NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Burung Hilang Part 2

"Cantik gimana maksudnya, Bi?! Saya ini laki-laki tulen, Radit! Cucu pemilik rumah ini! Saya bukan perempuan!" tegas Adit dengan nada tinggi yang sialnya malah terdengar seperti nyanyian merdu di telinga pelayan itu.

"Tidak mungkin Nona ini laki-laki... karena... karena saya tadi tidak sengaja melihat 'itunya' Nona yang... yang polos dan tidak ada apa-apanya saat celana Nona melorot," bisik pelayan itu dengan wajah memerah, tersipu malu.

"Tidakkkkkk...!" teriak Adit frustrasi, menjambak rambut panjang barunya. Ia segera berbalik dan berlari keluar dari area mansion menuju gerbang depan dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang sudah hancur lebur berkeping-keping.

Tanpa pikir panjang lagi, begitu sampai di luar gerbang, Adit melihat mobil operasional mansion yang biasa dipakai supir. Ia langsung membuka pintu belakang dan memerintahkan supir yang sedang mangkal di sana untuk mengantarnya pulang ke apartemen pribadinya di pusat kota.

Meskipun sang supir kebingungan setengah mati karena merasa tidak pernah melihat "nona cantik" ini sebelumnya di area mansion, ia tetap melajukan mobilnya karena aura Adit yang tampak sangat panik dan galak.

Adit terpaksa berbohong dengan mengaku sebagai teman dekat sekaligus asisten pribadi cucu majikannya (yaitu dirinya sendiri) agar bisa segera kabur dari kenyataan pahit yang menimpa fisiknya.

Sementara Adit sedang berjuang menembus kemacetan Jakarta dengan wujud barunya, di belahan kamar lantai dua mansion, Linzy masih mendekam di dalam kamarnya dengan perut yang mulai berbunyi.

"Bi Susi kok lama banget ya masak ubinya? Sampai berjam-jam begini, apa bibi malah menanam ubinya dulu dari biji?" gerutu Linzy kesal. Rasa lapar yang tak tertahankan mulai membuatnya kehilangan kesabaran menunggu kedatangan pelayannya itu.

Linzy akhirnya memutuskan untuk keluar kamar, menuruni anak tangga dengan langkah kaki yang terdengar tegas dan angkuh.

"Bi Susi! Mana ubi yang tadi aku suruh rebus?!" seru Linzy dengan nada judes saat matanya menangkap sosok Bi Susi yang sedang berada di area dapur belakang.

Bi Susi tersentak kaget sampai menjatuhkan sendok sayur, wajahnya langsung pucat pasi melihat sang Nona Muda turun gunung. "M-maaf, Nona Linzy... saya benar-benar lupa. Tadi saya sebenarnya sudah mau mengantarkan ubi itu ke kamar Nona, tapi mendadak ada Tuan Muda Adit bersama dua temannya datang ke sini. Tuan Muda meminta saya membuatkan minuman dingin dan menyiapkan mangkuk. Akhirnya saya terpaksa menaruh piring ubi itu di atas meja makan tengah, Nona. Setelah itu, saya langsung ke dapur untuk membantu para maid lain memasak menu makan siang."

Mendengar penjelasan itu, Linzy langsung berkacak pinggang dengan tatapan mata yang menyipit tajam. "Bibi ini benar-benar ceroboh, ya! Bagaimana bisa lupa?! Seharusnya Bibi antarkan dulu ubinya ke kamarku, bukan langsung melayani mereka! Mereka itu cuma tamu luar! Yang majikan Bibi di rumah ini itu aku, bukan mereka! Sekarang cepat ambilkan ubinya ke sini!" ucap Linzy ketus, membuat Bi Susi tertunduk lesu tidak berani membantah.

"Baik, Nona... mohon maaf sekali..."

Bi Susi pun segera melangkah terburu-buru ke ruang makan tengah, mengambil piring porselen berisi ubi yang tertinggal di atas meja jati, lalu menyerahkannya pada Linzy dengan tangan yang gemetar.

"Ini Nona, ubinya masih ada."

Linzy mengernyitkan dahi dalamnya, matanya menyipit saat meneliti piring tersebut dengan saksama. "Lho? Kenapa ubinya tinggal setengah begini?! Bentuknya pecah kayak sengaja dijumput orang! Bibi tahu nggak siapa yang berani mencicipi ubi rahasia aku?!"

"S-saya benar-benar tidak tahu, Nona. Seingat saya belum ada yang menyentuh makanan di ruang makan itu dari tadi pagi," jawab Bi Susi jujur dengan wajah ketakutan.

"Ck! Bagaimana jika ada orang asing yang memakannya?! Bisa bahaya! Untung saja ubi ajaib ini tidak dihabiskan semua, sihirnya masih aman di aku," gumam Linzy pelan agar tidak terdengar Bi Susi.

"Ya sudah, Bibi pergi sana! Hus!" usir Linzy dengan nada judes yang amat sangat.

Saat Linzy hendak berbalik badan untuk kembali ke kamarnya membawa sisa ubi tersebut, sesosok wanita tua dengan pembawaan anggun nan elegan berjalan menghampirinya dari arah koridor depan.

"Sayang, kenapa kamu cemberut begitu di depan pelayan? Apakah kamu sudah menemui sepupumu, si Adit?" ucap Oma Karin yang baru saja muncul setelah sempat mengecek tanaman di halaman samping.

"Gak papa kok, Oma. Aku mau ke kamar lagi, mau istirahat," sahut Linzy singkat dan dingin, sambil membalikkan badannya, bersiap melangkah kembali menuju kamarnya yang berada di lantai dua menggunakan lift.

"Tunggu dulu, Nak. Kamu kan belum makan siang. Ayo kita makan siang bareng di bawah, sekalian ajak sepupu kamu si Adit dan teman-temannya juga biar ramai," panggil Oma Karin ramah.

Linzy menghentikan langkah kakinya sejenak, lalu menoleh dengan wajah malas yang kentara. "Aku di kamar aja makannya, Oma. Malas makan rame-rame."

"Ya sudah, nanti Oma suruh Bi Susi buat nganterin makanan dan jus ke kamar kamu," ucap Oma Karin pasrah mengalah pada cucunya.

Oma Karin pun melangkah menuju ruang tamu utama dengan senyum yang terkembang. Ia berniat untuk menyapa sang cucu, Adit, beserta teman-temannya yang ia kira masih duduk bersantai di sana. Namun, sesampainya di ruang tamu, senyum Oma Karin seketika luntur. Ruangan mewah itu kosong melompong, hanya menyisakan aroma tajam kuah seblak Reno yang menyengat.

"Lho, ke mana pergi anak-anak itu? Kenapa tidak ada di sini? Apa mungkin mereka sedang di ruang makan belakang?" gumam Oma Karin heran. "Baiklah, lebih baik aku cek ke ruang makan sekarang."

Namun, setibanya di ruang makan utama, Oma Karin kembali tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Adit maupun kedua temannya. Suasana ruangan sangat hening, hanya ada aroma samar-samar ubi rebus dan... wangi bunga mawar perancis yang sangat pekat di sudut ruangan.

"Sebenarnya ke mana perginya anak-anak itu? Apakah mereka sudah pulang? Tapi kenapa tidak pamit atau memberi tahu neneknya dulu? Kurang sopan sekali," gumam Oma Karin merasa ada yang aneh.

Karena merasa ada yang tidak beres dengan kepergian mendadak cucunya, Oma Karin pun mengeluarkan ponsel pintarnya dari dalam tas, lalu menekan tombol panggil ke nomor ponsel Adit untuk menanyakan keberadaannya.

Drrtt!! Drrtt!!

Di dalam mobil operasional mansion yang sedang melaju kencang membelah jalanan kota menuju apartemen pribadi, Adit tersentak kaget. Ia melirik ponselnya yang bergetar hebat di saku celana jeans-nya yang mendadak terasa longgar di bagian pinggang karena lingkar pinggulnya mengecil menjadi feminin.

Nama "Oma Karin" terpampang jelas dengan lampu menyala di layar.

"Aduh, mampus gue! Gue harus gimana sekarang?!" batin Adit panik setengah mati, keringat dinginnya kembali bercucuran menatap layar ponsel.

"Gak mungkin banget kalau gue angkat panggilan ini sekarang! Pasti Oma bakalan curiga dan syok kalau denger suara gue yang mendadak berubah drastis jadi cewek begini! Suara gue sekarang lembut, merdu, dan cempreng banget, bisa jantungan si Oma di seberang sana!"

Adit menggigit bibir bawahnya yang mendadak ranum merah alami, bingung antara rasa takut identitasnya terbongkar dan rasa sayang pada Omanya.

"Kalau nggak gue angkat pun, malah lebih bikin Oma cemas dan nyariin gue lewat polisi. Tapi kalau gue angkat... masa gue harus bilang dengan suara mendesah lembut: 'Halo Oma, ini cucu gantengmu Radit yang sekarang bertransformasi jadi cewek cantik jelita tanpa burung'?"

Akhirnya, dengan tangan yang bergetar hebat di dalam mobil, Adit memutuskan untuk mengambil tindakan nekat: ia menekan tombol merah dan me-reject panggilan telepon dari Oma Karin secara sepihak.

Ia lebih memilih untuk mengabaikan panggilan suara tersebut dan berencana mengirimkan pesan teks singkat saja nanti setelah ia sampai di apartemen, agar identitas baru dan hilangnya aset berharganya tidak terbongkar melalui suara femininnya yang baru.

Di ruang makan mansion, Oma Karin menatap layar ponselnya dengan kening yang berkerut sangat dalam.

"Kenapa dia menolak panggilanku? Tidak biasanya si Adit bertingkah kurang sopan seperti ini pada Omanya," ucap Oma Karin dengan nada penuh kecurigaan. Ia mulai merasakan ada sebuah rahasia besar yang sengaja disembunyikan oleh cucunya itu dari pandangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!