NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Langkah Pertama dan Sayap Emas

Keputusan itu sudah bulat. Malam setelah insiden yang menghancurkan sebagian isi rumah mereka, Askara tidak pernah lagi berbicara dengan ayahnya. Pria paruh baya itu pun hanya bisa menatap Askara dengan pandangan asing—campuran antara benci, bingung, dan rasa takut yang disembunyikan. Bagi Askara, rumah itu sudah lama mati. Dan kini, di usianya yang menginjak tujuh belas tahun, kaki-kaki tegapnya siap melangkah keluar dari lingkaran setan yang mengurungnya seumur hidup.

Sebuah tas kain usang bergelantung di pundaknya, berisi beberapa potong pakaian dan sedikit bekal. Namun, sebelum bayangan desa ini benar-benar hilang dari pandangannya, ada satu utang perpisahan yang harus ia bayar.

Askara melangkah menuju bukit di pinggir desa, tempat sebuah rumah dengan halaman penuh tanaman obat berdiri. Di sanalah Rose tinggal.

"Kau benar-benar akan pergi?"

Suara lembut Rose memecah keheningan sore itu. Gadis berambut kecokelatan itu berdiri di ambang pintu, menatap Askara yang sudah rapi dengan pakaian perjalanannya.

Tidak ada riak terkejut yang berlebihan di wajah Rose.

Sebagai satu-satunya orang yang tahu bagaimana memar dan luka bakar sering menghiasi tubuh Askara akibat amukan ayahnya, Rose sudah lama menduga hari ini akan datang.

Askara tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Tempat ini terlalu sempit untuk seseorang yang tidak punya 'wadah' sepertiku, Rose. Kalau aku tetap di sini, aku hanya akan menjadi benalu bagi nama besar Barata. Dan... aku ingin melihat dunia luar."

Rose berjalan mendekat, langkahnya terasa berat. Ada binar kesedihan di matanya, namun dia menahan diri untuk tidak menangis. Dia tahu betul betapa tersiksanya hidup Askara selama belasan tahun ini. Ditindas, dihina, dan dianggap pembawa sial hanya karena terlahir berbeda.

"Aku tidak akan menahan mu, Askara," ucap Rose, suaranya sedikit bergetar namun sarat akan ketegasan. "Dunia ini luas, dan kau berhak mencari tempat di mana kau dihargai bukan karena apa yang kau miliki sejak lahir, tapi karena siapa dirimu yang sebenarnya. Pergilah. Kejarlah takdirmu."

Rose merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan sebuah jimat pelindung kecil yang terbuat dari rajutan benang hijau—sihir penyembuh tingkat rendah yang biasa ia pelajari. Ia meraih tangan Askara, meletakkan jimat itu di telapak tangan sahabatnya yang kasar penuh kapalan.

"Ini tidak seberapa, tapi kuharap ini bisa sedikit membantumu di jalan nanti. Jaga dirimu baik-baik," lanjut Rose, menatap lekat-lekat sepasang mata Askara.

"Terima kasih, Rose. Ini lebih dari cukup," jawab Askara tulus, menggenggam erat jimat tersebut. Keduanya terdiam sejenak, menikmati angin sore yang berembus pelan, menyampaikan salam perpisahan yang tak terucap.

Sebelum Askara berbalik untuk melangkah, Rose tiba-tiba tersenyum bimbang, seolah teringat sesuatu. Ada semburat kebanggaan yang coba ia sampaikan di tengah suasana haru ini.

"Oh ya, Askara... ada satu hal yang ingin aku ceritakan sebelum kau pergi," kata Rose, matanya sedikit berbinar. "Kemarin, surat pengumuman dari ibu kota datang. Aku... aku diterima menjadi anggota Guild Golden Eagle."

Askara tertegun. Matanya membelalak takjub. "Golden Eagle? Guild nomor satu di kerajaan? Yang seleksinya terkenal sangat kejam itu?"

Rose mengangguk pasti, senyumnya kini mengembang penuh.

"Iya. Mereka bilang kemampuan sihir pemulihanku memenuhi standar khusus mereka. Bulan depan aku harus sudah berada di markas pusat untuk pelantikan."

Sebuah rasa bangga yang luar biasa menyeruak di dada Askara. Dia tahu betul seberapa keras Rose berlatih setiap malam di bukit ini untuk mengasah sihirnya. Golden Eagle bukanlah tempat bagi sembarang orang; hanya mereka yang memiliki bakat, mental, dan kemampuan di atas rata-rata yang bisa menembus gerbangnya. Sahabatnya kini telah menjelma menjadi salah satu elit di negeri ini.

Askara menepuk pundak Rose dengan bangga. "Aku selalu tahu kau hebat, Rose. Golden Eagle beruntung mendapatkan mu. Berjanjilah padaku, saat kita bertemu lagi nanti, kau sudah menjadi penyembuh terhebat di kerajaan ini."

"Dan kau," Rose menunjuk dada Askara dengan jari telunjuknya, "berjanjilah padaku untuk menunjukkan pada dunia, bahwa seorang yang mereka sebut tanpa sihir bisa mengguncang segalanya."

Askara tertawa kecil, rasa sesak di dadanya perlahan mencair digantikan oleh semangat baru yang membara. Dia berbalik, melangkah tegap menuruni bukit tanpa menoleh lagi. Matahari senja yang mulai tenggelam di ufuk barat seolah mengiringi langkah pertamanya.

Perjalanan jauh Askara telah dimulai. Tujuan pertamanya belum pasti, namun satu hal yang jelas: dunia luar tidak akan pernah siap menghadapi apa yang tersembunyi di dalam tubuh pemuda tanpa sihir ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!