NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Simfoni di Balik Uap

Pukul delapan malam di Distrik 1 Paris biasanya adalah waktu di mana kota ini mulai memamerkan sisi romantisnya yang paling memabukkan. Namun, bagi Kiandra Zanitha, romansa adalah hal terakhir yang ada di kepalanya saat ini.

Di dalam dapur Apartemen Rue de Rivoli yang mewah, ia sedang terlibat dalam pertempuran hidup dan mati melawan sepanci kaldu sapi.

Uap panas mengepul dari panci stainless steel besar, membuat udara di dapur yang biasanya sejuk menjadi lembap dan pengap. Rambut hitam sebahu Kiandra yang biasanya terikat rapi, kini mulai berantakan.

Beberapa helai anak rambut menempel di dahinya yang berkeringat, sementara apron putihnya sudah ternoda oleh percikan lemak.

"Kenapa susah banget sih bikin bening? Dasar Enzo berengsek!" umpat Kiandra pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara gemericik air mendidih.

Ia mengaduk kaldu itu dengan gerakan kasar, seolah-olah sedang melampiaskan dendam kesumatnya pada tumpukan tulang sapi di dasar panci.

Di kepalanya, bayangan wajah dingin Enzo di kampus tadi siang terus berputar seperti kaset rusak. Pria itu membuang sausnya seolah itu adalah sampah beracun, dan sekarang, ia dipaksa mengerjakan tugas tambahan yang mustahil ini di rumah.

"Kalau besok ini nggak bening, dia pasti bakal punya alasan lagi buat bikin aku malu di depan Diya dan Mei Ling," gumamnya merana.

Kiandra menatap nanar ke arah raft—campuran putih telur dan daging cincang yang seharusnya menyaring kotoran kaldu—yang justru tampak hancur dan tidak menyatu. Ia merasa ingin menangis. Lelah fisik karena jadwal kuliah yang padat ditambah tekanan mental dari teman satu kontrakannya sendiri benar-benar menguras energinya hingga ke titik nol.

"Mengumpat tidak akan membuat kaldumu jernih, Piccola."

Suara bariton yang berat dan dalam itu muncul tiba-tiba dari balik bayangan lorong, memecah keheningan dapur dengan otoritas yang begitu pekat.

Kiandra tersentak hebat. Ia nyaris menjatuhkan sendok besar di tangannya ke dalam panci panas. Dengan jantung yang berdegup brutal, ia menoleh dan mendapati Enzo Romano sedang bersandar di ambang pintu dapur.

Penampilan pria itu kali ini benar-benar tidak membantu kewarasan Kiandra. Enzo hanya mengenakan kemeja putih yang kancingnya terbuka separuh. Tanpa dasi, tanpa jas, dan lengan kemejanya digulung hingga siku, memamerkan lengan bawahnya yang berurat dan maskulin.

"Kamu! Gara-gara tugas tambahan darimu, aku jadi tidak bisa istirahat!" ketus Kiandra, mencoba menutupi rasa gugupnya dengan amarah yang dibuat-buat.

Enzo tidak membalas dengan kata-kata tajam. Ia justru melangkah mendekat, masuk ke dalam teritorial dapur yang kini terasa sangat sempit karena kehadirannya. Aroma khas maskulin Enzo—perpaduan antara sandalwood, tembakau tipis, dan kesegaran dingin angin Paris—mulai mengintimidasi ruang napas Kiandra.

Pria itu berhenti tepat di belakang Kiandra. Ia tidak menyentuh, namun panas tubuhnya yang memancar terasa begitu nyata di punggung Kiandra, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri tegak.

Enzo mencondongkan tubuhnya, melihat ke dalam panci dengan mata hazel yang menyipit analitis. "Terlalu panas. Kamu menyiksa proteinnya, bukan mengekstraknya. Kamu memasak dengan kemarahan, bukan dengan rasa."

"Aku bukan robot yang tidak punya perasaan, Monsieur!" balas Kiandra, meski suaranya mulai melemah saat Enzo semakin merapat.

Tanpa peringatan, Enzo meletakkan tangan kanannya di atas tangan Kiandra yang masih memegang sendok besar.

Kiandra menahan napas. Ia merasa seolah-olah ada aliran listrik ribuan volt yang merambat dari punggung tangannya, naik ke lengan, dan meledak di dadanya. Ia membeku, tidak berani bergerak satu inci pun.

Enzo tidak berhenti di situ. Ia menempelkan tubuhnya sepenuhnya di punggung Kiandra, mengunci gadis itu di antara meja marmer dan dada bidangnya yang kokoh. Kiandra bisa merasakan detak jantung Enzo yang stabil di punggungnya, sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang sudah seperti genderang perang.

"Rasakan ritmenya. Jangan dilawan. Ikuti arus airnya," bisik Enzo tepat di daun telinga Kiandra.

Hembusan napas hangat pria itu menggelitik leher Kiandra, menciptakan desir aneh yang membuatnya ingin lemas seketika. Enzo mulai membimbing gerakan tangan Kiandra, mengaduk kaldu itu dengan gerakan yang sangat pelan, melingkar, dan penuh perasaan.

Kiandra memejamkan mata sejenak. Di tengah uap panas dan aroma kaldu, ia hanya bisa merasakan keberadaan Enzo yang begitu dominan. Setiap gerakan tangan mereka yang menyatu terasa seperti sebuah tarian bisu yang sangat intim.

"Pelan... biarkan kotorannya naik sendiri ke permukaan," suara Enzo merendah, berubah menjadi bisikan yang sangat provokatif.

Tangan kiri Enzo yang tadinya bebas, kini merayap perlahan ke pinggang Kiandra. Jemarinya yang panjang mencengkeram pinggang ramping itu, menarik tubuh kecil Kiandra agar lebih menempel pada tubuhnya.

"Enzo... ini... ini tidak profesional," suara Kiandra parau, nyaris habis. Ia berusaha mencari sisa-sisa logikanya, namun sentuhan Enzo di pinggangnya benar-benar menghancurkan segalanya.

"Di kampus, aku dosenmu. Di sini? Aku adalah pemilik apartemen yang tidak suka melihat penyewanya merusak peralatan masak mahal," dusta Enzo dengan nada menggoda yang sangat kental.

Enzo memutar tubuh Kiandra dengan gerakan halus namun pasti, hingga kini mereka berdiri berhadapan. Ia memojokkan gadis itu, mengurung dengan kedua lengannya yang bertumpu pada meja marmer di sisi tubuh Kiandra.

Kiandra mendongak, terpaksa menatap mata hazel yang kini berkilau penuh intensitas di bawah lampu dapur yang temaram.

Di jarak sedekat ini, ia bisa melihat setiap detail wajah Enzo—rahang tegasnya yang dicukur rapi, bibir tipisnya yang selalu menyunggingkan senyum miring, dan tatapan lapar yang seolah ingin menelan Kiandra bulat-bulat.

Enzo mengangkat tangan kanannya, ibu jarinya mengusap noda tepung di pipi Kiandra dengan gerakan yang sangat lembut, namun terasa begitu posesif.

"Jangan biarkan bunga dari pria pirang itu mengalihkan fokusmu dari pisau, Piccola," ucap Enzo. Suaranya mengandung nada peringatan yang dibalut dengan kelembutan yang mematikan.

Kiandra menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Apa kamu... kamu cemburu?"

Enzo menyeringai miring, sebuah ekspresi yang terlihat sangat berbahaya sekaligus memikat. Ia mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Napasnya yang beraroma mint dan maskulin membelai bibir Kiandra, membuat gadis itu merasa pening karena sensasi yang terlalu kuat.

"Aku tidak cemburu pada benda mati yang akan layu dalam tiga hari," bisik Enzo, matanya terkunci pada bibir merah Kiandra yang sedikit terbuka.

"Tapi aku benci jika ada sesuatu yang mengganggu 'konsentrasimu' di jam pelajaranku. Fokusmu hanya boleh ada padaku, dan pada apa yang aku ajarkan."

Enzo merunduk lebih dalam. Bibirnya bergerak maju, berhenti tepat sebelum menyentuh bibir Kiandra. Jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa milimeter—sebuah ruang hampa yang dipenuhi oleh ketegangan seksual yang nyaris meledak.

Kiandra refleks menutup matanya, tangannya mengepal kuat. Ia menunggu ciuman itu datang, menunggu Enzo menghancurkan batas terakhir di antara mereka.

Namun, Enzo berhenti.

Ia menghirup aroma tubuh Kiandra dalam-dalam, lalu menarik wajahnya mundur sedikit, memberikan ruang bagi oksigen untuk kembali masuk ke paru-paru Kiandra yang sudah sesak.

"Selesaikan tugasmu. Kalau besok kaldumu masih keruh, aku akan memberimu hukuman yang lebih... privat," bisik Enzo dengan nada yang sangat menjanjikan.

Pria itu melepaskan kurungannya, memberikan senyum nakal yang penuh kemenangan sebelum berbalik dan melangkah pergi menuju kamarnya. Suara langkah kakinya di lantai terdengar sangat santai, seolah ia tidak baru saja membuat dunia seseorang jungkir balik.

Kiandra terpaku di tempatnya berdiri. Wajahnya panas hebat, jantungnya masih berdegup tak karuan. Ia menyentuh bibirnya yang masih terasa panas karena hembusan napas Enzo tadi, sementara otaknya benar-benar korslet.

"Sialan, aku beneran bakal gagal fokus kalau setiap malam dia begini!" rutuknya dalam hati.

Ia kembali menatap panci kaldu di depannya, mencoba memfokuskan diri pada tugasnya. Namun, pikirannya sudah melayang jauh, terjebak pada sentuhan tangan Enzo di pinggangnya dan tatapan hazel yang seolah menjanjikan badai di malam-malam berikutnya.

Di kamar sebelah, sayup-sayup terdengar suara tawa rendah Enzo yang penuh kemenangan, seolah ia tahu persis bahwa ia baru saja memenangkan satu babak lagi dalam permainan kucing dan tikus ini.

Kiandra menghela napas panjang, memegang dadanya yang masih bergetar. Paris malam ini terasa jauh lebih panas daripada yang seharusnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!