NovelToon NovelToon
SISTEM OF HER HEART

SISTEM OF HER HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Cintapertama
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Pertemuan Di Restoran Mewah

​Genggaman tangan Sakti di pergelangan tanganku terasa sangat kokoh, menyalurkan hawa panas yang menembus kain lengan kemejaku.

​Pria itu menatap mataku dengan intensitas yang sanggup melumpuhkan kewarasan siapa pun. Jarak kami begitu dekat. Aku bisa melihat pantulan wajahku sendiri di balik lensa kacamata peraknya.

​Aku berusaha menarik tanganku perlahan, namun cengkeramannya justru semakin mengerat.

​"Kosongkan seluruh jadwal kerjamu malam ini," suara Sakti mengalun rendah, nyaris seperti sebuah bisikan yang mengancam.

​Aku mengerjapkan mata, berusaha mempertahankan ekspresi netral. "Apakah ada proyek mendadak yang harus saya analisis, Pak?"

​Sakti akhirnya melepaskan pergelangan tanganku. Ia memutar tubuhnya, kembali menghadap ke arah meja kerja besarnya.

​"Kamu akan ikut saya menemui dewan investor senior malam ini," titah Sakti tanpa menoleh lagi ke arahku. "Siapkan dirimu. Kita berangkat pukul tujuh tepat."

​Aku menundukkan kepala singkat, menerima perintah mutlak tersebut tanpa bantahan.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Denting gelas kristal dan alunan piano lembut memenuhi ruang makan privat di restoran berbintang lima malam itu.

​Suasana kemewahan absolut terpancar dari setiap sudut ruangan. Lampu gantung kristal raksasa memantulkan cahaya keemasan ke atas meja bundar berbahan marmer putih di tengah ruangan.

​Aku berdiri dengan postur tegak sempurna, tepat satu langkah di belakang kursi kemudi yang diduduki oleh Sakti. Pakaian formalku yang sederhana tampak sangat kontras dengan kemegahan tempat ini.

​Dua orang pelayan pria berseragam jas rapi baru saja menuangkan anggur ke dalam gelas para tamu sebelum akhirnya menyingkir keluar ruangan dalam diam.

​Di seberang meja, dua pria paruh baya menatap Sakti dengan senyum yang terlalu dipaksakan.

​[Memindai Subjek: Bernard. Posisi: Investor Senior Vanguard Corp.]

[Status Emosi: Manipulatif, Terlalu Percaya Diri, Menyembunyikan Kecemasan.]

​[Memindai Subjek: Dakhan. Posisi: Anggota Dewan Komisaris.]

[Status Emosi: Tunduk pada Subjek Bernard, Waspada.]

​Bernard memajukan tubuhnya. Pria dengan rambut memutih dan setelan jas sutra itu meletakkan sebuah map kulit hitam tebal ke atas meja marmer. Ia mendorongnya perlahan ke hadapan Sakti.

​"Ini adalah kontrak pelepasan aset anak perusahaan kita di pesisir utara, Sakti," ucap Bernard dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin. "Pembelinya sudah setuju dengan harga pembuka. Ini keuntungan bersih bagi Vanguard Corp."

​Sakti tidak langsung menyentuh map tersebut. Ia bersandar di kursinya, mengetuk pinggiran gelas anggurnya dengan jari telunjuk.

​"Sangat jarang Anda turun tangan langsung untuk mengurus anak perusahaan berskala kecil, Pak Bernard," respons Sakti dengan nada dingin yang menusuk.

​Dakhan tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana yang mendadak tegang. "Kami hanya ingin memastikan beban operasionalmu berkurang, Sakti. Dewan komisaris sepakat bahwa area utara sudah tidak lagi menguntungkan. Tanda tangani saja pelepasan aset ini, dan kita bisa berfokus pada proyek pusat."

​Sakti menarik map kulit hitam itu mendekat. Ia membukanya, menampilkan belasan lembar kertas berisi klausul perjanjian yang sangat padat.

​Mataku langsung terkunci pada lembaran dokumen tersebut.

​[Mengaktifkan Mode Pemindaian Visual Tingkat Tinggi.]

[Titik Fokus: Klausul Kontrak Pelepasan Aset.]

​Sensasi panas seketika menjalar di sekitar pelipisku. Huruf-huruf berukuran sangat kecil di atas meja itu membesar di dalam retinaku, seolah aku memegangnya tepat di depan wajah.

​[Menganalisis Algoritma Kerugian Finansial...]

[Peringatan: Ditemukan Manipulasi Data Tingkat Tinggi.]

​Teks merah menyala mendadak berkedip liar menutupi sebagian pandanganku.

​[Pasal 4 Ayat B menyembunyikan pengalihan utang pihak ketiga. Pembeli bukan mengambil alih aset secara bersih, melainkan membebankan penalti kerusakan lingkungan senilai empat ratus miliar rupiah kepada entitas induk: Vanguard Corp.]

​Mataku membelalak pelan. Jantungku berpacu kencang. Bernard dan Dakhan tidak sedang menyelamatkan perusahaan. Mereka sedang berusaha menenggelamkan Sakti ke dalam jerat utang raksasa.

​Aku memindahkan fokus mataku ke arah wajah Bernard.

​[Memindai Mikro Ekspresi Subjek: Bernard.]

[Frekuensi kedipan mata meningkat 20%. Sudut bibir kiri menegang kaku saat Sakti menyentuh pena. Indikasi kebohongan dan penipuan: 98%.]

​Sakti meraih pena emas dari saku jas bagian dalamnya. Pria itu tampak bersiap untuk memberikan tanda tangan persetujuan pada kolom terbawah lembar pertama.

​Jika pena itu menyentuh kertas, Vanguard Corp akan kehilangan ratusan miliar secara sepihak. Dan posisiku sebagai asisten yang bergantung pada gaji perusahaan ini akan terancam hancur.

​Aku tidak memiliki pilihan lain.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Tanganku melesat ke depan, menekan bagian tengah map kulit tersebut tepat sebelum ujung pena emas Sakti menyentuh kertas.

​Pergerakan tiba-tiba itu membuat Sakti menghentikan tangannya di udara. Ia menoleh ke arahku dengan dahi berkerut tajam.

​Bernard memukul meja marmer dengan telapak tangannya hingga gelas anggur di atasnya berguncang hebat.

​"Lancang sekali!" bentak Bernard dengan suara menggelegar. Wajah tuanya memerah menahan amarah. "Siapa yang mengizinkan seorang asisten rendahan menyela pertemuan dewan direksi?!"

​Dakhan ikut berdiri dari kursinya, menunjuk wajahku dengan jari telunjuk yang gemetar. "Sakti! Dari mana kau memungut wanita tidak tahu aturan ini?! Usir dia keluar sekarang juga!"

​Aku sama sekali tidak bergeming menghadapi gertakan kedua petinggi perusahaan itu. Aku mempertahankan posisi tanganku di atas dokumen, menatap lurus ke arah Sakti.

​"Jangan ditandatangani, Pak," ucapku dengan volume suara yang sangat stabil dan datar, mengabaikan total teriakan Bernard.

​Sakti tidak langsung marah. Matanya yang tajam menelusuri wajahku, mencari alasan di balik tindakan nekatku ini.

​"Berikan saya satu alasan logis sebelum saya benar-benar meminta keamanan menyeretmu keluar dari sini, Tera," desis Sakti dengan nada mengancam.

​Aku menarik napasku perlahan. Sistem A.U.R.A langsung membentangkan skrip presentasi data di sudut mataku.

​"Pasal empat ayat B di halaman ketiga, Pak," ucapku lugas, melepaskan tanganku dari map agar Sakti bisa membalik halamannya.

​Sakti membalik kertas tersebut dengan gerakan cepat. Matanya menyapu barisan kalimat yang kutunjuk.

​"Pembeli memang bersedia membayar harga pembuka," lanjutku, menyondongkan tubuh sedikit ke depan agar suaraku menguasai ruangan. "Namun, klausul itu disusun menggunakan frasa hukum ambigu yang sengaja memisahkan liabilitas lingkungan dari aset fisik."

​Aku menoleh menatap tajam ke arah Bernard yang kini membeku di tempatnya.

​"Jika Anda menandatanganinya, Vanguard Corp memang akan menerima dana segar. Namun, secara hukum, perusahaan ini akan langsung menanggung seluruh penalti kerusakan lingkungan di pesisir utara peninggalan pembeli lama."

​Sakti mengangkat wajahnya dari dokumen. Aura di sekitarnya berubah menjadi sedingin es di kutub utara.

​"Nominal penalti tersebut mencapai empat ratus miliar rupiah," pungkasku tanpa keraguan sedikit pun. "Kontrak ini bukan pelepasan aset. Ini adalah jebakan kebangkrutan terencana."

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Keheningan mutlak langsung mencekik ruang makan privat itu.

​Sakti perlahan menutup pena emasnya dengan bunyi klik yang terdengar sangat nyaring. Ia melempar pena itu ke atas meja, lalu menutup map kulit hitam tersebut dengan satu dorongan kasar.

​"Empat ratus miliar rupiah," ulang Sakti lambat-lambat. Matanya menatap Bernard dan Dakhan secara bergantian dengan sorot membunuh yang tak terbantahkan.

​Dakhan menelan ludah dengan susah payah. Kakinya tampak gemetar hingga ia terpaksa berpegangan pada sandaran kursi.

​"Itu... itu pasti ada kesalahan ketik dari tim legal, Sakti. Kami tidak mungkin—"

​"Simpan omong kosong Anda, Pak Dakhan," potong Sakti dengan kejam.

​Sakti berdiri dari kursinya, mengancingkan jas gelapnya dengan gerakan elegan namun mematikan.

​"Kontrak ini dibatalkan," tegas Sakti. "Dan saya akan mengirim tim audit independen besok pagi untuk memeriksa seluruh aliran dana di rekening pribadi kalian berdua selama enam bulan terakhir."

​Bernard mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Urat-urat di lehernya menonjol keluar. Rencananya yang tersusun rapi berhasil kuhancurkan hanya dalam hitungan detik.

​Sakti memutar tubuhnya dan melangkah menuju pintu keluar. "Ikut saya, Tera."

​Aku mengangguk hormat, berbalik untuk mengikuti langkah lebar atasanku meninggalkan ruangan yang kini terasa seperti medan perang yang hancur.

​Tepat sebelum aku melangkah melewati ambang pintu, tatapanku tanpa sengaja beradu dengan pandangan Bernard. Pria tua itu menatapku penuh kejengkolan, menyimpan dendam yang sangat pekat di matanya.

​Aku mengalihkan pandanganku, menatap ke arah area ruang makan utama yang dipisahkan oleh dinding kaca ukir.

​Di sana, di salah satu meja VIP yang paling strategis, seorang pria tampan berjas abu-abu sedang mengangkat gelas anggurnya ke arahku.

​[Memindai Subjek: Hamdan. Posisi: CEO Apex Dynamics.]

[Status Emosi: Kekaguman Tinggi, Antusiasme, Ketertarikan Romantis.]

​Pria itu tersenyum simpul. Dari meja terpisah tersebut, Hamdan mengamatiku dengan binar ketertarikan yang tidak tertutup sama sekali, seolah ia baru saja menemukan sebuah berlian paling langka di tengah tumpukan kaca biasa.

1
Lilik Sunaryo
TERA OH TERA
TERA itu ......

T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!