Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Pintu kamar Aira baru aja tertutup rapat, menyisakan Bapak dan Ibu yang masih duduk berdua di ruang tengah. Suara televisi masih bergema pelan, tapi perhatian mereka berdua sudah tertuju sepenuhnya ke arah pintu kamar itu.
Senyum masih mengembang di bibir Ibu, campur sama rasa lega yang dalem banget, sementara Bapak menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Pak... lihat tadi kan? Mukanya, senyumnya, matanya... Ibu udah lama banget nggak lihat Aira seceria dan sebersinar ini," kata Ibu pelan, suaranya penuh rasa haru dan rasa penasaran.
Bapak mengangguk perlahan, matanya menatap kosong ke depan, ingatannya langsung terbang ke masa-masa sulit yang baru aja lewat beberapa waktu lalu.
"Iya, Bu. Bapak juga perhatiin banget. Dari dia masuk tadi, Bapak udah kaget. Biasanya pulang kerja jalannya lambat, mukanya lemes, senyumnya kaku kalau disapa. Tapi tadi... beda banget. Jalannya ringan, mukanya cerah, senyumnya itu lho... beneran keluar dari hati, sampai ke matanya. Padahal dia nggak mau cerita alasannya apa, nggak mau bilang ada apa," jawab Bapak pelan.
Ibu mengusap pelan dadanya, rasa lega itu bercampur sama ingatan pahit yang masih melekat jelas di kepalanya.
"Masih keinget banget ya Pak, kejadian itu... Tujuh tahun lho Pak. Tujuh tahun mereka pacaran. Mulai dari masih SMA, terus bareng kuliah, sampai sama-sama kerja. Kita semua udah yakin banget, udah anggep dia bakal jadi menantu kita. Semua orang juga udah tau, udah nanya-nanya kapan acara. Siapa yang nyangka... setelah tujuh tahun dibangun, ternyata dia malah main belakang. Selingkuh... di saat kita semua pikir hubungan mereka paling kokoh dan paling serius."
Suara Ibu agak bergetar dikit ingat rasa sakit anaknya dulu.
"Waktu Aira tau kebenarannya... itu hari paling gelap buat kita, Pak. Dia pulang diam-diam, langsung masuk kamar, nggak mau keluar seharian. Pas kita buka pintu... rasanya hati kita remuk lihat anak kita nangis sesenggukan sampe suaranya hilang, matanya bengkak banget, mukanya pucat kayak mayat. Dia bilang semuanya hancur, dia bilang dia udah nggak percaya sama laki-laki mana pun lagi, dia bilang dia udah capek berharap. Mulai hari itu, Aira berubah total."
Bapak ikut mengangguk berat, matanya menerawang jauh.
"Iya, Bu. Bapak inget banget. Dulu Aira itu anak yang paling ceria, ketawanya bisa kedengeran dari luar pagar rumah. Tapi pasca kejadian itu... dia jadi pendiem banget. Pulang kerja langsung masuk kamar. Kalau ngomong seperlunya aja. Senyumnya cuma di bibir doang, kosong banget matanya. Dia nutup hatinya rapat-rapat. Bapak sama Ibu sempat khawatir banget, takut senyumnya hilang selamanya, takut dia nggak bakal percaya sama kebaikan lagi."
Ibu menoleh ke arah pintu kamar Aira lagi, senyumnya perlahan kembali muncul.
"Tapi lihat sekarang, Pak... Beberapa bulan belakangan ini, perubahannya kelihatan banget. Aira pelan-pelan balik jadi ceria. Dia jadi banyak ngomong lagi, banyak nanya hal-hal baru, sering banget melamun tapi sambil senyum-senyum sendiri kayak tadi. Senyumnya itu... senyum yang beneran bahagia, senyum yang bikin kita lega banget lihatnya. Padahal kita nggak tau alasannya apa, kita nggak tau ada siapa, ada apa, atau ada kejadian apa yang bikin dia berubah."
Bapak tertawa kecil, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya ya... dia bener-bener tertutup banget sekarang. Ditanya dari tadi, dijawabnya cuma 'biasa aja', 'kerjaan enak', padahal jelas-jelas ada sesuatu. Ada aja yang dia sembunyiin, ada aja hal yang bikin hatinya senang. Tapi Bu... Bapak rasa, nggak apa-apa deh kita nggak tau sekarang. Yang paling penting dan paling utama buat kita itu kan cuma satu: Aira udah balik jadi Aira yang kita kenal, senyumnya udah pulih lagi, semangatnya udah balik lagi."
Dia diam sebentar, lalu lanjut lagi dengan nada lembut dan bijak.
"Dulu dia hancur banget karena dia kasih semuanya, kasih kepercayaan, kasih waktu tujuh tahun hidupnya, kasih hatinya utuh-utuh, tapi dibalas sama kebohongan dan pengkhianatan. Makanya dia jadi takut, jadi tertutup. Tapi sekarang... entah apa atau siapa alasannya, Aira lagi ngerasain rasa aman lagi, rasa dihargai lagi, rasa bahagia yang sederhana tapi murni lagi. Itu aja udah cukup banget buat Bapak sama Ibu bersyukur luar biasa."
Ibu mengangguk setuju banget, lalu menarik selimut tipis ke bahunya karena udara malam makin dingin.
"Benar banget kata Bapak. Kita emang penasaran sih, kita emang pengen tau siapa atau apa yang berhasil bikin hati anak kita yang sempat mati rasa itu jadi hidup lagi. Tapi kalau dia belum mau cerita, ya udah... kita tunggu aja. Kita hargai privasinya. Yang penting kita lihat dia sehat, dia bahagia, dia senyum kayak gini. Itu hadiah paling indah buat orang tua mana pun."
"Siapa tau nanti pas dia udah siap, dia bakal cerita semuanya. Siapa tau nanti dia kenalin juga apa atau siapa yang jadi alasan senyumnya itu," tambah Bapak sambil tersenyum. "Yang jelas, Bapak yakin banget... siapa pun atau apa pun itu, itu hal yang baik, itu orang yang baik. Karena pengaruhnya ke Aira itu positif banget, bikin dia makin dewasa, makin tenang, makin bijak."
Suasana di ruang tengah makin tenang dan damai. Rasa khawatir yang selama berbulan-bulan membebani hati mereka perlahan hilang, terganti oleh rasa syukur yang besar. Luka masa lalu yang sempat bikin mereka sedih dan cemas, pelan-pelan sembuh berkat kebahagiaan kecil yang entah dari mana asalnya itu.
Di kamar sebelah, Aira tidur nyenyak dengan senyum yang masih tersisa manis di bibirnya. Dia sama sekali nggak tau kalau di ruang tengah tadi, orang tuanya sempat ngobrol panjang lebar, mengingat masa lalu pahit, dan bersyukur luar biasa cuma karena lihat dia senyum-senyum sendiri.