Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab⁴
Setelah hasil tes DNA diumumkan, semua orang mengira Tania akan marah. Namun, Tania justru menangis. Ia berlutut di depan Sakti dan Miranda.
"Papa... Mama... maaf... Aku benar-benar tidak tahu, aku juga korban. Aku baru tahu hari ini, kalau ternyata aku bukan anak kandung kalian."
Ia menangis sampai tubuhnya gemetar, Miranda yang memang berhati lembut langsung luluh.
Miranda sontak memeluk Tania. "Ini bukan salahmu, sayang. Kau juga korban..."
"Benar, kami sudah membesarkanmu selama delapan tahun. Kami nggak mungkin mengusirmu, Tania." Sakti pun menghela napas panjang.
Naura hanya berdiri dengan kedua tangan bersilang di dada, tatapannya dipenuhi kepahitan saat melihat kehangatan yang masih diberikan kedua orang tua kandungnya kepada Tania. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis.
Bahkan setelah identitas asli Tania terbongkar, kasih sayang mereka tidak juga berubah.
Korban? Naura nyaris tertawa mendengarnya.
Sejak pertama kali datang ke keluarga itu, Tania selalu pandai memainkan peran. Di depan semua orang, ia tampil lemah, lembut, dan seolah-olah selalu menjadi pihak yang paling tersakiti. Kepolosan itu berhasil membuat orang lain bersimpati, padahal di baliknya, ia tahu persis bagaimana memutar keadaan agar dirinya selalu terlihat sebagai korban.
Naura tidak mengatakan sepatah kata pun, justru sikap tenangnya membuat Tania semakin leluasa memainkan sandiwara.
Tania kemudian berjalan menghampiri Naura, air matanya terus mengalir. "Naura... maafkan aku. Aku benar-benar nggak tahu apa-apa, aku bersedia pergi kalau itu membuatmu bahagia."
Ucapan itu membuat Miranda langsung memegang tangan Tania. “Enggak, sayang! Rumah ini juga rumahmu."
Sakti ikut mengangguk. "Kami akan tetap menganggapmu anak."
Naura kembali tersenyum tipis, semua orang mengira ia akan marah. Namun...
"Aku tidak pernah menyuruh dia pergi."
Semua orang menoleh.
"Kalau memang dia tidak bersalah, untuk apa aku mengusirnya?" Naura melanjutkan dengan santai, meski begitu tatapannya berubah tajam. "Tapi... kalau suatu hari nanti terbukti dia ikut menikmati kebohongan ini, jangan salahkan aku kalau aku sendiri yang mengantarnya keluar dari rumah ini."
Senyum Tania nyaris runtuh, Ia buru-buru menundukkan kepala agar tak ada yang melihat perubahan ekspresinya. Di balik wajah penuh air mata, tangannya mengepal kuat.
Sial! Naura ternyata tidak sebodoh dulu!
Tania masuk ke dalam kamarnya, setelah drama itu selesai. Begitu pintu terkunci, air matanya langsung berhenti. Ia menghapus air mata itu sambil tersenyum sinis.
Ponselnya bergetar, di layar tertulis Mama Dahlia. Tania langsung mengangkatnya.
"Mama..."
"Mereka percaya padamu?" Suara dingin Dahlia terdengar.
Tania tersenyum. "Tentu saja, mereka bahkan bilang aku tetap anak keluarga Ardynata."
"Bagus." Dahlia tertawa pelan. "Ingat, jangan biarkan Naura mengambil semuanya."
Tania menatap ke arah jendela mansion, tatapannya dipenuhi kebencian. "Aku sudah hidup sebagai putri keluarga Ardynata selama delapan tahun, aku nggak akan menyerahkan semuanya kepada Naura begitu saja."
...*****...
Keesokan paginya.
Naura terbangun lebih awal.
Ia berdiri di balkon kamar yang dulu menjadi tempatnya menghabiskan masa remaja. Delapan tahun berlalu, tak banyak yang berubah. Yang berubah, hanyalah dirinya.
Ponselnya bergetar, pesan dari sang Kakek masuk.
«Turun untuk sarapan, setelah itu ikut Kakek ke rumah sakit.»
"Rumah sakit?" Naura mengernyit.
Ia membalas singkat.
«Aku sehat, Kek.»
Tak sampai lima detik, balasan datang dari Kakek Guntur.
«Kakek tidak sedang bertanya.»
"Masih sama keras kepalanya." Naura menghela napas panjang.
Di ruang makan, Sakti dan Miranda sudah duduk di sana. Sementara itu, Tania datang dengan senyum manis.
"Selamat pagi, semuanya."
Seolah tidak terjadi apa pun semalam, ia langsung berjalan menuju kursi di samping Kakek. Baru saja tangannya menarik sandaran kursi dan hendak duduk. Namun...
"Kursi itu milik Naura." Suara Kakek Guntur terdengar datar, tetapi cukup membuat seluruh meja makan seketika hening.
Gerakan Tania langsung terhenti, senyum di wajahnya membeku. "Oh... maaf, Kek."
Dengan canggung, Tania kembali berdiri lalu berpindah ke kursi lain.
Begitu melihat Naura datang, Miranda buru-buru berdiri. "Naura... Mama membuat sup kesukaanmu."
Naura hanya melirik semangkuk sup di atas meja. "Terima kasih."
Tanpa menghiraukan semangkuk sup yang telah disiapkan Miranda, Naura langsung duduk di kursi di samping Kakek Guntur dan mengambil roti panggang. Sikap dingin Naura kembali membuat hati Miranda terasa perih.
Dan di balik senyum tipisnya, jemari Tania mengepal kuat di bawah meja.
Selesai sarapan.
Naura mengikuti Kakek Guntur menuju sebuah rumah sakit swasta terbesar di kota. Gedung itu menjulang megah dengan desain modern.
Naura mendongak membaca namanya, Lavendra Medical Center.
"Kita ke sini buat apa?"
"Periksa kesehatan."
"Aku baik-baik saja."
Kakek melirik cucunya itu. "Kalau benar baik-baik saja, kenapa napasmu ngos-ngosan cuma karena naik tiga anak tangga?"
"Itu... karena tangganya tinggi."
"Tingginya cuma tiga anak tangga."
"......" Naura memilih diam, percuma berdebat dengan Kakeknya.
Mereka masuk ke lift khusus VIP.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka di lantai paling atas. Seorang dokter dengan jas putih sedang berdiri membelakangi mereka sambil membaca hasil pemeriksaan pasien. Tubuhnya tinggi, bahu bidang. Rambut hitamnya tertata rapi.
Tanpa menoleh, pria itu berkata datar. "Kakek, lima menit terlambat."
"Berani sekali bicara sama Kakek dengan suara seperti itu." Naura mengangkat sebelah alisnya.
Pria itu akhirnya berbalik setelah mendengar Naura bicara, tatapan mereka pun bertemu.
Hening.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu...
"Kamu?"
Mereka mengucapkannya bersamaan.
"Naura?“ Alaska mengernyit.
"Alaska?" Naura melipat kedua tangan di dada.
Suasana mendadak canggung, tapi Kakek Guntur malah tersenyum lebar.
"Nah, ternyata kalian masih saling ingat."
"Mana mungkin aku lupa sama dia! Orang paling menyebalkan waktu SMA." Naura mendengus pelan.
“Woah! Ternyata juara makan kantin sekolah masih hidup!“ Alaska tersenyum menyeringai.
"Apa katamu?!" Naura membelalak.
Alaska menatap Naura dari atas sampai bawah. "Hm, sepertinya gelar itu sekarang naik tingkat."
Naura menyipitkan mata. "Kau masih suka cari gara-gara rupanya."
"Aku seorang dokter, dan tugasku menyampaikan kondisi pasien apa adanya."
Naura terkekeh sinis. "Hebat juga! Baru pertama kali bertemu, dokternya sudah menghakimi pasien. Apa rumah sakit ini sedang kekurangan ulasan bagus? Mau kuberi bintang satu saja?"
Alaska memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas putihnya, sudut bibirnya terangkat tipis. "Silakan saja, kalau pasiennya keras kepala sepertimu... rating setinggi apa pun tidak akan mengubah hasil pengobatan."
Naura maju selangkah, wajahnya tampak kesal. "Kalau dokternya menyebalkan sepertimu, pasien juga malas berobat."
Melihat keduanya saling tatap tanpa mau mengalah, Kakek Guntur justru tertawa. "Bagus! Kalian ternyata masih cocok."
Naura dan Alaska langsung menoleh ke arah kakek Guntur dengan mata melotot secara bersamaan.
"Cocok apanya?!" ucap keduanya kompak.
Kakek tertawa semakin keras. "Sama-sama keras kepala."
"Aku pulang saja." Naura memijat pelipisnya.
Wanita itu berbalik, tapi suara Alaska menghentikannya.
"Tunggu! Aku belum selesai memeriksa pasien."
"Aku bukan pasienmu."
"Mulai hari ini, iya."
Naura mendengus. "Aku sehat."
Alaska membuka map berisi hasil pemeriksaan yang telah dikirim Kakek Guntur beberapa hari sebelumnya. "Tekanan darah mulai naik, kolesterol di ambang batas. Berat badan bertambah hampir tiga puluh kilogram dibanding delapan tahun lalu."
Naura langsung membeku. "Kakek! Kapan Kakek kasih dataku?"
"Ada deh." Kakek Guntur pura-pura melihat langit-langit.
Naura memelototi pria tua itu, Alaska menyodorkan sebuah map. "Mulai hari ini, aku dokter penanggung jawabmu."
"Aku menolak!" Naura langsung mengembalikan map itu.
"Permohonan ditolak."
"Aku belum mengajukan permohonan."
"Aku juga tidak meminta persetujuanmu!"
Naura mengusap wajahnya kasar. "Dokter macam apa kau?"
"Dokter yang kebetulan... ditunjuk langsung oleh Kakekmu sendiri." Alaska tersenyum tipis.
Kakek Guntur mengangguk puas. "Mulai hari ini, Alaska akan memastikan kamu hidup lebih sehat."
Naura mengalihkan pandangannya bergantian kepada dua pria di hadapannya. Di satu sisi ada Kakeknya, yang dikenal keras kepala dan tidak pernah mau menarik kembali keputusan yang sudah dibuat.
Di sisi lain Alaska, dokter sekaligus teman semasa SMA yang wajahnya tetap setenang dulu. Bedanya, kini pria itu terlihat jauh lebih tegas. Tatapan matanya menunjukkan bahwa ia bukan lagi remaja yang dikenalnya dulu, melainkan seseorang yang tidak mudah goyah dan tidak akan mengalah hanya karena tekanan.
Naura mengembuskan napas pelan, menghadapi salah satu saja sudah melelahkan, apalagi keduanya berada di pihak yang sama.
"Baiklah, tapi jangan berharap aku akan patuh." Naura menarik napas panjang.
"Aku juga tidak berharap kau begitu." Alaska menyelipkan pulpen ke saku jasnya sambil bicara. "Karena pasien yang paling sulit, biasanya justru paling menarik untuk ditaklukkan."
Naura mendengus pelan. "Jangan besar kepala, aku bukan tantanganmu."
Alaska menatapnya sekilas sebelum berbalik menuju ruang praktik. "Tidak, kau pasienku. Dan sebagai dokter... aku tidak pernah gagal."
"Dokter nyebelin!" Naura mengepalkan tangan.
Tanpa disadari Naura, sudut bibir Alaska terangkat membentuk senyum tipis. Hampir 12 tahun telah berlalu, sejak mereka berpisah setelah kelulusan SMA. Kini, akhirnya ia kembali bertemu dengan perempuan yang selama ini tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂