NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:160
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

Satu bulan kemudian, suasana berjalan seperti biasa. Minggu kemarin tidak ada yang spesial, hari-hari mereka berlalu dengan kesibukan masing-masing. Valeska lebih banyak menghabiskan waktu dengan belajar bersama ketiga temannya, karena akan menghadapi ujian tengah semester. Kesibukan itu, berhasil mengalihkan pikiran Valeska pada orang tuanya. Dan selama itu, orang tuanya pun tidak pernah mengirimkan pesan sama sekali, hanya memberikan uang melalui transfer.

Di sisi lain, Kaivandra juga disibukkan dengan tugas kuliah yang semakin ke sini semakin banyak tugas berdatangan. Namun, Kaivandra tidak pernah lupa dengan perhatian yang akan selalu dia berikan pada Valeska. Meskipun dirinya lebih sering meninggalkan Valeska di apartemen, tapi dengan kesadaran penuh, Kaivandra selalu memantau dari kejauhan pakai cctv.

Rutinitas mereka berjalan seperti air, tenang dan konsisten, tapi disertai harapan besar di setiap langkahnya. Dan hari ini, hari di mana keduanya berhenti belajar, hitung-hitung istirahat agar tidak terlalu berat. Valeska berinisiatif mengirimkan pesan pada mama papa nya, sekedar meminta doa agar ujiannya dilancarkan. Tapi sialnya, kedua orang tua Valeska tidak merespon, hanya membaca pesan yang dikirim oleh dirinya.

Mamaku.

|Mama, ini adek. Ma, adek sama abang sehat kok. Mama gimana?

|Besok, kita berdua mau ujian tengah semester, doain ya semoga lancar. Katanya doa ibu tembus ke langit hehe.

|Mama sibuk?

Gadis itu pun, mengembuskan napas kecewa. Bukan Valeska namanya jika langsung menyerah, dia mencoba mengirim pesan untuk papa nya.

Papaku.

|Papa, adek sama abang besok mau ada ujian tengah semester. Doain yaaa,

|Akhir-akhir ini, adek belajar terus biar dapet nilai bagus,

|Papa udah nggak pernah kirim pesan lagi. Padahal adek nungguin dari kemarin. Papa cuma transfer uang doang.

Selama 15 menit terakhir, Valeska tak henti-hentinya menatap layar ponsel. Setiap ada suara notifikasi berdering, hatinya melonjak sejenak, hanya untuk diruntuhkan oleh kenyataan. Bukan pesan dari orang tuanya yang ia tunggu, melainkan sekadar obrolan dari grup kelas. Harapannya menggantung di setiap getar ponsel, namun pesan yang dinanti seolah enggan datang, meninggalkan kekosongan kecil di sudut hatinya.

Kaivandra yang tidak sengaja melihat adiknya termenung, langsung menghampiri dan duduk di sebelahnya. Tangan kanannya terangkat mengelus rambut sang adik, lalu bertanya.

"Cantiknya abang ini, kenapa? Kok murung gini? Perasaan tadi mood nya bagus banget lho."

Tanpa sepatah kata, Valeska menyerahkan ponselnya dengan gerakan sunyi. Kaivandra menerimanya tanpa ragu, lalu membaca beberapa pesan yang terpampang di room chat. Di balik kalimat-kalimat itu, ia menangkap kerisauan yang bersembunyi. Hatinya tersentuh, dan dengan lembut ia berusaha menghibur.

"Adek, gimana kalau kita jalan-jalan? Biar pikiran kita fresh lagi. Apa pun yang adek mau, abang beliin. Gimana?" ujarnya sambil tersenyum, mencoba membangkitkan semangat Valeska.

Dia menggeleng pelan, suaranya nyaris berbisik. "Kalau keluar kayaknya bakal capek, adek lebih senang main sama temen-temennya abang. Makan-makan di sini, ketawa bareng ... abang bisa ajak mereka ke sini?"

Kaivandra tertawa kecil, lalu mengacak rambut Valeska dengan sayang. "Bisa banget. Apa sih yang ngga kbuat adik kesayangan abang?"

Kaivandra menegaskan bahwa ia selalu ada untuknya. Dia pun bangkit berdiri, kemudian jalan menuju kamar. Di sana, ia mengirimkan beberapa pesan pada grup yang bernama, skip Deadline. Grup tersebut beranggotakan 4 orang termasuk dirinya.

Skip Deadline.

|Hai ahli kubur.

|Halo wahai ahli neraka," jawab Satya, mengikuti permainan Kaivandra.

|Titisan setan, dan titisan kuyang, muali kumat," sahut Vikara tak mau kalah.

|Biarin aja biarin," lanjut Arjuna, frustasi.

|Bisa ke sini sekarang? Kalau bisa, gue tunggu di apart ya,

|Wah, sekarang banget?

|Kai, sorry ya. Gue nggak bisa, ambeyen gue lagi kambuh. Refleks ketiga temannya tertawa terbahak-bahak sambil menatap layar handphone masing-masing.

Vikara yang sedang rebahan, Kaivandra yang sedang duduk di sofa kamar, dan Arjuna yang sedang berpacaran pun ikut tertawa sampai membuat pacarnya kebingungan.

|Kai, gue lagi jalan sama pacar gue nih. Sorry ya,

|Oke gapapa. Tar gue bilangin ke adik gue, soalnya dia yang minta buat kalian kesini. Kalau bukan permintaan dia, mana mau gue,

|Serius? Gue ke sana sekarang!

|Ambeyen gue udah sehat, otw ke sana.

|Gue mau anterin pacar gue dulu, habis ini langsung ke apart lo.

Setelah disetujui, mereka bertiga pun akan datang menuju apartemen Kaivandra dalam waktu sekitar 30 menit. Dan tugasnya sekarang, Kaivandra harus membeli makanan beserta minuman secara online. Karena kebetulan, isi kulkas miliknya kosong melompong.

***

Ketiga teman Kaivandra sudah berada di apartemen semenjak satu jam yang lalu, sementara Valeska, gadis itu masih tertidur di kamarnya sejak tadi. Kaivandra tidak tega jika harus membangunkannya, alhasil mereka menunggu bangun dengan sendirinya.

"Masih tidur ya, Kai?" tanya Satya.

"Masih, palingan bentar lagi juga bangun. Dia kecapean belajar terus, padahal gue nggak maksa buat dia dapetin nilai tinggi,"

"Adik lo, ambis." Lanjut Arjuna.

"Abang, adek laper. Mau makan ..." tiba-tiba Valeska datang dengan muka bantal dan kondisi rambut acak-acakan.

"Baru aja diomongin udah bangun, sini Dek. Kita makan bareng-bareng, ini ada pizza, dimsum, rice bowl juga ada," jawab Kaivandra sembari memberikan isyarat agar Valeska duduk di sebelahnya.

"Bentar, bang." Valeska berjalan menuju lamari pendingin dan mencari sesuatu di dalamnya.

Hingga akhirnya, dia pun bertanya. "Susu rasa pisang nggak ada ya?"

"Terakhir di minum kemarin malem, kan? Abang belum sempet beli," jawab Kaivandra dari arah ruangan televisi.

"Kalau minuman rasa macha, adek? Kok nggak ada?" tanya Valeska lagi, masih berusaha mencari minuman yang dia inginkan.

"Tadi siang, udah abang minum. Soalnya aus,"

"Kalau, es jeruk?" Valeska masih mencari hal yang jelas tidak ada.

"Dek, kenapa musti cari yang nggak ada? Ini minuman banyak, ada boba juga," seru Kaivandra, berusaha tidak berbicara menggunakan nada tinggi. Valeska berjalan menuju sofa, dan duduk di samping Kaivandra.

"Maunya itu, abang jangan marah-marah, lagian adek cuma nanya."

"Abang nggak marah, siapa yang berani marahin adik kesayangan abang? Maaf ya," Valeska berakhir minum air dingin dan membawa satu rice bowl yang berada di atas meja. Dia makan begitu lahap, tepat di samping teman-teman Kaivandra.

"Kak Satya, mau sayurnya nggak? Ini nggak dimakan kok,"

Baru saja mau menjawab, sudah didahului oleh Kaivandra. "Biarin Sat, dia belum makan sayur dari kemarin."

Satya pun mengangguk paham, berakhir memberikan sayuran beserta lauknya untuk Valeska. "Makan yang banyak, biar cepet gede," Valeska yang diperlakukan seperti itu, langsung memberontak dan berteriak menyebut nama abangnya.

Dia seperti anak kecil yang tidak diperbolehkan main di Playground. "Abang, nggak mau. Kalau gitu, adek nggak akan makan, biarin perutnya kosong!" racau Valeska sembari menatap Kaivandra intens.

"Yakin? Awas aja kalau nanti malem merengek minta ditemenin makan," lanjut Kaivandra, sambil memakan sepotong pizza di tangannya.

M tidak mau, Valeska menuruti perkataan abangnya. Karena benar juga apa katanya, setiap malam Valeska selalu minta ditemenin makan karena kelaparan, dia selalu melewati jam makan malam.

"Jadi pengen punya adik kayak, Valeska," ucap Vikara pelan.

"Kita ke sini cuma buat nontonin adik dan kakak berdebat," lanjut Arjuna, terheran-heran.

"Kai, ternyata saat bersama Valeska, lo terlihat dewasa dan bijak," timpal Satya, sangat kagum.

Kaivandra yang mendengarnya, hanya bisa terkekeh ringan. "Dia cuma punya gue, jadi gue harus seperti ini. Kalau bukan gue, siapa lagi?" Jawabnya pelan, sembari memikirkan nasib Valeska ke depannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!