NovelToon NovelToon
Can I Stay? | By Shea

Can I Stay? | By Shea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cintapertama / Ketos
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Shea Alicia

Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.

Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.

Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

​"LO MAU DEKETIN KAK Alvin, AL?!"

​Michelle spontan membungkam mulut Meyra karena cewek itu berteriak, sekarang mereka menjadi perhatian seisi kelas termasuk Jaka dan Beno yang menatap curiga dari pojok.

​"Harus banget teriak ya?" tanya Michelle kesal seraya menarik tangannya.

​Meyra mengusap bibirnya dua kali, lalu menatap intens teman sebangkunya itu seolah mencari keseriusan di mata biru Michelle.

​"Lo bercanda, kan?" tanya Meyra, lalu tertawa garing.

​Michelle menghela napas, ia tahu akan mendapat respon seperti ini jika bercerita pada Meyra si suara nyaring. Padahal Michelle kira ia akan mendapat suport dari cewek itu, nyatanya malah membuatnya jengkel saja.

​"Emang ada muka-muka bercanda gitu?"

​"Al, jangan cari mati. Di sekolah ini ada banyak yang suka Kak Alvin dan ngebet pengen deket sama dia, tapi pada patah hati gara-gara kabar Kak Alvin sama Kak Nara pacaran," jelas Meyra, berharap Michelle mengerti apa maksud cewek itu memberitahunya.

​Michelle memiringkan kepalanya. "Terus?"

​"Astaga, Michelle! Lo bego atau gimana sih? Itu berarti jangan deket-deket sama Kak Alvin!" Meyra jadi gemas sendiri.

"Gini ya, Al, cewek-cewek yang suka sama Kak Alvin itu kadang masih suka cari perhatian ke Kak Alvin padahal udah tau kalau Kak Alvin pacaran sama Kak Nara. Bayangin nih lo si anak baru tiba-tiba dengan beraninya deketin Kak Alvin, bayangin aja udah serem Al, gimana reaksi tuh cewek-cewek kalau tau tadi lo berangkat bareng Kak Alvin!"

​Michelle terdiam, ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Selama ini yang Michelle pikir hanya cara agar ia bisa dekat dan mendapat perhatian Alvin seperti dulu. Tidak pernah terpikir soal cewek-cewek si pengagum Alvin, dan resiko yang harus ia tanggung.

​"Untung aja tadi Kak Alvin nurunin lo depan gerbang," ucap Meyra yang membuat Michelle langsung menatap cewek itu.

​"Untung apanya? Gue dicuekin kayak bukan manusia gitu!"

​Meyra yang sudah benar-benar gemas langsung menjitak kening Michelle. "Masih aja lemot lo udah dijelasin juga! Semoga aja ya tadi nggak banyak yang lihat kalau lo berangkat sama Kak Alvin. Nggak bisa bayangin gue tiba-tiba lo dilabrak sama fans dia."

​Michelle bergidik. "Emang seserem itu?"

​"Iya! Makanya itu Kak Nara dijuluki cewek paling beruntung karena bisa ngeluluhin cowok kayak Kak Alvin, bahkan ya Kak Nara tuh nggak pernah kelihatan deketin Kak Alvin, nggak kayak fans dia yang lain!" jelas Meyra.

​"Mending cari aman aja deh Al, anggap aja yang tadi kebetulan, dan jangan pernah ngebayangin mau berurusan sama Kak Alvin, oke?"

​Michelle menatap Meyra ragu, setengah percaya pada apa yang cewek itu katakan. Sementara Meyra mendengus.

​"Gue sebagai temen cuma mau ngasihtau nih mumpung belum kejadian, jangan sampe lo berurusan sama cewek-cewek yang suka Kak Alvin. Apalagi mereka berempat, dahlah serem!"

​Kening Michelle berkerut. "Mereka siapa?"

​Meyra terdiam, seperti baru sadar kalau ia salah bicara. Cewek itu mengerjap karena Michelle menatapnya dengan sorot penasaran, membuatnya menghela napas, toh sudah terlanjur keceplosan.

​Meyra mencondongkan tubuhnya yang juga diikuti Michelle, lalu membisikkan satu nama yang membuat Michelle langsung terdiam.

​.

.

.

.

​Brak!

​Michelle terlonjak karena seseorang tiba-tiba menutup pintu lokernya, hampir saja tangan cewek itu terjepit kalau ia tidak sigap menariknya. Michelle mendesis kesal, lalu menoleh.

​"APA--" Tenggorokannya tercetak saat melihat siapa pelakunya.

​"Jauhin Alvin," ucap cewek di depan Michelle langsung tanpa basa-basi.

​Michelle mengerjap, bergerak satu langkah mundur sampai punggungnya menempel pada loker di belakangnya.

​"Ini peringatan pertama buat lo, kalau gue lihat lo ada di deket Alvin lagi, jangan harap hidup lo aman di sini!"

​Cewek bersurai hitam sebahu itu menerima sesuatu yang diberikan temannya, lalu bergerak maju semakin dekat pada Michelle.

​"K-kalian mau apa?"

​"Diem!" bentak cewek itu. "Pegangin dia," perintahnya pada tiga cewek yang datang bersamanya.

​Dua cewek maju dan memegangi Michelle dari dua sisi, sementara si cewek bersurai sebahu itu semakin mendekat dan menarik dagu Michelle.

​"Kita nggak pernah ngajak main seseorang tanpa ngasih hadiah." Dengan santai cewek itu mengusapkan lipstik ke wajah Michelle membentuk pola-pola tidak beraturan. "Kayak gini lebih cocok buat lo," ucapnya setelah melukis di wajah cantik Michelle.

​Empat cewek itu tersenyum miring sebelum meninggalkan Michelle sendiri di ruang loker. Michelle memeluk erat seragam olahraga di tangannya sambil menatap kepergian empat cewek itu.

​Tiba-tiba ia teringat dengan apa yang Meyra katakan tadi saat di kelas. Kaki dan tangan Michelle gemetar, kedua matanya memanas, ia menunduk ketakutan.

​"Baru digituin aja udah nangis."

​Michelle kembali menegakkan kepalanya saat mendengar suara itu, keningnya berkerut tidak suka karena seseorang tampak tersenyum meledeknya.

​"Lena baik banget cuma ngasih coretan di wajah," ujar cowok itu. "Gue harap lo nggak jadi korban selanjutnya yang sampai pindah sekolah sih, muka songong lo nggak pantes kalau harus kalah sama Lena," tambahnya.

​Cowok itu semakin berjalan mendekat, membuat Michelle kembali bergerak mundur hingga punggungnya membentur loker lagi. Cowok itu tersenyum menang tanpa menghentikan langkahnya.

​"L-lo mau apa?"

​Brak!

​Michelle spontan menutup kedua matanya karena cowok yang tak lain Devis itu mengulurkan tangan dan mengunci kedua sisi Michelle.

​Terdengar suara tawa singkat yang membuat kedua mata Michelle terbuka. "Gue bisa bantu lo rebut Alvin."

​Kedua mata Michelle terbuka lebar, dengan sekuat tenaga ia mendorong dada Devis hingga cowok itu mundur dua langkah, memberi jarak yang sebelumnya sangat tipis.

​"Gila lo! Mau apa? Mau macem-macem?" racau Michelle karena tidak tahu harus mengatakan apa, ia hanya kesal dan ingin membentak cowok itu.

​Devis malah tertawa lagi. "Penawaran gue nggak berlangsung selamanya, ada masa kadaluarsanya. Tapi gue pastiin lo bakal nyesel kalo nggak ambil penawaran itu," ujar cowok itu, lalu tersenyum miring.

​Michelle mendelik. "Ngapain nyesel, gue nggak butuh bantuan lo!" tukasnya, lalu meninggalkan Devis dengan langkah kesal.

​.

.

.

.

​Devis melihat Alvin sedang duduk di bangkunya sambil mengerjakan sesuatu, satu sudut bibir cowok itu tertarik. Dari ekspresinya saja sudah bisa ditebak kalau Devis pasti akan membuat masalah lagi.

​"Cewek lo yang tadi pagi cantik," ujar Devis begitu sampai di sebelah bangku Alvin.

​Alvin tidak merespon, tapi gerakan tangannya berhenti menulis. Devis yang melihatnya semakin girang, berarti Alvin mendengarkannya.

​"Nggak masalah kan kalau gue deketin? Kayaknya gue tertarik sama dia deh."

​Alvin tampak tenang-tenang saja, hal itu malah membuat Devis semakin tertantang untuk mengganggu teman sekelasnya itu. Mengusik singa yang sedang tenang memang sudah menjadi hobby Devis sejak dulu.

​Devis duduk di bangku kosong di depan Alvin dengan posisi menghadap meja Alvin, cowok dengan raut datar itu bahkan tidak mau menatapnya.

​"Lo jadi cowok jangan maruk Al, biar gue aja yang maruk. Kalau lo udah sama Nara, mendingan yang tadi pagi buat gue."

​Brak!

​Alvin meletakkan bolpoin di tangannya dengan kasar, membuat Devis sempat berjingkat kaget, bahkan seisi ruangan menoleh pada bangku cowok itu.

​Alvin menatap Devis datar. "Kayaknya badan lo sakit semua ya sehari nggak gangguin gue?" tanya cowok itu.

​Devis tertawa singkat. "Lebih tepatnya kayak ada yang kurang sih kalau nggak bikin lo marah, kapan terakhir kali kita berantem? Kangen banget gue dapet pukulan dari lo," jawab Devis santai.

​"Bego!" umpat Arga setengah berbisik di bangku pojok setelah mendengar jawaban Devis.

​Ezra yang duduk di sebelah Arga menggeleng heran. "Bisa-bisanya itu bocah nantang maut," komentarnya.

​"Bukan Devis namanya kalau nggak bikin masalah, paling dicuekin lagi sama Alvin," ujar Arga, sudah hafal respon cowok itu setiap memancing emosinya di sekolah.

​Tapi beda lagi kalau sudah di luar sekolah, apalagi saat dua cowok itu memakai atribut geng masing-masing. Alvin dengan jaket hitam Ironclad, dan Devis dengan jaket denim Jaguar.

​BRAK!

​Suara gebrakan di bangku tengah itu kembali mengundang perhatian, semua terkejut melihat Alvin yang kini beranjak. Yang lebih mengejutkan lagi adalah tangan cowok itu mencengkeram erat kerah kemeja Devis.

​"Anjir, diladenin!" pekik Arga.

1
Alzen
typo lagi yang
Alzen: ini aja po dulu 2 tahun 😓
total 3 replies
Alzen
cepat updateee
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: iyaaaaa
total 1 replies
Alzen
ceroboh banget/Shame/
Alzen
padahal yang kemarin juga bagus novelnya
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: eh iyaa 😓
total 3 replies
🥑⃟Hati Yang Kau Sakiti●⑅⃝ᷟ◌ͩ
selamat berkarya 🙏
Baby
Devis aja /Grin//Grin/
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: 2in /Bye-Bye/
total 1 replies
Baby
jadi Michelle kasian, jadi Alvin kasian, jadi Nara kasian, jadi pembaca sekarat /Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!