Setiap tahun selalu saja para pembantu yang masih perawan akan meninggal dunia, namun mereka tidak ada yang sadar dengan hal itu
Hingga akhir nya Dila datang ke rumah itu untuk mencari tahu tentang keberadaan sang adik yang hilang entah ke mana, dan tempat terakhir dia kerja adalah rumah keluarga Susanto.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Menguburkan Lisa
''Sudah selesai?'' Dina muncul di ambang pintu ketika dia telah memperhitungkan waktu untuk Susanto pakai.
''Aaaaah tentu saja sudah!'' Susanto menoleh dan dia menjawab dengan mulut berlumuran darah.
''Bersihkan dirimu terlebih dahulu maka aku akan mengurus bagian ini.'' Dina berkata dengan suara datar dan seolah ini bukan masalah besar.
''Terima kasih.'' Susanto berlalu pergi dan dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dina berdiri menatap mayat yang sekujur tubuh sudah tidak memiliki kulit itu karena tadi dikuliti bersih oleh Susanto. sesuai dengan apa yang diminta oleh sang iblis karena mereka harus meminum setiap tetes darah dari tubuh gadis itu, Lisa yang bernasib malang karena dia beranggapan bahwa dirinya akan menjadi nyonya besar dalam rumah.
Namun langkah nekat yang dia ambil justru membawa malapetaka besar sehingga sekarang mau tidak mau dirinya harus menanggung derita yang sangat mengerikan, bisa Dina bayangkan sendiri bagaimana menderitanya Gadis itu sebelum ajal menjemput.
Sebab Susanto memang tidak membunuh dengan cara lain Karena itu sudah menjadi syarat dari pesugihan yang telah mereka ambil di dalam Goa, mau tidak mau mereka memang harus melakukan cara ini dan bukan hanya satu gadis saja dalam setiap tahun yang harus menjadi tumbal keserakahan jiwa manusia yang haus akan harta.
Sreeet.
Sreeet.
''Siapa sangka kalau aku harus mengalami nasib seperti ini lagi.'' ucap Dina sendirian di dalam rumah kaca itu.
''Mungkin ini sudah menjadi takdir bahwa aku harus berkecimpung terus dengan, namun aku tidak akan mengalami nasib seperti ayah!'' Dina sangat yakin bahwa dirinya tidak akan mendapat kematian yang mengerikan.
Masa selalu wanita ini memiliki yang Masa begitu kelam sehingga dia sebenarnya sangat malas terus berkecimpung di dalam dunia iblis, tapi apa mau dikata karena ini semua seolah sudah menjadi takdir bahwa dirinya harus siap menerima kenyataan bahwa dia tidak akan pernah bisa jauh dengan hal yang berbau dengan iblis seperti ini.
Padahal untuk menjauhi ini semua dia sampai rela meninggalkan desa dan meninggalkan harta yang ia miliki meski itu adalah warisan dari sang ayah, sebagian memang telah Dina ambil namun sebagian lagi tetap ada di sana karena dia ingin menata hidup menjadi lebih baik serta melawan bisikan yang terus hadir di dalam diri.
Namun sekarang dia dan suami justru terjun sendiri ke dalam dunia pesugihan ini hanya karena mereka terlilit hutang yang begitu besar sehingga tidak bisa bila menjalani hidup biasa, terbukti juga Susanto bisa dengan mudah mendapatkan pesugihan itu dan tanpa mereka sadari bahwa itu semua adalah daya tarik yang ada di dalam diri Dina.
Sebab wanita ini dulu pernah bersama dengan rombongan para iblis sehingga dia masih memiliki daya tarik tersebut, tentu saja iblis tidak akan pernah melepaskan mangsa mereka dan akan berusaha keras untuk mempertahankan serta menarik kembali dengan iming-iming harta yang begitu menggiurkan bagi manusia.
''Eeeghhh.''
''Jangan menatap aku seperti itu karena bukan aku yang mendorongmu untuk menjadi tumbal ini.'' Dina berkata dan membungkus tubuh Lisa menggunakan kain sprei.
''Eeeghhh.'' Lisa masih memiliki nyawa dan dia berusaha untuk meminta tolong.
''Kau mengalami nasib buruk ini karena serakah, Andai Kau tidak tergoda maka kau tidak akan menjadi tumbal.'' ujar Dina sambil menatap mata gadis itu.
''Tapi kau tidak usah cemas karena aku akan menguburkan mayat mu sekarang serta nanti aku juga akan memberikan kompensasi kepada keluarga mu.'' Dina berjanji kepada Lisa yang akan segera menghembuskan nafas terakhir.
Sraaaak.
Sraaaak.
''Itu lah Mengapa manusia harus menjaga diri agar tidak terjun ke dalam dunia yang tidak.'' ujar Dina sambil mengikat tubuh Lisa menggunakan kain.
''Semua sudah menjadi pilihan untuk dirimu dan semoga kau mendapat tempat yang tenang di sisi Tuhan.'' ujar Dina lalu memikul tubuh Lisa untuk menuju area perkuburan.
''Nyonya.'' Mang Ujang segera mengambil alih tubuh Dina yang telah terbungkus rapi.
''Apa lobang kuburan telah kau gali?'' tanya Dina karena dia tidak ingin membuang waktu lebih lama.
''Sudah, Nyonya!'' Mang Ujang mengangguk patuh karena dia memang telah menggali lobang untuk kuburan Lisa kali ini.
''Bagus lah.'' Dina berjalan duluan dan dia tetap dengan gaya yang begitu anggun.
Mang Ujang Hanya bisa menarik nafas panjang Karena dia juga telah mengetahui perbuatan bejat dari majikannya kali ini, namun dirinya hanya seorang pekerja dan bayaran yang dia dapat juga cukup besar ketika sedang ada pekerjaan tambahan seperti ini sehingga membuat Mang Ujang merasa senang dan dia tetap bertahan di dalam rumah.
Walau dia bersikeras ingin keluar dari pekerjaan ini maka yang ada nanti Mang Ujang justru akan dalam bahaya, Susanto tidak mungkin membiarkan orang yang telah mengetahui rahasia dia seperti ini karena nanti yang ada mang Ujang akan menyebabkan masalah besar dan itu semua tentu harus dia tutup menggunakan kematian.
Dari pada menjadi tumbal seperti itu maka lebih baik bila dirinya menuruti apa saja yang keluarga itu minta karena Mang Ujang juga membutuhkan uang yang cukup banyak, yang paling penting dia merasa bukan dirinya yang telah membunuh para Gadis itu karena tugas dia hanya menguburkan dan tutup mulut.
Bruugk.
''Gadis miskin tidak tau diri.'' Dina meludahi mayat Lisa.
''Saya akan timbun sekarang, Nyonya.'' Mang ujang tidak membuang waktu lagi.
''Ya, tutup semua kebusukan gadis ini dan aku tidak ingin mendengar nama dia di dalam rumah ini lagi!'' ujar Dina dengan nada yang sangat tegas sekali.
''Baik.'' Mang Ujang segera mengambil cangkul dan menutup lubang kuburan itu.
''Hah Untung saja aku pernah mengalami masa seperti itu sehingga sekarang masih memiliki pengalaman!'' Dina tertawa sendirian dan berjalan pergi.
''Gila, orang kok bisa dengan sangat bangga seperti itu memiliki kemampuan untuk membunuh!'' Mang Ujang saja terkadang tidak percaya dengan kelakuan sang juragan.
''Eeeeghh.'' suara rintihan kembali terdengar dari dalam lubang itu.
''Astaga kenapa yang ini tak kunjung mati sih? semakin lama dia mati justru semakin tersiksa dengan rasa sakit.'' Mang Ujang Kasihan juga kepada Lisa.
''Eeeghhh.'' Lisa kembali bersuara di tengah sakaratul maut yang siap untuk mendatangi dirinya.
Kalau sudah seperti ini maka Mang Ujang hanya bisa menahan hati agar dia tidak memiliki rasa Iba yang cukup besar dan dirinya juga tidak tahu harus bagaimana, mau menolong juga tidak mungkin karena bila dia bawa ke rumah sakit pun tidak akan ada hasil, justru nanti yang ada akan menimbulkan masalah karena keluarga ini akan menghajar dia.
Selamat pagi, jangan lupa like dan komentar nya ya.