Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Pagi Hari
Aroma teh chamomile murah yang terlalu lama diseduh mengapung di udara kamar yang dingin. Aria menarik selimut wolnya yang mulai menipis hingga batas dada. Tubuhnya masih terasa sehangat tungku yang kehabisan kayu bakar—sebuah sisa rasa sakit yang tak kasatmata akibat pemakaian mana yang dipaksakan kemarin malam.
Di sudut meja kayu yang retak, setitik cahaya keperakan berputar pelan, melayang mendekati wajahnya yang masih tampak pucat.
“Kau memaksakan diri lagi, Aria,” bisik Lumi. Suara roh pena itu terdengar seperti gesekan lonceng angin di musim gugur, sangat halus tetapi sarat kecemasan. “Naskah itu menuntut bayaran yang setimpal. Jika kau terus menulis ulang takdir tanpa memulihkan inti manamu, wadah jiwamu bisa retak.”
Aria mengembuskan napas perlahan, memperhatikan uap tipis yang keluar dari bibirnya yang agak kering. Ia bangkit dari ranjang, mengabaikan rasa pening yang sempat menghantam pelipisnya.
“Jika aku tidak memaksakannya, Lumi, keluarga ini akan hancur sebelum babak pertama novel ini selesai,” kata Aria pelan. “Kehancuran finansial adalah rantai pertama yang akan menyeretku ke tiang gantungan.”
Jemari lenturnya meraih cangkir teh yang sudah mendingin. Rasa hangat yang menjalar di telapak tangannya sedikit menenangkan debar jantungnya yang tidak beraturan. Ia menatap ke luar jendela kasa yang menghadap ke halaman belakang kediaman Evander yang ditumbuhi ilalang liar. Di sana, dunia luar tampak begitu sunyi, namun ia tahu badai politik sedang bergolak di ibu kota.
Ketukan lembut di pintu kayu membuyarkan lamunannya. Sosok Mia Florent menyembul dari balik daun pintu dengan nampan berisi roti gandum kasar dan semangkuk sup kentang hangat.
Wajah pelayan muda itu tampak jauh lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya, seolah beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya telah menguap tanpa bekas.
“Nona Aria! Anda sudah bangun?” Mia meletakkan nampan di meja kecil dengan tergesa-gesa, matanya berbinar terang. “Tuan Baron sedang berada di ruang kerja bersama perwakilan dari Asosiasi Henderson. Mereka baru saja menandatangani kontrak resmi pembelian botol kaca dalam jumlah besar!”
Aria tersenyum tipis, merasakan kelegaan kecil mengalir di dadanya. Perubahan takdir yang ia tuliskan pada kereta dagang Henderson kemarin terbukti membuahkan hasil yang nyata.
“Apakah Ayah terlihat senang?” tanya Aria.
“Sangat senang, Nona!” Mia menangkupkan kedua tangannya di dada dengan khidmat. “Saya bahkan melihat Tuan Baron menyeka air mata dari sudut matanya ketika menandatangani dokumen itu. Ini seperti mukjizat. Kita tidak perlu lagi mengkhawatirkan tagihan musim dingin mendatang.”
Aria meletakkan cangkirnya kembali ke meja. Ia tahu bahwa dalam permainan catur politik Kekaisaran Elgarth, satu kemenangan kecil akan selalu mengundang mata-mata yang lapar. Keberhasilan mendadak sebuah keluarga Baron yang bangkrut pasti akan memicu kecurigaan, terutama dari mereka yang terbiasa melihat keluarga Evander merangkak di lumpur kehinaan.
“Ada satu hal lagi, Nona,” tambah Mia, suaranya mendadak merendah saat ia merogoh saku celemeknya. Ia mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna merah muda lembut dengan segel lilin berbentuk bunga mawar yang rumit.
“Surat ini tiba bersamaan dengan kereta dagang tadi. Pengirimnya adalah kediaman Roselia,” kata Mia dengan nada sedikit ragu.
Aria menerima amplop itu. Sesaat setelah jarinya menyentuh permukaan kertas yang bertekstur mahal, aroma parfum bunga lili yang manis—hampir membuat mual—menyengat hidungnya. Itu adalah aroma khas Evelyn Roselia. Karakter utama asli novel ini yang selalu menyembunyikan duri beracun di balik senyum malaikatnya.
“Biar kutebak,” gumam Aria sambil memecahkan segel lilin dengan kuku ibu jarinya. “Undangan minum teh pribadi untuk merayakan pemulihan ekonomi keluarga Evander?”
Ia membuka lipatan surat tersebut dan membaca baris-baris tulisan tangan yang miring dan anggun. Di sana tertulis ajakan untuk menghadiri pertemuan sosial kecil di taman kaca kediaman Roselia akhir pekan ini. Evelyn secara khusus menyebutkan bahwa ia ingin memperkenalkan Aria kepada beberapa putri bangsawan tinggi dari faksi tradisional.
“Membantu memperbaiki hubungan sosial?” Aria mendengus pelan, melempar surat itu ke atas meja. “Dia hanya ingin menyeretku ke kandang singa.”
Lumi terbangun dari lingkaran cahayanya, melayang di atas bahu Aria untuk membaca isi surat tersebut. “Evelyn Roselia merasa posisinya terancam setelah jamuan teh kemarin. Perhatian Pangeran Kael dan Duke Lucien yang tertuju padamu telah merusak naskah aslinya. Dia pasti merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan reputasimu di hadapan para bangsawan tinggi.”
“Aku tahu,” kata Aria, melipat kembali surat itu dengan tenang. “Taman kaca Roselia terkenal dengan koleksi tanaman langkanya. Di sana juga terdapat Belladonna Purpurea, tanaman hias yang jika serbuk sarinya tercampur dengan mana suci, akan memicu reaksi alergi parah yang mirip dengan gejala keracunan sihir hitam.”
Sebagai mantan mahasiswi kedokteran, Aria hafal betul detail-detail botani yang sering digunakan para tokoh antagonis untuk menyingkirkan lawan mereka. Evelyn kemungkinan besar akan berpura-pura menjadi korban, menuduh Aria membawa sihir hitam ke dalam kediamannya setelah tubuhnya sendiri menunjukkan gejala keracunan fiktif yang telah ia siapkan penawarnya.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan? Menolak undangan itu?” tanya Lumi cemas.
“Menolak hanya akan membuatku terlihat bersalah dan pengecut,” jawab Aria, matanya berkilat dingin. “Aku akan datang. Tetapi kali ini, aku tidak akan membiarkan dia mengendalikan panggung. Jika dia ingin bermain dengan racun dan reputasi, aku akan menunjukkan padanya bagaimana seorang dokter mengobati penyakit sosial.”
Aria bangkit, melangkah menuju cermin besar berkaki perunggu di sudut ruangan. Ia menatap bayangannya sendiri—seorang gadis berambut cokelat gelap dengan mata hijau zamrud yang jernih. Tubuh ini dulunya rapuh, tak berdaya, dan ditakdirkan mati sebagai bidak politik yang tak berharga. Namun kini, ada jiwa lain yang mengendalikannya.
“Mia,” panggil Aria tanpa mengalihkan pandangan dari cermin. “Siapkan gaun terbaik yang kita miliki. Bukan yang paling mahal, tapi yang paling bersih dan sederhana. Kita akan menunjukkan pada mereka bahwa kemiskinan tidak pernah merusak martabat seorang Evander.”
“Baik, Nona!” Mia membungkuk hormat, matanya memancarkan keyakinan penuh pada majikannya sebelum melangkah keluar dari kamar.
Setelah pintu tertutup rapat, Aria kembali menghadap meja kerjanya. Ia membuka buku harian berkulit usang yang tersembunyi di bawah tumpukan buku medis tua. Lumi segera mendarat di atas halaman yang masih kosong, tubuhnya memancarkan pendar keemasan yang hangat.
“Kita butuh rencana cadangan, Lumi,” bisik Aria. “Jika Evelyn menggunakan faksi bangsawan tradisional, aku harus memastikan ada pihak ketiga yang bisa menyeimbangkan situasi. Seseorang yang memiliki pengaruh cukup besar untuk membuat para putri bangsawan itu berpikir dua kali sebelum membuka mulut mereka.”
“Kau memikirkan Pangeran Kael?” tanya Lumi.
Aria menggeleng pelan. “Kael terlalu mencolok. Kehadirannya justru akan membuat Evelyn semakin histeris dan agresif. Aku membutuhkan seseorang yang bergerak di bawah bayang-bayang, tetapi memiliki cakar yang cukup tajam untuk merobek kebohongan apa pun.”
Pikirannya melayang pada sosok Duke Lucien Veritas. Pria misterius yang tampaknya mengetahui rahasia bahwa dunia ini adalah sebuah novel. Lucien adalah kartu liar yang sangat berbahaya, tetapi jika digunakan dengan benar, ia bisa menjadi tameng yang paling tidak bisa ditembus.
“Lucien Veritas tahu lebih banyak dari yang ia tunjukkan,” gumam Aria sembari mengetukkan jemarinya di atas meja kayu. “Dia memperingatiku tentang bahaya mengubah cerita. Itu berarti, dia tertarik pada penyimpangan yang kubuat. Aku akan memanfaatkannya.”
Ia mengambil pena bulu biasa, mencelupkannya ke dalam tinta hitam, dan mulai menulis draf surat rahasia. Kali ini, ia tidak menggunakan kemampuan Penulis Takdir milik Lumi. Ia hanya mengandalkan kecerdasan taktisnya sendiri. Ia tahu bahwa mengandalkan sihir pengubah takdir terlalu sering hanya akan mempercepat kehancuran tubuhnya.
“Surat ini untuk Adrian Frost,” kata Aria sambil melipat surat yang baru saja ia selesaikan. “Kepala Guild Petualang itu berutang budi padaku atas informasi rute perdagangan di wilayah barat bulan lalu. Ini saatnya menagih utang tersebut.”
Lumi berputar di udara dengan riang. “Langkah yang cerdas! Adrian bisa menyusup ke kediaman Roselia tanpa terdeteksi oleh lingkaran sihir pertahanan mereka. Dia bisa menjadi mata dan telingamu.”
“Tepat sekali.” Aria tersenyum tipis. “Evelyn mengira dia sedang mengundang seekor domba ke dalam sarangnya. Dia tidak tahu bahwa domba ini telah membawa serigala peliharaan di balik jubahnya.”
Aria melangkah ke jendela, menatap langit pagi yang perlahan berubah dari biru gelap menjadi jingga keemasan. Angin musim gugur yang dingin berembus, menerbangkan beberapa helai daun kering di halaman. Pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia tidak berniat untuk kalah satu kali pun.
Di tangannya, surat undangan berwarna merah muda itu perlahan berkerut di bawah tekanan jemarinya yang mengeras. Aria tahu, akhir pekan ini akan menentukan apakah ia bisa terus berdiri tegak di atas panggung ini, atau tergelincir ke dalam jurang kehancuran yang telah disiapkan oleh naskah takdir asli.