Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3- Balas dendam
Sebelum penyerangan terjadi...
Markas Black Seraph berada.
Sebuah gudang besar di kawasan industri tua yang terlihat sepi dari luar dan tidak ada aktivitas yang mencurigakan.
Namun di dalam sana, puluhan pria bersenjata siap berjaga. Beberapa tengah duduk santai, merokok, dan tertawa kecil, seolah dunia berada dalam kendali mereka.
Kemudian salah satu dari mereka menyandarkan senjatanya ke meja dan berkata, “Kau yakin Vanzara tidak akan bergerak?” tanyanya santai.
"He he" Pria lain terkekeh. “Bos bilang mereka sudah hancur sejak kematian Marko. Ratu mereka? Hilang entah ke mana.”
Tawa kecil pun terdengar saling bersahutan. Tanpa mereka sadari, kesalahan terbesar mereka adalah meremehkan seorang ratu.
Sementara di luar gedung tak jauh dari sana. Beberapa mobil hitam berhenti tanpa suara. Saat pintu terbuka, sosok-sosok bersenjata keluar dengan gerakan yang cepat dan terlatih.
Dan di antara mereka Aurelia Vanzara tengah berdiri dan siap tempur. Matanya menatap gedung di depannya dengan tatapan dingin. Seolah tempat itu… sudah menjadi kuburan.
Lalu, Vincent bergerak dan sedikit mendekat “Semua unit siap, Nona.”
Aurelia tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya perlahan sebagai satu isyarat dan seluruh pasukan pun langsung bersiap.
Aurelia menatap lurus ke depan dan berkata, “Tidak ada yang keluar hidup-hidup.”
Suaranya terdengar pelan namun cukup untuk menggetarkan siapa pun yang mendengarnya.
“Dimengerti.” jawab Vincent seraya menunduk.
Aurelia menurunkan tangannya.
Lalu—
“Mulai.”
SERANGAN PUN DIMULAI
DOR! DOR! DOR!
Pintu depan ditembus dengan ledakan keras dan memecahkan kaca di sekitar.
Seketika teriakan pun langsung memenuhi ruangan.
“Apa—?! SERANGAN!!”
Belum sempat mereka bereaksi, peluru sudah lebih dulu menyapa hingga satu per satu tubuh jatuh. Lalu pasukan Vanzara masuk dari segala arah dengan cepat, presisi dan tanpa ampun.
Di dalam kekacauan, seorang anggota Black Seraph mencoba membalas. Namun...
DOR!
Ia jatuh sebelum sempat mengangkat senjatanya. Lalu langkah sepatu hak tinggi terdengar di tengah suara tembakan dengan perlahan dan tenang.
Tap... Tap... tap...
Bertolak belakang dengan kekacauan di sekitarnya, Aurelia berjalan masuk tanpa tergesa-gesa dan tanpa perlindungan.
Namun tidak ada satu peluru pun yang mendekatinya. Seolah kematian… berpihak padanya.
Di sebrang Aurelia sedang berjalan, seorang pria yang melihatnya nampak membeku. “Itu… itu dia… Crimson Queen—”
DOR.
Aurelia menembaknya tepat di kepala tanpa ekspresi. Ia menurunkan pistolnya perlahan dan matanya menyapu ruangan dengan tatapan kosong dan tidak ada belas kasihan.
Kemudian dua pria menyerangnya dari sisi kiri namun Aurelia bergerak dengan cepat, menunduk, lalu menangkap tangan salah satu dari mereka dan memutar kepalanya.
KRAK!
Suara tulang yang patah.
Tanpa jeda, ia mengambil pistol dari tangan pria itu dan,
DOR! DOR!
Keduanya pun jatuh tersungkur.
Melihat teman-teman nya mati satu persatu, para musuh pun semakin panik.
“LARI!!”
“INI JEB—”
DOR!
Suara mereka terhenti satu per satu. Namun tidak semua, beberapa berhasil melarikan diri melalui pintu belakang.
“Sebagian kabur, Nona!” teriak Vincent.
Aurelia pun berhenti. Lalu menoleh perlahan. Matanya… lebih dingin dari sebelumnya.
“Biarkan," perintah Aurelia.
Vincent terdiam dan menurut saja.
Lalu Aurelia melangkah melewati tubuh-tubuh yang bergelimpangan sementara cairan berwarna merah mulai menggenang di lantai.
“Biarkan mereka lari,” ulangnya pelan, seraya tersenyum tipis menyeramkan.
“Supaya mereka tau… siapa yang memburu mereka.”
Beberapa menit kemudian...
Tak ada lagi suara tembakan. Tak ada lagi perlawanan. Yang ada hanya mayat yang bergelimpangan… dan bau mesiu.
Vincent berdiri di tengah ruangan lalu berkata, "Semua target di lokasi ini… telah dihabisi.”
Aurelia tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tengah kehancuran itu. Matanya menatap lurus ke depan. Namun pikirannya jauh ke malam itu.
Ke suara terakhir Marko.
Tangannya perlahan mengepal lalu memekik, “Ini belum cukup…"
_____
Di luar api mulai membakar sisa markas. Langit malam pun memantulkan warna merah seperti darah.
Aurelia berdiri di depan gedung yang kini menjadi puing dengan ekspresi wajah yang tetap tenang. Namun di dalam hatinya api balas dendam semakin membesar.
“Dante Moretti…” bisiknya. “Aku akan menemukanmu.”
##
Malam belum berakhir. Namun bagi Dante Moretti ini adalah akhir dari segalanya.
Saat itu hujan turun deras ketika sebuah mobil hitam berhenti di halaman markas utama Vanzara Empire. Lalu pintu pun terbuka dengan kasar.
Blug!!
Dante diseret keluar dari mobil. Tubuhnya kotor, jas mahalnya sudah tidak lagi menunjukkan wibawa jika ia seorang pemimpin mafia.
Wajahnya penuh luka, napasnya terdengar berat, dan untuk pertama kalinya ketakutan terlihat jelas di matanya.
“Jalan!” bentak salah satu anak buah Aurelia.
Dante terhuyung, bahkan lututnya beberapa kali hampir menyentuh tanah sebelum akhirnya ia didorong masuk ke dalam ruangan besar yang remang dan sunyi.
Di ujung ruangan, Alena sedang duduk di kursinya. Tenang, elegant, dan mematikan
Cahaya lampu redup jatuh tepat di wajahnya, sehingga mempertegas kecantikannya yang sempurna, namun juga memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan yakni tatapan tanpa belas kasihan.
Brukkkk!
Dante langsung dijatuhkan dan berlutut.
“Nona…” suara pria yang membawanya terdengar hormat. “Target sudah kami bawa.”
Seperti biasa, Alena tidak langsung menjawabnya dan hanya menatap musuh dengan lama dalam diam.
Dan diam itulah yang justru membuat Dante semakin gemetar.
“A—Aurelia…” suara Dante bergetar. “Dengarkan aku… ini semua bisa dijelaskan—”
“Diam.”
Satu kata. Pelan. Namun cukup untuk membuat ruangan itu membeku.
Alena lalu bangkit dari kursinya dan perlahan melangkah mendekat. Setiap langkahnya seperti tekanan yang menghancurkan mental Dante sedikit demi sedikit dan Alena pun berhenti tepat di depan pria itu.
Alena menunduk sedikit dan menatapnya. “Jadi… kau orangnya.”
Glek!!!
Dante menelan ludahnya.
“Aku… aku tidak berniat membunuhnya!” katanya cepat. “Itu bukan target kami! Kami hanya ingin wilayah—”
PLAK.
Sebuah tamparan yang tidak keras mendarat di pipi Dante namun cukup untuk menghentikan semua kata-katanya.
Alena menatapnya tanpa ekspresi lalu berkata dengan pelan, “Namanya."
Dante membisu.
“Apa kau bahkan ingat namanya?” lanjut Alena.
Suasana semakin mencekam lalu Dante menjawab dengan setengah berbisik, “Marko…”
Alena menutup matanya sejenak lalu membukanya kembali. “Dan kau pikir,” katanya perlahan, “setelah kau mengambil nyawanya… aku akan membiarkanmu tetap bernapas?”
Dante langsung menunduk, dan seketika suaranya langsung pecah.
“Tolong… aku bisa memberimu segalanya! Uang, wilayah, orang-orangku—semua milikmu! Aku akan menghilang! Aku bersumpah!”
Ia lalu mendekat dan hampir merangkak.
“Biarkan aku hidup… aku mohon…” pohon Dante memelas.
Namun Alena hanya terdiam. Lalu ia tersenyum tipis. “Lucu. Kau memohon… seolah-olah aku masih manusia.”
Dante membeku seraya mendongak dengan mata yang membesar. Dan detik itu juga ia sadar, jika ia tidak sedang berbicara dengan wanita biasa tapi wanita yang berbahaya.
Kemudian Alena berdiri tegak dan menatap anak buahnya tanpa menoleh.
“Tidak ada yang masuk dan tidak ada yang mengganggu.”
“Siap, Nona.”
Pintu pun ditutup dan terkunci.
Dan yang tersisa hanyalah keheningan… dan penghakiman. Tidak ada yang tau pasti apa yang terjadi di dalam.
Yang mereka tau, penghakiman itu tidak ada ampun dan tidak ada belas kasihan. Hanya satu hal yang pasti, Crimson Queen sedang menuntaskan dendamnya.
_____
________
Beberapa saat kemudian...
Pintu terbuka kembali dan Alena keluar dengan langkah yang tetap tenang. Wajahnya bersih dan tidak ada emosi. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Vincent menunduk dan bertanya, “Selesai, Nona?”
“Selesai," jawab Alena singkat.
Ia lalu berjalan melewati mereka. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti dan tanpa menoleh berkata, “Bersihkan dan berikan sisanya pada hewan.”
“Siap, Nona.”
##
Malam itu nama Dante Moretti menghilang dari dunia. Tanpa jejak. Tanpa makam dan tanpa sisa.
Adapun Alena, kini ia berdiri kembali di balkon tinggi markasnya sambil menatap kota.
“Marko…” bisiknya lirih.
“Aku sudah menepati janjiku.”