Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 - KOTA MULAI BERUBAH
Gang sempit itu terasa jauh lebih pengap dari sebelumnya. Bau got tua bercampur keringat dingin membuat dada Damar makin sesak. Di sampingnya, Rendi masih menahan bobot tubuhnya pada gerbang besi kecil, memastikan grendel karatan itu benar-benar mengunci jalur yang baru saja mereka lewati.
*CLANG!*
Rendi memukul pelan besi itu sebelum akhirnya menegakkan tubuh sambil mengembuskan napas panjang. "Setidaknya ini bisa nahan mereka beberapa menit," ujarnya lirih.
Damar menoleh cepat, napasnya masih memburu. “Beberapa menit buat apa?”
Rendi tidak langsung menjawab. Sepasang matanya justru bergerak awas, menatap lurus ke arah jalan besar di ujung gang. Dari sana, suara-suara jahanam itu masih terdengar jelas: lengkingan klakson yang tertahan, sirine yang meraung konstan, dan derap langkah kaki yang kacau-balau—seperti kepungan massa yang bergerak tanpa arah.
“Ya buat kabur, lah,” sahut Rendi akhirnya, nadanya terdengar ketus karena lelah.
Damar mengernyitkan dahi. “Kabur ke mana?!”
Rendi terkekeh kecil. Bukan tawa renyah, melainkan tawa getir dari orang yang nyaris putus asa. “Kalau gue tahu tempat yang aman, gue nggak bakal peloncoan bareng lo di gang ini.”
Damar mengusap wajahnya yang basah oleh keringat kasar. Logikanya masih menolak untuk menerima semua kegilaan ini. Baru beberapa jam lalu dia menginjakkan kaki di kota ini, membawa tas dan harapan baru. Sekarang? Dia justru terperangkap di gang gelap, lari bersama orang asing yang baru dikenalnya lima menit lalu, dikejar oleh sesuatu yang—kata orang di sebelahnya ini—bukan lagi manusia.
“Ini beneran nggak masuk akal…” gumam Damar, suaranya bergetar.
Rendi menoleh, menatap Damar dengan pandangan menusuk. “Mau masuk akal atau enggak, faktanya lo masih napas sekarang, kan? Simpen dulu herannya.”
Damar bungkam. Itu tamparan fakta yang tidak bisa dia bantah.
*BANG!*
Hantaman keras pada pintu besi di belakang mereka membuat keduanya spontan melompat mundur. Rendi langsung memasang posisi siaga, tangannya mengepal.
“Sial, cepet banget…” bisik Rendi.
*BANG! BANG!*
Pelat besi itu mulai meliuk ke dalam. Struktur kusennya yang sudah tua berderit protes. Damar semakin panik, langkahnya surut beberapa jengkal. “Katanya bisa nahan beberapa menit?!”
“Gue bilang *setidaknya*, anjir!” semprot Rendi kesal.
*BRAK!*
Sambungan engsel bagian atas jebol seketika. Dari celah yang menganga itu, sebuah tangan merangsek masuk. Kulitnya kelabu kotor penuh bercak tanah, jemarinya bergerak kaku mencakar-cakar udara kosong dengan liar. Suara kuku yang bergesekan dengan permukaan besi berkarat sukses membuat kulit kepala Damar merinding disko.
Rendi langsung menyentak jaket Damar. “Nggak usah ditonton, lari!”
Mereka berdua menghambur keluar dari mulut gang, memotong ke jalan samping yang lebih lebar. Namun, begitu pandangan Damar menyapu area jalan utama, langkah kakinya mendadak terkunci.
Kota ini sudah runtuh. Bukan runtuh perlahan, melainkan seperti dihantam sesuatu yang masif dalam satu waktu.
Di jalanan, mobil-mobil berhenti melintang tanpa aturan, beberapa di antaranya ringsek karena saling tabrak. Sebuah motor matic tergeletak miring di aspal dengan mesin yang masih meraung dan roda belakang berputar sia-sia. Manusia-manusia berlarian kesetanan. Ada ibu-ibu yang memeluk anaknya sambil menangis, ada pria yang berteriak histeris memanggil nama seseorang, dan yang paling mengerikan… ada beberapa orang yang mendadak kalap, menerkam orang di sebelah mereka tanpa peringatan.
Damar terpaku di tempatnya. “Ini… ini sebenernya apa…?” suaranya nyaris tenggelam oleh kebisingan sekitar.
Rendi menyambar lengan Damar, menyeretnya paksa. “Jangan bengong, bodoh! Mau mati?”
Tepat di lajur kanan mereka, seorang pria paruh baya ambruk setelah ditabrak lari. Namun, belum sempat ada yang menolong, pria itu sudah bangkit lagi. Gerakan berdirinya janggal—terlalu kaku, seolah engsel lututnya dipaksa lurus. Begitu kepalanya menoleh ke arah kerumunan, matanya putih total, kosong tanpa ekspresi.
“Aing… aing liat yang kayak gini di video …” gumam Damar, matanya membelalak.
Rendi terus menyeretnya maju tanpa menoleh lagi. “Sekarang fiksi itu lagi nyoba buat makan lo. Fokus!”
Tiba-tiba, histeria pecah dari arah kiri mereka.
“ITU MEREKA!! JANGAN DEKET-DEKET, KELUAR LO KABUR!!”
Seorang pria berjaket kulit berlari sambil menyikut siapa saja yang menghalangi jalannya. Di belakangnya, tiga orang dengan pakaian robek-robek dan mulut berlumuran cairan pekat merangsek maju. Mereka tidak berniat menjarah atau menolong—mereka langsung menjatuhkan pria berjaket kulit itu ke aspal dan mulai mencabik-cabiknya.
Langkah Damar kembali goyah. “Gila… ini beneran gila…”
Rendi menarik napas kasar, wajahnya makin tegang. “Penularannya udah nggak terkendali. Lewat sini!”
Mereka berbelok lagi, menerobos masuk ke jalan pemukiman yang lebih sempit dan minim penerangan. Napas Damar sudah terasa putus-putus, dadanya seperti terbakar karena kehabisan oksigen.
“Mane… Maneh yakin kita nggak bakal mati konyol di sini?” tanya Damar di sela sisa tenaganya.
Rendi melirik sekilas dari balik bahunya. “Gue nggak bisa jamin apa-apa. Jamin diri lo sendiri!”
Jawaban jujur itu justru membuat Damar panik. Tepat saat mereka melewati sebuah tikungan di dekat bak sampah besar, sesosok tubuh berdiri tegak di tengah jalan.
Diam. Sama sekali tidak bergerak.
Damar langsung mengerem langkahnya. “Jangan bilang…”
Sosok itu menoleh perlahan. Gerakan lehernya patah-patah, seolah otot-ototnya sudah kaku berhari-hari. Tatapan matanya yang mati langsung mengunci ke arah mereka, dan sedetik kemudian, dia mulai menyeret kakinya, mempercepat langkah ke arah Damar dan Rendi.
Rendi spontan pasang badan, mendorong Damar ke belakang punggungnya. “Jangan liat matanya terlalu lama!”
Damar tersentak. “Kenapa?!”
“Gue nggak tahu! Tapi rata-rata orang yang sempat tatapan sama makhluk-makhluk ini bakal membeku karena panik duluan!” seru Rendi.
Damar menelan ludah dengan susah payah. “Berarti… fix nular lewat gigitan?”
Rendi tidak menjawab lewat kata-kata, tapi helaan napasnya yang berat sudah cukup menjadi penegasan.
Mereka terpaksa berputar balik, mengambil jalur alternatif yang memutar. Kali ini, gemuruh di belakang mereka terasa berlipat ganda. Suara seretan kaki, jeritan melengking yang terputus, dan bunyi benda-benda roboh saling bersahutan. Damar tidak lagi memikirkan ke mana arah tujuan mereka; otaknya hanya memerintahkan kakinya untuk terus bergerak.
Sampai akhirnya, mereka tiba di sebuah persimpangan berbentuk pertigaan kecil. Rendi mendadak berhenti total, membuat Damar hampir saja menubruk punggungnya.
“Kenapa berhenti lagi?!” protes Damar panik.
Rendi tidak menjawab, melainkan mengarahkan telunjuknya ke sudut kiri tembok pembatas. “Masih ada yang selamat.”
Damar mengikuti arah pandang Rendi. Di sana, di balik bayangan tiang listrik, seorang gadis mahasiswi sedang berjongkok memeluk lututnya. Napasnya pendek-pendek, wajahnya sembap oleh air mata, dan seluruh badannya bergetar hebat karena syok.
“Mas…” isak gadis itu begitu melihat siluet mereka. “Tolongin saya, Mas…”
Damar sempat ragu, dia melirik Rendi. “Ren…”
Rendi menoleh ke belakang, memastikan jarak aman dari kejaran makhluk di belakang mereka, lalu mengangguk cepat. “Ambil dia. Tapi gerak cepat, kita nggak punya waktu banyak!”
Damar langsung menghambur ke arah gadis itu, berjongkok di depannya. “Kamu bisa jalan? Bisa lari?” tanya Damar bertubi-tubi.
Gadis itu mendongak dengan tatapan nanar, lalu mengangguk lemah. “B-bisa…”
“Pegang tangan aing, ayo berdiri!” Damar menarik lengan gadis itu dengan paksa tapi hati-hati, membantunya menegakkan tubuh.
Tepat pada saat itu—
*RAAARGH!!*
Sebuah raungan parau yang memekakkan telinga menggema dari arah lorong yang baru saja mereka tinggali. Damar menoleh refleks. Sesosok makhluk bertubuh kurus kering sedang berlari kencang ke arah mereka dengan kecepatan yang sama sekali tidak wajar untuk ukuran manusia normal.
“LARI, SEKARANG!!” teriak Rendi lantang.
Mereka bertiga langsung memacu langkah membelah sisa koridor gang. Kini Damar tidak lagi lari sendirian, beban di pundaknya bertambah. Namun, alih-alih merasa tenang karena mendapat teman baru, rasa was-was di dadanya justru kian berlipat ganda.
Satu kesadaran baru menghantam kepala Damar dengan telak: di dunia yang baru ini, kalau dia sampai jatuh atau lengah sedikit saja, taruhannya bukan cuma kehilangan nyawa.
Dia bisa saja berakhir menjadi salah satu dari *mereka*.
Di kejauhan, raungan sirine kota masih terdengar lamat-lamat. Namun malam ini, kota yang padat itu tidak lagi terasa seperti tempat bernaung. Kota ini terasa seperti sebuah organisme raksasa yang sedang sekarat, membusuk dari dalam. Dan sialnya, Damar masih terjebak tepat di tengah-tengah proses pembusukan itu.