NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putri Kecil Tidak Resmi

Ketika Aelora membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit berwarna ungu tua.

Butuh beberapa detik sebelum ia ingat bahwa langit-langit rumah lama tidak pernah memiliki ukiran bulan sabit. Rumah lama juga tidak mempunyai tirai setebal itu, perapian yang menyala sendiri, atau bantal yang terasa seperti menelan kepalanya.

Ia berada di Istana Bulan Merah.

Di Nocthara.

Dan Kael masih hidup.

Aelora menoleh cepat ke sisi ranjang.

Sebuah kursi diletakkan dekat jendela. Kael duduk di sana dengan kepala bersandar pada tangan, tampak seperti seseorang yang sedang menunggu sekaligus menyesali keputusannya untuk menunggu. Di atas meja kecil di sampingnya terdapat tiga gulungan surat, satu cangkir yang sudah tidak beruap, serta sepotong kain hitam yang terbakar di ujungnya.

Bekas rantai dari ruang penyembuhan.

Aelora mengangkat tangan kirinya.

Tanda hitam di pergelangan masih ada, tetapi bentuknya tidak lagi menyerupai akar. Garis-garis tipis itu melengkung seperti sayap yang dilipat. Di tengahnya terdapat lingkaran kecil berwarna pucat.

Ia mengusapnya menggunakan ibu jari.

“Jangan.”

Kael tidak mengangkat kepala, tetapi suaranya membuat Aelora segera berhenti.

“Kau bangun?”

“Tidak. Aku sedang berbicara dalam tidur.”

Aelora menatapnya beberapa saat, mencoba memastikan apakah itu lelucon. Wajah Kael tetap datar.

“Kau seharusnya lebih lucu kalau mau bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

“Itu lebih buruk.”

Kael akhirnya mengangkat kepala. Ada bayangan lelah di bawah matanya. Rambutnya sedikit berantakan, dan kancing paling atas pakaiannya terbuka. Aelora belum pernah melihat Raja Iblis tampak begitu tidak rapi di depan orang lain.

“Kepalamu sakit?” tanyanya.

“Sedikit.”

“Punggung?”

“Tidak.”

“Pergelangan?”

Aelora melihat tandanya lagi. “Hangat.”

Kael langsung berdiri.

“Bukan panas,” tambah Aelora cepat. “Hanya hangat.”

Ia tetap mendekat dan menyentuh bagian dalam pergelangan Aelora menggunakan dua jari. Tidak ada cahaya yang muncul kali ini. Hanya denyut kecil di bawah kulit.

“Aku akan memanggil Eirna.”

“Aku baru bangun.”

“Justru itu.”

“Aku tidak mau diperiksa lagi.”

Kael berhenti di tengah langkah. “Dia hanya akan melihat keadaanmu.”

“Semua pemeriksaan selalu mulai dari melihat.”

“Aelora.”

“Aku masih capek.”

Kael memperhatikan wajahnya cukup lama, kemudian kembali duduk. “Baik. Lima menit.”

“Sepuluh.”

“Lima.”

“Tujuh.”

Kael menyipitkan mata.

Aelora menarik selimut sampai ke dagu. “Enam?”

“Lima.”

“Raja Iblis pelit sekali.”

“Kau baru mengenalku satu hari.”

Aelora memandang cangkir dingin di meja. “Kau tidur di sini?”

“Tidak.”

“Kursinya ada selimut.”

Kael melirik selimut tipis yang terlipat tidak rapi di sandaran. “Orin membawanya.”

“Bantalnya juga?”

“Eirna.”

“Dan cangkir itu?”

Kael tidak menjawab.

Aelora tersenyum kecil. “Kau tidur di sini.”

“Aku memejamkan mata beberapa menit.”

“Itu namanya tidur.”

“Tidak kalau dilakukan sambil tetap mendengar penjaga di lorong.”

“Berarti kau mendengkur sambil berjaga?”

Kael memandangnya tajam.

Aelora menutup mulut, tetapi senyumnya tidak hilang.

Pintu kamar diketuk.

Tanpa menunggu jawaban, Eirna masuk membawa nampan obat. Di belakangnya berjalan Orin dengan setumpuk pakaian anak yang tingginya hampir menutupi wajah.

“Bagus, Anda sudah sadar,” kata Eirna. “Bagaimana rasanya?”

“Seperti baru bangun.”

“Jawaban yang tidak membantu.”

“Kael juga bilang begitu.”

Eirna meletakkan nampan di meja. “Yang Mulia, Dewan Bulan menunggu di ruang sidang.”

“Biarkan mereka menunggu.”

“Mereka sudah menunggu sejak pagi.”

“Berarti mereka terlatih.”

Orin menurunkan tumpukan pakaian ke atas kursi lain. “Maaf, Yang Mulia, tetapi Lord Sevran mengancam akan memasuki sayap keluarga tanpa izin.”

Kael berdiri. “Dia boleh mencoba.”

Orin membuka buku catatannya. “Apakah saya perlu menambah jumlah penjaga di pintu?”

“Tidak. Kurangi.”

Aelora menatapnya. “Kenapa dikurangi?”

“Supaya Sevran lebih percaya diri.”

Eirna memejamkan mata sebentar. “Membunuh anggota dewan di depan kamar anak bukan keputusan yang baik.”

“Aku tidak mengatakan akan membunuhnya.”

“Anda juga tidak mengatakan tidak.”

Kael mengambil salah satu gulungan surat dari meja. Segel lilin hitam di ujungnya sudah patah. Ia membaca beberapa baris, lalu meremas kertas itu sampai bentuknya tidak dapat dikenali.

Aelora memperhatikan wajahnya. “Mereka membicarakanku?”

Tidak ada yang menjawab.

Itu sudah menjadi jawaban.

Aelora duduk lebih tegak. Gerakan itu membuat kepalanya sedikit berputar, tetapi ia menahannya agar Eirna tidak langsung menyuruhnya berbaring.

“Apa yang mereka mau?”

Kael memasukkan surat kusut ke dalam perapian. Api menelannya dengan cepat. “Mereka ingin penjelasan.”

“Tentang tandaku?”

“Dan keberadaanmu di istana.”

“Kalau begitu aku ikut.”

“Tidak.”

“Aku yang dibicarakan.”

“Kau sedang sakit.”

“Aku tidak sakit.”

Eirna menyentuh dahinya tanpa izin.

Aelora meringis.

“Masih demam,” kata tabib itu.

“Sedikit.”

“Demam tidak menjadi lebih sopan hanya karena sedikit.”

Aelora memandang Kael. “Aku bisa duduk diam.”

“Tidak.”

“Aku tidak akan bicara.”

“Lebih tidak mungkin lagi.”

“Aku bisa—”

Kael berjalan mendekat dan menarik selimutnya sampai kembali menutupi bahu. “Kau tetap di kamar. Eirna akan menjagamu.”

“Aku tidak perlu dijaga.”

“Semalam kau pingsan di dalam lingkaran rune.”

“Itu karena tandanya.”

“Yang masih ada di tanganmu.”

Aelora menggenggam pergelangan kiri. “Mereka akan menyuruhmu mengembalikanku, ya?”

Kael tidak menjawab secepat biasanya.

Jantung Aelora turun ke perut.

“Asteria tidak akan menerimaku,” katanya. “Mereka sudah membuangku.”

“Aku tahu.”

“Kalau dewan tidak mengizinkanku tinggal, aku bisa pergi ke desa. Aku tidak perlu tinggal di istana.”

Eirna dan Orin saling pandang.

Kael berdiri diam di sisi ranjang. “Kau tidak akan pergi ke desa.”

“Aku bisa bekerja.”

“Kau tujuh tahun.”

“Aku bisa menyapu.”

“Tidak.”

“Mencuci piring.”

“Tidak.”

“Aku pernah menjaga ayam.”

“Apakah ayam-ayamnya selamat?”

Aelora berpikir sejenak. “Sebagian.”

Kael hampir mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkannya.

Aelora menunduk. Tangannya meremas telinga Piko yang tergeletak di samping bantal. “Aku tidak mau merepotkanmu.”

Kamar menjadi sunyi.

Orin berpura-pura memeriksa pakaian. Eirna sibuk menata botol yang sebenarnya sudah rapi.

Kael menarik kursi lebih dekat dan duduk menghadap Aelora.

“Dengar,” katanya. “Dewan tidak memutuskan siapa yang boleh tinggal di kamarku, istanaku, atau wilayah yang berada di bawah mahkotaku.”

“Mereka bisa membuatmu marah.”

“Mereka sudah melakukannya sebelum kau datang.”

“Mereka bisa membenciku.”

“Banyak orang membenciku. Aku tetap makan dengan baik.”

“Itu tidak sama.”

“Memang.” Kael menyandarkan siku pada lutut. “Kau lebih kecil dan lebih mudah menangis.”

“Aku tidak mudah menangis.”

“Bahuku kemarin basah.”

“Itu demam.”

“Begitu.”

Aelora memeluk Piko ke dada.

Kael menatapnya lebih serius. “Aku tidak akan mengembalikanmu ke Asteria.”

“Bahkan kalau dewan menyuruh?”

“Terutama kalau mereka menyuruh.”

Aelora ingin mempercayainya. Bagian dirinya yang berusia tujuh belas tahun tahu bahwa Kael jarang membuat janji yang tidak akan ditepati. Namun bagian kecil yang sedang duduk di ranjang ini masih mengingat pintu rumah lama ditutup dari dalam, suara langkah rombongan menjauh, dan sepotong roti yang ditinggalkan di lumpur.

“Kenapa?” tanyanya.

Kael mengerutkan dahi. “Kenapa apa?”

“Kenapa kau mau aku tinggal?”

Pertanyaan itu membuat Kael diam lebih lama daripada sebelumnya.

Aelora menunggu. Ia tidak meminta jawaban yang indah. Ia hanya ingin tahu apakah ada alasan selain tanda aneh di tangannya.

Kael melirik gelang perak di pergelangan Aelora, lalu memandang wajahnya.

“Karena kau membutuhkan tempat untuk tinggal,” katanya.

“Hanya itu?”

“Untuk sekarang.”

Jawaban itu terasa sederhana, tetapi tidak kosong.

Aelora mengangguk pelan.

Kael berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh kepada Eirna.

“Jangan biarkan siapa pun masuk.”

“Termasuk anggota dewan?”

“Terutama anggota dewan.”

“Kalau Aelora mencoba keluar?”

Kael menatap anak yang sedang pura-pura tidak mendengar.

“Kunci jendelanya.”

“Aku tidak akan kabur,” kata Aelora.

Kael membuka pintu. “Aku belum cukup mengenalmu untuk percaya itu.”

Setelah ia pergi, Orin mengeluarkan satu gaun dari tumpukan pakaian. Warnanya hitam dengan pita ungu kecil di bagian pinggang.

“Kami belum mengetahui ukuran yang tepat,” katanya. “Para penjahit memperkirakan berdasarkan tinggi anak-anak pelayan.”

Aelora menyentuh kainnya. “Ini untukku?”

“Untuk sementara. Setelah kondisi Nona membaik, penjahit istana akan mengukur langsung.”

“Aku tidak punya uang.”

Orin tampak bingung. “Anda tidak perlu membayar.”

“Kenapa?”

“Karena pakaian ini disediakan istana.”

Aelora tetap tidak mengambilnya. “Kalau aku tidak jadi tinggal?”

Eirna berhenti menuangkan obat.

Orin perlahan menurunkan gaun tersebut. “Saya rasa Yang Mulia tidak memiliki kebiasaan berubah pikiran setelah memutuskan sesuatu.”

“Kecuali tentang warna tirai ruang makan,” tambah Eirna.

“Itu berbeda,” kata Orin. “Tirai lama benar-benar buruk.”

Aelora memandang pintu yang baru saja dilewati Kael. Ia ingin tahu apa yang sedang terjadi di ruang sidang. Apakah para bangsawan Nocthara akan menganggapnya ancaman? Apakah Kael akan teringat bahwa membawa pulang anak asing memang terlalu merepotkan?

Piko bergerak sedikit di pelukannya.

Aelora menunduk.

Mata kancing boneka itu tetap diam.

“Jangan mulai,” bisiknya.

Eirna menoleh. “Kau mengatakan sesuatu?”

“Tidak.”

Tabib itu menyodorkan cangkir obat. Cairannya berwarna hijau pucat dan berbau seperti daun busuk.

“Apa ini?”

“Penurun demam.”

“Rasanya?”

“Buruk.”

“Setidaknya kau jujur.”

Aelora meneguknya sedikit, lalu langsung menjauhkan cangkir.

“Ini bukan buruk. Ini kejahatan.”

Orin berdeham untuk menahan tawa.

Eirna menyilangkan tangan. “Habiskan.”

“Kalau aku mati, katakan pada Kael obatmu yang membunuhku.”

“Kalau tidak dihabiskan, saya akan mengatakan kepadanya kau menolak perintah tabib.”

Aelora memandang obat itu dengan penuh kebencian, lalu meminumnya sampai habis.

Ruang Sidang Bulan tidak memiliki jendela.

Para pendiri Nocthara sengaja membangunnya demikian agar tidak ada bangsawan yang menghabiskan rapat dengan melihat cuaca. Keputusan itu tidak banyak membantu. Para anggota dewan tetap menemukan cara lain untuk membuang waktu.

Saat Kael masuk, tujuh kepala klan sudah duduk mengelilingi meja batu bundar. Dua kursi tambahan ditempati penasihat kerajaan dan pemimpin penjaga istana. Bisik-bisik berhenti begitu pintu tertutup di belakang sang raja.

Kael duduk di kursi tertinggi.

“Bicaralah.”

Lord Sevran menjadi orang pertama yang berdiri. Ia berasal dari Klan Morvath, keluarga tua yang memiliki terlalu banyak tanah dan terlalu sedikit kemampuan menahan pendapat.

“Yang Mulia membawa seorang anak manusia melewati perbatasan tanpa pemeriksaan resmi.”

“Aku memeriksanya sendiri.”

“Dengan segala hormat, Yang Mulia bukan petugas perbatasan.”

“Petugas perbatasanmu membawa tombak penangkap naga untuk menghadapi anak tujuh tahun. Aku tidak menyesal melewati prosedur mereka.”

Beberapa anggota dewan menahan senyum. Sevran tidak.

“Anak itu membawa tanda Elyrion.”

“Dia membawa segel yang digunakan untuk menyembunyikan garis darahnya.”

“Itu dugaan tabib.”

“Itu hasil pemeriksaan.”

Lady Varessa, pemimpin Klan Sanguin, mengetukkan kuku hitamnya pada meja. “Hasil pemeriksaan yang memecahkan kristal kerajaan dan mengaktifkan rune kuno di sayap keluarga. Kita tidak tahu apa yang disembunyikan dalam tubuhnya.”

“Karena itu dia sedang diperiksa.”

“Di kamar keluarga kerajaan.”

“Kamarnya hangat.”

Varessa mengangkat alis. “Istana memiliki kamar hangat lain.”

“Tidak ada yang cukup dekat dengan penjaga pribadiku.”

Keheningan kecil mengikuti jawaban itu.

Lord Merek menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Berarti Yang Mulia menganggap anak tersebut membutuhkan perlindungan pribadi?”

“Ya.”

“Dari siapa?”

Kael memandang seluruh meja. “Kalian, bila perlu.”

Beberapa wajah langsung menegang.

Sevran meletakkan kedua tangan di atas meja. “Tidak ada seorang pun di sini berniat menyakiti anak itu.”

“Bagus. Berarti kita tidak memiliki masalah.”

“Masalahnya adalah keberadaannya dapat mengundang Elyrion ke Nocthara. Darah malaikat tidak pernah muncul tanpa akibat.”

“Dia tidak memilih darahnya.”

“Kerajaan tidak bisa dibangun berdasarkan perasaan kasihan.”

“Dan tidak akan dipertahankan dengan membuang anak ke hutan.”

Sevran terdiam sesaat.

Lady Varessa berbicara lebih tenang. “Kami memahami kemarahan Yang Mulia terhadap Asteria. Namun anak itu tetap orang asing. Kita belum mengetahui tujuan segelnya, identitas ayahnya, atau alasan Gereja Fajar begitu ingin menyingkirkannya.”

“Semua itu sedang dicari.”

“Sementara itu, tempatkan dia di menara pengamatan.”

Kael menatap Varessa.

“Tidak.”

“Menara itu aman.”

“Menara itu penjara.”

“Untuk sementara.”

“Tidak.”

Lord Merek menyela, “Bagaimana kalau dia kehilangan kendali? Kita menerima laporan bahwa rantai sihir muncul dari tubuhnya.”

“Rantai berasal dari segel.”

“Kita belum tahu pasti.”

“Kalau begitu cari tahu tanpa memperlakukannya seperti monster.”

Sevran tertawa pendek. “Yang Mulia berbicara seolah anak itu sudah menjadi tanggung jawab pribadi Anda.”

Kael tidak menjawab.

Tawa Sevran perlahan hilang.

“Apakah ada hubungan antara anak tersebut dan Mirael Arvand?” tanya Varessa.

Nama itu mengubah udara ruangan.

Kael menatapnya tanpa berkedip.

“Dari mana kau mendapat nama itu?”

“Gelang yang dipakainya terlihat oleh para penjaga. Lambangnya sama dengan lambang keluarga Arvand dalam arsip perang.”

“Aku tidak tahu hubungannya.”

“Tetapi Yang Mulia mengenali gelang itu.”

“Pertanyaan berikutnya.”

Sevran berdiri lebih tegak. “Dewan menuntut anak tersebut diserahkan untuk pemeriksaan bersama.”

“Ditolak.”

“Yang Mulia tidak bisa menolak tanpa alasan.”

“Aku baru saja melakukannya.”

“Kami memiliki hak berdasarkan Piagam Bulan.”

“Piagam Bulan mengatur ancaman terhadap kerajaan, bukan anak sakit yang belum bisa memakai sepatu sendiri.”

“Darah Elyrion adalah ancaman.”

Bayangan di bawah kursi Kael bergerak.

Semua lilin di ruang sidang meredup.

Sevran melihat perubahan itu, tetapi telanjur melanjutkan.

“Jika anak tersebut terbukti membawa kutukan, dewan berhak menahannya. Jika perlu, kami juga berhak melakukan pemurnian sebelum pengaruhnya menyebar.”

Kael berdiri.

Tidak ada gerakan tiba-tiba. Ia hanya bangkit dari kursinya, meletakkan kedua telapak tangan di atas meja, lalu memandang satu per satu orang yang duduk di sekelilingnya.

Namun retakan kecil muncul pada permukaan batu di bawah jemarinya.

“Dengarkan baik-baik,” katanya. “Anak itu dibuang oleh manusia, diserang binatang di wilayah kita, dan ditemukan dalam keadaan demam. Ia belum melakukan kejahatan terhadap Nocthara.”

“Yang Mulia—”

“Aku belum selesai.”

Sevran menutup mulut.

“Mulai hari ini, Aelora Arvand berada di bawah perlindungan pribadi Raja Nocthara. Dia tinggal di Istana Bulan Merah sampai aku memutuskan tempat lain lebih aman baginya.”

Lady Varessa mengerutkan dahi. “Dengan kedudukan apa?”

“Belum ada.”

“Artinya dia bukan keluarga kerajaan.”

“Belum.”

Kata itu terdengar jelas di seluruh ruangan.

Kael meluruskan tubuh. Bayangannya menyebar dari belakang kursi, melintasi lantai hingga mencapai kaki setiap anggota dewan.

“Siapa pun yang mencoba menyentuh, menahan, memeriksa, atau memindahkan anak itu tanpa izinku akan dianggap menentang takhta.”

Tidak ada yang bergerak.

Bahkan Sevran tidak segera membantah.

Kael mengambil mahkota hitam yang diletakkan di atas meja, lalu memakainya kembali.

“Sekarang,” katanya, “adakah yang masih ingin mengirim orang ke kamarnya?”

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!