Belle Ursula yang waktu itu masih pelajar di sekolah menegah atas kelas dua belas di sukai oleh Lettu Harrel Jitro karena kecantikan dan kelincahan Belle di lapangan voli. Pertemuan itu, membuat Harrel berusaha mendekati Belle yang masih duduk di kelas dua belas. Mereka perpacaran. Ketika Belle lulus seleksi kuliah di fakultas kedokteran pada salah satu universitas negeri di Jogja. Cinta mereka di uji waktu dan jarak. Apakah cinta pertama Belle akan abadi??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Jebak
(Bab ini ada unsur 18+.... Jika tidak berkenan bisa di skip saja. Mohon maaf)
Seharian ini, Hugo menemani Belle bermain di sawah papanya. Sampai sore hari baru dia mau pulang. Karena kelelahan, Belle sudah ada di kamar selesai makan malam yang masih sore hari.
"Sayang, apa kaka bisa ngumpul bareng teman - teman."
"Jangan terlalu malam pulangnya, ade takut."
"Terima kasih sayang."
Harrell Hugo Tandean di undang teman - teman sekolahnya untuk ngongkrong. Sekarang di Tondano sudah ada tempat nongkrong bagi pemuda - pemudi yang ada di kampung ini.
Undangan nongkrong kali ini ada niat terselubung seorang Siska Wowor kepada Hugo, laki - laki yang dia cintai. Hugo sudah menitip istrinya yang sudah tertidur. Kepada orangtuanya. Dia pun pergi keluar menuju ke kafe - kafe yang ada di sepanjang sawah dekat danau tondano.
Hugo tidak tahu bahwa ada bahaya yang akan menyapanya. Sampai disana lima teman sekolahnya semasa menegah atas sedang duduk bercerita menikmati musik sambil menikmati cemilan yang ada. Pekerjaan mereka selain pegawai negeri sipil, mereka juga ada yang berkebun.
"Hai anak ibu kota..."
"Selamat malam semua."
"Sori Rel, kemarin tidak bisa hadir acara pengucapan syukur kamu."
"Tidak masalah, orang tua yang buat."
"Istri dokter ya??"
"Iya."
"Orang mana istri??"
"Sulawesi juga, Toraja papanya, mamanya orang Ambon."
"Manis orangnya."
"Terima kasih."
"Terus Siska bagaimana?? Dia itu menunggu kamu."
"Aku tidak ada hubungan dengannya."
"Tapikan waktu Natalia meninggal, mereka mau Siska yang mengantikan posisi kakaknya."
"Siska itu bukan barang kan."
Percakapan Hugo bersama teman - temannya, didengar oleh Siska yang ada juga di cafe itu. Hatinya sangat panas.
"Jadi begitu aku di mata kamu." Siska pun mulai menjalankan rencananya. Dia memang sengaja mengundang teman - teman sekolah Hugo untuk maksud menjebaknya. Minuman yang di pesan oleh Hugo sengaja di beri obat kuat. Cafe ini adalah Cafe untuk orang dewasa karena ada barnya. Tempat biasa Hugo kalau kumpul bersama teman - temannya.
Hugo merasa berbeda dengan tubuhnya. Sebagai anggota khusus, intelejen dia tahu kandungan yang terkandung pada minumannya. Dari belakang mereka datang Siska. Hugo mulai merasa badannya panas. Dia pun pamit keluar.
"Mau kemana kak??" Siska mencoba memegang tangan Hugo, namun dengan kasar Hugo melepaskan tangan Siska. Di pikirannya, harus pulang mencari istrinya. Dia pun mengendarai mobil sangat kencang menuju rumahnya.
"Kamu taruh apa pada minumannya??"
"Obat."
"Gila kamu Siska. Hugo itu intelejen dia pasti tahu. Kamu habis. Kita semua ada dalam masalah."
Gelas yang digunakan oleh Hugo sengaja di hilangkan. Mereka melempar ke danau gelas itu. Bunyi mobil berhenti membuat orangtua Hugo kaget. Adeknya yang baru tiba dari Manado pun kaget.
"Hein cepat ke cafe, Siska dan Tinus sengaja menaruh obat di minumanku."
"Apa yang harus aku lakukan kak."
"Beri efek jera. Belle masih tidur ma??"
"Dia di kamar." Hugo langsung mencari istrinya. Orangtuanya bingung. Sedangkan Hein mengerti apa yang di alami oleh kakaknya. Dia langsung menuju ke Cafe itu dengan motor. Dari kejauhan dia melihat teman - teman kakaknya baru mau pulang. Motor berhenti di depan mobil mereka.
"Kalian tahu, bahwa kalian berurusan dengan siapa??"
Semua teman kakaknya tertunduk. Mau berbicara namun gagap. Hein melihat ke arah Siska.
"Dosen macam apa yang ahklaknya jelek." Kembali mereka terdiam. Namun salah satu dari mereka yang ketakutan pun berusaha.
"Ini rencana Siska dan Tinus."
"Saya akan mencari bukti, maka siap - siap."
"Apa yang salah dengan kami, pasti sekarang Hugo sedang senang - senang dengan istrinya."
"Padahal hal itu yang mau kamu lakukan dengan kakakku kan??"
"Tau apa kamu anak kecil." Salah satu teman kakaknya yang bernama Yunus, yang menyebutkan bahwa itu rencana Siska dan Tinus tidak ikut pulang, dia memberitahukan apa yang terjadi setelah Hugo pulang. Dan CCTV cafe dan bar ini memperlihatkan bagaimana Siska memasukan obat pada gelas kakaknya Hugo sampai gelas yang digunakan kakaknya di lepar ke danau oleh Tinus.
Sementara itu di kamar. Hugo yang sudah terpengaruh obat tidak tega membangunkan istrinya. Dia memandikan dirinya dibawa air mengalir. Dan didengar oleh Belle istrinya.
"Kak... Kenapa muka kamu merah."
"Sayang...... Mereka memberi obat pada minumanku." Belle yang mengerti. Pun mendekati suaminya. Dia kasihan karena suaminya bermain solo dibawa air karena tidak mau menyakiti istrinya.
"Ade... Mau kak."
"Sakit nanti."
Belle langsung mencium suaminya. Hugo membuka bajunya dan baju istrinya, sehingga tidak ada sehelai kain pun menutupi tubuh mereka. Dia gendong tubuh istrinya Belle ke tempat tidur. Rudalnya sudah sangat siap. Dia pun memasukan rudalnya. Berkali - kali Belle mengalami pelepasan dia mendesah. Namun rudal itu masih tetap kokoh. Mereka berdua juga sudah mencapai puncak kenikmatan, berkali - kali. Akhirnya malam itu Belle tertidur dalam posisi rudal suaminya tetap masih ada dalam hangarnya. Rudal itu masih kokoh dan nyaman didalam sana.
Pagi hari, Belle mau bangun namun dia merasa ada yang penuh di dalam organ intimnya. Belle melihat suaminya. Hugo yang sudah bangun terlebih dahulu sedang melihat istrinya.
"Selamat pagi sayang."
"Selamat pagi suamiku. Sekarang jelaskan apa yang terjadi sampai begini."
"Kak diberi obat perangsang ole teman - teman di dalam minuman." Hugo belum menyampaikan ini ulah Siska kepada Belle, karena dia tidak mau nama perempuan itu disebut dalam keluarganya.
"Untung jarak nongkrongnya dekat. Kalau tidak kamu pasti berzinah."
"Kaka akan tahan sayang."
Satu ronde di pagi hari pun terjadi. Hugo sedikit kasar, karena tidak mau di tuduh berselingkuh oleh istrinya sendiri. Kali ini Hugo meninggalkan tanda merah pada tubuh Belle. Membuat Belle siap menerima gempuran rudalnya pagi ini yang sejak semalam sudah merasa nyaman. Suara tubuh menyatu membuat suasana kamar menjadi sangat intim dan romantis. Apalagi di tambah dengan suara maut Belle, suara desahannya membuat Hugo terbang ke tujuh nirwana. Mereka bersama mencapai puncak tertinggi dari bercinta di pagi. Berada di puncak kenikmatan bersama.
Hugo mengendong istrinya kekamar mandi untuk membersihkan diri. Betapa kaget Belle waktu melihat banyak sekali tanda merah di tubuhnya.
"Kak......."Hugo yang tahu hanya tertawa.
"Itu tanda cinta kaka."
"Kak, kalau dibadan ini bisa ade tutup. Kalau di leher bagaimana?? Bukan hanya satu tetapi dua lagi. Kakak,............." Belle merengek, Hugo tersenyum langsung memeluk tubuh istrinya.
"Your mine honey." Belle pun membalas dengan memberi tanda merah di leher suaminya. Hugo merasa sedikit perih, namun dia tersenyum. Tidak sangka istrinya juga berani.
"Your mine to."
Mereka sudah menganti baju. Bersiap untuk sarapan. Belle sadar bahwa tanda merah di leher suaminya akan ketahuan. Kalau punyanya sudah ditutup dengan konselor dan bedak.
"Kak ....sini. Jangan keluar dulu. Ade tutupi itu."
"No.... Aku suka. Apalagi ini hasil karya istriku."
"Kakak adek malu."
Hugo sudah keluar senyum - senyum. Satu tanda merah di lehernya sangat terlihat karena kulitnya putih bersih. Mama dan papanya hanya tersenyum.
"Bangga banget, harus pamer gitu." Hugo tersenyum. Belle tertunduk.
Mertuanya langsung menawarkan makanan kepada Belle. Dan seperti biasa meskipun malu, dia tetap melayani makan suaminya. Hugo memeluk dan mencium perut istrinya ingin rasanya Belle memukul suami isengnya.