Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Lupa Membawa Dompet
Jam makan siang sudah tiba. Suasana kantor perlahan riuh. Karyawan berjalan beriringan menuju kantin lantai dasar, tertawa bercerita sambil menenteng tas makan. Rima baru selesai membereskan tumpukan arsip yang harus dikembalikan ke gudang. Ia merapikan seragam, lalu berjalan menyusuri lorong menuju kantin seperti biasa.
Biasanya Rima selalu makan di kantin kantor. Harganya terjangkau, porsinya pas, dan rasanya cukup enak buat anak kost sepertinya. Uang kiriman dari orang tuanya di desa memang pas-pasan buat bayar kost, ongkos bus, dan makan sehari-hari. Jadi ia selalu berhemat, tapi tetap berusaha makan yang cukup.
Tapi pagi tadi ia mengalami hal yang tidak terduga. Saat hendak berangkat, dompetnya tertinggal di meja belajar kamar kost saking buru-buru karena takut ketinggalan bus pagi. Baru sampai di gerbang kantor ia menyadarinya, tapi sudah terlambat untuk kembali. Uang sisa di saku hanya cukup buat ongkos pulang sore nanti.
"Aduh... gimana ini?" gumamnya pelan sambil meraba saku celana. "Uangnya cuma cukup beli nasi bungkus paling murah saja di warung depan."
Ia tidak mau meminjam pada teman magang lain karena malu, dan tidak mau menyusahkan orang lain. Jadi Rima berjalan ke warung kecil di seberang jalan, membeli satu bungkus nasi hangat dengan tempe goreng dan sedikit sambal. Itu saja yang sanggup ia beli hari ini.
Daripada makan sendirian di sudut kantin dan mungkin dilihat teman atau karyawan lainnya, Rima memilih berjalan ke taman belakang kantor yang sepi. Tempat ini teduh di bawah pohon mangga besar, anginnya sejuk, dan jarang dilewati orang. Ia duduk di bangku kayu tua di pojok taman, membuka bungkusan itu perlahan, dan mulai makan pelan-pelan.
"Sudah syukur ada makanan yang masuk perut," bisiknya sambil menatap dedaunan yang bergoyang ditiup angin. "Abah dan Ibu pasti senang kalau tahu aku tidak kelaparan."
Belum lama ia makan, terdengar suara langkah kaki berat mendekat. Rima menoleh dan melihat seorang pria tua berbadan tegap, berpakaian rapi dengan kemeja berwarna gelap, sedang membawa dua kotak makan besar. Itu Pak Herman, supir pribadi keluarga Andre yang sering dilihatnya berpapasan di gerbang kantor.
Pak Herman berhenti saat melihat Rima. Ia tersenyum ramah. "Selamat siang Neng. Kok makan di sini sendirian? Biasanya kan makan di kantin."
Rima segera menelan makanannya, berdiri sedikit sambil tersenyum sopan. "Selamat siang Pak. Kebetulan mau cari udara segar sebentar. Jadi makan di sini saja."
Pak Herman meletakkan kotak makan di bangku sebelah, lalu melirik bungkusan di tangan Rima. Matanya menangkap lauk yang sangat sederhana itu. Ia sudah puluhan tahun bekerja di sini, tahu persis harga makanan di kantin kantor maupun di sekitarnya.
''Cuma makan dengan lauk tempe goreng saja neng?'
Wajah Rima memerah malu. Ia mengangguk pelan. "Iya Pak... tadi buru-buru berangkat, dompet ketinggalan. Uangnya cuma cukup buat beli nasi sama tempe. Tidak apa-apa kok Pak, besok sudah bisa makan normal lagi."
Pak Herman tersenyum simpati. Ia tahu betul perjuangan anak rantau yang bekerja keras di kota besar. Tanpa diminta, ia membuka salah satu kotak makan yang dibawanya. Di dalamnya ada porsi ayam goreng lengkuas, tahu bacem, dan tumis kangkung. Sengaja dimasak lebih banyak oleh Bik Ani pembantu rumah, takut Andre butuh tambahan lauk.
"Kebetulan ini lauknya banyak sekali Neng," kata Pak Herman sambil mengambil sedikit porsi yang masih utuh. "Pak Andre kadang hanya makan sedikit saja, sisanya sering saya bawa pulang. Daripada terbuang percuma, kamu ambil saja ya. Jangan sungkan, ini rezeki kamu hari ini."
Rima menolak segan. "Waduh tidak usah Pak, terima kasih banyak. Saya sudah kenyang kok dengan nasi ini."
"Makanlah yang bergizi Neng," desak Pak Herman pelan tapi tegas. "Kamu kan masih muda, banyak bekerja dan bergerak. Kalau makan kurang gizi nanti sakit, malah tidak bisa kerja. Ambil saja ya."
Melihat ketulusan di mata pria tua itu, Rima akhirnya mengangguk pelan. Ia menerima lauk itu dengan tangan bergetar sedikit. "Terima kasih banyak ya Pak... Bapak baik sekali. Nanti kalau ada rezeki lebih, saya ingin membalas kebaikan Bapak."
"Sudah saya bilang tidak perlu membalas," Pak Herman tertawa pelan. "Cukup kamu rajin dan jujur saja, itu sudah cukup buat baik."
Mereka pun duduk berdampingan di bangku kayu itu. Rima makan dengan lahap ditemani lauk yang lezat, sementara Pak Herman bercerita hal-hal ringan.
"Bapak sudah lama bekerja di sini ya?" tanya Rima sambil menyuap nasi.
"Sudah hampir dua puluh lima tahun Neng," jawab Pak Herman sambil memandang gedung kantor. "Dulu saya antar-jemput Pak Andre waktu masih sekolah, sampai kuliah, sampai akhirnya beliau jadi pemimpin di sini. Saya sudah menganggap beliau seperti anak sendiri."
"Wah.. Sudah lama juga ya Pak," Rima tersenyum. "Pantas saja Bapak terlihat sangat paham sifat beliau. Pak Andre memang kelihatan dingin dan kaku, tapi sebenarnya sangat peduli. Kemarin saya tergores besi di ruang arsip, beliau yang menyuruh ambil obat dan bahkan sempat membantu membalut luka saya loh Pak."
Pak Herman mengangguk senang mendengarnya. "Beliau memang begitu Neng. Hatinya lembut sekali, tapi beliau juga harus menjaga wibawa sebagai pemimpin. Beliau tidak mudah mempercayai orang, tapi kalau sudah percaya, beliau sangat menghargainya. Dan saya lihat... beliau sepertinya mulai memberikan kepercayaan ke kamu neng."
Rima terkejut, lalu tertawa kecil. "Ah Bapak bercanda ya. Beliau cuma ingin saya bekerja dengan benar saja. Saya ini cuma anak magang dari desa, masih banyak kekurangan."
"Tidak ada orang yang tidak punya kekurangan Neng," kata Pak Herman lembut. "Yang membedakan kamu dengan yang lain adalah kesederhanaanmu, kesopananmu, dan semangatmu yang tidak pernah pudar. Orang baik pasti akan bertemu dengan orang baik."
Setelah selesai makan, Rima melipat bungkusan dengan rapi dan membuangnya ke tempat sampah di sudut taman. Ia berterima kasih lagi pada Pak Herman dengan tulus.
"Terima kasih sekali lagi ya Pak. Lauknya enak sekali. Semoga Bapak selalu sehat dan panjang umur."
"Sama-sama Neng. Ayo masuk ke dalam, nanti telat istirahatnya," ajak Pak Herman sambil berjalan menuju pintu samping.
Saat berpisah di lorong, Pak Herman langsung menuju ruangan Andre untuk menaruh makan siang. Andre baru selesai menelepon, lalu melihat kotak makan yang dibuka tapi sebagian isinya tidak ada.
"Pak Herman, kenapa lauknya berkurang?" tanyanya datar.
"Oiya Tuan," jawab Pak Herman sopan. "Tadi saya berpapasan dengan Neng Rima di taman belakang. Beliau tertinggal dompet di kost, jadi hanya bisa beli nasi dan tempe saja. Saya berikan sedikit lauk lebih. Maaf kalau saya tidak ijin dulu ya Tuan."
Andre berhenti menyusun berkas. Matanya menatap keluar jendela kaca ke arah taman yang mulai sepi. "Dia makan dengan lauk seperti itu?"
"Iya Tuan. Beliau bilang tidak mau menyusahkan teman-temannya, dan berusaha berhemat. Beliau juga cerita kalau orang tuanya tinggal di desa, jadi beliau belajar mandiri sejak kecil."
Andre terdiam lama. Hatinya terasa perih membayangkan Rima yang harus menahan diri demi berhemat, tapi tetap tersenyum ceria seolah tidak ada masalah.
"Terima kasih sudah menolongnya Pak Herman," ucapnya pelan. "Mulai besok, siapkan porsi makan siang sedikit lebih banyak. Kadang ada yang butuh bantuan seperti itu. Dan jangan sampai dia tahu itu dari saya."
"Siap Tuan. Saya akan sampaikan pada Bik Ani," jawab Pak Herman sambil tersenyum mengerti.
Andre kembali menatap layar komputernya, tapi pikirannya masih melayang pada gadis sederhana yang berjuang keras di kota besar ini. Ia berjanji dalam hati. Ia akan membantu Rima dengan cara yang halus, tanpa melukai harga dirinya, sampai Rima benar-benar mampu berdiri sendiri dengan bangga.
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏