Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Aturan Dunia Bawah
#
Beberapa minggu setelah Rendra resmi make nama barunya, Om Timur mutusin dia udah siap buat dikenalin ke lingkaran yang lebih luas, orang orang yang Om Timur kenal dari jaringan lama, orang orang yang idup di sisi kota yang nggak pernah masuk berita berita rapi soal pembangunan atau investasi, sisi kota yang isinya cuma gang gang sempit, judi judi kecil, dan aturan aturan yang nggak tertulis tapi lebih ketat dari hukum negara manapun.
Yang Rendra nggak tau, Om Timur udah diem diem ngasih instruksi ke seseorang, jauh sebelum dia bawa Rendra ke lingkaran itu.
"Kirana," Om Timur manggil, di sebuah warung kopi kecil yang cuma buka malem hari, tempat dia sering ketemu orang orang kepercayaannya, "ada anak baru yang bakal masuk. Aku mau kamu awasin dia, tapi cuma awasin, jangan campur tangan apapun."
Seorang perempuan muda, umurnya sekitar dua puluh lima, duduk di seberang meja, matanya tajem, gerakannya gesit, dan dia ngangguk pelan, "diawasin doang? Untuk apa, Om?"
"Aku mau liat, gimana caranya dia baca situasi. Gimana caranya dia bertahan. Kalo dia lolos ujian pertama tanpa bantuan, dia layak masuk lebih dalem."
Kirana ngangguk lagi, meski di dalem hatinya ada rasa penasaran yang gede banget, soalnya Om Timur jarang banget seserius ini soal orang baru.
Malemnya, Rendra dibawa ke sebuah gudang tua di pinggir kota, tempat biasanya dipake buat "nguji" orang orang baru yang mau masuk jaringan Om Timur. Di situ, ada tiga orang preman yang emang udah disiapin buat ngetes dia, dan aturannya simpel, Rendra harus bisa keluar dari gudang itu dalem keadaan idup dan cukup utuh, tanpa bantuan siapapun.
Rendra, yang meski udah latihan fisik berbulan bulan sama Om Timur, tetep aja masih naif soal cara mikir orang orang jalanan kayak gini. Dia coba negosiasi dulu, coba ngomong baik baik, "saya cuma mau ngobrol, saya nggak nyari masalah," padahal orang orang di depannya itu emang udah ditugasin buat nyari masalah, apapun yang dia omongin.
"Woy, sok baik amat," salah satu preman itu ketawa, terus nendang perut Rendra tanpa aba aba, dan Rendra jatoh tersungkur, kaget banget soalnya dia kira masih ada ruang buat ngomong baik baik.
Dari balik tumpukan peti kayu di sudut gudang, Kirana ngamatin semuanya, sesuai instruksi Om Timur, cuma ngamatin, nggak boleh ikut campur. Tapi begitu dia liat Rendra kena tendang, terus kena pukul lagi, terus dua orang preman lainnya mulai ngerubungin dia sambil ketawa, dia ngerasa ada yang aneh di dadanya, sesuatu yang nggak nyaman banget, kayak lagi liat orang yang nggak berdaya diinjek injek tanpa alesan yang jelas.
Rendra coba bangun, coba lawan balik, tapi dia kena pukul lagi di rahang, sampe dia jatoh lagi, dan kali ini salah satu preman itu udah ngambil batang besi dari sudut gudang, ngangkat tinggi tinggi, siap ngehantem kepalanya.
Kirana, yang dari tadi maksain diri buat cuma ngamatin, ngerasa jantungnya berenti sepersekian detik.
Dia nggak sempet mikir lama lama. Dia lompat dari balik peti kayu, lari secepat kilat, dan berhasil nendang tangan preman yang megang batang besi itu pas banget sebelum kena kepala Rendra, batang besinya kelempar jauh, dan dia lanjut ngelawan dua preman lainnya dengan gerakan yang jelas banget udah terlatih, cepet, presisi, sampe ketiga preman itu akhirnya kabur ninggalin gudang, syok kena serangan yang nggak mereka duga.
Rendra, yang masih tergolek di lantai gudang, kepalanya pusing, napasnya berat, ngeliatin perempuan yang baru aja nolongin dia itu dengan pandangan yang bingung banget, campur antara syukur dan curiga.
"Kamu... siapa?" Rendra tanya, suaranya lemah.
Kirana nggak jawab. Dia cuma bantuin Rendra berdiri, ngeliatin lukanya sekilas, terus bilang, "kamu harus lebih hati hati. Dunia ini nggak bisa diselesein pake ngomong baik baik doang," dan dia pergi ninggalin gudang itu secepat dia dateng, sebelum Rendra sempet nanya lebih jauh.
Besoknya, di warung kopi yang sama, Om Timur duduk di seberang Kirana, wajahnya keliatan tenang, tapi Kirana yang udah lama kenal pria tua itu bisa liat, ada kemarahan yang ditahan mati matian di balik ketenangan itu.
"Kamu langgar instruksi saya," Om Timur bilang, pelan tapi tajem.
"Om, dia hampir mati! Ada yang mau ngehantem kepalanya pake besi, saya nggak bisa cuma diem aja—"
"Bukan itu masalahnya, Kirana."
Kirana berenti, bingung, "terus apa masalahnya, Om? Saya berhasil nolongin dia tanpa ketauan siapa saya sebenernya, saya udah pastiin itu—"
"Kamu hampir aja ketauan," Om Timur motong, suaranya sekarang lebih keras, "gerakan yang kamu pake, cara kamu nendang tangan orang itu, cara kamu ngelumpuhin dua orang lainnya cuma dalem beberapa detik, itu bukan gerakan orang biasa, Kirana. Itu gerakan yang cuma bisa dikenalin sama orang orang yang emang pernah liat kamu latihan, atau orang orang yang cukup jeli buat nyadarin ada sesuatu yang beda dari kamu."
Kirana diem, mikirin ulang kejadian semalem, dan dia sadar, Rendra emang sempet ngeliatin dia dengan tatapan yang lama banget sebelum dia pergi, tatapan yang lebih dari sekedar bingung biasa, tatapan yang kayak lagi coba inget inget sesuatu.
"Kalo dia sadar siapa kamu sebenernya," Om Timur lanjut, suaranya sekarang lebih pelan tapi lebih berat, "atau kalo ada orang lain yang liat kejadian semalem dan cerita ke orang yang salah, semua yang udah kita bangun bertahun tahun bisa runtuh cuma gara gara satu malem, gara gara kamu nggak sabar nunggu situasi bener bener fatal sebelum turun tangan."
"Saya minta maaf, Om," Kirana bilang, suaranya sekarang lebih lirih, "tapi saya nggak nyesel nolongin dia. Kalo saya diem aja, dia bakal mati, dan saya nggak akan bisa idup tenang kalo saya biarin itu kejadian di depan mata saya sendiri."
Om Timur ngeliatin perempuan muda itu lama banget, dan pelan pelan, kemarahan di matanya mulai mereda, berganti jadi sesuatu yang lebih kompleks, campuran antara kekhawatiran dan, entah kenapa, rasa hormat yang nggak pernah dia ucapin langsung.
"Saya ngerti kenapa kamu lakuin itu," Om Timur akhirnya bilang, "tapi mulai sekarang, kamu harus lebih hati hati. Anak itu, Rendra, dia penting banget buat rencana besar yang lagi saya susun. Kalo penyamaran kamu ketauan sebelum waktunya, bukan cuma kamu yang bahaya, tapi semua orang yang terlibat di jaringan ini."
Kirana ngangguk, meski di dalem hatinya, ada pertanyaan yang terus ngeganjel, kenapa Om Timur segitu pentingnya sama satu orang baru ini, apa yang bikin Rendra beda dari orang orang lain yang pernah masuk uji coba kayak semalem.
Dan di sisi lain kota, Rendra duduk sendirian di gubuk Om Timur, ngobatin luka lukanya sendiri, pikirannya masih penuh sama bayangan perempuan yang nolongin dia semalem, gerakannya yang cepet dan terlatih, matanya yang tajem penuh perhitungan, dan entah kenapa, di antara semua rasa sakit di badannya, ada satu hal yang bikin dia penasaran lebih dari yang lain.
Kenapa perempuan itu nolongin dia, orang asing yang bahkan nggak dia kenal, dengan taruhan yang jelas jelas berat banget buat dirinya sendiri.