NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Pagi di hari berikutnya, saat langit masih diselimuti warna kelabu yang temaram, Luca sudah berdiri membeku di depan jendela kamarnya. Ponsel di genggamannya masih menyala, menampilkan isi pesan dari Brant yang dikirim sekitar lima belas menit yang lalu. Luca terus membaca pesan itu berulang kali dengan mata yang mulai memerah, seolah sedang menunggu sebuah instruksi tersembunyi di dalamnya.

​Bertepatan dengan embusan angin pagi yang dingin, suara bising pesawat mulai terdengar nyaring di telinga Luca. Dengan cepat ia mengalihkan pandangan ke langit. Tepat saat posisi pesawat terlihat jelas di atas, sejajar dengan arah pandangnya, Luca menarik napas panjang. Bibirnya bergetar mengucap untaian kalimat perpisahan yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

​"Sampai jumpa lagi, Kak Brant. Aku juga cinta Kak Brant... selalu," bisiknya. Setetes air mata langsung luruh membasahi pipinya tepat saat kata terakhir itu terucap.

​Pesawat yang ditumpangi Brant berlalu perlahan menembus awan pagi itu, meninggalkan Luca bersama sebuah pesan yang terus terngiang di benaknya: 'Pesawat gue berangkat paling pertama pagi ini, Ca. Lihat gue dari bawah sana ya, jangan nangis... gue cinta lu dan akan selalu begitu.'

​Setelah pesawat itu menghilang dan deru mesinnya tidak lagi terdengar, air mata Luca justru mengalir semakin deras. Ia melangkah gontai kembali ke tempat tidur, membaringkan diri, dan menyembunyikan suara tangisnya di balik bantal. Luca terus terisak sampai akhirnya kelelahan dan tertidur kembali dengan sisa kesedihan yang kentara. Hari itu adalah hari pertama bagi Luca dan Brant untuk menjalani hubungan yang terpisah jarak dan waktu—sebuah perjalanan panjang sebelum keduanya bisa kembali berpelukan seperti hari-hari biasanya.

​Pukul setengah tujuh pagi, sebelum aktivitas di luar rumah dimulai, Lea dan mamanya sudah duduk di meja makan. Ibu Lana menikmati sarapannya dengan tenang seperti biasa. Namun, tidak dengan Lea. Anak itu terlihat kebingungan sambil sesekali menatap penasaran ke arah pintu kamar kakaknya yang terlihat jelas dari meja makan.

​"Mah, Luca kok nggak turun sarapan? Padahal dia udah bangun loh," tanya Lea heran. Tadi pagi-pagi sekali, ia sempat mendengar bunyi berisik dari jendela kamar Luca yang khas saat dibuka. Lagipula, biasanya Luca akan langsung keluar kamar begitu mencium aroma masakan pagi mamanya.

​"Aku panggil ya, Mah," Lea baru saja beranjak dari kursinya hendak menuju kamar sang kakak, tetapi gerakan itu langsung dihentikan oleh mamanya.

​"Biarkan dulu kakakmu tidur lagi, dia sudah bangun sejak subuh tadi," ucap Nyonya Lana tenang.

​Sebenarnya, Nyonya Lana tahu betul apa yang terjadi pada putranya. Semalam, Luca sempat membawa ponselnya ke kamar sang mama karena Brant ingin berpamitan secara langsung via telepon untuk keberangkatannya subuh tadi. Brant meminta maaf karena tidak bisa datang langsung ke rumah mereka.

​"Makanlah dengan cepat, nanti kamu bisa terlambat ke sekolah," lanjut Nyonya Lana, mengalihkan perhatian.

​Lea hanya mengangguk patuh lalu melanjutkan sarapannya. Ia harus bergegas agar tidak terlambat masuk sekolah hari ini.

Dua hari sudah Brant menginjakan kali di London. Di belahan bumi yang lain itu, The City of London yang menjadi pusat distrik bisnis internasional tampak berdenyut sibuk. Di sinilah gedung pencakar langit perusahaan raksasa milik Tuan Lodrik berdiri kokoh.

​Brant dan ayahnya baru saja melangkah masuk ke dalam lobi gedung. Pagi itu, Brant terlihat sangat menawan dan berwibawa dalam balutan kemeja hitam yang dibalut setelan jas berwarna biru navy pas badan. Potongan jas itu mempertegas tubuh atletisnya, selaras dengan celana panjang yang ia kenakan. Aura kepemimpinan sekaligus ketampanannya seketika mengalihkan perhatian semua mata karyawan di lantai tersebut.

​Sengaja Brant memilih naik lewat tangga manual menuju ruangannya di lantai tiga, alih-alih menggunakan lift. Ia ingin memanfaatkan momen ini agar dirinya dan para karyawan bisa saling mengenal secara langsung. Begitu Brant melangkah masuk ke dalam ruang kantor pribadinya, kasak-kusuk kagum langsung riuh terdengar di antara para staf luar ruangan:

​"Mr. Lodrik’s son is impressive. You can already see his leadership potential," (Anak Tuan Lodrik luar biasa. Bakat kepemimpinannya sudah kelihatan jelas) puji salah satu staf pria.

​"He looks so young and handsome," (Dia terlihat sangat muda dan tampan) bisik seorang karyawan wanita dengan mata berbinar.

​"Yeah, I heard that handsome guy just finished his university degree recently," (Iya, si tampan itu kudengar baru saja menyelesaikan kuliahnya baru-baru ini) sahut karyawan wanita lainnya.

​"Well, the ladies will definitely be more excited to come to the office now," (Wah, kaum perempuan pasti bakal lebih semangat masuk kantor kalau begini) seloroh staf pria lain sambil terkekeh.

​Di dalam ruangan, sang calon pemimpin baru yang tengah menjadi bahan obrolan viral itu justru sedang duduk gelisah. Brant memperhatikan ayahnya yang masih berdiri di dekat pintu, memberikan beberapa instruksi terakhir kepada asisten pribadi Brant. Rasanya Brant ingin waktu cepat berlalu. Sejak tiba di London dua hari lalu, mereka hanya sempat bertukar kabar singkat di sela kesibukan. Brant sudah sangat merindukan Luca.

​Begitu Tuan Lodrik keluar dari ruangan, Brant langsung menyambar ponselnya, mencari nama Luca, dan menekan ikon video call.

​Begitu panggilan tersambung, wajah manis Luca langsung memenuhi layar dengan senyum lebar yang sangat riang.

​"Kak Brant!" seru Luca nyaring dari seberang sana. "Itu lagi di mana? Pakai jas... cieee, udah jadi bos ya ini? Hihihi..." Pertanyaan acak yang menggemaskan itu meluncur begitu saja dari bibir Luca.

​Brant tersenyum tipis. Rasa gemas yang membuncah dan keinginan untuk menjewer hidung Luca terpaksa tertahan oleh dinginnya layar ponsel.

​"Gue lagi di kantor, Ca. Baru mau mulai kerja. Doain aja biar gue secepatnya resmi jadi bos," jawab Brant sambil menyandarkan bahunya ke kursi kerja yang empuk. Ia melirik sekilas ke arah jam di ponselnya yang masih menyetel zona waktu Indonesia. "Jam segini sudah nongkrong di kamar. Udah makan belum lu?"

​"Sudah dong! Aku lagi di bawah tadi sama Mama, terus pas lihat Kak Brant telepon, aku langsung cepat-cepat lari ke kamar," jawab Luca penuh antusias.

​Brant mengernyitkan alisnya heran. "Kenapa musti lari ke kamar segala? Tinggal bilang aja ke Mama kalau itu telepon dari gue."

​Luca yang melihat raut kebingungan di wajah kekasihnya tiba-tiba ikut tertegun. Ia mengerjapkan matanya, menyadari kebodohannya sendiri. "Iya juga ya, Kak? Kan Mama udah tahu Kak Brant pacar aku," Luca menyengir kuda, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dari balik layar. " kenapa aku malu ya?"

​Kata 'pacar' yang diucapkan dengan suara cempreng Luca terdengar begitu nyaring memantul dari speaker ponsel Brant. Seketika, Brant tersentak dan tersadar dari dunianya. Ia menoleh ke samping dan mendapati asisten pribadinya masih berdiri di sana, pura-pura tidak mendengar namun dengan senyum profesional yang tertahan. Pria itu adalah asisten yang ditugaskan ayahnya untuk memberikan bimbingan awal bagi Brant di perusahaan ini.

​Brant berdeham pelan untuk menguasai diri, lalu memberi isyarat tangan agar sang asisten duduk terlebih dahulu di kursi hadapannya.

​"Ca, nanti gue telepon lagi ya. Gue harus kerja dulu," ucap Brant dengan nada suara yang dikondisikan seprofesional mungkin.

" Ok siap bos," ​jawab Luca dengan senyum lebarnya. Namun Sebelum Brant sempat memutuskan sambungan, Luca buru-buru bicara dengan kalimat super cepat. "Kak! Mau bilang, boba langgananku lagi promo beli dua gratis satu! Dadaaaah Kak Brant, mmmwuaaah!"

​Pip. Sambungan terputus.

​Brant langsung memejamkan mata demi menyembunyikan senyum malu sekaligus salah tingkah akibat kecupan jauh dari Luca barusan. Dan sebagai pria yang peka, Brant sudah sangat paham arti "kode boba" tersebut. Jemarinya dengan cekatan membuka aplikasi perbankan digital, mengetikkan nominal angka yang cukup untuk uang jajan boba Luca selama seminggu penuh, lalu menekan tombol send.

​Status: Transfer Terkirim.

​Melihat atasan mudanya sudah kembali tenang, sang asisten melangkah mendekat dengan sopan untuk memberikan pengarahan awal terkait tugas baru Brant sebagai Managing Director.

​"Tuan Brant, perkenalkan, saya Leo. Asisten pribadi Anda yang dipercayakan oleh Tuan Lodrik untuk mendampingi Anda di sini," sapa Leo dengan senyum ramah dan sikap yang sangat respek. "Saya dengar Anda sudah sangat siap untuk memulai. Mohon izin, ini adalah beberapa dokumen penting terkait analisis pasar dan laporan kuartal perusahaan yang perlu Anda periksa dan koreksi."

​Leo menyerahkan beberapa map kulit berisi dokumen cetak, sekaligus sebuah iPad Pro kantor yang sudah terisi data digital terbaru. Dia menjelaskan fungsi dan rincian tugas itu satu per satu dengan artikulasi yang jelas dan ramah.

​Mendengar penjelasan itu, Brant langsung menangkap poin-poin pentingnya dengan cepat. Pelatihan intensif (training) selama seminggu penuh di perusahaan ayahnya saat masih di Indonesia benar-benar tidak sia-sia.

​"Baiklah, saya mengerti. Saya akan segera memeriksanya. Terima kasih, Leo," ucap Brant sopan, matanya kini sudah terfokus penuh pada tumpukan dokumen di hadapannya.

​"Sama-sama, Tuan. Silakan panggil saya lewat interkom di meja Anda jika memerlukan bantuan apa pun. Ruangan saya tepat berada di depan kamar kerja Anda. Saya permisi dulu," pamit Leo, lalu membungkuk hormat sebelum berjalan keluar meninggalkan ruangan dengan tenang.

​Kini ruangan menjadi hening. Brant kembali memfokuskan seluruh atensinya pada pekerjaan. Jemarinya bergerak lincah di atas layar iPad Pro, meneliti baris demi baris angka dan target perusahaan dengan sangat teliti.

​Di sela pekerjaannya, ia sempat menarik napas panjang, menatap hamparan pemandangan kota London di balik jendela kaca besar ruangannya yang megah.

​"Semuanya demi masa depan," gumam Brant pelan penuh tekad.

​Dengan bayangan senyum Luca yang menjadi bahan bakarnya, Brant pun mulai menenggelamkan diri ke dalam tumpukan tugasnya dengan fokus dan konsentrasi penuh.

Di luar ruangan utama, Leo baru saja memulai pekerjaannya di balik meja kerja ruang privatnya. Sebagai asisten pribadi seorang Managing Director, Ia bertanggung jawab menyusun jadwal, menyaring laporan divisi keuangan, hingga menganalisis data pasar sebelum diserahkan kepada Brant.

​Konsentrasinya mendadak buyar saat pintu ruangannya mendadak terbuka dengan cepat tanpa ketukan. Dua orang wanita masuk dengan tergesa-gesa. Leo tidak marah, ia hanya bisa menarik napas panjang karena sudah terbiasa dengan kelakuan kedua temannya itu. Mereka bertiga sangat akrab karena sama-sama pekerja yang direkrut dari perusahaan Tuan Lodrik di Indonesia untuk didelegasikan ke kantor London.

​"Ada apa sih?" ucap Leo malas, matanya tetap fokus membaca jurnal analisis bisnis di tangannya.

​Kedua wanita itu saling menatap, melempar senyum jahil yang penuh arti.

​"Dia tipemu banget kan? Uhhh, akhirnya ya..." goda salah satu wanita bernama Dea, yang kini dengan santai duduk di pinggir meja kerja Leo.

​Leo hanya menggelengkan kepala dan tersenyum habis pikir. Di jam kerja sepadat ini, teman-temannya sengaja datang hanya untuk membicarakan hal seperti itu.

​"Sumpah, dari lantai satu sampai lantai tiga semuanya lagi gibah soal bos muda baru kita itu. Tapi emang gila sih visualnya, nggak main-main!" sambung teman wanitanya yang satu lagi, Jesika, ikut menimpali dengan antusias.

​Leo akhirnya meletakkan dokumennya. Jujur, kehadiran mereka berdua mulai mengganggu fokusnya.

​"Balik sana ke meja kalian, ini masih jam kerja. Tuan Brant bisa saja keluar dan mendapati kalian berkeliaran di sini," ucap Leo dengan nada memperingatkan namun ramah. Peringatan itu serius, karena Brant bisa saja tiba-tiba menekan interkom atau berjalan langsung ke ruangannya untuk menanyakan tugas.

​"Iya, iya, kita pergi. Tapi nanti kasih tahu kita ya gimana aslinya sifat Mr. Brant itu. Siapa tahu dia lagi cari cewek juga di sini," ucap Dea sebelum beranjak berdiri dari meja Leo. "Ayo, Jes, balik."

​Kedua wanita itu akhirnya melangkah pergi, meninggalkan Leo yang kini bisa kembali menghela napas lega dan melanjutkan pekerjaannya. Namun, baru semenit suasana tenang, suara nyaring interkom di samping mejanya berbunyi. Benar saja, itu dari Brant, meminta Leo untuk segera datang ke ruangannya saat itu juga.

​Ada senyum tipis yang tulus terukir di sudut bibir Leo saat ia bangkit berdiri dan melangkah saat menuju ruangan Brant.

​Leo adalah pemuda yang tidak kalah mengagumkan. Di usianya yang masih 21 tahun, pria tampan, ramah, dan berwajah lembut ini merupakan aset berharga perusahaan. Usianya lebih muda setahun dari Brant tapi Leo adalah lulusan dini (early graduation) yang berhasil menyelesaikan kuliah S1-nya dalam waktu singkat dengan predikat Summa Cum Laude. Karena kejeniusannya dalam menganalisis pergerakan saham dan bisnis itulah, Tuan Lodrik sengaja memboyongnya langsung dari Indonesia ke London untuk menjadi asisten sekaligus sekretaris pribadi yang membimbing masa-masa awal Brant memimpin di perusahaan ini.

​Halo semuanya!!! 🌟

Untuk cerita bagian London, ada beberapa karakter baru yang muncul, ya! Dengan bertambahnya pemeran, pasti kejadian-kejadian seru ke depannya akan semakin bertambah. Ikuti terus kelanjutan kisah Brant dan Luca, ya!

​Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk membaca bab ini. 🙏✨

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!