NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Yang Terluka

Istri Pengganti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.

​Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!

​"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.

​Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.

​Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!

Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Ketukan keras dari pintu ganda ballroom yang tertutup menandai berakhirnya sandiwara panjang di depan publik. Langkah kaki Liam Oliver terdengar berat dan bergema di sepanjang koridor sepi menuju lantai penthouse eksekutif Hotel Grand Luminary.

Ia berjalan beberapa langkah di depan, membiarkan Mira Hazelya mengekor di belakang dengan langkah kaki yang tertatih akibat gaun pengantin satinnya yang berat. Tidak ada lagi tangan yang saling bertumpu, tidak ada lagi senyum tipis formal untuk kamera.

Yang tersisa hanyalah keheningan yang mencekam dan dingin.

Cklek...

Liam membuka pintu kamar honeymoon suite mereka dengan satu sentuhan kartu akses digital. Begitu pintu terbuka, kemewahan yang vulgar langsung menyapa indra penglihatan.

Kamar luas itu telah disulap sedemikian rupa, kelopak mawar merah ditata membentuk hati di atas ranjang king-size berkelambu sutra, belasan lilin aromaterapi vanilla menyala temaram di sudut ruangan, dan sebotol champagne mahal bersanding dengan dua gelas kristal di atas meja marmer.

Semua dekorasi itu disiapkan untuk menyambut malam pertama sepasang pengantin baru yang saling memadu kasih.

Namun bagi Liam, semua ornamen romantis ini terasa seperti ejekan yang mengesalkan.

Liam melangkah masuk, melepaskan jas pengantin putih porselennya dengan kasar, lalu melemparkannya begitu saja ke atas sofa kulit hitam di sudut ruangan. Ia melonggarkan dasinya, membuka dua kancing teratas kemeja satinnya, lalu berbalik dengan kedua tangan bertumpu di pinggang.

Matanya yang tajam dan dingin menatap lurus ke arah pintu, tempat Mira baru saja melangkah masuk dan menutup pintu dengan sangat pelan, seolah takut suaranya akan memicu ledakan.

Mira berdiri kaku di dekat pintu. Kepala wanita itu tertunduk dalam, tangannya yang masih mengenakan sarung tangan brokat putih meremas satu sama lain di depan tubuhnya.

Cadar tipisnya masih terpasang erat, menyembunyikan ekspresi wajahnya, namun bahunya yang sedikit turun memancarkan aura keletihan fisik dan mental yang luar biasa.

"Jangan berlagak seperti korban di sini, Mira Hazelya," suara bariton Liam memecah keheningan kamar, terdengar sangat rendah, dingin, dan bergetar menahan amarah yang sejak tadi ia bendung di depan para menteri dan investor.

Mira tidak bergerak. Ia tetap menunduk, membiarkan untaian tiara kecil di kepalanya sedikit bergoyang.

Liam mendengus sinis, melangkah mendekat dengan gestur intimidatif yang biasa ia gunakan saat menghadapi lawan bicara yang keras kepala. Postur tubuhnya yang tinggi tegap bayangannya menutupi tubuh ramping Mira, menciptakan atmosfer yang begitu menekan.

"Kau tahu apa yang paling menggelikan dari malam ini?" Liam menjeda kalimatnya, menatap lurus pada sepasang mata bulat Mira yang tersembunyi di balik kabut air mata yang mulai menggenang lagi. "Dua jam yang lalu, aku hanyalah seorang mahasiswa yang sedang memikirkan ujian semester depan dan masa depanku sendiri. Tapi sekarang? Aku terjebak di dalam kamar ini, mengorbankan seluruh hidup dan kebebasanku untuk menjadi suami dari wanita asing yang bahkan tidak sudi menunjukkan wajahnya."

Liam berjalan mengitari tubuh Mira, memperhatikannya dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan. "Katakan padaku, berapa besar keuntungan yang dijanjikan keluargamu sampai kau begitu tenang menerima pernikahan ini? Apakah nama besar keluarga Oliver sangat menggiurkan bagimu, hingga kau tidak peduli siapa pria yang duduk di kursi akad, asalkan dia mewarisi kekayaan Papa?"

Pertanyaan bertubi-tubi yang tajam seperti belati itu menghujam pertahanan Mira. Namun, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari balik cadar putih itu.

Mira hanya bisa meremas jemarinya semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih di balik kain brokat. Isak tangis yang coba ia tahan mati-matian membuat tubuhnya sedikit bergetar, namun ia memilih untuk mengunci rapat bibirnya.

Kebungkaman Mira justru membuat ego Liam semakin tercoreng. Sebagai pria yang terbiasa dengan kejelasan, keheningan wanita di hadapannya ini terasa seperti sebuah konspirasi yang nyata.

Liam menghentikan langkahnya tepat di depan Mira, jarak mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Aroma harum bunga lili yang menenangkan dari tubuh Mira kembali menyergapnya, namun Liam menepis rasa familier yang mendadak muncul di hatinya.

Dengan gerakan cepat dan penuh dominasi, Liam mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram dagu Mira dari luar kain cadar, memaksa wanita itu untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam manik mata hitamnya yang berkilat marah.

"Buka mulutmu dan jawab aku, Mira!" bentak Liam dengan suara tertahan yang bergetar. "Jangan hanya diam seperti patung bodoh! Kau sudah merebut hidupku malam ini. Setidaknya, miliki keberanian untuk menatap suamimu dan jelaskan permainan apa yang sedang kau dan keluargamu rencanakan!"

Mata mereka beradu dari jarak yang sangat dekat. Liam bisa merasakan kehangatan napas Mira yang terengah-engah menembus kain cadar tipis, mengenai permukaan kulit jarinya. Di dalam netra bulat Mira yang indah, Liam tidak menemukan kilat kelicikan atau kepuasan seperti yang ia duga.

Sebaliknya, yang ia lihat adalah sebuah jurang keputusasaan yang teramat dalam, rasa takut yang melumpuhkan, dan luka yang begitu pekat hingga membuat jantung Liam mendadak berdesir aneh untuk kedua kalinya.

Sebutir air mata yang hangat lolos dari sudut mata Mira, bergulir lambat dan membasahi kain cadar yang sedang dicengkeram oleh jari-jari Liam. Air mata itu terasa seperti membakar kulit tangan Liam, membuatnya tertegun sejenak.

Mira tetap tidak mengeluarkan suara pembelaan. Ia hanya memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan sisa air matanya mengalir, seolah-olah ia sudah pasrah dan terbiasa menerima makian serta rasa sakit dari dunia luar.

Melihat reaksi Mira yang sama sekali tidak melawan dan justru tampak begitu rapuh, Liam mendadak dilingkupi rasa frustrasi yang aneh. Ia melepaskan cengkeramannya dari dagu Mira dengan kasar, lalu mundur satu langkah ke belakang, menyugar rambut hitamnya dengan gestur kacau.

"Sialan," umpat Liam pelan, memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta dari lantai atas hotel.

Hatinya bergejolak hebat antara rasa marah karena dijebak dalam pernikahan tanpa cinta ini, dan secercah rasa penasaran yang mengganggu tentang misteri apa sebenarnya yang disembunyikan oleh wanita bercadar di hadapannya ini.

Liam menarik napas dalam-dalam, mencoba mengembalikan kendali atas emosinya yang nyaris lepas kendali.

"Dengar baik-baik," ujar Liam, nada suaranya kini berubah drastis menjadi sangat dingin, datar, dan tajam, memancarkan aura cold CEO yang tidak tersentuh. "Pernikahan ini tidak lebih dari sebuah transaksi bisnis untuk menyelamatkan muka keluarga Oliver di depan publik. Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai istri yang sesungguhnya, dan jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu."

Liam berjalan menuju lemari besar, mengambil selembar selimut tebal dan sebuah bantal ekstra. Ia melemparkannya ke atas sofa kulit panjang di sudut kamar.

"Kau bisa tidur di ranjang besar itu. Aku akan tidur di sofa," kata Liam tanpa menoleh lagi ke arah Mira.

Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, meninggalkan Mira sendirian di tengah ruangan mewah yang kini terasa semakin dingin dan mencekam.

Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat, Mira perlahan melangkah menuju tepi ranjang mewah yang dipenuhi kelopak mawar merah.

Tubuhnya ambruk di atas kasur yang empuk. Ia memeluk lututnya sendiri, menenggelamkan wajahnya di antara lipatan gaun pengantinya, dan membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan mengalir deras tanpa suara di dalam kesunyian kamar pengantin yang asing itu.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
cemburu tanda cinta ...❤️
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼‍♀️😅
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
makanya jangan so nolak kamu Arkan jadi pusing sendiri kan 😤🤣🤣🤣
Eva Karmita
seriyus mau nanya apa nama pu nya di ganti ...??
padahal bagus Liam
Eva Karmita
kenapa namanya di ganti otor yg tadinya Liam kenapa berubah jadi Arkana. 🤔🤔🤔
Riana Utami
puasssss
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
Lovita BM
kq jd Arkan Oliver namanya, bukanya Liam Oliver ????
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Lovita BM
luar biasa
Lovita BM
👍👍👍👍👍💪
Eva Karmita
kita lihat apakah liam mampu merebut hati Mira
Eva Karmita
ya Allah kasihan Mira jadi korban penculikan dan pemerkosaan 🥺
Eva Karmita
percuma menjelaskan Mira lebih baik kamu diam ... biarkan waktu yang berbicara
Eva Karmita
Liam edan main talak" aja ...awas aja nanti kamu menyesal 🥺
Dibalik Senja
Lebih baik diem mira biarkan liam dngn asumsinya krn wlupun kau membela diri dia tdk akan percaya ...talak sdh diucapkan dan mira pasti akan pergi liam tnpa dimintapun
Dibalik Senja
Tdak apa2 dicerai sdh bkn jdohnya jngn dtangisi lebih baik begitu dr pd setiap hari disiksa dan direndahkan....CEO gemblung mainya kekerasan tnpa tau permasalahan merasa pnya dinasti diluar angkasa sungguh awak gemess
N Wage
apa maksud dr paragraf "Di sana,di atas seprai putih bersih yang tertutup beberapa kelopak mawar,tidak ada tanda2 kesucian yang biasanya dst..."

emangnya seperti apa?
N Wage
bukan altar KK...meja akad😊
Lovita BM
👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!