Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Bara meneguk susu hangatnya sebelum kembali melanjutkan instruksi bisnisnya yang kejam.
"Beli semua fasilitas pabrik dan mesin produksi mereka yang disita itu dengan harga lelang paling murah."
"Kita butuh pabrik tambahan itu untuk mempercepat produksi krim kosmetik kita yang selalu kehabisan stok setiap hari kan?"
Nadhira langsung setuju dengan ide brilian dan sangat oportunis dari rekan bisnisnya tersebut.
"Kamu benar Bara, membajak pabrik musuh untuk memproduksi barang kita sendiri adalah penghinaan terakhir yang paling sempurna."
"Aku akan langsung mengurus dokumen pembelian aset sitaan itu siang ini juga."
"Bagus, aku serahkan semua urusan bisnis itu padamu Nadhira, aku ingin bersantai jalan-jalan ke taman kota pagi ini," ucap Bara mengakhiri pembicaraan.
Setelah menutup telepon, Bara langsung mengambil kunci mobil sportnya dan melangkah keluar dari apartemen.
Dia ingin menghirup udara segar di taman kota yang tidak terlalu jauh dari gedung apartemennya untuk merilekskan otot-ototnya.
Bara memarkirkan mobilnya di area parkir taman yang cukup sepi karena ini masih jam kerja orang kantoran.
Dia berjalan menyusuri jalan setapak taman yang rindang dan dipenuhi oleh pepohonan besar yang sejuk.
Namun saat Bara sedang menikmati udara pagi, penciuman tajamnya mendadak menangkap bau mesiu dan keringat yang sangat asing.
Bulu kuduk di tengkuk Bara tiba-tiba meremang tajam memberikan sinyal bahaya yang sangat kuat.
Ting.
Suara mekanis sistem mendadak berbunyi nyaring di dalam kepala Bara memberikan peringatan darurat.
[Peringatan Sistem.]
[Mendeteksi adanya niat membunuh yang sangat pekat terarah tepat kepada Tuan dari tiga sudut yang berbeda.]
Bara langsung menghentikan langkahnya dan mematung di tengah jalan setapak taman yang sepi itu.
Dia sama sekali tidak panik, melainkan tersenyum dingin dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Keluarlah dari tempat persembunyian kalian, bau badan kalian terlalu menyengat untuk melakukan penyergapan," ucap Bara dengan suara lantang.
Tiga sosok pria berpakaian serba hitam tiba-tiba melompat turun dari atas dahan pohon besar di sekeliling Bara.
Ketiga pria itu mendarat tanpa suara sama sekali, menunjukkan kelincahan fisik yang jauh di atas preman jalanan biasa.
Mereka semua memakai topeng hitam yang hanya memperlihatkan sepasang mata tajam yang memancarkan aura pembunuh berdarah dingin.
Di tangan kanan masing-masing pria itu, terdapat sepucuk pistol berwarna perak yang sudah dipasangi peredam suara.
"Instingmu ternyata lumayan tajam juga untuk ukuran seorang mantan pemulung sampah," ucap pria di tengah dengan suara serak.
"Anton Aristha pasti membayar kalian dengan harga yang sangat mahal untuk membunuhku pagi ini kan?" tebak Bara dengan sangat santai.
Pria di sebelah kiri mendengus pelan dan langsung mengarahkan moncong pistol peraknya tepat ke kepala Bara.
"Tuan Anton memang membayar kami sangat mahal untuk membawa kepalamu ke hadapannya hari ini juga."
"Tapi sayang sekali, karena kami tidak bisa lagi menghubunginya sejak semalam, kami anggap pekerjaan ini sebagai acara bersenang-senang saja."
Bara tertawa pelan mendengar ucapan bodoh dari para pembunuh bayaran bayangan yang disewa oleh musuhnya ini.
"Kalian tidak bisa menghubunginya karena majikan tua kalian itu sekarang sedang menangis di dalam ruang interogasi polisi," ejek Bara tanpa ragu.
Ketiga pembunuh bayaran itu sedikit tersentak kaget mendengar informasi jatuhnya klien besar mereka.
"Bos kita ditangkap polisi? Lalu siapa yang akan membayar sisa pelunasan misi ini?" tanya pembunuh di sebelah kanan dengan nada kesal.
Pemimpin pembunuh di tengah langsung mengangkat tangannya untuk menenangkan anak buahnya.
"Itu tidak penting sekarang, Tuan Anton sudah membayar uang muka sebesar satu miliar di awal perjanjian kita."
"Uang sebesar itu sudah cukup bagi kita untuk membunuh satu bocah ingusan yang terlalu banyak bicara ini."
Pemimpin itu langsung mengokang pistolnya dan menatap Bara dengan tatapan mata seperti sedang melihat orang mati.
"Ada pesan terakhir yang ingin kau sampaikan sebelum kami melubangi kepalamu ini, anak muda?" ancam pemimpin itu dengan nada merendahkan.
Bara sama sekali tidak menunjukkan raut wajah ketakutan, dia justru meregangkan otot lehernya ke kiri dan ke kanan hingga berbunyi krek.
"Pesan terakhirku adalah, kalian datang ke kota yang salah dan mencari masalah dengan monster yang salah," jawab Bara dengan senyum mematikan.
"Jangan sombong kau brengsek, mati sekarang juga!" teriak pembunuh di sebelah kiri kehilangan kesabarannya.
Piu. Piu. Piu.
Suara tembakan teredam langsung terdengar berturut-turut dari ketiga moncong pistol tersebut.
Tiga butir peluru tajam melesat dengan kecepatan mematikan tepat mengincar kepala, dada, dan perut Bara secara bersamaan.
Bagi manusia normal, serangan mendadak dari tiga arah ini adalah vonis kematian yang tidak bisa dihindari sama sekali.
Namun di mata Bara yang sudah diperkuat oleh pil dari dimensi kultivasi, pergerakan peluru itu terlihat cukup lambat untuk diantisipasi.
Wush.
Bara langsung mengaktifkan Teknik Langkah Bayangannya hingga kecepatan tubuhnya meningkat secara tidak masuk akal.
Bara memiringkan kepalanya dengan cepat hingga peluru pertama hanya mendesing melewati telinganya.
Sedangkan untuk peluru kedua dan ketiga, Bara sengaja membiarkannya menghantam bagian dadanya tanpa mencoba menghindar.
Tuk. Tuk.
Dua peluru perak itu membentur dada Bara dengan keras namun langsung tertahan dan penyok saat menyentuh Kaos Dalam Sutra Ulat Es di balik bajunya.
"Ugh, pukulan peluru kalian ternyata jauh lebih lemah dari pistol rakitan preman kemarin," ejek Bara sambil membersihkan debu di dadanya.
Ketiga pembunuh bayaran elit itu langsung mematung dengan mata melotot lebar melihat target mereka masih berdiri tegak tanpa luka sedikit pun.
"Apa-apaan ini? Bagaimana mungkin peluru kaliber besar tidak bisa menembus dadanya?!" teriak pemimpin pembunuh itu dengan suara panik.
"Bocah ini pasti memakai rompi anti peluru tingkat tinggi di balik bajunya, incar terus kepalanya!" perintahnya dengan cepat.
Namun sebelum mereka bertiga sempat menekan pelatuk pistol mereka lagi, sosok Bara tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka berdua.
"Sekarang giliranku yang menyerang, dasar siput lambat," bisik Bara yang entah sejak kapan sudah berada tepat di belakang pembunuh sebelah kiri.
Krak.
Bara langsung menendang tulang kering pembunuh itu dengan kekuatan penuh hingga kakinya patah berlipat ke arah depan.
"Arghhh!" jeritan kesakitan yang sangat melengking langsung menggema di taman sepi tersebut.
Pertarungan mematikan babak kedua antara pemuda pewaris sistem dan pembunuh bayaran bayangan akhirnya benar-benar dimulai dengan tumpahan darah pertama.