Mengisahkan Perjalanan kisah cinta Adel Emanuella Sanjaya anak tunggal dari pasangan suami istri bapak Max Sanjaya dan ibu Jenny Andreas. Kisah ini berawal ketika Adel berkenalan dengan seorang polisi yang identitasnya sengaja di rahasiakan karena tugas negaranya. Di pertemukan lagi ketika Adel sudah menjadi seorang dokter. Saat itu Adel Emanuella Sanjaya baru tahu bahwa Karel Imanuel Barnabas seorang perwira Kepolisian berpangkat Iptu. Apakah cinta mereka bisa bertahan menembus segala cobaan dengan profesi Karel yang adalah seorang intel??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Lagi
Sore itu Karel mengantar kekasihnya kembali ke markas polri. Karena jam tujuh malam, Adel ada piket sif malam sebagai dokter jaga. Sedangkan Karel tentu ada urusan dengan timnya.
"Terima kasih ya mas." Karel tersenyum. Dia mencium kening Adel.
"Nanti mas telepon ya." Adel tersenyum, lalu turun dari mobilnya Karel masuk ke rumah dinasnya. Karena rumah dinas Adel dekat lapangan tempat orang - orang olahraga, tentu aksi mereka ini dilihat oleh banyak orang. Termasuk Evelin.
Banyak orang tidak tahu, siapa pacarnya AKP Karel Imanuel Barnabas ini, perwira polisi yang menjadi incaran banyak cewek. Bahkan di antara cewek - cewek ABG di kompleks ini mencari perhatian agar Karel bisa mendekati salah satu dari mereka.
Evelin melihat tingkah adek - adek kompleksnya. Dia mengelengkan kepalanya.
"Anak - anak kecil stop bermimpi. Dokter yang di antar oleh idola kalian itu pacarnya."
"Mba Ev bohong."
"Ya, terserah kalian aja." Evelin pun meninggalkan cewek - cewek labil itu. Sebenarnya dia sakit hati melihat perhatian Karel kepada Adel. Namun dia tidak bisa melakukan apapun. Karena status dia sedang menjalani hukuman akibat kasus kemarin.
Pukul tujuh, Adel sudah di rumah sakit. Jarak rumah dinas dan rumah sakitnya cukup dekat. Namun Adel memilih menggunakan motornya ke tempat kerja, dimana dia mengabdi. Tadi sebelum Adel berangkat Karel kekasihnya sudah menghubungi memberitahu, bahwa dia masih rapat dengan petinggi - petinggi di kepolisian dan ada papanya juga.
"Dokter Adel ada yang cari."
"Siapa?? Ada di depan dok. Dekat meja resepsionis di lobi."
Adel yang sementara membuat laporan atas pasien yang baru dia tolong langsung menyelesaikan laporannya, baru menuju lobi rumah sakit. Orang yang menunggu Adel membelakanginya. Namun Adel kenal sosok itu. Dia langsung memeluk Karel dari belakang.
"Mulai berani ya. Ngak takut di lihat orang??"
"Sepi mas."
"CCTV??"
"Ampun....." Adel menyesali kebodohannya. D8a menepuk jidatnya. Karel tertawa langsung di bawa kekasihnya itu dalam pelukan.
"Nasi sudah menjadi bubur. Sudah terlambat sayang."
Karel membawa makan malam buat mereka berdua. Kebetulan itu adalah makanan kesukaan Adel dan Karel. Ternyata mereka berdua mempunyai selera yang sama. Taman menjadi pilihan mereka menikmati makan malam ini.
"Kamu suka sayang??"
"Suka mas. Apalagi gratis. Baru ini kan makanan kesukaan aku." Karel tertawa.
"Ada misi yang harus mas laksanakan, malam ini sudah harus ke tempat kejadian perkara. Jangan keluar kompleks kalau tidak ada mas. Beli apapun online saja. Bisa sayang??" Karel mengatur rambut kekasihnya agar poninya tidak menutupi wajah cantik kekasihnya.
"Iya. Mas tugasnya di mana??"
"Bandung sayang. Dan ingat selama mas tidak ada jangan coba - coba pakai alat bantu."
"Mas.... Adek malu."
"Sebenarnya tadi mas, mau swiping rumah kamu menyita semua alat bantu itu dan mas bakar."
"Nanti ade bakar."
"Ingat jangan sakiti dirimu ya."
"Iya mas."
Tepat pukul dua belas malam, Karel dan timnya sudah menuju lokasi kejadian menggunakan mobil tempur. Adel yang sedang jaga malam melihat keberangkatan pacarnya dari rooftop rumah sakit. Serta berdoa memohon perlindungan Tuhan. Rencananya selesai misi inj, Karel akan menemani Adel ke Bali sekalian mau kenalan dengan orangtua Adel disana.
Karena cemas, malam ini Adel tidak bisa tidur, akhirnya satu cangkir kopi menemani dia jaga malam ini. Dan dia lanjut melukis, sesuai dengan hobinya. Di rumah sakit ini, ada dokter spesialis baru yaitu dokter bedah jantung. Informasi yang Adel dengar dari staf medis di rumah sakit ini, adalah dokter lulusan dari Amerika. Adel sendiri belum bertemu dengannya, karena kemarin weekend dan adel masuk kerja malam. Hanya beberapa bulan, karena untuk beberapa bulan kedepan di rumah sakit ini kekuarangan dokter umum. Dokter Evelin diberi hukuman dan dua dokter lainnya lagi sekolah. Alhasilnya semua doker spesialis kena piket jaga malam di IGD.
Sudah sehari Karel di lokasi kejadian, dan informasi di media sosial, terutama televisi swasta di Indonesia terus menyiarkan perkembangan dari proses penangkapan bandar narkoba. Karena sudah dua kali, dia lolos dalam penyerangan itu. Dan ini kali ketiga.
"Dokternya ganteng sekali."
"Dokter yanga mana??" Adel yang gemas dengan tingkah staf di resepsionis dan satu ners, ikut dalam kelompok gosip yang mereka sendiri tidak sadar, kalau dokter Adel sudah bergabung. Adel kesal karena diberi salam, mereka tidak respon, melainkan fokus kepada dokter baru itu. Akhirnya Adel penasaran.
"Ih... Dokter Adel buat kaget deh. Bisa jantungan."
"Kalian itu, aku sapa selamat pagi tidak ada respon. Ternyata matanya buat dokter baru."
"Mana dokternya???"
Tiba - tiba dokter baru itu berdiri didepan Adel. Dan Adel kenal betul dengan dokter itu. Dia itu kakak tingkat Adel waktu kuliah. Ia sih waktu kuliah juga dia idola di kampus.
"Dokter Adel Emanuella Sanjaya."
"Dokter Samuel Benito."
"Iya. Masih kenal saya."
"Iya. Tidak lupa dok. Dokterkan idola waktu kuliah. Pantas dari kemarin semua ners perempuan di rumah sakit ini sibuk membicarakan dokter. Tuh tiga orang itu juga."
Satu staf dan dua ners tertunduk malu. Karena memang di kerjai oleh Adel. Ternyata Doker Samuel Benito adalah keponakan dari Dokter Wibowo. Dari pembicaraan Adel dengan Samuel kakak tingkatnya ini. Samuel sebagai dokter yang di perbantukan di rumah sakit ini. Kebetulan rumah sakit ini akan akreditas, maka di butuhkan dokter - dokter spesialis.
"Dokter, selesai kuliah langsung ke Amerika ya??"
"Kok tahu, kamu cari tahu tentang aku ya."
"Ngak dokter. Dokter itu idola di kampus jadi dokter ada dan tidak ada tetap jadi buah bibir warga kampus." Samuel tersenyum.
"Padahal aku sudah percaya diri dan senang loh kalau tahu kamu mencari saya."
"Jangan besar kepala dokter."
Ini yang dokter Samuel suka dari dokter Adel, tidak perna berubah candaan bahkan tertawa dan senyumannya. Orang pikir dia tegar, periang namun sebenarnya itu dia memiliki hati yang mudah rapuh. Samuel kaget melihat cincin berlian yang melingkar di jari manis tangan kiri Adel.
"Kamu sudah di lamar??" Adel kaget, bahwa cincin yang di beri Karel menjadi perhatian dari dokter Samuel. Dia cepat menyembunyikan tangan kirinya. Namun tatapan Samuel masih tetap mengarah padanya.
"Iya."
"Siapa pacar kamu."
"Nanti aku kenali."
"Berarti aku terlambat ya."
"Maksud dokter???"
"Lupakanlah. Ayo makan. Aku ajak kamu ke kantin ya buat makan. Kan sebentar kamu akan operasi."
"Kok dokter tahu??"
"Aku yang jadi asisten membantu kamu."
Sebenarnya Samuel Benito, waktu kuliah suka kepada Adel Emanuella Sanjaya ini. Namun Adel yang introvert ini susah membuka hati. Samuel yang kurang usaha, menerima tawaran papa dan mamanya untuk sekolah keluar negeri melanjutkan sekolah disana. Karena tugas papanya duta besar disana.