NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Waktu terus berjalan dan sinar matahari pagi mulai terasa menyengat kulit.

Arka menatap satu-satunya meja yang tersisa di warungnya dengan perasaan gelisah yang luar biasa.

"Aku punya modal empat juta lebih, aku harus segera membeli meja dan kursi baru sebelum jam makan siang." Arka bergumam sambil mengunci laci gerobaknya rapat-rapat.

Ia menyalakan sepeda motor bututnya dan melaju menuju toko perabotan plastik terdekat yang jaraknya hanya sepuluh menit dari warung.

Setibanya di toko, Arka langsung disambut oleh tumpukan kursi dan meja plastik beraneka warna yang berjejer hingga ke trotoar.

"Koh, saya butuh lima meja lipat dan dua puluh kursi plastik yang paling tebal sekarang juga." Arka berbicara cepat kepada pemilik toko yang sedang minum kopi.

Pria paruh baya bermata sipit itu menatap Arka dari atas sampai bawah dengan tatapan penuh selidik.

"Barang ada, tapi harganya lumayan mahal kalau ambil yang tebal, kamu bawa uangnya tidak?" Tanya pemilik toko itu dengan nada sedikit meremehkan.

Arka tidak mau membuang waktu meladeni sikap menyebalkan itu dan langsung mengeluarkan segepok uang tunai seratus ribuan dari saku jaketnya.

"Totalnya berapa Koh, tolong antarkan pakai mobil pikap ke warung saya di seberang restoran bintang lima itu." Arka menghitung uangnya dengan cepat.

Mata pemilik toko itu langsung berbinar dan sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat ramah.

"Totalnya satu juta lima ratus ribu saja Bos, mobil pikap saya siap mengantar detik ini juga." Pria itu menerima uang Arka dengan senyum lebar yang dipaksakan.

Setengah jam kemudian, warung tenda Arka tidak lagi terlihat menyedihkan seperti kapal pecah.

Lima meja merah menyala dan dua puluh kursi biru kini tersusun rapi menggantikan perabotan lamanya yang hancur berkeping-keping.

"Walaupun tendanya masih sedikit robek di bagian atas, setidaknya sekarang pelanggan bisa duduk dengan nyaman." Arka mengangguk puas melihat hasil kerjanya.

Jam di ponselnya menunjukkan pukul sebelas siang, waktu yang sangat krusial karena sebentar lagi para pekerja dan mahasiswa akan keluar mencari makan.

Arka mulai menyiapkan bahan-bahannya, memotong sisa sayuran, dan memanaskan minyak di wajan bajanya agar siap digunakan kapan saja.

Dari kejauhan, terdengar suara tawa dan obrolan beberapa orang yang berjalan mendekati warungnya.

"Laras, kamu yakin mau traktir kita makan di tempat kumuh begini?" Terdengar suara seorang pria yang mengeluh dengan nada tinggi.

Arka menoleh dan melihat Laras datang bersama tiga orang temannya, dua perempuan dan satu laki-laki berpenampilan modis.

Pria yang baru saja mengeluh itu bernama Bima, teman sekelas Laras yang selalu memamerkan barang-barang bermerek miliknya.

"Tempat ini kelihatannya mau rubuh Laras, awas saja kalau sampai bajuku kena noda minyak kotor." Ucap salah satu teman perempuan Laras sambil menutup hidungnya rapat-rapat.

Laras hanya memutar bola matanya malas mendengar keluhan teman-temannya yang terlalu banyak gaya itu.

"Kalian tenang saja, aku jamin rasanya jauh lebih enak daripada restoran mahal di seberang jalan itu." Laras menunjuk restoran milik Kevin dengan dagunya.

"Halo Mas Arka, aku bawa teman-teman nih seperti janjiku tadi pagi." Laras menyapa Arka dengan senyum manis yang ceria.

"Selamat datang kembali Kak Laras, silakan duduk di meja yang baru ini." Arka menyambut mereka dengan ramah tanpa mempedulikan tatapan merendahkan dari Bima.

"Pesan empat porsi Nasi Goreng Spesial ya Mas, pedasnya disamakan saja semua." Laras langsung memesan sambil menarik kursi plastiknya.

"Siap, empat porsi segera meluncur." Arka berbalik dan langsung menyalakan kompor gasnya dengan kekuatan penuh.

Wushhh!

Api biru menyala besar menjilat dasar wajan baja hingga menciptakan suara deru yang cukup keras.

Arka memasukkan bawang putih dan bumbu dasar ke dalam minyak panas dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi.

Srenggg!

Suara desisan minyak terdengar nyaring, disusul oleh kepulan asap tipis yang membawa aroma masakan ke udara.

Bima yang tadinya sedang mengipasi dirinya dengan tangan langsung terdiam mematung.

Aroma gurih yang luar biasa kuat itu menyusup masuk ke dalam hidungnya dan langsung memicu produksi air liurnya tanpa bisa ditahan.

"Wangi apa ini, kenapa rasanya perutku jadi kosong melompong begini?" Bima membatin sambil menatap punggung Arka dengan rasa tidak percaya.

Kedua teman perempuan Laras juga saling pandang dengan mata terbelalak, lupa dengan keluhan mereka tentang tempat yang kumuh beberapa detik lalu.

Pyar! Pyar!

Arka memecahkan empat butir telur dan mengaduknya bersama potongan daging ayam dan udang segar.

Tangan kanannya memegang spatula dan tangan kirinya memegang gagang wajan, mengayunkannya dengan ritme yang sempurna.

Srak srak srak!

Nasi putih berterbangan di atas wajan, bercampur dengan bumbu dan kecap manis hingga menciptakan warna karamel yang sangat menggoda.

Atraksi memasak Arka membuat keempat mahasiswa itu tidak bisa berkedip sama sekali.

"Sudah aku bilang kan, Mas Arka ini bukan penjual nasi goreng sembarangan." Laras tersenyum bangga melihat reaksi teman-temannya.

Hanya butuh waktu lima menit bagi Arka untuk menyelesaikan empat porsi nasi goreng sekaligus berkat Keterampilan Pisau dan Memasak tingkat menengahnya.

Ia menyajikan empat piring nasi goreng panas itu di atas meja Bima dan kawan-kawannya.

"Silakan dinikmati, Nasi Goreng Spesial ala Arka." Ucap Arka sambil meletakkan piring terakhir.

Tanpa banyak bicara lagi, Bima langsung mengambil sendok dan menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya.

Begitu kunyahan pertama dilakukan, mata Bima seolah ingin keluar dari sarangnya.

Ledakan rasa gurih dari kaldu ayam, manisnya udang segar, dan aroma wajan yang khas bercampur menjadi harmoni yang gila di lidahnya.

"Ini gila, teksturnya sempurna sekali!" Bima berteriak tertahan dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

Ia mengabaikan rasa panas yang membakar lidahnya dan terus menyuapkan nasi itu seperti orang kelaparan yang tidak makan seminggu.

Kedua teman perempuan Laras juga mengalami hal yang sama, citra anggun mereka hancur seketika saat berhadapan dengan nasi goreng buatan Arka.

Trak trak trak!

Suara sendok beradu dengan piring keramik terdengar sahut-menyahut di meja itu tanpa ada jeda untuk mengobrol.

Dalam sekejap, keempat piring itu bersih tak bersisa, bahkan Bima terlihat menjilati sisa bumbu di sendoknya.

"Laras, kamu benar, ini nasi goreng terbaik yang pernah ada di kota ini." Bima bersandar di kursinya sambil mengusap perutnya yang kenyang.

"Maafkan kami Mas, tadi kami sempat meremehkan warung ini karena tampilannya." Salah satu teman perempuan Laras menundukkan kepala karena merasa malu.

"Tidak apa-apa Kak, yang penting perut kenyang dan hati senang." Arka tertawa kecil menanggapi permintaan maaf mereka.

Tepat pada saat itu, rentetan suara mekanis berbunyi keras di dalam kepala Arka tanpa henti.

[Ding! Pelanggan Bima merasa Sangat Puas!]

[Ding! Pelanggan Dina merasa Sangat Puas!]

[Ding! Pelanggan Rini merasa Sangat Puas!]

[Kemajuan Misi: 4/50]

[Host mendapatkan hadiah uang tunai langsung sebesar Rp. 750.000,- dan 3 Poin Kepuasan.]

Arka menahan senyumnya agar tidak terlihat aneh di depan pelanggannya, hatinya bersorak kegirangan melihat saldo rekeningnya yang terus bertambah.

Namun keajaiban tidak berhenti sampai di situ saja.

Aroma masakan Arka yang tertiup angin rupanya telah menyebar hingga ke area perkantoran yang ada di ujung jalan.

Beberapa pekerja kantoran berseragam rapi yang sedang mencari makan siang mulai mendekati warung Arka karena penasaran dengan wanginya.

"Mas, wangi banget masakannya, saya pesan satu bungkus ya." Ucap seorang pria berkacamata yang baru saja tiba.

"Saya makan di sini saja Mas, dua porsi pedas!" Sahut seorang ibu-ibu yang datang membawa anak kecilnya.

Dalam waktu kurang dari lima belas menit, seluruh meja dan kursi yang baru saja dibeli Arka sudah terisi penuh oleh pelanggan.

Bahkan ada belasan orang yang rela berdiri mengantre di pinggir jalan hanya untuk mencicipi nasi goreng yang aromanya sangat memabukkan itu.

Arka tidak punya waktu untuk beristirahat, tangannya terus bergerak memotong sayuran, memecahkan telur, dan mengayunkan wajannya tanpa henti.

Klang klang klang!

Suara spatula dan wajan menjadi musik pengiring di tengah ramainya jam makan siang yang tidak terduga ini.

Setiap kali pelanggan selesai makan, notifikasi sistem terus bermunculan di kepala Arka seperti hujan turun.

[Kemajuan Misi: 12/50]

[Kemajuan Misi: 25/50]

[Kemajuan Misi: 38/50]

Keringat bercucuran membasahi dahi dan kemeja Arka, otot lengannya terasa pegal luar biasa, tetapi senyum tidak pernah lepas dari wajahnya.

Uang tunai terus masuk ke rekeningnya setiap menit, memberikannya tenaga ekstra untuk terus melayani antrean yang semakin panjang.

Sementara itu, di seberang jalan, suasana sangat kontras terjadi di dalam restoran mewah berbintang lima milik keluarga Kevin.

Seorang pria paruh baya mengenakan jas rapi berdiri di balik jendela kaca lantai dua restoran tersebut.

Pria itu adalah Dimas, manajer operasional restoran yang ditugaskan khusus oleh Kevin untuk mengurus cabang ini.

Dimas mengerutkan keningnya melihat deretan meja kosong di dalam restorannya padahal ini adalah jam sibuk makan siang.

"Ke mana perginya pelanggan kita hari ini, kenapa sepi sekali?" Dimas bertanya dengan nada marah kepada pelayan yang berdiri di belakangnya.

"Maaf Pak Dimas, sepertinya banyak orang kantor yang makan di warung tenda seberang jalan itu." Pelayan itu menunjuk ke arah luar jendela dengan takut-takut.

Dimas menyipitkan matanya dan menatap tajam ke arah warung tenda reyot milik Arka yang kini dikerumuni puluhan orang.

"Bukankah Tuan Kevin semalam sudah menyuruh Bos Boni untuk menghancurkan tempat sampah itu?" Dimas bergumam dengan raut wajah tidak mengerti.

Ia melihat bagaimana pelanggan rela berdiri mengantre di bawah panas matahari hanya untuk sepiring nasi goreng kaki lima.

"Ini tidak masuk akal, apa si miskin itu memakai guna-guna pesugihan untuk menarik pelanggan?" Dimas mendengus kasar karena merasa tersaingi.

Restoran mewah mereka yang menjual makanan ratusan ribu rupiah bisa hancur reputasinya jika kalah ramai dari warung tenda di pinggir jalan.

Dimas segera merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel cerdasnya untuk menghubungi seseorang.

"Halo, preman pasar, kirim beberapa anak buahmu ke warung seberang restoranku sekarang juga." Dimas berbicara dengan nada rendah dan dingin.

"Buat keributan kecil di sana, usir semua pelanggannya dan pastikan warung itu tutup hari ini juga." Perintah Dimas sebelum mematikan sambungan telepon.

Dimas tersenyum licik menatap ke arah Arka yang sedang sibuk memasak tanpa menyadari bahaya yang sedang mengintainya.

"Kita lihat berapa lama kau bisa bertahan dari gangguanku, bocah." Dimas melipat tangannya di dada sambil menunggu pertunjukan dimulai.

Di sisi lain jalan, Arka baru saja menyajikan piring nasi goreng yang ke empat puluh lima.

Napasnya terengah-engah, tenaganya hampir habis terkuras, namun misinya hanya tinggal menyisakan lima pelanggan lagi untuk diselesaikan.

"Sedikit lagi, uang lima puluh juta akan jadi milikku." Arka menyeka keringat di dahinya dengan lengan bajunya.

Namun tiba-tiba, antrean panjang di depan warungnya terbelah menjadi dua.

Empat orang pria bertubuh kekar dengan wajah seram dan tato di sekujur lengan berjalan menerobos antrean dengan kasar.

Mereka mendorong beberapa pelanggan hingga hampir terjatuh, membuat suasana yang tadinya ceria berubah menjadi tegang seketika.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!