Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.
Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.
Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Kejutan Ulan Tahun
Setelah insiden di sekolah Danu yang diselesaikan dengan gaya khas seorang miliarder mafia, suasana di mansion kembali tenang.
Namun bagi Kimberly, kalender di dinding dapur adalah pengingat akan sebuah misi rahasia yang jauh lebih mendesak, besok adalah tanggal dua puluh Juli, hari ulang tahun Justin yang ketiga puluh dua.
Selama hidupnya, Justin tidak pernah merayakan ulang tahun, baginya, bertambahnya usia hanyalah pengingat bahwa dia telah bertahan hidup satu tahun lagi di tengah kejamnya dunia bawah tanah.
Tidak ada kue, tidak ada tiup lilin, apalagi pesta, namun, Kimberly bertekad mengubah tradisi dingin itu tahun ini.
Rabu pagi, begitu limosin Justin bergerak meninggalkan pekarangan mansion, Kimberly langsung mengumpulkan Bi Minah dan Marco di ruang tengah.
"Marco, hari ini Mas Justin pulang jam berapa?" tanya Kimberly, matanya berbinar penuh rencana, Marco membungkuk sopan.
"Tuan Besar dijadwalkan menghadiri pertemuan dengan komandan distrik utara hingga pukul lima sore, Nyonya Besar. Setelah itu, beliau langsung pulang."
"Bagus. Berarti kita punya waktu delapan jam," Kimberly bertepuk tangan pelan.
"Bi Minah, tolong bantu aku siapkan bahan-bahan di dapur. Kita tidak akan membuat kue tart mewah dari toko Perancis. Aku mau membuat tumpeng nasi kuning lengkap dengan ayam goreng lengkuas dan urap sayur. Di desa, tumpeng itu simbol keselamatan dan umur panjang." Bi Minah tersenyum lebar.
"Tentu, Nyonya Besar. Pasti Tuan Besar akan sangat senang." Kimberly kemudian menoleh ke arah Marco yang berdiri kaku.
"Dan kau, Marco. Tugasmu adalah memastikan Mas Justin tidak pulang lebih awal. Kalau pertemuannya selesai cepat, buat alasan apa saja. Ban mobil bocor, jalanan ditutup, atau katakan ada berkas yang tertinggal. Pokoknya, tahan dia sampai jam tujuh malam!"
Marco menelan ludah dengan gugup, menahan seorang Justin Devano Ardiansyah yang ingin pulang ke rumah adalah tugas yang lebih berbahaya daripada menghadapi sepuluh penembak jitu, namun melihat tatapan mutlak dari sang Nyonya Besar, Marco hanya bisa pasrah.
"B-Baik, Nyonya Besar. Saya akan berusaha taruhan nyawa."
Pukul enam sore, dapur mansion dipenuhi aroma harum kunyit, sereh, dan gurihnya ayam goreng yang baru diangkat dari wajan.
Kimberly, dengan rambut yang dicepol asal dan celemek bermotif bunga yang sudah sedikit terkena noda sambal, sibuk mencetak nasi kuning menjadi bentuk kerucut tinggi di atas tampah anyaman besar yang dihiasi daun pisang.
Di sekeliling tumpeng, berjejer rapi lauk-pauk tradisional: perkedel kentang, telur dadar iris, kering tempe yang renyah, dan tidak ketinggalan, sambal terasi kesukaan mereka.
Tepat pukul setengah tujuh, ponsel Kimberly bergetar, sebuah pesan singkat dari Marco masuk.
Marco_Right: Kami sudah di gerbang depan, Nyonya. Saya sudah menghabiskan seluruh alasan taktis saya. Tuan Besar hampir menembak ban mobil sendiri karena saya sengaja memutar jalan lewat jalur macet.
Kimberly tertawa kecil, dia segera mematikan lampu ruang tengah dan ruang makan, hanya menyisakan beberapa lampu temaram di koridor dan lilin-lilin kecil yang tertata rapi di atas meja makan, mengelilingi tumpeng nasi kuning yang megah.
Brak.
Pintu utama terbuka dengan ketukan langkah kaki yang lebar dan tergesa-gesa. Justin melangkah masuk dengan wajah yang sangat tegang, mantel hitamnya dilepaskan dengan kasar dan diserahkan pada pelayan di depan.
Pria itu tampak kesal karena keterlambatan perjalanan pulang yang tidak masuk akal hari ini.
Namun, begitu kakinya melangkah ke ruang makan, langkahnya seketika terhenti, keheningan malam berganti dengan kehangatan cahaya lilin yang bergoyang lembut, memantul di atas meja marmer.
Kimberly berjalan keluar dari balik pilar, membawa sebuah mangkuk kecil berisi air hangat dan selembar kain bersih.
Wajahnya dihiasi senyuman paling manis yang selalu berhasil meruntuhkan dinding es di hati Justin.
"Selamat ulang tahun, Mas Justin," ucap Kimberly lembut, suaranya terdengar seperti melodi yang menenangkan di telinga sang mafia.
Justin terpaku di tempatnya, matanya berpindah dari wajah cantik istrinya, turun menatap tumpeng nasi kuning besar di atas meja, lalu kembali menatap Kimberly.
"Kim... kau menyiapkan ini semua?"
"Iya, Mas. Ini tumpeng ulang tahun buatan tanganku sendiri. Di desa, ini adalah doa agar Mas Justin selalu diberikan keselamatan, kesehatan, dan umur yang panjang untuk menjagaku," kata Kimberly, melangkah mendekat dan meraih tangan kanan Justin yang terasa dingin.
Justin menatap tumpeng tradisional tersebut. Selama tiga puluh dua tahun hidupnya, perayaan selalu identik dengan formalitas bisnis, hadiah senjata berlapis emas, atau aliansi politik yang melelahkan.
Namun malam ini, di depan makanan desa yang sederhana namun dibuat dengan penuh cinta oleh istrinya, Justin merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya: rasa memiliki yang seutuhnya.
Rahang tegas sang penguasa kegelapan melunak, dan sepasang mata elangnya tampak bergetar menahan haru.
Tanpa berkata-kata, Justin menarik Kimberly ke dalam pelukan hangatnya, mendekap tubuh kecil istrinya dengan sangat erat seolah takut kehilangan momen berharga ini.
"Terima kasih, Kimberly... Terima kasih, Istriku," bisik Justin lirih di sela rambut wangi melati Kimberly, suaranya terdengar sedikit serak karena emosi yang membuncah di dadanya.
Kimberly membalas pelukan itu, mengelus punggung tegap suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Sama-sama, Mas. Ayo, sekarang kita potong tumpengnya. Tapi sebelum itu, Mas Justin harus potong ujung nasi kuningnya dulu dan berikan pada orang yang paling Mas sayangi."
Mereka berdua akhirnya duduk di meja makan. Justin, yang kini sudah menanggalkan aura mengerikannya, dengan cermat menggunakan sendok besar untuk memotong bagian paling atas dari kerucut nasi kuning tersebut, lalu meletakkannya di atas piring kecil bersama sepotong ayam goreng dan kering tempe.
Justin menyodorkan piring pertama itu ke hadapan Kimberly.
"Potongan pertama ini untukmu, Kim. Karena tanpamu, hidupku di atas sana tidak akan pernah memiliki arti apa pun."
Kimberly tersenyum sangat lebar, matanya berkaca-kaca karena bahagia, dia menerima piring itu dan menyuapkan sesendok nasi kuning ke mulutnya.
"Enak sekali, Mas! Mas Justin juga harus makan yang banyak."
Saat mereka sedang menikmati makan malam yang hangat dan intim itu, Marco tampak mengintip sedikit dari balik pintu penghubung dengan wajah lelah namun lega karena tugas taktisnya menahan bos besar telah selesai tanpa ada pertumpahan darah.
Justin yang menyadari kehadiran tangan kanannya itu melirik ke arah pintu.
"Marco."
"Ya, Tuan Besar...?" jawab Marco, langsung menegakkan tubuhnya di ambang pintu.
"Kemari. Ambil piring dan makan bersama kami di sini. Anggap saja ini bonus karena kau sudah berhasil membuatku terjebak macet selama satu jam tadi," perintah Justin dengan nada datar, namun ada secercah keramahan yang sangat langka di matanya.
Marco tertegun, lalu menatap Kimberly yang mengangguk setuju sambil tersenyum ramah.
"Iya, Marco. Ayo makan sama-sama, nasi kuningnya banyak sekali kok. Nanti lauknya keburu dingin."
"Baik, Mas. Terima kasih banyak," ucap Marco dengan senyum tipis yang jarang terlihat di wajah kaku seorang pembunuh bayaran.
Dia segera mengambil piring dan bergabung di ujung meja, menikmati hidangan desa di tengah kemewahan mansion.
Malam itu, perayaan ulang tahun ke-32 Justin Devano Ardiansyah ditutup dengan tawa lepas dan kehangatan masakan rumahan yang memenuhi setiap sudut rumah.
Di balik tirai gelap dunia luar yang penuh intrik berdarah, sang gadis desa kembali membuktikan kekuatannya yang luar biasa. Cukup dengan sepiring nasi kuning dan ketulusan hati, dia berhasil memberikan hadiah terbaik yang tidak bisa dibeli dengan seluruh kekayaan The Syndicate: sebuah arti dari kata pulang dan keluarga yang sesungguhnya.