NovelToon NovelToon
Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:698.6k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!

Demi menikahi Lavanya, Aditya tega memberikan obat anti-ovulasi kepada Kemuning, agar tidak pernah bisa punya anak. Aditya juga memanipulasi hasil tes kesuburan Kemuning.

Namun, takdir berkata lain ketika kecelakaan menimpa Kemuning. Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau ada zat berbahaya di dalam rahimnya.

Dengan bantuan Arkatama, Kemuning menyusun pembalasan kepada Aditya dan Lavanya. Membuat mereka merasakan pembalasan yang tak disangka-sangka.

Niat ingin menguasai harta milik Kemuning, yang Aditya dapatkan malah gigit jari.

Akankah rahim Kemuning bisa subur kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Kemuning masuk ke dapur. Di sana Aditya sedang duduk di kursi, menikmati secangkir kopi. Sementara Lavanya berdiri dekat kabinet, sedang membuat teh. 

“Mas ...,” panggil Kemuning berjalan mendekat.

“Kenapa lama sekali? Aku sudah lapar,” kata Aditya ketus.

Alis Kemuning mengerut karena tiba-tiba saja suaminya marah. Dia melihat jam di dinding, baru pukul delapan. Waktu biasanya dia mengirim makanan.

“Wangi sekali masakan Bu Kemuning. Pasti enak!” puji Lavanya ketika melihat makanan di tata di atas meja. Sementara dalam hatinya dia mengumpat Kemuning karena sudah mengganggu kebersamaannya dengan Aditya, tadi.

“Anya, ayo, makan bersama! Katanya kamu belum sarapan," ajak Aditya sambil menarik kursi di sebelahnya.

“Memangnya boleh, Pak?” tanya Lavanya sambil duduk.

“Tentu saja boleh,” jawab Aditya dengan senyum lebar. “Kamu, tuh, butuh tenaga untuk kerja. Kalau nanti tiba-tiba kamu pingsan, aku bisa berabe.”

Melihat interaksi keduanya, Kemuning sangat kesal. Karena dia juga lapar dan belum makan apapun. Sementara porsi makanan yang dibawa hanya cukup untuk dua orang.

“Tapi, Mas—”

“Bukannya kamu sering bilang harus berbuat baik dan kasih perhatian sama karyawan,” ujar Aditya dengan tatapan sinis. Dia menahan kesal dan ingin mengusir Kemuning dengan cara halus.

Padahal maksud Kemuning, berbuat baik dan perhatian kepada karyawan itu bukan seperti itu bentuknya.

Diam-diam Lavanya tersenyum. Dia senang melihat Aditya memojokan istrinya.

“Kalau begitu aku pulang,” kata Kemuning dan itulah yang ditunggu-tunggu oleh Aditya juga Lavanya.

Sore itu, langit mulai meredup, menyisakan cahaya jingga yang masuk dari celah jendela rumah. Kemuning baru saja selesai merapikan dapur, sehabis masak, ketika suara pintu kamar mandi terbuka terdengar. 

Aditya keluar dengan langkah cepat, rambutnya masih basah, aroma sabun masih melekat di tubuhnya. Pria itu masuk kamar, langsung menuju lemari, mengambil pakaian dengan tergesa, seperti seseorang yang dikejar waktu.

Kemuning yang sejak tadi memperhatikannya hanya bisa berdiri diam di dekat meja. Ada rasa asing yang mengendap di dadanya. Seperti ada sesuatu yang sedang dia lewatkan, sesuatu yang tidak dia ketahui. Dia pun menyusul masuk ke kamar.

“Mas, mau ke mana?” tanya Kemuning pelan sambil menutup pintu.

Aditya tidak menoleh. Dia hanya menarik kemejanya dengan kasar, lalu memakainya sambil berjalan melewati Kemuning, seolah kehadiran istrinya tidak lebih dari bayangan di sudut ruangan.

“Aku ada urusan penting,” jawab pria itu singkat dan datar.

Langkah Aditya terus berlanjut menuju pintu depan.

“Ini sudah sore dan sebentar lagi waktunya makan,” lanjut Kemuning, suaranya sedikit bergetar. Dia hanya mengingatkan dan berharap didengar. Namun, harapan itu langsung runtuh.

“Berisik!” bentak Aditya tiba-tiba, suaranya keras, membuat Kemuning tersentak. “Aku mau pergi ke mana pun, kamu tidak bisa melarang!”

Kemuning membeku di tempat. Kata-kata itu terasa seperti tamparan yang keras, membuat telinganya berdengung. Dia bahkan tidak sempat menjelaskan bahwa dia tidak pernah berniat melarang. Belum sempat wanita itu berkata apa-apa, suara lain muncul dari belakangnya.

“Kamu itu jadi istri jangan suka mengekang suami.”

Kemuning menoleh perlahan. Bu Ratih berdiri di sana, kedua tangannya bersedekap, wajahnya dingin tanpa sedikit pun empati.

“Biarkan Aditya bebas pergi ke mana pun yang dia mau,” lanjut wanita paruh baya itu dengan nada yang tegas, seolah sedang menghakimi.

Kemuning menunduk. Jantungnya berdetak tidak teratur. Dia ingin menjelaskan dan ingin mengatakan bahwa dia hanya khawatir, tetapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Di depan rumah, suara mesin mobil menyala, lalu perlahan menjauh. Meninggalkan keheningan yang terasa begitu berat.

Kemuning masih berdiri di tempatnya. Tangannya saling menggenggam erat, menahan gemetar yang mulai menjalar. Perasaannya sangat tidak enak. Seolah ada sesuatu yang sedang terjadi di luar jangkauannya. Sesuatu yang perlahan merenggut semua yang ia percaya. Namun, dia tidak tahu apa itu.

Malam harinya, suasana rumah tidak menjadi lebih baik. Justru terasa semakin dingin. Kemuning berdiri di dapur, tangannya sibuk membereskan piring dan peralatan masak. Air mengalir dari keran, suara gemericiknya mengisi keheningan yang menyesakkan. Matanya sembab, tetapi dia terus bekerja, seolah dengan begitu dia bisa melupakan semuanya.

Semua yang ia lihat di peternakan tadi terus berputar di kepalanya. Cara Aditya berbicara pada wanita lain dengan suara yang tidak pernah lagi ia dengar ditujukan padanya. Dada wanita itu kembali terasa perih.

Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah depan. Aditya sudah pulang, tanpa melihat ke arahnya apalagi menyapa. Pria itu langsung masuk ke kamar.

Kemuning menghela napas pelan. Dia mengeringkan tangannya, lalu hendak menyusul, berharap setidaknya malam ini bisa berjalan tanpa pertengkaran. Namun, harapan itu lagi-lagi tidak diberi kesempatan.

“Mana air minum?” Suara Aditya terdengar tajam dan keras.

Kemuning tersentak. Jantungnya berdegup cepat. Wanita itu segera kembali ke dapur, tangannya sedikit gemetar saat menuangkan air. Dia bergegas menuju kamar, langkahnya cepat namun hati-hati. Namun, begitu dia masuk Aditya menatapnya dengan kesal, alisnya berkerut tajam. 

“Kamu ini bagaimana, sih?! Hal seperti ini saja harus diingatkan!”

Kemuning langsung menunduk. Jemarinya mencengkeram gelas itu erat, seolah itu satu-satunya yang bisa dia pegang agar tidak runtuh. “Maaf, Mas, aku lupa,” ucapnya pelan. Suaranya lirih, hampir tidak terdengar.

“Selalu lupa!” bentak Aditya lagi, lebih keras dari sebelumnya. “Apa gunanya kamu di rumah kalau urus suami saja tidak becus!”

Kata-kata itu sangat tajam, menghantam tepat di dada Kemuning. Itu menyakitkan dan mengoyak bagian yang sudah rapuh sejak siang tadi.

Namun, Kemuning tidak melawan. Dia hanya menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan getaran yang ingin keluar. Menahan tangis yang sudah berkumpul di pelupuk matanya.

Bu Ratih yang lewat depan kamar dan mendengar keributan itu hanya menggeleng pelan. Mertuanya itu tidak merasa kasihan, malah memprovokasi.

“Memang begitu kalau istri tidak bisa diandalkan dan berguna,” ucap Bu Ratih, cukup keras untuk terdengar jelas. “Sudah tidak bisa kasih anak, urusan rumah juga berantakan.”

Kalimat itu kembali menghantam luka lama Kemuning yang terus dibuka paksa, berulang-ulang, tanpa diberi kesempatan untuk sembuh.

Kemuning memejamkan matanya erat. Napasnya tertahan. Dadanya terasa sesak, seolah tidak ada lagi ruang untuk udara masuk. Selalu saja itu yang dibahas ibu mertuanya, wanita mandul, tidak becus, atau tidak berguna.

Sudah sejak lama semua kata itu berputar di kepala Kemuning, semakin lama semakin keras, semakin menekan. Dan perlahan tanpa dia sadari, dia mulai mempercayainya. Bahwa semua ini memang salahnya. Bahwa mungkin, dia memang tidak cukup baik.

Kemuning berdiri dengan tubuh yang masih tegak, tetapi hati yang perlahan hancur sedikit demi sedikit, tanpa ada yang benar-benar peduli. “Kenapa nasibku seperti ini? Aku aku tidak berhak untuk hidup bahagia dan memberikan kebahagiaan untuk orang lain?”

1
antha mom
Aditya,, kalau ada perempuan yang mau Kamu ajak selingkuh,,itu namanya perempuan yang nggak benar, perempuan yang mau enaknya aja,ada uang abang sayang nggak ada uang abang di tinggal kabur 🤣🤣, nikmatilah hasil perselingkuhan mu Aditya 😄😄
niktut ugis
bukan berbahagia karena anaknya Lavanya meninggal tapi itu lebih baik buat kelanjutan hidup baby.. semoga takdir baik mulai menyelimuti Lavanya
niktut ugis
mewek baca cerita Steve tapi celetukan Arya bikin mata melotot.. tolong kemuning atau arka bantu q ketok kepalanya Arya 😡😂
niktut ugis
Arka coba buka otak Arya isi nya apa 😂😂😂
niktut ugis
Aryaaaaa ya ampun 😡😂😂😂
ayu cantik
bagus
Yani Suryani
makannya punya mulut dijaga sering ngerendahin orang sekarang mulutnya perot kan
Yani Suryani
syukurlah tak kirain baru ketemu dimatiin, ternyata ada solusi lain
Steven semangat ya buat sembuh
aku baca udah tamat gak tau akhirnya gimana soalnya walau komen pun sudah selesai ceritanya
ini hanya sekedar meninggalkan jejak, walau ceritanya sudah selesai tapi masih ada pembaca yg baru nemuin cerita ini
semangat juga buat kak Santi dengan karya" yg 👍
🌸 Sunshine 🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Yani Suryani
lah masak mati Stevennya kan orang kaya berobat diluar negri siapa tau ada yg donor, setelah itu berteman dengan Arya biar gak kesepian 🤭
Yani Suryani
disaat air mataku ikut menetes karena Steven ehhh ada iklan Arya yg bikin ngikik
Yani Suryani
apapun yg terjadi sama orang tua anak yg jadi korban, walau hidup bergelimang harta dan dibesarkan ibu kandungnya sendiri tapi justru hidup Arya lebih bahagia karena berlimpah kasih sayang, sedang Steven di hidup dalam kesunyian dan menyedihkan
Yani Suryani
kalau sekolah bisa antar jemput itu Arya bisa saja diculik, tapi bisa jadi kemuning jadi sasaran
kok jadi tegang tapi suka ceritanya bukan lagi bucin"an lagi jadi makin seru dan ada gregetnya,biasa cerita awal konflik habis itu bucin" hingga selesai tapi ini beda jadi lebih menarik ceritanya 👍
Yani Suryani
ingat dia yg membuangmu,dia datang cuma mau memanfaatkan mu Arya,yg keluarga sesungguhnya ya kakakmu itu
Yani Suryani
ya ampun ikut tegang, kalau jaman dulu mungkin orang bisa hilang dengan mudah tapi sekarang beda jaman, semua bisa viral dan cepat terbongkar
Yani Suryani
lah kayak Adit gini bangkit dan menyesali perbuatannya, berusaha untuk menjadi lebih baik setelah apa yg terjadi, Adit jika sukses lagi jangan sombong jangan sok, tapi jadi rendah diri itu buat kamu tambah sukses
niktut ugis
jalang Lavanya beneran cari mati
Ila Lee
bagus aditya mula kn baru bertaubat jgn lagi berbuat dosa pasti tuhan akan memurahkan rezeki MU jadi yg lebih baik 💪💪💪💪
Ila Lee
akhirnya ketemu mantan Aditya sama kn kemuning dengan diri MU yg tidak kuat iman mudah tergoda
Ila Lee
pergi kemna cari kemuning sesal dulu pendapatan sesal kemudian tidak berguna nasi sudah menjadi bubur 😭😭😭😭
Ila Lee
jalani ajer dulu kemuning tak semestinya pacaran akan bahagia aku juga dijodoh n.kn cuma kenal 2 bukan langsung nikah Alhamdulillah sekarang sudah 30 tahun menikah Thor jadi yg lepas biar menjadi masa lalu aku yakin arkatama lelaki yg baik terima kemuning ❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!