NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Pintu yang Tidak Boleh Dibuka

Atharva berdiri mematung di depan pintu besi tua itu. Permukaannya kasar, berkarat di bagian engsel, dan tampak sangat kontras dengan dinding beton putih mulus yang menjadi standar arsitektur modern Nexus Academy. Tulisan "Arsip Angkatan 17–31. Akses Dilarang" yang tercetak dengan cat memudar seolah menjadi peringatan kuno yang ditinggalkan oleh penghuni sebelumnya.

KLANG.

Suara logam yang terjatuh di dalam ruangan itu begitu nyaring, menggema melalui celah pintu yang tidak rapat sempurna. Itu bukan suara benda jatuh yang tidak sengaja; itu adalah suara langkah kaki yang diseret, seolah seseorang atau sesuatu sedang sengaja memancingnya.

Insting Atharva berteriak untuk segera pergi. Aturan asrama jelas melarang akses ke area non-aktif setelah jam malam, dan denda poinnya bisa berarti eliminasi instan. Namun, rasa penasaran yang selama ini ditekan oleh logikanya kini menang. Ia menyadari bahwa angka 17 hingga 31 adalah rentang tahun di mana catatan tentang Alvaro dan simbol geometris itu seharusnya tersimpan.

Tangannya terulur, menyentuh gagang besi yang dingin. Tanpa suara, ia menekannya. Pintu itu sedikit berderit, menolak, namun terbuka beberapa sentimeter, memperlihatkan kegelapan total di balik sana yang berbau apak bau debu, kertas tua, dan logam berkarat yang sudah lama tidak terpapar udara.

"Siapa di sana?" bisik Atharva. Suaranya terdengar sangat kecil di koridor bawah tanah yang membentang panjang itu.

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyesakkan.

Atharva melangkah masuk, menyalakan pemindai termal pada lensa kontaknya. Pandangannya berubah menjadi spektrum warna jingga dan biru. Ruangan itu luas, dipenuhi dengan deretan rak besi yang menjulang tinggi, penuh dengan berkas-berkas fisik dan tabung memori kuno yang berdebu. Namun, yang mengejutkan adalah pembacaan termalnya; di sudut ruangan, di balik tumpukan rak berkas, ia melihat jejak panas yang masih tertinggal sebuah jejak kaki manusia yang baru saja berpindah.

Sosok itu baru saja berada di sini.

Atharva segera bergerak mengikuti jejak panas tersebut, melangkah hati-hati agar tidak menendang tumpukan kertas yang berserakan. Saat ia mencapai rak terdalam, ia menemukan sebuah proyektor manual tua yang masih menyala redup, menyorotkan cahaya ke satu titik di dinding.

Bukan dokumen yang terpampang di sana, melainkan sebuah silsilah. Silsilah keluarga besar, namun banyak nama yang dicoret dengan tinta merah tebal. Di puncak silsilah tersebut, terdapat foto seseorang yang wajahnya telah rusak oleh api, namun di sampingnya tertulis satu nama yang membuat jantung Atharva berdegup kencang: Alvaro Surya Pradana.

Pradana.

Nama keluarga yang sama dengan sang Profesor.

Atharva hendak meraih proyektor itu untuk melihat lebih jelas, namun tiba-tiba, seluruh sistem lampu di koridor luar berkedip biru terang. Suara alarm keamanan tidak berbunyi, justru suara musik klasik yang lembut dan tenang mulai mengalun dari pengeras suara di langit-langit ruangan.

Itu adalah musik yang sama dengan yang didengarkan Raka di asrama, namun kali ini terasa seperti musik pengiring sebuah eksekusi.

"Sudah kubilang, NX-001," suara Profesor Adrian menggema melalui sistem audio ruangan, tenang namun sangat dekat. "Beberapa pintu memang sengaja tidak dikunci, bukan untuk dilewati, melainkan untuk melihat siapa yang cukup bodoh untuk masuk ke dalamnya."

Di balik layar monitor ruang kontrol di lantai teratas, Profesor Adrian menatap wajah Atharva yang sedang terproyek dengan jelas di layar. Ia menekan tombol record dan menyimpan data pergerakan Atharva ke dalam folder bertanda Subjek Eksperimen: Tahap Empat.

Di dalam ruang arsip, Atharva menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan. Pintu besi di belakangnya menutup secara otomatis dengan bunyi *BRAK* yang mengunci mati. Ia bukan hanya sedang diawasi; ia sedang diuji untuk melihat seberapa jauh ia berani mengusik rahasia yang melibatkan darah pemimpin akademi itu sendiri.

Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai, dan bagi Atharva, setiap langkah yang ia ambil di dalam ruangan terkunci ini kini menjadi taruhan nyawa yang tidak lagi tertulis di buku panduan.

...****************...

Atharva tidak membuang waktu untuk mencoba mendobrak pintu besi yang telah terkunci rapat itu. Ia tahu itu adalah kesia-siaan. Fokusnya segera beralih pada proyektor manual yang masih menyala redup, menampilkan silsilah keluarga Pradana. Ia harus mengambil data tersebut sebelum sistem mematikan daya proyektor atau menghapus informasinya secara permanen.

Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan kartu identitas titaniumnya dan menempelkannya ke sensor di samping proyektor, mencoba melakukan *

override akses data secara paksa. Layar retinanya memproses baris demi baris kode yang rumit kriptografi kuno yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Kau sedang mencoba melakukan sinkronisasi data ilegal, Atharva," suara Profesor Adrian kembali terdengar, kali ini terdengar lebih dekat, seolah-olah ia sedang berdiri tepat di balik pintu besi tersebut. "Tahukah kau? Angkatan 17 hingga 31 adalah saksi bisu dari kegagalan evolusi manusia. Dan Alvaro... dia adalah percobaan paling gagal di antara semuanya."

"Jika dia gagal, kenapa namanya masih ada di silsilah ini, Profesor?" Atharva bertanya, jemarinya terus bergerak di atas proyektor. "Kenapa sistem masih berusaha menghapus jejaknya jika dia hanya sebuah kegagalan?"

Hening sesaat. Musik klasik yang mengalun di ruangan itu semakin keras, memenuhi setiap sudut arsip yang pengap.

"Karena kegagalan yang memiliki kesadaran adalah ancaman yang jauh lebih berbahaya daripada musuh yang nyata," jawab Adrian. "Dan sekarang, kau telah memilih untuk menjadi bagian dari sejarah yang ingin dihapuskan itu."

Tiba-tiba, suhu di dalam ruang arsip mulai menurun drastis. Embun mulai terbentuk di permukaan rak-rak besi. Atharva merasakan napasnya mulai terasa berat. Ia melirik layar kartu identitasnya Transfer data: 85%... 90%...

Ia harus mempertahankan koneksi itu sedikit lebih lama lagi. Atharva menekan kartu identitasnya lebih kuat ke mesin proyektor, bahkan saat percikan api kecil mulai keluar dari sambungan kabelnya.

Di luar, Profesor Adrian berdiri tenang di koridor, menatap pintu besi itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak sedang mencoba menghentikan Atharva; ia justru membiarkannya. Di tangannya, ia memegang sebuah perangkat kendali jarak jauh yang akan menentukan nasib siswa itu dalam sepuluh detik ke depan.

"Sembilan," hitung Adrian pelan.

Di dalam ruangan, Atharva berhasil mencapai 98%. Data silsilah keluarga tersebut mulai terurai di hadapannya, menampilkan nama-nama yang selama ini tersembunyi.

"Tujuh."

"Data masuk," bisik Atharva saat angka mencapai 100%. Ia segera menarik kartu identitasnya tepat saat proyektor tersebut meledak kecil dan mengeluarkan asap hitam yang pekat.

"Lima."

Atharva tidak lagi mempedulikan proyektor itu. Ia segera menyambar berkas fisik yang tergeletak di sampingnya sebuah catatan kecil dengan simbol mata geometris yang sama dengan yang ia lihat sebelumnya dan menyimpannya ke dalam saku almamaternya.

"Tiga."

Atharva berdiri, mengambil ancang-ancang di depan dinding beton yang paling dekat dengan ventilasi udara. Ia tahu satu-satunya cara keluar bukanlah melalui pintu, melainkan melalui lubang ventilasi yang rapuh di sudut ruangan.

"Satu."

BOOM.

Alih-alih membuka pintu, Profesor Adrian justru mengaktifkan sistem pembersihan ruangan: gas penenang dosis tinggi mulai memenuhi ruang arsip. Namun, tepat sebelum gas itu menyentuh paru-parunya, Atharva telah melompat, menendang jeruji ventilasi hingga lepas, dan menghilang ke dalam lorong kabel yang gelap di balik dinding.

Di koridor, pintu besi terbuka lebar. Profesor Adrian melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini dipenuhi asap dan gas. Ia melihat proyektor yang hancur dan jeruji ventilasi yang terbuka, namun ia tidak terlihat marah. Sebaliknya, ia tersenyum tipis, menatap ke arah lubang ventilasi dengan tatapan seorang mentor yang sedang melihat anak didiknya berhasil melewati tes pertama yang ia buat.

"Dia mengambil catatan itu," bisik Adrian pada dirinya sendiri. "Bagus. Permainan ini baru saja menjadi jauh lebih menarik."

Di dalam kegelapan lorong ventilasi yang sempit, Atharva terengah-engah, merasakan detak jantungnya yang berpacu di tenggorokan. Ia aman untuk saat ini, namun ia tahu bahwa mulai detik ini, ia tidak lagi hanya menjadi subjek eksperimen. Ia kini memegang kunci yang bisa meruntuhkan seluruh fondasi Menara Akademik, dan ia tahu bahwa Profesor Adrian tidak akan membiarkannya hidup jika ia terus menggali lebih dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!