Jeremy Aslan, kepala mafia paling ditakuti, mengira menikahi Claire, putri wakil presiden akan memberikan keuntungan besar pada bisnis senjata yang sedang dia jalankan. Ternyata, yang ia dapatkan adalah ... menghadapi perempuan paling bikin sakit kepala sepanjang dia hidup.
Alih-alih fokus dengan bisnis dunia gelapnya, ia malah fokus dengan segala tingkah laku random Claire seperti, diam-diam menciptakan bom dan meledakkan kantor polisi hanya karena ia punya dendam dengan polisi, merusak rumah pribadi politisi yang dia anggap sering merendahkan ayahnya, dan bekerja di perusahaan Farmasi hanya untuk membuktikan mantan pacarnya adalah gay.
Bagi Jeremy, mengendalikan ratusan anak buah bersenjata jauh lebih mudah daripada menghadapi satu istrinya yang nakal dan sama sekali tidak mengenal kata takut. Jeremy hampir menyerah pada semua kenakalan perempuan itu, sampai Claire tiba-tiba di culik, saat itulah dunia Jeremy hancur. Karena akhirnya ia menyadari, Claire adalah dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hitung mundur
Alasan utama Talia berada di tempat ini adalah, dia mengikuti suaminya diam-diam. Siapa lagi kalau bukan Damian. Beberapa hari yang lalu salah satu teman Damian datang ke rumah mereka, meminta bantuannya mencari sesuatu. Dan barang yang di cari itu ternyata berada di kantor polisi ini. Damian dan temannya itu sepakat akan datang malam hari untuk mengambil barang-barang tersebut. Jadi, Talia yang mengetahui hal tersebut, diam-diam mengikuti mereka.
Padahal biasanya Damian akan langsung sadar dia ikuti diam-diam, tapi kali ini sepertinya tidak. Mungkin karena dia yang makin jago menyamar kali ya? Talia paling suka main detektif-detektifan begini. Awalnya dia ingin terus mengikuti suaminya dan temannya itu, tapi ia tidak sengaja melihat ada penyusup lain yang masuk lewat dapur.
Talia pun mengikuti mereka. Awalnya dia sangka mereka pencuri, tapi dia tidak sengaja mendengar mereka berbincang tentang membela kebenaran dan memberikan peringatan pada para polisi tersebut. Dua gadis dan dua pemuda itu tampak begitu bersemangat, membuat rasa penasaran Talia makin memuncak.
Ia juga mendengar percakapan gadis yang paling heboh itu, entah siapa namanya, gadis itu bercerita tentang alat buatan tangannya yang bisa membuka kunci lemari besi tanpa merusak isi di dalamnya, dan tentang jenis bom yang dia buat. Bukannya takut mendengar kata itu, Talia justru semakin tertarik. Dari dulu kan dia memang paling suka sama yang begitu-begitu. Makanya dia milih ikutin mereka. Karena menurutnya apa yang akan mereka lakukan pasti lebih menarik, dibanding suaminya yang super duper kaku itu.
"Damian Winslow siapa?" Claire menatap Talia yang baru saja memperkenalkan diri. Nama itu agak familiar di telinganya.
"Cari aja di goggle. Pokoknya dia orang nomor satu di neraka." balas Talia. Ucapannya itu sukses membuat ke-empat sahabat saling menatap.
"Neraka?" Ulang Kean.
"Maksud lo, suami lo iblis nomor satu yang tinggal di neraka? WOWW! HEBAT, NERAKA BOS! NERAKA! Gimana caranya dapat jodoh penghuni neraka?! Pasti namanya Lusifer kan?"
"Claire, diem! Nanti kita ketahuan!" Kiara cepat-cepat menutup mulut Claire. Astaga anak ini.
Claire tertawa kecil. Ia menatap Talia lagi yang menggeleng cengo padanya. Menurutnya perempuan yang super heboh itu lebih aneh darinya. Dari tadi aneh, sampe ngarang-ngarang bahasa dukun dan nyembur dia.
"Ayo bergerak cepat. Nanti misi terakhir kita nggak kelar-kelar." Lordan angkat suara.
Claire mengangguk. Ia kembali memimpin jalan keluar dari ruangan itu sambil mengendap-ngendap. Entah sudah yang ke berapa kali mereka mengendap-endap. Kiara berjalan di belakangnya, Lordan, baru Kean. Seperti formasi tadi. Tapi sekarang, mereka bukan hanya berempat, Talia ikut mengendap di belakang mereka. Kean beberapa kali menoleh ke belakang melirik wanita itu dengan tatapan aneh, tapi yang dia dapat adalah senyuman tak berdosa perempuan itu.
Kean ingin mengusir perempuan itu tapi tidak tega. Jadi dia biarkan saja. Begitu mereka sampai di lapangan kantor polisi yang hanya di terangi oleh bulan, Claire segera mengeluarkan salah satu bom buatannya dari dalam tas. Karena terlalu gelap, dia harus mencari bom yang benar yang akan mereka lepaskan untuk merusak lapangan.
Satu bom berhasil dia keluarkan. Namun, ketika dia mengangkat benda itu tinggi-tinggi buat memastikan itu jenis yang benar atau tidak, ia tidak sengaja menekan tombol merah kecil. Claire kaget. Kalau sudah di tekan tidak bisa di matikan lagi. Ia pun membuang benda itu secepat kilat. Ia pikir benda itu akan terjatuh jauh, namun jatohnya malah tepat di bawa kaki mereka.
Lordan hendak mengambil benda tersebut karena di kiri tidak sengaja dijatuhkan oleh Claire. Tapi begitu ia membungkuk, suara Claire membuat mereka semua kaget dan panik.
"Jangan di ambil! Bom-nya nyala. Gue nggak sengaja nekan tombol mereka kecil. Kabur-kabur. Gue nggak sempat lihat itu jenis apa!" Claire sudah berbalik lebih dulu, di susul teman-temannya dan Talia. Tapi... Belum sempat ke lima orang itu melangkah, bunyi ledakan kuat sekali di sertai asap yang sangat tebal memenuhi tempat itu.
DUAR!
Suara ledakan itu menggema sekuat tenaga, memecah keheningan malam hingga membuat kaca jendela di sekitarnya bergetar kuat. Kelimanya sama-sama terlompat kaget, tubuh terhuyung ke belakang seolah ditiup angin kencang sekali. Namun tak ada rasa sakit yang menjalar, tak ada api yang menyala, yang ada hanya kepulan asap pekat berwarna kelabu yang langsung menyelimuti mereka seketika, membuat pandangan jadi kabur tak beraturan.
Saat asap mulai menipis sedikit demi sedikit, barulah mereka sadar bahwa bom itu ternyata jenis yang hanya mengeluarkan bunyi menggelegar dan asap pekat, sama sekali tak berbahaya bagi tubuh. Hanya saja efek sampingnya sungguh lucu luar biasa, seluruh kulit, pakaian, bahkan rambut mereka kini tertutup lapisan debu hitam pekat persis seperti arang yang baru diambil dari tungku api. Mulut dan gigi mereka yang tersenyum kelihatan sangat kontras, bersinar terang di tengah wajah yang legam.
"Cepat lari ke semak-semak! Nanti ada yang datang!" seru Lordan yang paling cepat sadar situasi.
Tanpa menunggu lama, mereka berlari terbirit-birit menuju balik rimbunan semak belukar di pinggir lapangan, menekan tubuh serendah mungkin agar tak terlihat dari kejauhan. Benar saja, tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka berderit dan teriakan bingung para petugas yang mendengar ledakan tadi.
Saat suasana agak tenang kembali, mereka saling menatap satu sama lain. Mulanya hanya terdengar tawa kecil yang ditahan, lalu tak lama kemudian meledak menjadi tawa renyah yang mereka tahan di balik telapak tangan.
"Ya ampun... kita kayak kerangka hidup yang nyasar ke dapur pembakaran!" seru Kiara sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri yang penuh debu hitam, membuat debunya malah makin berantakan.
Claire tertawa paling keras sampai perutnya terasa sakit.
"Lihat Kean! Giginya putih banget, beda banget sama mukanya! Kayak orang yang lagi makan nasi goreng pakai kuah hitam pekat!"
Talia ikut tertawa sambil mengusap hidungnya yang juga legam. Walau belum kenal mereka, tapi rasanya asyik ikut misi mereka.
"Lo kayak patung arang." balas Kean pada Claire.
Mereka semua tertawa terbahak-bahak melupakan rasa takut tadi, menikmati momen konyol yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, sementara di kejauhan masih terdengar suara keributan petugas yang sibuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Sembunyi dulu, sembunyi!" Seru Claire lagi. Ke-limanya segera tiduran agar tidak terlihat oleh para petugas.
Entah berapa menit sudah terlewat, lapangan itu sudah kembali tenang sekarang. Mereka menghembuskan nafas lega.
"Syukurlah gak ketahuan." ucap Kiara.
Claire sudah siap-siap kembali mengambil bom berikutnya dari dalam tas gendongnya.
"Claire, jangan berani ambil yang salah kali ini." Kean mengingatkan dengan suara berbisik.
"Tenang aja bos." katanya. Tapi kata-katanya tentu saja tetap meragukan. Masalahnya dia Claire.
"Ini baru bener. Kalian tunggu sini, gue bawa ini ke lapangan." setelah mengatakan itu, Claire segera ke lapangan yang sudah kosong dengan cara lari yang lucu.
Dia menatap kanan-kiri, setelah dipastikan tidak ada siapa-siapa, ia pun segera menekan tombol on dan berlari secepat mungkin kembali ke semak-semak.
"Hitung mundur!" Serunya ke teman-temannya. Mereka mulai berhitung.
"Tiga ... dua ..."
BOOOMM!
Lalu bunyi ledakan itu menggelegar kuat sekali.
kirain bom rakitan claire berbahaya hanya bikin gosong, mom thalia dan claire dan sahabat-sahabatnya aja🤣
claire nanti ketahuan mister jem dihukum kamu nakal banget, diam-diam keluar dari rumah sama sahabat2 kamu tanpa ijin mister jem😄
mommy thalia bergabung aja geng mafia mommy thalia jadi ketuanya, claire dan teman2nya anak buahnya pasti sangat seru dan menarik🤣🤭
Thalia cocok ni ketemu Claire yg nakal dan unik 🤣🤣🤣🤣bisa bikin group mafia cewe ni🤣🤣🤣🤣