Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Pisau Dapur & Standar Sang Senior
Patriark Tianhe dan Mei Lian menatap Han Yu lekat-lekat, seolah ingin menembus pandangan ke dalam tubuh anak muda itu.
Merasakan tatapan tajam itu, Han Yu sedikit tak nyaman — namun ia tetap tersenyum tulus. "Apakah ada tamu baru? Halo, salam kenal."
"Ha… halo juga," jawab keduanya tergagap.
Bagaimana pun juga, Han Yu adalah murid Lin Qian. Posisi itu saja sudah cukup membuat mereka tak berani bersikap sembarangan. Keduanya segera berdiri dan menangkupkan tangan memberi salam hormat.
"Silakan duduk santai saja. Aku mau ke belakang bantu Guru sebentar," kata Han Yu sopan, lalu mengangguk dan berjalan menuju ruang belakang.
Setelah sosoknya menghilang di balik tirai, Patriark Tianhe dan Mei Lian saling pandang.
"Guru… apakah Anda merasakan sesuatu yang istimewa pada anak itu?" bisik Mei Lian. "Saya sama sekali tidak merasakan aura apa pun. Meridiannya bahkan tampak tersumbat rapat. Dia tidak punya bakat berkultivasi sama sekali."
Patriark Tianhe mengerutkan kening. "Penglihatan Guru pun sama. Bukan hanya biasa — dia bahkan di bawah rata-rata orang biasa sekalipun. Tapi justru itulah pertanyaannya."
"Lalu kenapa Senior Agung mau menerimanya sebagai murid?"
"Ssttt! Bicara pelan!" Patriark Tianhe menatap tajam. "Jangan menilai sembarangan. Bagaimana mungkin murid dari sosok sehebat Tuan Lin adalah orang biasa? Pasti ada nilai lebih pada anak itu yang pandangan sempit kita belum mampu pahami. Salahkan saja diri kita sendiri yang belum cukup bijaksana."
Mei Lian segera menunduk malu. "Maafkan kelancangan murid."
Saat itu, Lin Qian berjalan masuk kembali sambil tersenyum santai. "Maaf ya membuat kalian menunggu. Sebentar lagi aku mulai masak. Istirahat saja dulu di sini."
Melihat tuan rumah bersiap ke dapur, Patriark Tianhe merasa tidak enak hati. Ia berdiri dan berbisik ke Mei Lian. "Tidak pantas kita duduk bersantai sementara Sang Senior bekerja. Ayo bantu di dapur — itu bentuk penghormatan paling dasar."
Mei Lian mengangguk, lalu keduanya mengikuti langkah Lin Qian.
Di belakang bangunan utama terdapat halaman kecil yang asri. Lin Qian menanami bunga dan tanaman obat di sana, berpadu dengan beberapa boneka kayu latihan yang berdiri tegak di sudut-sudutnya. Suasananya damai — wangi bunga semerbak, kicauan burung terdengar jelas.
"Tempat ini… sungguh surga kecil," gumam Patriark Tianhe. Ia menoleh ke Mei Lian. "Gunung belakang Sekte Lingxue kita mungkin dianggap tanah suci yang berkabut indah, tapi dibandingkan dengan kedamaian yang terpancar dari halaman kecil ini… tempat kita terasa jauh lebih dangkal dalam segala hal."
Di dalam dapur, Lin Qian sudah berjongkok di bangku kecil, tekun memetik dan memilah buncis. Sikapnya wajar dan tenang — persis kepala rumah tangga biasa yang sibuk mengurus makan malam.
"Murid, belajarlah dari pola pikir Sang Senior," kata Patriark Tianhe pelan. "Dia memiliki kekuatan yang bisa meratakan dunia, namun mau melakukan pekerjaan sekecil ini dengan senang hati. Kalau kita bisa meniru sepuluh persen saja dari ketulusan dan kerendahan hatinya, mungkin batas kultivasi kita tidak akan sesulit ini untuk ditembus."
Mei Lian mengangguk, matanya menatap lekat gerakan tangan Lin Qian. Ada sesuatu dari ketenangan itu yang perlahan membuka sesuatu di dalam dadanya.
"Tuan Lin, izinkan kami membantu," sapa Patriark Tianhe ramah.
"Wah, tidak perlu merepotkan diri, kalian tamu," jawab Lin Qian mendongak.
"Tidak merepotkan sama sekali, kami justru ingin sekali membantu."
Mei Lian langsung bergerak ke kompor, mengambil cabai dan sayuran lalu mencucinya dengan rajin. Patriark Tianhe berdiri canggung — ia adalah ketua sekte yang dihormati ribuan murid, seumur hidup belum pernah menyentuh pekerjaan dapur. Namun berdiri diam dengan tangan di dada terasa terlalu sombong.
Setelah berpikir keras, matanya berbinar. "Ehm… Tuan Lin, kalau begitu izinkan saya yang memotong sayuran!"
"Boleh. Pisaunya ada di dekat lemari itu." Lin Qian menunjuk ke sudut ruangan.
Patriark Tianhe berjalan tegap ke sana dengan semangat — merasa sudah melakukan hal paling benar dalam hidupnya.
Namun, saat tangannya menyentuh gagang pisau yang terselip di samping lemari itu…
Desss.
Tubuhnya membeku seketika.
Sekilas pandang, pisau itu tampak biasa saja — agak kusam, persis pisau dapur milik rakyat kebanyakan. Namun jika diamati dengan mata roh yang teliti, seberkas cahaya samar namun sangat tajam berkelebat di permukaannya. Cahaya itu begitu tajam hingga jika ditatap terlalu lama, akal sehat seseorang bisa tersedot masuk.
Dan di balik kilatan itu — Patriark Tianhe merasakan dengan jelas jejak Kekuatan Dao Surgawi.
Sebagai seseorang yang baru saja mencapai ranah Raja Bela Diri, barulah ia memiliki indra yang cukup untuk menangkap jejak kekuatan setinggi itu.
Benda ini… mengandung Dao Surgawi?!
Tingkat Sektor? Tingkat Suci? Atau mungkin… tingkat Kaisar Legendaris yang hanya ada di dongeng? Patriark Tianhe tak berani membayangkan lebih jauh. Pisau dapur yang ada di hadapannya ini kemungkinan besar adalah benda pusaka tingkat tertinggi yang bahkan seluruh harta Sekte Lingxue pun tak mampu menukarnya.
Dan benda Artefak Surga yang paling didambakan semua ahli di dunia itu… hanya dipakai untuk memotong sayuran.
"Nah, itu pisau yang tepat di depanmu. Pakai saja," suara Lin Qian terdengar santai.
"Ah… i… iya… baik…" Patriark Tianhe mengangguk berulang seperti ayam mematuk nasi.
Dengan tangan gemetar, ia mengangkat pisau itu. Di tangannya, benda itu terasa seberat seribu gunung. Ia merasakan bahwa selama memegang pisau ini, kekuatan yang terpancar membuatnya seolah mampu berimbang melawan Kaisar Bela Diri sekalipun.
Ia berdiri di depan talenan. Sudah cukup lama, tapi satu potongan pun belum selesai ia buat.
"Pisau ini sepertinya sudah tumpul dan kurang enak dipakai ya. Sepertinya sudah waktunya diganti baru," gumam Lin Qian sambil mengerutkan kening sedikit kecewa. Pisau ini adalah salah satu karya pertamanya saat baru belajar ilmu pandai besi — menurut standarnya sendiri, hasilnya sudah terasa berat dan kurang nyaman.
Patriark Tianhe hampir terjungkal.
Diganti baru?! Kurang enak dipakai?!
"Senior… sungguh terlalu rendah hati," desahnya dengan nada kagum yang dalam. "Pisau setingkat ini saja dibilang jelek… kalau aku punya pisau seburuk ini, sudah kukunci di ruang pusaka paling aman dan kusembah setiap hari."
Lin Qian mendengar gumaman itu dan hanya tersenyum simpul. Dalam hatinya ia mengira: Wah, ternyata keluarga lelaki tua ini benar-benar miskin sekali. Sampai pisau dapur yang layak pun tidak punya. Kasihan juga.
Tak lama kemudian, tiga hidangan lezat dan semangkuk sup mengepul tersaji rapi di meja kayu.
Begitu suapan pertama masuk ke mulut mereka, mata Patriark Tianhe dan Mei Lian terbelalak serentak.
Rasa masakan itu… begitu nikmat, begitu pas, begitu menyatu. Seolah setiap potong sayuran mengandung esensi kehidupan yang lengkap. Mereka bersumpah dalam hati — seumur hidup, belum pernah sekalipun memakan makanan yang senikmat dan seberat maknanya ini.
Lin Qian hanya tersenyum puas melihat ekspresi keduanya. Ia memang agak malas bergerak, tapi karena rasa makanan di dunia ini rata-rata terasa hambar, ia terpaksa belajar memperbaiki resep sendiri. Bahkan mie daging sapi di warung seberang yang jadi langganannya itu pun rasanya enak karena Lin Qian diam-diam pernah mengajari juru masaknya sedikit rahasia bumbu.
Sementara suasana makan berlangsung hangat, di ruang belakang yang sepi, makhluk berbulu abu-abu itu perlahan mulai bergerak.
Ao Qing — Serigala Iblis Pemakan Surga, putra mahkota Kaisar Iblis — membuka matanya dengan susah payah.
"Manusia terkutuk… tunggu saja kalau aku sudah pulih!" geramnya dalam hati. Ia merasa sangat dipermalukan. Sebagai keturunan bangsawan iblis, jatuh di tangan manusia biasa adalah aib terbesar dalam hidupnya. Kalau saja ia tidak sedang terluka parah setelah disergap musuh, satu jentikan kukunya sudah cukup meratakan kota ini.
Dengan sisa tenaga yang baru pulih sedikit, ia menyangga tubuhnya dan berjalan pincang, berniat kabur selagi ada kesempatan.
Namun karena bingung, ia salah belok — masuk ke ruang bengkel.
"Wusssh!"
Ratusan berkas cahaya tajam menyerang pandangannya seketika. Ao Qing memejamkan mata, lalu memaksanya terbuka kembali.
Di sekeliling ruangan itu, berserakan begitu banyak senjata — pedang, kapak, tombak, belati — tergeletak sembarangan di sudut-sudut ruangan seperti kayu bakar.
"Senjata-senjata ini…" Ao Qing ternganga. "Ini… ini semuanya setidaknya berperingkat Tingkat Roh?!"
Sebagai pangeran iblis, ia sudah biasa melihat harta berharga. Tapi begitu banyak senjata tingkat Roh tergeletak di lantai seperti sampah… hal itu di luar nalar akal sehatnya. Bahkan ayahnya, sang Kaisar Iblis, mungkin tak pernah memiliki koleksi sebanyak ini.
Namun saat ia mengamati lebih teliti, keringat dingin menetes dari dahinya.
"Tunggu… ini… ini semuanya barang cacat?!"
Senjata-senjata hebat itu ternyata semuanya gagal produksi — sisa percobaan, barang yang dianggap kurang sempurna oleh pembuatnya.
Jika barang cacat saja sudah setingkat Roh… lalu apa jadinya barang yang sempurna?!
Pengrajin yang mampu menghasilkan barang cacat sebernilai itu — keahlian macam apa yang dimilikinya? Itu adalah kekuatan yang bisa membuat seluruh dunia iblis berlutut hormat.
"Siapa sebenarnya pemilik tempat ini?!"
Ao Qing berbalik dan kabur ke arah lain — namun karena panik, ia malah masuk ke ruang depan.
Tekanan yang jauh lebih dahsyat menimpa tubuhnya seketika, membuat kakinya lemas.
Delapan belas lukisan di dinding tiba-tiba bersinar terang. Jurus-jurus dalam lukisan itu seolah hidup, melompat keluar dari kertas, menyerangnya serentak dengan niat membunuh yang nyata.
"AUUUU!!!"
Ao Qing meraung ketakutan setengah mati, berbalik badan, dan lari terbirit-birit secepat kakinya bisa membawa. Jantungnya hampir copot.
Tempat apa sialan ini?! Isinya hantu semua?!
Ia berlari panik ke arah lain, lalu dengan hati-hati
mengintip ke dalam ruang makan.
Cahaya hangat, aroma masakan, dan suara percakapan santai menyambutnya.
"Fiuhhh…" Ao Qing menghela napas lega.
----Bersambung Bab 6 -------