NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27: Di Antara Kebahagiaan dan Keputusan Besar

Kabar kehamilan itu membawa suasana di rumah besar Arkan berubah sepenuhnya. Tidak lagi hanya diisi kehangatan dua sejoli, namun kini terasa ada kehadiran nyawa ketiga yang membuat setiap sudut ruangan seolah berdenyut penuh harapan. Sejak pagi itu, saat dua garis merah memperlihatkan kebenaran yang ditunggu-tunggu, dunia Arkan dan Nara berputar pada poros yang baru—poros tanggung jawab yang lebih besar, kasih sayang yang makin mendalam, serta masa depan yang kini terasa semakin nyata di hadapan mata.

Bagi Arkan, kabar ini bukan sekadar berita gembira, melainkan anugerah yang terasa hampir tak terbayangkan. Dulu, saat hidupnya sempat terpuruk dan ia merasa kehilangan segalanya, ia tak pernah membayangkan akan sampai di titik ini: memiliki pendamping hidup yang setia dan kuat, serta akan segera menjadi ayah dari buah cinta yang sah dan dirindukan. Setiap kali menatap Nara, tatapan Arkan kini bukan lagi sekadar rasa cinta, melainkan bercampur kekaguman luar biasa dan rasa hormat yang mendalam. Wanita itu telah menempuh jalan panjang yang berliku, menyeberangi banyak rintangan dan kesulitan, namun tetap berdiri tegak, bersinar, dan kini menjadi wadah kehidupan baru yang akan meneruskan jejak mereka.

Hari-hari pertama setelah mengetahui kabar itu berlalu dalam irama yang tenang namun penuh perhatian luar biasa. Arkan seolah mengubah seluruh prioritas hidupnya. Pekerjaan yang dulu menjadi tumpuan dan alasan keberadaannya, kini terasa hanya sebagai sarana untuk menjamin kehidupan nyawa-nyawa yang dicintainya itu. Ia memanggil dokter kandungan kepercayaan yang paling berpengalaman, bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali dalam waktu singkat, hanya untuk memastikan bahwa segala hal berjalan sebagaimana mestinya. Ia ingin tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan Nara, makanan apa yang paling baik dikonsumsi, aktivitas apa yang harus dibatasi, hingga detail-detail kecil yang mungkin luput dari perhatian orang lain.

Suatu sore, di teras belakang rumah yang menghadap ke taman luas, mereka duduk berdua di kursi santai. Angin sore berhembus lembut, membelai rambut Nara yang kini terlihat makin berkilau seiring perubahan yang terjadi dalam tubuhnya. Di atas meja kecil di antara mereka, terhampar berkas-berkas hasil pemeriksaan kesehatan, jadwal kunjungan berikutnya, serta catatan-catatan kecil yang ditulis tangan oleh Arkan sendiri—hal-hal yang harus diperhatikan demi kesehatan istri dan calon anaknya.

Nara menatap wajah suaminya yang tampak serius namun lembut saat membaca catatan itu. Ia tersenyum kecil, hatinya terasa hangat namun juga ada sedikit rasa penasaran. "Mas, kamu seolah sedang menyiapkan rencana pertahanan negara saja," candanya pelan, memecah keheningan sore itu. "Padahal baru saja memasuki minggu-minggu awal. Perutku saja belum terlihat berubah sedikit pun."

Arkan mendongak, lalu tersenyum sambil meletakkan pulpennya. Ia meraih tangan Nara, menggenggamnya erat seolah tak ingin melepaskan. "Bagiku, ini jauh lebih penting daripada urusan negara atau perusahaan, Sayang. Kalian berdua adalah segalanya. Aku tidak ingin ada satu hal pun yang terlewat, tidak ada satu risiko pun yang tak terduga. Setelah apa yang kita lalui bersama, aku ingin memastikan langkah selanjutnya berjalan aman dan tenang."

Namun di balik ketenangan dan kebahagiaan yang terlihat itu, Arkan sebenarnya sedang memikul beban pemikiran yang cukup berat. Di kepalanya, berbagai pertimbangan saling bersahutan, memikirkan apa yang terbaik bagi Nara dan anak mereka kelak. Ia teringat bagaimana dunia luar bekerja—bagaimana pandangan orang, bagaimana sorotan publik, bagaimana cara orang menilai seseorang sering kali bukan berdasarkan siapa dirinya, melainkan berdasarkan siapa orang di sebelahnya. Selama ini, Arkan terlalu sering melihat bagaimana posisi dan kekuasaan bisa mengubah cara pandang orang terhadap seseorang. Jika Nara langsung diketahui sebagai istri pemilik Adhitama Group, semua orang akan bersikap hormat, namun rasa hormat itu mungkin lebih banyak ditujukan pada nama besar dan kekayaan, bukan pada kepribadian, kecerdasan, dan kemampuan Nara yang sesungguhnya.

Ia juga mengingat latar belakang Nara, seorang gadis desa yang tumbuh dengan kesederhanaan, yang pernah merasakan pahitnya diremehkan dan dipandang sebelah mata. Arkan ingin sekali hal itu tidak pernah terulang lagi, namun di sisi lain, ia juga ingin Nara tumbuh menjadi wanita yang dihormati karena kemampuannya sendiri, bukan sekadar sebagai pelengkap dari dirinya. Ia ingin Nara menemukan tempatnya sendiri, membuktikan kepada dunia bahwa kedudukan atau asal-usul bukanlah penentu utama nilai seseorang.

Selain itu, ada hal lain yang membuat Arkan berpikir panjang. Di dunia bisnis yang ia geluti, persaingan sering kali tak sehat. Ada banyak pihak yang tidak menyukai keberhasilannya, ada yang menaruh dendam, atau sekadar ingin mencari celah untuk menjatuhkannya. Selama ini, mereka menyerang melalui bisnis, melalui argumen, atau persaingan yang wajar maupun tidak wajar. Namun jika diketahui bahwa kini ia memiliki istri yang sedang mengandung pewaris tunggal, ada kekhawatiran yang muncul: Nara bisa menjadi sasaran empuk, baik melalui gangguan, fitnah, maupun hal-hal yang lebih berbahaya. Keamanan menjadi prioritas tertinggi di benak Arkan, dan ia merasa bahwa menjaga rahasia tertentu adalah salah satu cara terbaik untuk melindungi mereka di awal-awal masa yang rentan ini.

Setelah terdiam cukup lama, Arkan akhirnya menghela napas pelan, lalu menatap lekat-lekat wajah istrinya. "Nara," mulainya dengan nada yang tenang namun serius, "ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Sesuatu yang sudah aku pertimbangkan matang-matang sejak kabar ini aku ketahui, dan aku ingin mendengar pendapatmu juga."

Nara sedikit memiringkan kepalanya, menatap wajah suaminya dengan penuh perhatian. "Apa itu, Mas? Katakan saja. Kita selalu memutuskan hal-hal penting bersama, bukan?"

"Benar," jawab Arkan. "Jadi begini... Kita sudah sah menjadi suami istri, dan sebentar lagi kita akan memiliki anak. Kabar ini tentu merupakan hal terindah yang bisa terjadi. Namun, aku berpikir... mungkin ada baiknya jika untuk sementara waktu, kita tidak mengumumkan status pernikahan kita secara luas, serta menunda pemberitahuan tentang kehamilanmu kepada lingkungan kantor maupun masyarakat umum."

Kalimat itu menggantung di udara sejenak. Nara terkejut, matanya sedikit membelalak, tak menyangka akan mendengar hal demikian. "Tidak mengumumkannya, Mas? Bukankah ini kabar bahagia? Bukankah seharusnya orang-orang tahu agar mereka turut bersukacita, terutama orang-orang terdekat di lingkungan kerjamu?"

Arkan mengangguk pelan, lalu menjelaskan dengan sabar, memastikan setiap kata yang keluar dapat dipahami maknanya secara utuh. "Memang benar, ini kabar bahagia, dan orang-orang terdekat—seperti Pak Wijaya, kedua orang tuamu, serta keluargaku—sudah dan akan tetap mengetahui kebenaran ini. Namun, untuk lingkungan yang lebih luas, terutama di lingkungan kerja Adhitama Group, aku ingin hal ini tetap menjadi rahasia di antara kita untuk sementara waktu. Ada beberapa alasan yang mendasarinya."

Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya.

"Pertama, aku ingin kamu bisa berjalan di atas kakimu sendiri di sana. Aku berencana mengajakmu bekerja di kantor, mengambil bagian dalam pekerjaan yang selama ini mungkin terasa asing bagimu. Jika orang-orang tahu kamu adalah istriku, maka segala sesuatu yang kamu lakukan akan dinilai lewat kacamata yang berbeda. Pujian yang kamu terima mungkin bukan karena hasil kerjamu, melainkan karena kedudukanku. Kesalahan yang mungkin terjadi—karena kita semua manusia—bisa jadi akan dibesar-besarkan atau ditafsirkan lain. Aku ingin kamu membuktikan bahwa kecerdasan, ketekunan, dan kemampuanmu adalah hal yang utama. Aku ingin orang menghormati Nara sebagai individu, bukan sekadar sebagai Nyonya Adhitama."

Arkan menggenggam tangan istrinya lebih erat lagi.

"Kedua, ini demi keamanan dan ketenangan kita berdua. Dunia bisnis tempatku bergerak tidak selalu ramah. Ada banyak pihak yang mungkin tidak senang dengan kemajuan kita. Jika diketahui bahwa ada nyawa baru yang sedang tumbuh dalam kandunganmu, ada kemungkinan hal itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk mencari celah kelemahan kita. Selama rahasia ini terjaga, kita memiliki waktu yang tenang untuk menyiapkan segalanya, menjaga kesehatanmu, serta mempersiapkan langkah-langkah ke depan tanpa gangguan yang tidak perlu."

"Dan ketiga," tambahnya lembut, matanya menatap lurus ke arah perut Nara yang masih rata namun penuh harapan itu, "aku ingin masa awal kehamilan ini berjalan dengan damai, hanya milik kita berdua, sebelum sorotan dan ekspektasi orang lain mulai datang bertubi-tubi. Aku ingin kamu merasakan setiap detik keindahan ini dengan hati yang lapang, tanpa beban pandangan orang lain yang kadang membuat cemas."

Nara mendengarkan dengan saksama. Ia merenungi setiap alasan yang disampaikan Arkan, mencoba menempatkan dirinya dalam sudut pandang suaminya. Di awal, rasa sedikit bingung itu masih ada—bagaimana mungkin hal yang begitu indah harus disembunyikan? Namun seiring berjalannya penjelasan itu, ia mulai memahami niat tulus di balik pemikiran Arkan. Ia teringat kembali masa-masa awal kedatangannya di kota ini, saat ia sering dipandang rendah hanya karena latar belakangnya yang sederhana. Ia tahu betapa beratnya dinilai bukan berdasarkan diri sendiri.

Ia juga sadar betapa besar rasa khawatir Arkan terhadap keselamatan mereka. Bukan tanpa alasan suaminya itu begitu berhati-hati; pengalaman masa lalu mengajarkan mereka bahwa bahaya bisa datang dari arah yang tak terduga.

"Jadi..." suara Nara terdengar pelan namun mantap saat ia mulai berbicara kembali, "Maksudmu, aku akan masuk bekerja di kantormu, tapi di sana aku hanya akan dikenal sebagai karyawan biasa. Tidak ada yang tahu kita suami istri, tidak ada yang tahu tentang anak ini?"

"Begitulah kira-kira maksudku," jawab Arkan. "Di luar sana, di lingkungan kantor, kita akan bersikap profesional sebagaimana seharusnya seorang atasan dan bawahan. Aku akan bersikap tegas, mungkin terlihat dingin, seperti yang biasa aku lakukan pada semua orang di sana. Tujuannya bukan untuk menjauh darimu, melainkan untuk melindungi kita semua. Namun di sini, di dalam rumah ini, di antara kita berdua, semuanya tetap sama—bahkan jauh lebih indah dari sebelumnya."

Ia mengangkat tangan Nara, lalu mencium punggungnya dengan penuh rasa hormat.

"Aku tahu ini bukan keputusan yang mudah, Sayang. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagimu. Kamu mungkin akan menghadapi pandangan yang aneh, pertanyaan yang tidak enak, atau kesalahpahaman yang muncul karena ketidaktahuan mereka. Tapi aku percaya padamu. Aku percaya kekuatan hatimu, kecerdasanmu, dan ketenanganmu. Kamu adalah wanita yang luar biasa, Nara. Aku ingin dunia melihat itu semua perlahan-lahan, hingga saat yang tepat tiba, dan saat itu tiba, kebenaran itu akan bersinar jauh lebih terang dari apa pun."

Nara menunduk sejenak, membiarkan angin sore membelai wajahnya. Ia memikirkan apa yang mungkin terjadi ke depannya. Memikirkan harus bekerja di tempat di mana suaminya adalah pemimpin tertinggi, namun hubungan mereka harus tetap tersembunyi. Memikirkan bagaimana ia akan menghadapi berbagai kemungkinan yang datang—mulai dari hal-hal sepele hingga hal yang mungkin berat. Namun di dalam hatinya, ia merasa yakin. Ia percaya pada Arkan, dan ia percaya bahwa ujian ini—jika memang bisa disebut ujian—akan justru memperkokoh fondasi rumah tangga mereka serta mengajarkan mereka hal-hal baru yang berharga.

Ia mengangkat wajahnya kembali, dan di sudut bibirnya terukir senyum yang tenang dan tegas.

"Kalau itu yang kamu anggap terbaik bagi kita dan bagi anak ini, Mas... aku setuju," ucapnya mantap. "Aku mengerti maksudmu. Aku juga ingin membuktikan bahwa aku bisa berdiri tegak di sana dengan kemampuanku sendiri, bukan karena bayang-bayang namamu. Aku siap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Selama kita saling percaya dan saling mendukung di sini, di dalam hati kita, aku yakin semuanya akan baik-baik saja."

Wajah Arkan tampak lega luar biasa. Rasa khawatir yang sempat ada di hatinya seketika lenyap digantikan rasa kagum yang makin mendalam. Ia tahu keputusan ini tidak ringan, namun dukungan Nara membuatnya merasa bahwa langkah ini adalah langkah yang benar.

"Terima kasih, Sayang," bisiknya dengan suara bergetar karena haru. "Terima kasih telah selalu mengerti dan mendukungku. Percayalah, setiap langkah yang kita ambil ini, setiap hal yang kita sembunyikan untuk sementara, semuanya demi masa depan yang lebih indah dan kokoh bagi keluarga kita kelak."

Sore itu, di teras rumah yang damai itu, mereka mulai menyusun rencana lebih rinci. Mulai dari kapan Nara akan resmi masuk bekerja, posisi apa yang akan dijabatnya—sesuai kemampuan namun tetap memungkinkannya berkembang—serta bagaimana cara mereka menjaga kerahasiaan ini agar tidak bocor sebelum waktunya. Mereka juga membahas hal-hal yang harus diperhatikan Nara agar kehamilannya tidak terlihat terlalu cepat oleh orang lain di lingkungan kerja.

Malam harinya, sebelum tidur, Arkan kembali melakukan kebiasaannya yang baru: berbicara dengan lembut di dekat perut Nara yang masih rata itu. Suaranya terdengar penuh janji dan harapan.

"Nak..." bisiknya pelan, matanya menatap lekat-lekat tempat di mana kehidupan itu tumbuh perlahan. "Ayah dan Ibu punya rencana indah untuk kita semua. Untuk sementara waktu, mungkin Ibu akan menghadapi hal-hal yang tidak mudah di luar sana. Tapi percayalah, itu semua agar kelak saat dunia mengenal kita sepenuhnya, mereka tahu betapa hebatnya Ibumu, dan betapa mulianya kehadiranmu di dunia ini. Bersabarlah dan kuatlah, ya. Ayah akan selalu ada di dekat kalian, dalam diam maupun terang."

Nara berbaring di sampingnya, mendengarkan dengan hati yang penuh. Ia memejamkan mata, merasakan ketenangan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Keputusan besar telah diambil, jalan baru telah terbuka. Ia belum tahu persis apa yang akan mereka temui di sepanjang jalan itu, namun ia tahu satu hal pasti: apa pun yang terjadi, mereka akan melaluinya bersama.

Babak baru ini, yang dimulai dengan kebahagiaan namun disertai keputusan untuk menyimpan rahasia besar, perlahan membuka jalan menuju peristiwa-peristiwa yang akan menguji ketegaran mereka. Kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini adalah fondasi yang kuat, namun tantangan di depan sana—mulai dari pandangan orang, kesalahpahaman, hingga fitnah yang tak terduga—siap menanti di tikungan jalan.

Namun malam itu, di dalam pelukan hangat Arkan, hal itu belum menjadi beban. Yang ada hanyalah rasa syukur, cinta yang mendalam, dan tekad bulat untuk menjaga apa yang telah mereka miliki, serta mempersiapkan kedatangan anggota keluarga yang akan mengubah segalanya selamanya.

Keesokan harinya, persiapan pun dimulai secara nyata. Surat penunjukan tugas disiapkan, jadwal kerja disusun agar tetap aman bagi kesehatan Nara, dan segala hal diatur sedemikian rupa agar rencana rahasia ini dapat berjalan sebagaimana mestinya. Arkan memastikan bahwa hanya sedikit orang kepercayaan tertinggi yang mengetahui kebenaran, agar perlindungan dapat berjalan maksimal.

Bagi Nara, ini adalah awal perjalanan baru yang unik: menjadi istri dan calon ibu yang bahagia, namun harus bersiap menampung pandangan dunia yang mungkin tidak selalu ramah, sampai saat yang tepat tiba untuk membuka tirai kebenaran itu. Dan bagi Arkan, ini adalah masa di mana ia harus menjadi pemimpin yang tegas di kantor sekaligus pelindung paling setia di rumah—menyeimbangkan dua peran yang berat namun penuh makna.

Semua siap. Langkah kaki dua nyawa itu perlahan bersiap melangkah keluar, menuju dunia yang belum tahu apa yang sedang bersiap hadir di tengahnya.

 

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!