NovelToon NovelToon
Siasat Cantik Istri Bercadar

Siasat Cantik Istri Bercadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.

Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.

​Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.

Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengapa Harus Aku

Di dalam kamar yang temaram, malam terasa berjalan begitu lambat.

Fatimah masih setia mendekap bantalnya yang kini telah basah oleh air mata. Hijab yang semula menutupi kepalanya sudah ia lepas, menyisakan wajah sembap dengan mata yang bengkak dan memerah.

Di luar, suara rintik hujan mulai terdengar, mengetuk-ngetuk genting seolah ikut meratapi nasibnya.

Namun, suara hujan itu kalah bising dengan riuh rendah pikiran di kepala Fatimah. Pertanyaan yang sama terus berputar tanpa henti, membakar dadanya dengan rasa sesak yang tak berkesudahan.

*Mengapa harus aku?*

Fatimah menatap langit-langit kamar yang mulai berjamur. Mengapa takdir seolah begitu tidak adil padanya?

Sejak kecil, ia selalu berusaha menjadi anak yang paling penurut. Saat Fadia merengek meminta baju baru, Fatimah memilih diam dan memakai baju lamanya.

Saat Mas Faisal butuh biaya tambahan untuk buku-buku kuliahnya, Fatimah dengan ikhlas menunda keinginannya untuk masuk ke universitas impian dan memilih mengabdi di pesantren tanpa digaji.

Ia mengalah, berkali-kali mengalah, karena ia percaya bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan.

Ia mengira, setelah Mas Faisal memakai toga, giliran dirinya yang akan melangkah menuju gerbang kampus dengan senyum bangga orang tuanya.

Namun, kenyataan justru menamparnya tanpa ampun. Jangankan kuliah, hak untuk memilih pasangan hidupnya sendiri pun direnggut paksa.

"Pak Rayhan..." Fatimah berbisik lirih, mengeja nama pria asing yang tiba-tiba masuk ke dalam takdirnya.

Usia pria itu tiga puluh delapan tahun. Selisih delapan belas tahun dengannya.

Di mata Fatimah, pria itu bukan lagi seorang pemuda, melainkan seseorang yang pantas menjadi pamannya.

Bagaimana mungkin ia bisa membina rumah tangga dengan pria yang dunianya pasti sudah sangat jauh berbeda dengannya?

*“Apakah kamu ingin menjadi anak durhaka, Fatimah?”*

Kata-kata Ayah kembali terngiang, bergema di dinding-dinding kamarnya bak sebuah kutukan yang mengikat erat kedua kakinya.

Fatimah memejamkan mata erat-erat, memegangi dadanya yang terasa sangat nyeri.

Kalimat itu adalah senjata paling mematikan bagi seorang anak yang seumur hidupnya hanya ingin mencari rida orang tua demi menggapai rida Allah.

Ia tidak takut hidup miskin. Ia tidak takut jika harus berjuang dari nol. Namun, dicap sebagai anak durhaka oleh ayah kandungnya sendiri adalah ketakutan terbesar yang tak sanggup ia pikul.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan lembut di pintu kamarnya memecah keheningan.

"Fatimah... Ini Mas Faisal, Dek," suara kakaknya terdengar dari balik pintu, terdengar begitu penuh rasa bersalah.

"Buka pintunya, Dek. Mas mau bicara. Tolong jangan seperti ini."

Fatimah tidak bergeming. Ia menarik selimutnya hingga menutup seluruh tubuh, menyembunyikan diri dari dunia yang mendadak terasa begitu kejam.

Ia tidak ingin mendengar penjelasan apa pun lagi. Ia tidak ingin mendengar pembenaran-pembenaran yang hanya akan semakin menyudutkan posisinya.

"Fatimah, Mas tahu kamu kecewa. Mas tahu ini nggak adil buat kamu..." Suara Faisal kembali terdengar, lalu helaan napas berat menyusul setelahnya karena tidak mendapat jawaban.

"Ya sudah, kamu istirahat ya, Dek. Besok kita bicara lagi."

Langkah kaki Faisal perlahan menjauh.

Fatimah membuka selimutnya, menatap nanar ke arah jendela kamar yang berembun.

Malam itu, di atas ranjang tuanya, Fatimah mengambil sebuah keputusan. Ia tidak akan berteriak lagi, ia tidak akan mendebat lagi di rumah ini.

Esok pagi, ia harus pergi dari rumah ini—bukan untuk kabur, melainkan untuk kembali ke satu-satunya tempat yang selalu memberinya ketenangan: Pesantren Al-Hidayah.

Ia butuh mengadu pada Allah, dan ia butuh bimbingan dari seseorang yang bisa menjernihkan hatinya yang tengah dirundung badai.

1
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!