NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:196.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesombongan di Atas Kertas Linen

Pagi itu, kantor PT Sinar Surya—anak perusahaan dari Atmadja Group yang bergerak di bidang logistik—berdenyut dengan kesibukan yang biasa. Di ruangan bersekat kaca di lantai empat, Reza Adijaya duduk di balik meja kerjanya yang rapi. Kemeja birunya disetrika licin tanpa cela, sewarna dengan langit Jakarta yang tampak kelabu berpolusi di balik jendela besar.

Reza sedang menyesap kopi hitamnya ketika pintu ruangannya diketuk. Seorang rekan kerja sekaligus tangan kanannya, Rian, melangkah masuk dengan senyum lebar yang akrab.

"Bagaimana malammu, Za? Kudengar dari Ibu Ningsih, 'benalu' di rumahmu akhirnya sudah disingkirkan?" tanya Rian seraya mendudukkan diri di kursi hadapan Reza.

Reza meletakkan cangkir kopinya dengan denting perlahan, lalu menyandarkan punggungnya dengan angkuh. "Sudah bersih, Rian. Akhirnya rumahku kembali steril. Memelihara wanita miskin ternyata hanya membawa sial. Bayangkan, dia berani mencuri uang arisan Ibuku yang bernilai puluhan juta. Watak aslinya keluar juga."

"Luar biasa kasar," Rian menggeleng-gelengkan kepala, bersimpati semu demi menyenangkan hati atasannya. "Memang benar pepatah lama, anjing yang kelaparan akan menggigit tangan yang memberinya makan. Sekarang dia di mana?"

"Entahlah. Kuturunkan di jalan tol tadi malam," jawab Reza santai, seolah-olah ia baru saja membuang sekantong sampah ke tempat pembuangan akhir. "Mungkin sekarang dia sedang mengemis di perempatan, atau bersujud di bawah kaki ibunya di kampung, menangis meratapi kebodohannya."

Sebelum Rian sempat menanggapi, pintu ruangan kembali diketuk. Kali ini, sekretaris divisi masuk dengan wajah yang sedikit tegang. Di tangannya, ia membawa sebuah amplop besar berwarna putih gading dengan tekstur yang sangat tebal dan mewah.

"Pak Reza, ada kiriman dokumen penting untuk Anda. Pengirimnya... kurir khusus dari Firma Hukum Paramartha & Partners," ucap sang sekretaris dengan suara yang agak bergetar.

Mendengar nama firma hukum papan atas itu, dahi Reza berkerut. Paramartha & Partners adalah firma hukum nomor satu di negeri ini, yang tarif per jamnya saja setara dengan gaji tiga bulan seorang manajer menengah seperti dirinya. Siapa yang mengirimkan dokumen melalui mereka?

"Taruh di meja," perintah Reza, berusaha menjaga wibawanya yang mendadak terusik.

Setelah sekretaris itu keluar, Reza menarik amplop tersebut. Jarinya merasakan tekstur kertas linen mahal yang berbobot berat. Di sudut kiri atas, logo timbul berwarna emas murni berkilau di bawah lampu neon kantor. Dan di bagian tengah, tertulis nama penerima: Reza Adijaya.

Dengan rasa penasaran yang bercampur sedikit kegusaran, Reza merobek segel lilin merah di balik amplop tersebut. Ia menarik keluar lembaran dokumen di dalamnya.

Di halaman pertama, tertulis dengan huruf kapital tebal: SURAT GUGATAN CERAI DAN TUNTUTAN HUKUM KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA.

Mata Reza membelalak. Namun, bukan isi tuntutan itu yang pertama kali merebut perhatiannya, melainkan nama penggugat yang tertera di sana: Anindya Naya Atmadja.

Reza tertegun sejenak. Anindya Naya Atmadja?

"Ada apa, Za?" Rian mengintip dengan rasa ingin tahu yang besar.

Reza tiba-tiba meledak dalam tawa yang keras. Tawa yang menggema di seluruh ruangan kaca itu, terdengar begitu nyaring namun menyembunyikan getaran ketidaknyamanan yang tipis. Ia melempar kertas-kertas mahal itu ke atas mejanya seperti melempar selebaran iklan yang tidak berguna.

"Lihat ini, Rian! Benalu sialan itu mencoba melawak di pagi hari!" seru Reza di sela-sela tawanya.

Rian mengambil dokumen tersebut dan membacanya dengan cepat. "Gugatan cerai? Dari Naya? Tapi... kenapa namanya di sini tertulis Anindya Naya Atmadja?"

"Hahaha! Itulah yang paling lucu!" Reza menggelengkan kepala dengan raut wajah meremehkan yang sangat pekat. "Wanita udik itu pasti sudah gila karena kelaparan di jalanan. Dia sengaja menambahkan nama 'Atmadja' di belakang namanya agar terlihat keren di depan pengadilan. Dan lihat ini... Paramartha & Partners? Dia pasti menggunakan jasa pengacara gadungan yang mencatut nama firma hukum besar untuk menakut-nakutiku!"

Reza berdiri, melangkah mendekati jendela dengan kedua tangan bersedekap di dada. Di matanya, tindakan Naya adalah bentuk keputusasaan yang sangat menggelikan.

"Dia pikir dia siapa? Menceraikanku?" Reza mencibir, bibirnya melengkung sinis. "Tanpa aku yang memberinya makan, dia tidak lebih dari sebutir debu di bawah sepatuku. Dia tidak punya uang, tidak punya pekerjaan, dan tidak punya koneksi. Untuk menyewa pengacara murah di pinggir jalan saja dia harus menjual seluruh daster katun usangnya, bagaimana mungkin dia bisa menyewa firma hukum yang biasa menangani kasus triliunan rupiah?"

"Mungkin dia dibantu oleh seseorang?" Rian mencoba menganalisis, namun nadanya ragu.

"Siapa? Ibunya yang penyakitan di kampung?" Reza mencemooh. "Atau tetangga-tetangganya yang miskin? Tidak, Rian. Ini hanya gertakan sambal. Naya sengaja membuat dokumen palsu ini agar aku merasa bersalah dan menjemputnya kembali. Dia ingin aku memohon agar dia pulang."

Reza kembali ke mejanya, mengambil kertas gugatan tersebut, lalu dengan sengaja meremas sudut kertas itu hingga kusut.

"Biarkan saja dia bermain-main dengan kertas sampah ini. Aku tidak akan membalas pesannya, aku tidak akan mencarinya. Kita lihat saja berapa hari dia bisa bertahan sebelum rasa lapar memaksanya merangkak di lantai rumah ibuku, menjilati debu di kaki kami untuk meminta sesuap nasi."

Reza melemparkan dokumen kusut itu ke dalam laci mejanya, lalu menutupnya dengan bantingan keras. Di dalam kepalanya, ia merasa telah memenangkan pertempuran batin ini. Ia yakin, dalam waktu kurang dari seminggu, wanita yang ia buang di KM 26 itu akan kembali dengan kepala tertunduk, menyerahkan dirinya untuk dihina kembali.

Ia tidak pernah menyadari bahwa dokumen di dalam lacinya bukanlah sebuah gertakan, melainkan sebuah lonceng kematian yang telah mulai berdentang, perlahan namun pasti, merayap menuju takdirnya yang malang.

1
WD0412
lah kok di rmh mewah lagi, bukannya di kontrakan kumuh????
Tressye Nona Wawolangi
lha aku juga binggung tadinya blg mereka udah di kontrakan kecil koq sekarang masih di rumah mewah ceritanya ini gimana sih?
Jetva
lah..jual aza perhiasan n barang mewah di rumahmu...otak pendek...cuma liat duit di mata..tp otak mati tak bs siajak berpikir...udah terlena dgn harta org...
Dianra Malakut
cerita simple, pendek tp berkesan,, aku puas bacanya Thor.. makasih ya cerita mu keren,, d tunggu karya yg lainnya Thor 👍💐
Nani Krisnawati
rasakan kau reza dan ibunya sombong songong...kena batunya
Nani Krisnawati
bagus bngt ceritanya
Misaza Sumiati
kok ada LG di perumahan mewah bukannya dikontrakan STLH dipecat
Misaza Sumiati
ibunya kan punya perhiasan
Lila
Berarti si Reza ini, sdh kaya dr lahir jg??😁 mknya ga pernah naik bus dan memandang rendah org lain.
Lila
Astaga ga nyaman bgt baca, paman Reza-paman Reza, bukannya anak bibi Ningsih artinya Reza sepupu Andi!!
Lila
Ningsih tantenya Andi, sdh bener disebut bibi, tapi Reza kan anak dari bibi Ningsih (sepupu), dan istrinya Naya harusnya dipanggil Abang dan mba/kakak kan?
niktut ugis
lebih suka novel seperti ini bab sedikit tapi endingnya keren
niktut ugis
nah ini pencuri aslinya yg bertopeng alim
niktut ugis
kenapa nunggu 3thn untung membersihkan aroma menantu yg menurut kamu sial... ningsih mertua otak bodoh
Diny Julianti (Dy)
ko panggil reza paman? emang reza sma Ningsih kk ade? bukan anak sama ibu
Sulati Cus
👍🏻
Cheng Nyo
/Good//Good//Good//Good//Good/
Rehaan Aamir
ANEH BIN AJAIB JLN CRT MU THOR...PDHL UDAH JELAS2 WAKTU MEREKA KELUAR DARI RUMAH YG D MENTENG SI ANDI UDAH KABUR DULUAN...KOQ BISA2 NYA SI ANDI TAU KONTRAKAN REZA&IBUNYA YG SKRG...TRS KOQ TETANGGANYA KENAL SAMA SI ANDI...PDHL SI ANDI GK ADA IKUT SAMA SEKALI WAKTU REZA PINDAH....AMBURADUUUUUUUULLLLL
Rehaan Aamir
Laahhh...Koq Aneh...D Bab Sblm Nya Bukan Nya Mereka Udah Pindah K Kontrakan Kumuh Ya Koq Skrg Ada D Perumahan Mewah Lagi????...
echa purin
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!