"Ahh!"
"Kamu harus melahirkan pewarisku, Amoera ... untuk menebus dosa ayahmu!"
Perang berdarah antar-organisasi memaksa Amoera, putri tunggal mafia Blood Dominion, jatuh ke tangan Leon D'Alterio. Pemimpin kejam Cosa Nero itu menuntut balas dendam atas kematian orang tuanya, dan Amoera harus melahirkan pewarisnya.
Namun takdir berjalan brutal. Amoera melahirkan bayi kembar laki-laki, tetapi Leon merebut bayi yang hidup dan mengusir Amoera bersama bayinya yang dianggap telah mati.
Empat setengah tahun berlalu. Amoera kembali sebagai pembunuh bayaran dingin dengan misi mutlak. menghabisi pewaris Cosa Nero, yang tak lain adalah putranya sendiri.
Saat laras pistol telah membidik target, kebenaran fatal terkuak. Leon tertegun melihat bocah di samping Amoera yang sangat mirip dengan putranya.
"Kamu mau membunuh putramu sendiri, Amoera?"
Ketika rahasia masa lalu terbongkar, siapakah yang akan hancur dalam lingkaran balas dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Seorang Anak
Enzo menggeliat tidak nyaman di atas permukaan kasur yang terasa asing bagi tubuh kecilnya. Seluruh persendiannya terasa sangat pegal dan kaku akibat terlalu lama meringkuk di dalam bagasi mobil yang sempit dan berguncang keras selama berjam-jam. Bocah mungil itu mulai mengerjapkan kedua matanya secara perlahan, berusaha menghalau sisa rasa kantuk yang masih menggelayuti kesadarannya. Namun, saat penglihatannya mulai fokus, ia mendapati dekorasi langit-langit ruangan yang sangat berbeda dari kamar tidurnya di mansion.
Seketika itu juga, Enzo langsung beranjak duduk dengan sepasang mata bulat yang berbinar terang benderang. Sebuah senyuman kemenangan yang teramat lebar mengembang di bibir mungilnya. Dengan penuh semangat, ia segera turun dari atas ranjang, melangkah cepat menuju jendela kaca besar dan menatap keluar, ke arah pemandangan kota yang terhampar luas meskipun langit di luar sana masih terlihat gelap gulita.
"Woaaaah akhilnyaaaa, Enzo bica kabuuuul dali tu olang tuaaaa!" pekik Enzo dengan suara cemprengnya yang dipenuhi riak semangat, merasa begitu bangga atas keberhasilan rencana pelariannya.
"Begitu, ya?"
Sebuah suara bariton yang teramat berat dan dingin tiba-tiba saja memecah keheningan kamar, menggema dari sudut ruangan yang remang. Suara itu seketika membuat seluruh tubuh mungil Enzo menegang kaku di tempatnya. Senyuman manis di wajahnya luntur dalam sekejap mata, dan bola matanya membulat sempurna dengan rasa syok yang luar biasa, seolah-olah sepasang matanya itu hendak melompat keluar dari tempatnya.
Enzo menolehkan kepalanya ke belakang secara perlahan dengan gerakan patah-patah. Di sana, di atas sebuah single sofa kulit, Leon D'Alterio tampak sedang duduk dengan santai sembari menaikkan kedua kakinya ke atas tepian meja. Di jemari tangan kanan pria itu, sebuah pistol hitam legam sengaja diputar-putar dan diketuk-ketukan perlahan hingga menimbulkan bunyi logam yang dingin, sebuah teror psikologis yang sengaja ia ciptakan untuk menciutkan nyali sang putra.
Anak kecil itu langsung berbalik badan dengan sempurna. Dengan sisa rasa syok yang mendominasi wajahnya, Enzo refleks menempelkan seluruh punggungnya pada permukaan kaca jendela di belakangnya sembari merentangkan kedua tangan dan kakinya lebar-lebar, persis seperti seekor cicak yang sedang ketakutan setengah mati. Napasnya memburu saat matanya bergerak liar menatap ke sekeliling ruangan, barulah ia menyadari dengan penuh penyesalan bahwa dirinya tidak sedang berada di alam bebas, melainkan di dalam kamar hotel mewah yang telah disulap menjadi sarang baru bagi sang ayah.
"APA CIH OLANG TUAAAAAA! ENZO MAU KELUAAAAL!" teriak anak itu dengan nada suara yang teramat kesal, meluapkan seluruh kekecewaannya karena lagi-lagi tertangkap basah.
Leon beranjak berdiri dari sofanya. Ia melangkah mendekati putranya dengan langkah kaki yang lambat namun sarat akan tekanan yang mengintimidasi. Setiap ketukan sepatu pantofel Leon di atas lantai seolah menjadi lonceng kematian bagi kebebasan Enzo. Bocah mungil itu meringsut mundur, mencoba menenggelamkan tubuh kecilnya pada kaca jendela di belakangnya karena didera rasa takut yang amat sangat. Namun sayang, ruang geraknya terkunci rapat, ia telah tersudut sepenuhnya.
Leon berlutut di hadapan putra kandungnya, menyamakan tinggi tubuh mereka. Tangan kanannya terangkat, menggerakkan moncong pistolnya yang dingin untuk mengusap pelan pipi gembil Enzo dengan gerakan yang teramat lembut namun mematikan.
"Kamu begitu ingin melihat dan menjelajahi dunia luar, Enzo?" tanya Leon dengan nada suara yang sangat rendah, menembus langsung ke dalam sanubari sang anak.
"I-iyya lah, kenapa? Muka olang tua cudah cepelti kentut capi tau nda," jawab Enzo dengan nada suara yang mendadak mengecil dan terbata-bata, mencoba mempertahankan sisa keberaniannya yang hampir habis di hadapan sang ayah.
Mendengar cercaan unik dari putranya, seulas senyuman tipis yang sarat akan arti misterius terukir di bibir Leon. Pria itu menurunkan senjatanya, namun tatapan matanya berubah menjadi teramat tajam dan serius.
"Baiklah, kalau itu memang maumu. Mulai besok, Daddy sendiri yang akan mengenalkan bagaimana rupa dunia luar yang sebenarnya kepadamu. Daddy akan mengajarimu ... bagaimana cara untuk bertahan hidup di dalam sebuah dunia yang telah dipenuhi oleh tumpahan darah dan kekejaman. Tapi, kamu harus berjanji untuk menjadi sosok yang kuat, Enzo. Karena jika kamu tumbuh menjadi anak yang lemah ... kamu hanya akan berakhir menjadi mangsa yang ditelan hidup-hidup oleh mereka yang lebih kuat. Itulah hukum mutlak dunia ini, jadi jangan pernah menyesali keputusanmu untuk keluar dari sangkar," ucap Leon panjang lebar.
Namun, rentetan kalimat filosofis penuh darah itu sama sekali tidak bisa dicerna oleh otak kecil Enzo. Bocah itu hanya menatap ayahnya dengan pandangan bingung. Bagaimanapun juga, ia hanyalah seorang anak kecil yang usianya bahkan belum genap menyentuh angka lima tahun, seorang anak suci yang sama sekali tidak tahu-menahu soal betapa busuk dan jahatnya dunia luar yang sedang dibicarakan oleh sang ayah.
Leon beranjak berdiri kembali, merapikan letak jasnya yang sedikit kusut. "Tidurlah kembali, ini masih terlalu malam," ucapnya dingin sembari membalikkan tubuh dan melangkah lebar menuju pintu keluar.
"Celama ada Mommy, olang nda bica jahat cama Enzo," ucap anak itu dengan suara yang teramat pelan dan lirih, sebuah kalimat pendek yang seketika membuat langkah kaki Leon terhenti secara instan di ambang pintu. Pria paruh baya itu menolehkan sedikit kepalanya ke belakang, menatap Enzo dari sudut matanya yang tajam.
"Siapa yang mengatakan hal bohong seperti itu kepadamu? Dengar, Enzo ... dunia ini justru akan berubah menjadi jauh lebih kejam dan mematikan jika kamu berada dekat dengan ibumu," ucap Leon dengan nada dingin yang sarat akan penekanan misterius, sebelum akhirnya ia melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan rapat.
Meninggalkan Enzo yang kembali terdiam seorang diri di dekat jendela, menatap kosong ke arah kegelapan malam tanpa bisa mengerti apa arti di balik perkataan ayahnya. Yang ada di dalam benak kecilnya saat ini hanyalah rasa tidak sabar. Karena besok, ia akhirnya akan melihat dunia luar yang selama ini ia bayangkan begitu indah.
________________
Maaap, tepar kemaren aku😭 sibuk seharian kawan, maap yah. Hari ini kita double ambil jatah kemarin okay😍
Aku bisa apa memangnya utk melarangmu
Cuma ada 1 syarat hrs kau penuhi
Bikin nenekmu itu sadar diri & bersikap baik
Tp klw dia keukeuh sureukeh keras kepala...jauhkan dia sejauh²nya dari aku & anak² kita