NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24: Tuduhan Kejam Mantan Suami

Matahari sore tenggelam di balik cakrawala, meninggalkan semburat warna jingga kemerahan yang perlahan tertutup oleh awan mendung.

 Di dalam mobil Rolls-Royce yang melaju tenang membelah jalanan protokol menuju mansion, keheningan sempat merayap di antara Oliver dan Viona.

Genggaman tangan Oliver di jemari Viona masih terasa hangat dan protektif, namun di dalam dada Viona, badai kecil baru saja mulai terbentuk.

Kata-kata Adrian di kafe tadi terus bergaung di kepalanya bagaikan kaset rusak yang berputar tanpa henti.

“Kau hanya seorang wanita mandul, sampah buangan yang tidak diinginkan oleh siapa pun! Dan sekarang kau berlagak menjadi nyonya besar di mansion mewah itu?”

“Kau pikir Oliver benar-benar menginginkanmu? Dia hanya memanfaatkanmu sebagai alat... piala murah yang dia pajang untuk mengejek kekalahanku!”

Viona mencoba memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam seperti yang diajarkan oleh Dr. Elena.

Namun, kata "mandul" dan tuduhan tentang dirinya yang hanya dijadikan "alat piala kemenangan" terasa begitu tajam menusuk harga dirinya yang baru saja mulai ia bangun kembali.

Keamanan yang ia rasakan beberapa menit lalu mendadak terusik oleh keraguan emosional yang liar. Apakah benar Oliver tulus? Ataukah di balik semua kebaikan ini, statusnya memang hanya sebatas pembalasan dendam terhadap keluarga Lin?

Begitu mobil terparkir di halaman mansion, Oliver menyadari perubahan drastis pada aura Viona.

Wajah wanita itu kembali pucat, dan matanya yang jernih kini tampak sayu, dipenuhi oleh kebingungan dan luka yang coba ia sembunyikan.

Sebelum Viona sempat membuka pintu mobil, Oliver menahan pergelangan tangannya dengan lembut.

"Viona,"

panggil Oliver, suaranya rendah dan sarat akan kecemasan.

"Kau tidak mendengarkan kata-kata sampah dari pecundang itu, bukan?"

Viona memaksakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat rapuh di mata Oliver.

"Aku hanya lelah, Oliver. Aku ingin melihat Yoyo sebentar, lalu beristirahat."

Tanpa menunggu jawaban Oliver, Viona melepaskan pegangannya dengan halus dan turun dari mobil.

 Oliver menatap punggung rapuh itu melangkah masuk ke dalam rumah dengan rahang yang mengeras.

Keheningan Viona adalah alarm bahaya terbesar baginya.

Malam harinya, hujan deras kembali mengguyur Distrik Utara.

Di dalam kamar tidur Viona di lantai dua, suasana terasa begitu sunyi.

Viona baru saja selesai menyelimuti Yoyo yang tertidur lelap di kamarnya sendiri, lalu kembali ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela luar yang basah oleh air hujan.

Pikiran negatif mulai meracuni kedamaian jiwanya.

Selama tiga tahun pernikahan dengan Adrian, label "wanita cacat yang tidak bisa memberikan keturunan" adalah cambuk harian yang digunakan keluarga Lin untuk menginjak-injak harga dirinya.

Kenyataan bahwa ia memang belum pernah hamil selama pernikahan toxic itu membuat tuduhan "mandul" dari Adrian terasa seperti kebenaran mutlak yang tidak bisa ia bantah, meskipun secara medis ia belum pernah melakukan pemeriksaan kesuburan yang komprehensif karena selalu dilarang oleh ibu mertuanya dulu.

Dan kini, ia berada di samping Oliver—seorang pria paling berpengaruh di kota, yang memiliki segalanya.

Mengapa pria sesempurna Oliver mau repot-repot melindunginya jika bukan karena motif bisnis atau sekadar menjadikannya tameng kemenangan atas Lin?

"Tok, tok, tok."

Ketukan pelan namun tegas di pintu membuyarkan lamunan kelam Viona.

Sebelum ia sempat menjawab, pintu kayu itu terbuka perlahan, menampilkan sosok Oliver.

Pria itu sudah menanggalkan kemeja kerjanya, kini hanya mengenakan kaus hitam lengan panjang yang santai dan celana kain gelap.

Di tangannya, ia membawa secangkir teh chamomile hangat yang mengepulkan uap tipis.

Oliver melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekati ranjang.

Ia meletakkan cangkir teh itu di atas meja nakas, kemudian duduk di kursi santai tepat di hadapan Viona.

"Minumlah. Ini akan membantu menenangkan pikiranmu," ucap Oliver lembut.

Viona menatap cangkir teh itu, lalu beralih menatap wajah tampan Oliver yang kini tampak begitu teduh namun dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam.

Viona menghela napas, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Bahunya mulai berguncang pelan.

 Isakan yang sejak sore ia tahan akhirnya pecah di bawah keheningan malam.

"Viona..."

Dalam sekejap, Oliver sudah berpindah duduk di tepi ranjang, tepat di samping Viona.

 Tanpa keraguan, ia menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukan hangatnya.

Dekapan Oliver begitu erat, seolah ia sedang mencoba menyatukan kembali kepingan-kepingan jiwa Viona yang retak akibat serangan verbal Adrian sore tadi.

"Kenapa kau menangis? Katakan padaku," bisik Oliver, suaranya bergetar menahan gejolak emosi.

"Jika itu karena bajingan itu, aku bersumpah besok pagi dia tidak akan memiliki tempat tinggal lagi di kota ini."

"Bukan... bukan itu, Oliver," isak Viona,

wajahnya terbenam di dada bidang Oliver. Ia meremas kaus hitam pria itu dengan frustrasi.

"Kata-kata Adrian... bagaimana jika semua itu benar?"

Oliver melonggarkan pelukannya sedikit, memegang kedua bahu Viona dan memaksanya untuk saling berhadapan.

 "Apa maksudmu?"

"Tuduhannya..."

Viona mendongak dengan mata jernih yang kini basah oleh air mata dan kemerahan.

"Dia benar, Oliver. Selama tiga tahun pernikahan, aku tidak pernah bisa memberikan anak untuk keluarga Lin. Mereka selalu menyebutku wanita mandul yang tidak berguna. Dan... dan dia juga bilang, kau hanya memanfaatkanku. Kau menjadikanku piala murah untuk mengejek kekalahannya di depan publik. Apakah... apakah aku memang sehina itu di matamu? Hanya sebuah alat kontrak untuk merawat Yoyo dan membalas dendam pada musuhmu?"

Mendengar rentetan pertanyaan yang lahir dari rasa tidak aman yang mendalam tersebut, mata elang Oliver berkilat oleh kemarahan—bukan kepada Viona, melainkan kepada dirinya sendiri yang membiarkan wanitanya mendengar racun seperti itu, dan kepada Adrian Lin yang berani melontarkannya.

Oliver menangkup wajah Viona dengan kedua tangannya yang besar dan hangat.

Ibu jarinya menghapus air mata di pipi Viona dengan penekanan yang sangat protektif, memaksa mata jernih wanita itu untuk mengunci pandangannya secara mutlak.

"Dengarkan aku baik-baik, Viona. Aku hanya akan mengatakan ini sekali, dan aku ingin kau merekamnya di dalam setiap embusan napasmu,"

ucap Oliver dengan nada rendah yang bergetar hebat oleh kejujuran yang mendalam.

"Pertama, tentang tuduhan kejam itu. Kau bukan wanita mandul. Dan bahkan jika secara medis kau tidak bisa memiliki anak sekalipun, kau tidak akan pernah menjadi wanita yang tidak berguna di mataku.

Nilaimu sebagai seorang manusia, sebagai seorang wanita, tidak pernah ditentukan oleh kemampuan biologismu untuk memberikan keturunan kepada pria mana pun! Keluarga Lin adalah sekumpulan orang picik yang menggunakan kelemahan itu untuk menghancurkan mentalmu, dan aku tidak akan membiarkan racun mereka merusak pikiranmu lagi."

Oliver mendekatkan wajahnya, hingga dahi mereka saling bersentuhan.

Viona bisa merasakan napas hangat Oliver yang membelai wajahnya, membawa aroma maskulin kayu cendana yang begitu menenangkan.

"Kedua, tentang tuduhan bahwa aku memanfaatkanmu sebagai piala kemenangan,"

lanjut Oliver, suaranya melembut namun penuh penekanan yang mutlak.

"Demi Tuhan, Viona, jika aku hanya membutuhkan piala murah untuk mengejek Lin, aku bisa membeli ratusan model atau wanita sosialita di kota ini untuk berpura-pura menjadi istriku.

Aku tidak perlu repot-repot membawa Yoyo ke rumah sakit, aku tidak perlu menghabiskan malam memandangi wajah tidurmu saat kau cemas, dan aku tidak perlu cemburu setengah mati setiap kali melihatmu menangis karena pria lain."

"Deg."

Jantung Viona berdesir hebat mendengar kata "cemburu setengah mati" yang keluar langsung dari bibir sang tirani dingin yang terkenal tak berhati.

"Aku membawamu ke rumah ini karena Yoyo membutuhkanmu,"

bisik Oliver, matanya menatap dalam ke dalam manik mata jernih Viona.

"Tapi aku mempertahankanmu di sini, melindungimu dengan seluruh nyawaku, dan meruntuhkan keluarga Lin... itu semua kulakukan karena aku menginginkanmu.

 Aku menginginkan Viona yang tulus, yang membawa tawa kembali ke rumahku, dan yang membuat jantungku kembali berdetak setelah dua tahun mati rasa. Kau bukan piala kemenangan, Viona. Kau adalah kemenangan itu sendiri bagi hidupku."

Runtuh sudah pertahanan ego Viona. Tangisan yang semula dipenuhi rasa sakit kini berubah menjadi tangisan lega yang luar biasa.

Semua keraguan, rasa tidak aman, dan racun dari masa lalu yang ditiupkan Adrian menguap tak bersisa di bawah hangatnya deklarasi cinta mutlak dari Oliver.

Viona melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh Oliver, membenamkan wajahnya di ceruk leher pria itu, membiarkan dirinya didekap erat oleh sang ksatria pelindung yang sesungguhnya.

"Terima kasih, Oliver... terima kasih karena telah memilihku," bisik Viona di sela tangis bahagianya.

"Aku yang harus berterima kasih karena kau tidak menyerah pada kegelapan itu, Nyonya Oliver,"

 balas Oliver, mengecup pelan puncak kepala Viona dengan kelembutan yang teramat protektif.

Di bawah guyuran hujan deras yang membasahi mansion malam itu, tuduhan kejam dari masa lalu tidak berhasil merobohkan benteng kedamaian mereka.

Sebaliknya, badai sore itu justru memperkokoh pondasi kepercayaan di antara mereka berdua, membakar habis sisa-sisa kertas kontrak satu tahun, dan menegaskan bahwa di dalam pelukan hangat Oliver, Viona telah menemukan tempatnya yang paling aman dan sah untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!