius."

Mata mereka bertemu. Untuk sesaat, Liana melihat kebingungan di wajah Renard. Mungkin karena ia terdengar terlalu patuh. Mungkin karena ada kilatan geli yang gagal disembunyikan di matanya.

Ponsel di saku blazer Liana bergetar.

Ia melirik layar.

Aldi: Lia, kita perlu bicara. Aku tahu kamu masih marah.

Pesan kedua masuk sebelum ia sempat mematikan layar.

Nadia: Jangan keras kepala, Lia. Aldi benar-benar menyesal. Aku cuma mau kalian baikan.

Senyum kecil di wajah Liana lenyap.

Lorong rumah sakit kembali berkelebat di kepalanya. Nadia memegang tangannya sambil mengatakan semua orang meninggalkannya karena ia terlalu sulit dicintai. Aldi mengambil kartu banknya dengan alasan membayar pengobatan. Keduanya berdiri di balik pintu kaca ketika petugas membawa Liana ke bangsal tertutup.

Dahulu, ia mengira mereka satu-satunya keluarga yang ia punya.

Ternyata mereka hanya memastikan tak ada orang lain yang dapat menolongnya.

"Ada masalah?" tanya Renard.

Liana mengangkat kepala. "Tidak ada."

Ia membuka percakapan Aldi. Tidak membaca riwayat pesan. Tidak mengetik penjelasan. Jarum detik pada jam dinding bergerak sekali ketika ibu jarinya menekan pilihan blokir.

Satu nama lenyap dari layar.

Ia melakukan hal yang sama kepada Nadia.

"Sudah selesai," katanya.

Sebelum layar padam, Liana mengambil tangkapan layar kedua pesan. Ia mengirim salinannya ke alamat surel pribadi dan memasukkannya ke folder dengan tanggal hari itu. Memblokir mereka adalah perlindungan. Menyimpan jejak mereka adalah persiapan.

Renard melihat perubahan pada wajahnya, dari pucat dan kosong menjadi tenang dengan cara yang tajam. "Siapa mereka?"

"Orang dari masa lalu."

"Laki-laki yang meninggalkan bekas itu?"

Kali ini Liana benar-benar harus menunduk untuk menyembunyikan senyum. "Bukan."

"Apa yang lucu?"

"Tidak ada, Pak."

Renard mendekat satu langkah. Selisih tinggi mereka membuat Liana harus mendongak. Aroma cedar dingin dan kopi samar mengisi jarak sempit itu. Aroma yang sama seperti di kamar terapi, hanya kini pria tersebut dapat melihat setiap perubahan wajahnya.

"Kalau seseorang mengganggumu, laporkan ke keamanan gedung. Jangan menanganinya sendiri."

"Bapak selalu mengurus kehidupan pribadi semua asisten?"

Pertanyaan itu lolos sebelum Liana sempat menahannya.

Renard terdiam.

Wajahnya tetap tenang, tetapi jari di sisi tubuhnya menegang. "Aku bertanggung jawab atas keamanan orang yang bekerja langsung denganku."

Jawaban yang sangat masuk akal.

Entah mengapa, Liana justru merasa sedikit kecewa.

Ia menggeser tablet ke depan. "Kalau begitu, mengenai kontrak regional..."

Percakapan kembali ke angka dan jadwal. Liana mencatat instruksi, memindahkan dua agenda, dan menghubungi tim legal. Sepanjang itu, Renard beberapa kali menatap tengkuknya seakan bekas merah tersebut merupakan persoalan yang belum selesai.

Ketukan terdengar. Rizal masuk membawa map biru dan langsung menangkap udara tegang di antara mereka.

"Dokumen vendor, Pak. Sudah diperiksa legal."

Renard menerima map itu tanpa menyentuh tangan Rizal. Asistennya sudah paham dan meletakkannya di meja terlebih dahulu.

Liana memperhatikan perbedaan kecil tersebut. Pagi tadi Renard menggenggam pergelangan tangannya tanpa ragu. Kepada Rizal yang sudah lama bekerja dengannya, ia masih menjaga jarak beberapa sentimeter.

"Ada lagi?" tanya Renard.

"Tidak, Pak." Rizal melirik Liana, lalu bekas kemerahan samar di pergelangan tangannya. Wajahnya menyusun seribu teori sekaligus. "Saya keluar dulu."

Pintu baru tertutup ketika pesan pribadi masuk ke komputer Liana.

Rizal: Mbak, aman?

Liana: Aman. Tolong kirim notulen rapat, bukan gosip.

Tiga detik kemudian sebuah berkas masuk, disertai emoji mulut terkunci. Ketegangan di bahu Liana turun sedikit. Setidaknya ada orang di kantor ini yang cukup ingin tahu untuk memperhatikannya, tetapi masih bisa diingatkan batas.

Saat Liana akhirnya keluar, jam makan siang sudah dekat.

Di mejanya, layar ponsel kembali menyala. Nomor tak dikenal mengirim satu pesan.

Kamu pikir memblokir kami akan mengubah semuanya?

Liana membaca kalimat itu tanpa berkedip.

Jari-jarinya sempat dingin. Di kehidupan pertama, satu pesan seperti itu cukup membuatnya meminta maaf atas kesalahan yang tidak ia lakukan. Ia akan menelepon Aldi, mendengar suaranya, lalu membiarkan dirinya ditarik kembali.

Sekarang ia mengambil tangkapan layar, menyimpannya ke folder bukti, kemudian memblokir nomor tersebut.

Tak ada jawaban.

Tak ada kesempatan kedua untuk mereka.

Sebuah voice note masuk sepersekian detik sebelum blokir aktif. Liana tidak memutarnya. Nama berkas dan waktunya ikut tersimpan. Di kehidupan pertama, suara Aldi selalu menjadi tali yang menariknya kembali. Kali ini suara itu hanya akan menjadi bukti jika ancamannya meningkat.

Liana menyandarkan punggung ke kursi dan menarik napas pelan. Bayangan bangsal putih masih mencoba merayap dari sudut ingatan. Ia menancapkan kuku ke telapak tangan sampai rasa sakit kecil itu mengembalikannya ke ruangan terang, ke suara papan ketik, ke kopi yang sudah dingin di mejanya.

Ia masih di sini.

Ia tidak sendirian di balik pintu terkunci.

Interkom berdering.

Liana menekan tombol jawab.

"Ya, Pak?"

Suara Renard terdengar singkat dari seberang. "Masuk."

Liana melepaskan telapak tangannya. Bekas kukunya memudar perlahan ketika ia berdiri, mengambil tablet, dan kembali mengenakan wajah profesionalnya.

Masa lalu boleh mengetuk berkali-kali.

Kali ini, ia yang memutuskan pintu mana yang akan dibuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!