"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Keesokan harinya, Meysa bersiap-siap untuk ke kampus dengan perasaan yang tidak karuan. Sepanjang malam ia tidak bisa tidur memikirkan ucapan Rangga."Aku tidak mau melihatmu berpakaian seperti gembel. Pakailah ini, karena besok Ayah menyuruh kita untuk ikut bersamanya makan malam direstoran mahal."
Meysa membuka pintu, lalu seketika ia mematung..
Di depan pintu, Dimas Pradana sedang menyandarkan tubuh ke dinding sambil memainkan ponsel, Andika berdiri di sampingnya dengan tangan di saku celana, Renal yang rambutnya rapi sempurna sedang bercermin di kaca lift, sementara Januar dan Abimanyu asyik berdebat kecil tentang sesuatu yang tidak jelas.
"Bentar, bentar, kamu... Meysa, kan?" tanya Renal, alisnya bertaut, kepalanya sedikit miring dengan ekspresi bingung."Kok bisa ada di sini?"
Pertanyaan itu terasa seperti bom yang meledak di kepala Meysa. Ia gelagapan, mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan yang kehabisan air. Tidak ada satu kata pun yang mampu ia keluarkan.
Dimas mendekati Meysa. "Lho, iya ya. Ini kan apartemennya Rangga. Lo tinggal di sini, Cha?"
"Atau lo lagi—" ucap Januar, tetiba diam karena disikut oleh Renal.
Pintu apartemen terbuka dengan suara decitan pelan. Semua menoleh. Rangga keluar, ia mengangkat wajahnya, langkahnya terhenti. Matanya melihat pemandangan yang tak ia duga, kelima sahabatnya berdiri dengan ekspresi heran, sementara di depan pintu apartemennya sendiri, Meysa masih membeku.
Rangga menghela napas kasar. "Kan udah gue bilang, tunggu di luar. Ngapain kalian ke sini?"
Suaranya terdengar ketus, penuh dengan nada jengkel yang berusaha menutupi kegugupan. Ia melangkah maju, pura-pura sibuk membenarkan sepatu pantofelnya.
"Gue kira lo udah siap dari tadi, Ga. Udah setengah jam kita nunggu di mobil, lo nggak kunjung turun juga. Ya udah, kita ke atas sekalian."
"Terus ini—" Renal menunjuk Meysa yang masih membatu di tempatnya, "—ada apa? Kok si Meysa bisa keluar dari apartemen lo?"
Rangga tidak menjawab. Ia melirik sekilas ke arah Meysa, melihat betapa gadis itu sekarang tampak seperti ingin menangis.
"Sial." umpat Rangga dalam hati. "Bukan begini cara mereka mengetahui Meysa disini!"
*
Parkiran basement apartemen terasa panas, terlebih beberapa pertanyaan menyebalkan dari lima orang yang paling Rangga hindari saat ini. Mobilnya masih terkunci, ia belum masuk ke dalam, karena kelima sahabatnya justru mengerubunginya seperti burung pemakan bangkai yang tidak rela kehilangan mangsa.
"Rangga, jangan kabur dulu. Jelasin soal siMeysa," paksa Dimas dengan tangan disilang di dada, ekspresinya setengah serius setengah penasaran, karena sejak SMA ia tahu Rangga tidak pernah sembarangan membawa perempuan,
"Lo berdua pacaran, ya? Udah jujur aja, Ga," tanya Januar sambil menyikut pelan lengan Rangga, matanya mengerjap nakal.
"Wah, gila lo, Jan. Masa idola kampus pacaran sama si miskin culun itu?" celetuk Renal.
"Bukan pacaran. Dia cuma babu di rumah gue," kata Rangga, matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip. "Papa yang merekrutnya, buat Masak, dan bersih-bersih" Suaranya terdengar meyakinkan, seperti seseorang yang sudah menyiapkan skenario cadangan sejak lama.
Tapi kelima orang itu tidak bergeming. Andika yang biasanya diam tetiba bersuara."Rangga, kita berteman sejak SMP. Lo pikir kita nggak tahu kalau lo lagi berbohong?"
*
Sementara itu, di lobi apartemen, Meysa baru saja keluar dari lift dengan hati yang masih berdebar kencang karena pertemuan tak terduga tadi. Ia tak habis pikir, kenapa gengnya Rangga harus muncul tepat saat ia akan berangkat? Dan kenapa ekspresi mereka begitu ingin tahu, seolah sedang membaca buku yang sampulnya sudah terbuka lebar?
Meysa menggeleng, berusaha membuang semua pikiran itu. Kakinya melangkah cepat menembus pintu apartemen, lalu ia berdiri di tepi jalan raya yang mulai ramai, mengangkat tangan untuk memanggil ojol.
Tidak sampai semenit, seorang pengemudi ojek online berhenti di depannya, helm diberikan, dan Meysa duduk di boncengan belakang dengan tas lusuh di pangkuan. "Ke kampus ya, Mbak?" tanya sang pengemudi. Meysa mengangguk pelan, "Iya, Pak."
Beberapa menit kemudian, ojek online yang membawa Meysa berhenti tepat di depan gerbang fakultas hukum. Meysa turun dengan hati-hati, lalu berjalan cepat menuju ruang kelas 302. Perasaannya lega, karena ia berhasil melewati pagi yang hampir menjadi bencana...
Tetapi rasa lega itu segera sirna ketika ia melihat sesosok berdiri tepat di depan pintu kelas, menghalangi jalannya seperti tembok beton yang tidak bisa ditembus.
Renal simenyebalkan. Dua tangan dimasukkan ke saku celana, tubuhnya menyandar ke kusen pintu dengan gaya sok keren yang membuat Meysa ingin meninju perutnya. "Meysa, kan? Bentar, bentar, jangan masuk dulu. Gue mau ngomong," ucap Renal
Meysa berhenti, "Ada apa, Mas Renal? Saya mau masuk kelas," jawab Meysa, berusaha terdengar tenang meskipun jari-jarinya sudah dingin dan gemetar.
Renal mendekat selangkah. "Cha, lo ada hubungan apa sama Rangga? Jujur aja, gue nggak suka basa-basi." Pertanyaan itu meluncur dari mulut Renal, seperti anak panah yang membidik tepat di jantung Meysa.
Otaknya bekerja keras, berpikir kilat mencari alasan yang masuk akal. Tidak mungkin ia mengaku sebagai istri Rangga. Pernikahan itu rahasia, aib yang harus ia simpan sampai kapan pun. "Saya... saya tidak ada hubungan apa-apa. Saya hanya—" Meysa terdiam sesaat.
Karena dari belakang, suara khas Wulandari terdengar lantang membelah suasana. "Apa-apaan sih, kalian pada di sini? Ngalangin jalan aja!" Wulandari melangkah cepat diikuti Aqeela yang berhijab dengan kacamata tebal, wajah mereka berdua sama-sama memasang ekspresi garang seperti macan betina yang anaknya diganggu.
Wulandari langsung mengibaskan tangannya ke arah Renal dengan gerakan yang hampir mengenai dada pemuda itu, membuat Renal mundur setengah langkah karena kaget sekaligus kesal. "Bukan urusan lo!" balas Renal mulai naik pitam.
"Ini urusan gue karena Meysa sahabat gue. Jadi jangan berani-berani lo ganggu dia dengan pertanyaan nggak jelas!" Aqeela menimpali, matanya menatap Renal dan di belakangnya yang ternyata Dimas, Andika, Januar, dan Abimanyu mulai berdatangan satu per satu dari arah koridor.
Wulandari segera meraih tangan Meysa dan menariknya masuk ke kelas, sambil berteriak tanpa menoleh, "Kalo ada yang mau bertanya tentang Meysa, tanya dulu sama kami berdua!"
Lalu Rangga datang, ia masuk tanpa menatap siapa pun, ia duduk di bangku depan bersama gengnya. Wajahnya dingin, tapi matanya tampak lelah, seperti orang yang seharian bergulat dengan pikirannya sendiri.
Tak lama, pintu kelas terbuka lagi. Dosen masuk, tetapi di belakangnya ada seorang gadis yang membuat semua mata terpaku. Wajahnya cantik, sangat cantik. Kulitnya putih bersih, rambut panjang hitam tergerai rapi, senyumnya tipis tapi menawan. Para mahasiswa langsung bersorak, terutama para cowok yang bersuit-suit tak terkendali.
"Perkenalkan, ini Emily mahasiswi pindahan dari Universitas ugm," ucap dosen.
Happy Reading, semoga kalian suka dengan cerita ini...
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey