"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Pikiran yang Terganggu.
***
Suasana di dalam kelas XII IPA 1 terasa begitu hidup pagi itu. Sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah jendela kaca menerangi meja barisan ketiga, tempat di mana Freya dan Sella duduk bersebelahan.
Didepan meja mereka, Rendy sudah memutar kursinya ke belakang menghadap Freya, bertopang dagu dengan senyuman jahil yang tidak pernah lepas dari wajah tampannya.
Bagi Freya, ruang kelas ini adalah tempat perlindungan terbaiknya. Di sini, ia bukan lagi anak pungut yang menanggung kutukan kematian, melainkan hanya seorang gadis remaja biasa yang berhak bahagia.
"Freya, kamu tahu nggak? Kemarin malam aku mencoba resep nasi goreng baru lewat video internet”. Ucap Rendy, matanya berkedip jenaka menatap wajah cantik Freya yang kini sudah terlihat jauh lebih segar.
"Oh ya? Lalu bagaimana hasilnya? Enak?". Tanya Freya penasaran, sedikit memajukan tubuh sintalnya ke arah meja.
Rendy mendesah dramatis, menepuk dahinya sendiri. "Jangankan enak, Frey. Jangankan rasa nasi goreng. Bentuknya saja sudah mirip batu bara yang dihancurkan. Warnanya hitam pekat karena aku salah memasukkan bubuk arang yang kukira lada hitam. Mama ku saja sampai mengira aku sedang melakukan eksperimen kimia di dapur dan hampir memanggil pemadam kebakaran!".
"Hahaha! Astaga, Rendy!". Tangis pilu dan ketakutan yang mencekik Freya beberapa jam lalu seketika luruh, digantikan oleh suara tawa lepas yang teramat renyah dan merdu.
Freya tertawa hingga kedua matanya menyipit indah, menutupi mulutnya dengan jemari nya yang lentik. Lekuk tubuhnya yang menawan terguncang halus akibat tawa yang tak terbendung.
"Lagian Lo aneh-aneh aja sih, Ren!". Timpal Sella ikut terkekeh, menyenggol pundak Rendy menggunakan pulpennya. "Mau sok keren memasak untuk memikat Freya, malah hampir membakar rumah orang tua Lo sendiri!".
"Hei, setidaknya gue punya niat baik!". Bela Rendy jahil, matanya tetap terkunci pada senyuman manis Freya yang begitu memikat hatinya. "Tenang saja, Frey. Nanti kalau aku sudah sukses membuat versi yang tidak beracun, kamu harus menjadi orang pertama yang merasakannya, ya?".
"Boleh, asal kamu sediakan ambulans didepan rumahku terlebih dahulu”. Canda Freya, kembali terkekeh geli yang membuat suasana di sudut kelas itu terasa begitu hangat dan penuh warna khas masa muda.
Kringggggggggg!
Suara lengkingan bel sekolah berbunyi nyaring, memutus obrolan seru mereka pagi itu. Langkah kaki guru mata pelajaran fisika yang terdengar tegas dari arah lorong memaksa Rendy untuk memutar kembali kursinya menghadap ke depan dengan helaan napas kecewa.
Buku-buku pelajaran mulai dikeluarkan, dan Freya menarik napas panjang, mencoba memfokuskan pikirannya pada deretan rumus di papan tulis, berusaha melupakan rasa perih yang tersembunyi di balik rahangnya.
***
Sementara itu, di lantai empat puluh gedung pencakar langit Danendra Group, atmosfer yang tercipta benar-benar bertolak belakang.
Suasana didalam ruang rapat utama direksi terasa begitu mencekam, dingin, dan kaku hingga membuat pasokan oksigen seolah menipis bagi belasan kepala divisi yang hadir.
Di ujung meja panjang, Galen Danendra duduk dikursi kebesaran dengan postur tegap yang dominan. Setelan kemeja formal hitamnya tampak sempurna, namun raut wajah tampannya saat itu benar-benar menyerupai badai yang siap meruntuhkan apa saja.
Di depan matanya, sebuah proyektor menampilkan grafik pertumbuhan saham perusahaan untuk kuartal kedua. Seorang manajer pemasaran sedang memaparkan data dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup.
Namun, dari balik sepasang mata elangnya yang tajam menatap lurus ke layar, pikiran Galen sama sekali tidak berada di dalam ruangan tersebut.
Otak pria tersebut sedang diacak-acak oleh sebuah visual yang terus berputar seperti kaset rusak sejak satu jam lalu.
Bayangan saat sebuah lengan kekar milik bocah laki-laki berseragam sekolah dengan jaket denim merangkul begitu saja di pundak Freya.
Bayangan tentang bagaimana Freya—gadis yang beberapa menit sebelumnya meringkuk ketakutan di bawah cengkeramannya—bisa memberikan senyuman yang begitu manis—hangat—dan lepas kepada laki-laki lain yang bukan dirinya.
Setiap kali bayangan itu terlintas, darah didalam tubuh Galen mendidih sempurna. Ada rasa amarah, dominasi psikologis, dan kecemburuan gelap yang mencengkeram dadanya hingga terasa sesak.
Di mata Galen, Freya adalah samsak pribadinya, peliharaan kecil yang nasib hidup dan matinya berada di bawah kendali mutlak keluarga Danendra.
Beraninya gadis itu membiarkan kulit nya disentuh oleh laki-laki lain di depan umum?
Beraninya dia tersenyum bahagia setelah menghancurkan dunianya karena kematian sang istri?.
"Jadi, Pak Galen... untuk target ekspansi pasar di wilayah timur, kami menyarankan untuk—".
"Cukup. Hentikan rapatnya”. Potong Galen dengan suara bariton yang rendah—dingin memotong kalimat sang manajer dengan mutlak.
Suasana ruangan seketika senyap. Manajer pemasaran itu mematung di tempatnya dengan wajah yang memucat kaku.
Galen mendorong kursi nya ke belakang hingga menimbulkan suara decitan tajam di atas lantai marmer. Ia berdiri tegap, memancarkan aura mengintimidasi yang luar biasa berbahaya.
Pria itu benar-benar tidak bisa fokus. Pikirannya terdistraksi sepenuhnya oleh rasa geram yang memuncak akibat pembangkangan tak kasat mata dari Freya.
"Rapat hari ini saya batalkan sepihak. Jadwalkan ulang besok pagi setelah kalian memperbaiki data sampah ini”. Ucap Galen dingin tanpa ekspresi, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar meninggalkan ruang rapat, membanting pintu kaca ganda di belakangnya dengan keras.
Ferdi—Asisten pribadinya yang kini berusia tiga puluh tiga tahun, seketika tersentak kaget.
Dengan langkah terburu-buru, ia mengekor di belakang punggung tegap bosnya yang berjalan cepat menuju ruang kerja pribadi.
Sang asisten menatap punggung tegap Galen dengan kerutan dalam di keningnya, merasa teramat heran dan bingung dengan perubahan sikap tuan-nya yang tidak biasa itu.
Selama ini, Galen Danendra adalah sosok profesional berdarah dingin yang tidak pernah membiarkan emosi apapun merusak jalannya rapat penting perusahaan.
“Ada apa dengan Tuan Galen hari ini? Apa yang membuat seorang CEO raksasa sekacau ini?”. Batin Ferdi penuh tanda tanya besar melihat ketegangan yang memancar dari tubuh Galen.
Galen melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas, lalu menghempaskan tubuh tegapnya diatas kursi kebesaran di balik meja jati raksasa.
Pria itu menyandarkan punggungnya secara kaku, melemparkan tablet kerja ke atas meja hingga menimbulkan bunyi benturan yang keras.
Kedua tangannya bergerak mencengkeram rambut hitamnya sendiri yang rapi, menyugarnya ke belakang dengan perasaan frustrasi yang amat pekat.
Detak jantungnya berpacu cepat, bukan karena lelah setelah memimpin rapat, melainkan karena amarah misterius yang membakar rongga dadanya dari dalam.
"Sialan!". Umpat Galen dengan suara bariton yang teramat rendah dan serak, menggeram kesal pada dirinya sendiri.
Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu menatap langit-langit ruang kerjanya dengan rahang yang mengetat sempurna. Ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik, seolah pasokan oksigen di ruangan mewah itu mendadak hilang.
"Kau benar-benar membuatku marah, Freya Anindita”. Desis Galen tajam, suaranya bergetar menahan gejolak emosi gila yang berkecamuk di kepalanya.
"Siapa kau sebenarnya, hah? Kau hanya anak pungut pembawa sial! Berani-beraninya kau mengacaukan pikiranku sampai seperti ini!".
Galen memukul permukaan meja jatinya dengan kepalan tangan kuat, membuat beberapa dokumen di atasnya sedikit bergeser.
Selama puluhan tahun hidupnya berjalan, Galen selalu dikenal sebagai sosok yang rasional, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah membiarkan hal apa pun mengusik fokus profesionalnya.
Bahkan di masa-masa sulit saat kematian istrinya satu tahun lalu, ia masih bisa mengendalikan diri untuk memimpin perusahaan raksasa ini tanpa cacat.
Namun hari ini, pertahanan dirinya runtuh berantakan. Pikiran dewasanya benar-benar berkecamuk hebat, diacak-acak secara brutal hanya karena ingatan tentang seorang gadis remaja berseragam SMA tersebut.
"Harusnya kau menderita di bawah bayang-bayang rasa bersalahmu!". Gumam Galen lagi, matanya menyipit memancarkan kilat amarah yang teramat gelap. "Tapi kenapa... kenapa kau justru tersenyum begitu lepas pada laki-laki lain? Kau adalah milik keluarga Danendra. Sialan!”.
Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan tubuh Freya yang dirangkul begitu saja oleh teman sekolahnya kembali melintas, seolah memercikkan rasa tidak rela yang luar biasa panas.
Galen merasa tidak terima jika samsak emosinya—anak pembawa sial yang harusnya membusuk dibawah rasa bersalah, justru bisa memamerkan senyuman manis dan bersenang-senang dengan laki-laki lain diluar sana.
Rasa amarah yang gila dan kegelapan didalam hatinya terus bergolak, mengubur sisa-sisa logika sang CEO muda disiang hari yang mencekam itu.
“Lihat saja… aku tidak akan pernah membiarkan gadis pembawa sial sepertimu bahagia di luar sana, Freya Anindita!”.
***