NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:532
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 : MENYELAMATKAN KARTA

Langit malam mulai pekat diselimuti awan mendung yang perlahan turun membawa gerimis halus. Di balik batang pohon besar di pinggir tembok tinggi Kadipaten Ciaruteun, Bayu berdiri diam mematung. Matanya terus menatap ke arah atap genteng yang gelap, hatinya berdebar tak menentu sejak mendengar kabar bahwa Karta tertangkap saat mencari petunjuk.

"Aku harus menemukannya sekarang juga, sebelum hal buruk menimpanya," bisiknya pelan.

Ia meraba punggungnya, memastikan Busur Sanghyang Rasa terikat kuat tersembunyi di balik selendang kasar. Tangan kanannya menyentuh dada, menghitung jumlah panah. Cukup untuk membuka jalan, cukup untuk melindungi, dan sama sekali tak akan melukai nyawa siapa pun. Syarat pusaka leluhur itu selalu diingatnya baik-baik: hanya bekerja bila niat tulus dan hati bersih dari dendam.

Bayu melangkah perlahan mendekati tembok bata yang sudah tua dan retak. Ia memanjatnya dengan hati-hati, memanfaatkan celah batu dan tanaman rambat yang rimbun. Sesampainya di tepian genteng, ia mengintai ke segala arah. Suasana di dalam halaman Kadipaten terasa sangat tegang, banyak prajurit berjalan mondar-mandir membawa obor yang apinya berkibar diterpa angin malam.

"Kau lihat anak itu tadi? Bisa-bisanya dia lolos dari sel terkunci rapat!" terdengar suara percakapan dua penjaga yang sedang berjalan di bawah sana.

"Memang licik. Tapi percuma juga, gerbang sudah dikunci semua. Pasti dia masih bersembunyi di sekitar sini saja," jawab yang lain.

Bayu mengerutkan dahi. Kalau Karta sudah lolos dari sel, berarti saat ini dia sedang bersembunyi di tempat yang sulit terlihat. Matanya menyapu setiap sudut atap, setiap lorong gelap, hingga akhirnya pandangannya tertahan di ujung sayap bangunan paling jauh. Di sana, di balik tumpukan genteng yang belum dipasang rapi, terlihat sepasang mata kecil yang mengintai dengan napas tertahan. Itu Karta.

Bayu merayap perlahan seakan ular meluncur, tak menimbulkan suara sedikit pun. Jarak mereka semakin dekat, hingga akhirnya ia bisa berbisik tepat di samping telinga anak itu.

"Karta... ini Kang Bayu."

Karta tersentak hebat, hampir saja menjatuhkan genteng yang dipegangnya. Ia menoleh cepat, begitu melihat wajah yang dikenalnya, matanya langsung berkaca-kaca.

"Kang Bayu! Astaga, Kang... bagaimana Kakang bisa sampai di sini?" suaranya bergetar menahan tangis dan rasa lega yang memuncak. "Aku pikir,...... Aku harus sendirian mencari jalan keluar sampai pagi."

"Kau pikir aku akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian?" Bayu tersenyum tipis, lalu menunjuk ke arah pohon mangga besar yang dahan-dahannya menyentuh tepian atap.

"Turun perlahan ke arah pohon itu, aku mengawasimu dari sini. Jangan sampai ada yang melihat."

Karta mengangguk mantap. Ia mulai bergerak hati-hati melewati genteng yang licin terkena embun. Satu kakinya baru saja menyentuh dahan paling kokoh, tiba-tiba dari arah lorong samping terdengar teriakan nyaring.

"HEI! DI ATAS SANA ADA ORANG!"

Sinar obor langsung ditujukan tepat ke tempat mereka berada. Puluhan prajurit segera berlari mendekat sambil menghunus senjata.

"Jangan bergerak! Menyerah atau kami akan melepaskan panah!" bentak Ki Haris, Kepala Penjara, wajahnya merah padam menahan marah karena baru sadar tahanannya lolos begitu saja.

Bayu segera meloncat turun tepat di samping pohon tempat Karta turun. Ia membantu adiknya sampai ke tanah dengan selamat, lalu menyuruhnya bersembunyi di balik semak berduri yang lebat tak jauh dari situ.

"Di sana dia! Tangkap Si Pemanah Rasa dan anak buahnya!" perintah Ki Haris sambil memberi isyarat agar pasukannya mengepung dari segala arah.

Delapan orang prajurit maju serentak mendekat, tombak dan keris teracung siap. Bayu berdiri tegak di hadapan mereka, tangannya perlahan menarik keluar Busur Sanghyang Rasa. Kayu cendana itu memancarkan kehangatan samar saat tersentuh tangannya. Ia meletakkan satu per satu panah di talinya, menatap lurus ke depan sambil menenangkan hati dan pikirannya.

"Aku tidak bermaksud menyakiti siapa pun. Minggirilah jalan ini, maka tidak akan ada yang terluka," ucapnya lantang terdengar hingga ke telinga semua orang.

"Kau pikir kami takut dengan mainan itu? Tangkap!" teriak salah satu komandan pasukan.

Mereka berlari makin cepat mendekat. Bayu menarik tali busur sekuat tenaga, niatnya tulus: hanya melumpuhkan, hanya membuka jalan, demi melindungi adiknya. Lima batang panah melesat bersamaan, melayang di udara seolah memiliki mata sendiri. Tak satu pun mengarah ke dada atau kepala. Semuanya menancap pas di bagian betis atau paha setiap orang yang berniat menghadang.

"Aaaaah! Kakiku kena!"

Serempak mereka jatuh berlutut atau terguling ke tanah. Terasa sakit luar biasa seketika, namun tak ada darah yang mengucur deras, tak ada luka parah yang merusak tubuh. Sesuai sifat pusaka itu: melumpuhkan sementara waktu agar tak bisa berbuat jahat, tapi tak sampai mencabut nyawa.

"Cepat Karta! Sekarang waktunya!" seru Bayu sambil tetap waspada menatap ke arah sisa pasukan yang tertegun melihat kejadian aneh itu.

Karta langsung berlari keluar dari persembunyiannya. Mereka menyusuri lorong belakang yang gelap dan sempit, jalan yang pernah diceritakan oleh penduduk desa yang dulu pernah bekerja membangun bangunan Kadipaten. Mereka melompati pagar kayu yang sudah lapuk, menerobos semak belukar, terus berlari kencang menuju kedalaman Wana Kelor. Di belakang sana masih terdengar riuh teriakan dan bunyi kentongan tanda bahaya, namun perlahan-lahan suara itu tertutup oleh gemuruh angin di antara pepohonan besar.

Hingga akhirnya kaki mereka tak sanggup lagi melangkah karena kelelahan. Mereka berhenti di sebuah gua kecil di bawah akar pohon beringin raksasa yang sulit ditemukan orang lain. Bayu segera mencari air mengalir di dekat situ, lalu membasuh muka dan tangan Karta, serta memeriksa sisa bekas luka siksaan di punggung dan lengannya.

Karta menatap wajah Bayu lekat-lekat, air matanya yang sedari tadi ditahan akhirnya mengalir deras membasahi pipinya yang penuh debu. Ia memeluk lengan Bayu erat sekali seakan takkan pernah melepaskannya lagi.

"Kang... Kang Bayu... tolong jangan pernah mati demi aku..." isaknya terhentak menahan sesak di dada.

"Tadi saat dikurung, saat disiksa, aku terus berpikir: andai Kakang ada di sini. Tapi saat Kang benar-benar datang menghadapi belasan orang bersenjata sendirian... jantungku rasanya mau copot takut kehilangan Kakang. Aku bukan siapa-siapa, tak pantas pertaruhkan nyawa begini..."

Bayu tersenyum sedih, lalu merangkul tubuh mungil itu dengan penuh kasih sayang. Ia mengusap kepala Karta perlahan.

"Kau bukan bukan siapa-siapa bagiku, Karta. Sejak hari kematian kedua orang tuamu, sejak kau pertama kali memanggilku Kakang, kau sudah seperti darah dagingku sendiri. Apa gunanya hidup panjang bagiku kalau harus membiarkan adikku menderita sendirian? Jangan pernah bicara begitu lagi."

"Tapi bahayanya luar biasa besar Kang... Kalau sampai panah itu tak bekerja, atau kalau ada senjata musuh yang lebih cepat..."

"Selama hati kita tak menyimpan kejahatan, pusaka leluhur ini takkan pernah mengecewakan kita," jawab Bayu tegas namun lembut. "Kita sudah berjanji akan membuktikan kebenaran bersama. Maka kita juga harus berani menanggung segala bahayanya bersama. Mulai detik ini, tak ada lagi kau sendirian, tak ada juga aku sendirian."

Di luar sana gerimis semakin deras turun membasahi tanah, seolah membersihkan segala jejak keburukan. Di dalam tempat persembunyian yang sempit itu, tidak ada makanan enak, tidak ada alas tidur empuk, namun keduanya merasa lebih aman dan hangat daripada di mana pun juga. Karena mereka saling memiliki, dan itulah perlindungan terkuat yang tak bisa ditembus oleh siapa pun, bahkan oleh fitnah sebesar apa pun.

Malam itu panjang sekali bagi mereka, namun tekad di hati semakin membara: akan terus berjalan maju, sampai nama bersih kembali pulih.

 

Angin malam berhembus perlahan menyusup ke celah gua, membawa pesan bahwa perjalanan berat mereka masih sangat panjang, namun tak akan pernah sepi dari pertolongan bagi mereka yang memegang teguh kebenaran.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!