Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.
Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.
apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16.
Bela hanya menatap kepergian mobil Arga yang sudah menjauh. sakit sakit sekali rasanya sampai ngga kerasa air mata Bela berjatuhan.
" anji** ngapain segala nangis sih. kan gue udah tau dia punya cewe. guenya aja yang batu Terima pertunangan ini." Bela mencoba kuat sambil mengusap air mata yang terus berjatuhan.
Bela akhirnya memesan gojek untuk kerumah Lula. Dia ngga kerumah mamih Rita, takut di Tanya macem-macem karna Arga ngga ada bareng dia. Dia takut kalo Arga di salah kan orang tuanya kalo dia ternyata di tinggal di pinggir jalan. jadi dia mending singgah ke tempat lain dulu sampai dia tenang baru pulang.
TOK.. TOK.. TOK..
"Assalamu'alaikum.. sepeda"
" wa'allaikusalam." seru orang di dalam rumah.
CEKLEK.. suara pintu di buka.
" ehh ya ampun ada gadis demplon emak." ibu acih atau ibundanya Lula. " NUURRR NI ADA BELA." teriak bu acih memanggil Putrinya.
" ya ampun udah lama bener lu kagak kesini. dah yok sini masuk kagak usah malu malu lu. kek sapa aja." ibu acih langsung merangkul Bela.
" gimane orang tua sehat?"
" alhamdulillah sehat mak." nyengir Bela.
"alhamdulillah atuh kalo pada sehat mah. bentar ye gue panggil dulu Lula, kayaknya tuh bocah tidur." pamit bu acih.
" siap mak santai aja." Bela masih nyengir walaupun gigi udah kering.
Lula baru saja keluar dari kamarnya dengan muka bantal dan rambut berantakan. dia menghampiri Bela sambil menguap lebar.
" hoaaamm tumben lu main ngga bilang bilang. dah yuk ke kamar aja." ajak Lula yang masih aja terus menguap.
mereka sudah berasa di dalam kamar. Lula langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka, Bela langsung rebahan dan langsung menumpahkan tangisanya itu yang sedari tadi di tahan saat bertemu ibunda nya Lula.
Lula yang baru saja keluar dari kamar mandi pun terheran melihat sahabatnya tidur sambil tengkurap.
" dih jadi lo ke sini cuman numpang tidur?"
senyap ngga ada jawaban. " behh beneran tidur dia."
Lula langsung duduk di sebelah Bela dan ingin melanjutkan nonton drakor yang tadi dia tunda karena tertidur. belum juga Lula memposisikan duduknya agar nyaman dia mendengar suara isakan.
" Bel.."
belum ada sautan tapi isakan makin terdengar jelas.
" Bel.. lo nangis." tanya Lula sambil menggoyang goyang kan badan Bela.
Bela langsung mengangkat wajahnya. matanya bengkak merah dan terus mengeluarkan air mata , hidung merah dan ingus yang sedang berusaha untuk keluar dari goa nya.
Lula langsung panik melihat Bela menangis tanpa sebab.
" BEL LU KENAPA? KESURUPAN LU TIBA-TIBA NANGIS? MAKKK BELA KESURUPAN MAK." teriak Lula yang sudah mau ancang ancang kabur.
" KAGAK ANJIR, GUA NGGA KESURUPAN. MASIH WARAS GUE." frustasi Bela yang di tuduh kerasukan.
" ohh syukur atuh. kirain lu kesurupan karna lewat pohon bambu magrib magrib." lega Lula dan langsung duduk lagi di sebelah Bela.
" kenapa lagi? masalah pak Arga?." tebak Lula yang tepat sasaran. dan langsung di anggukin Bela.
" ternyata sakit ya mencintai orang yang tidak mencintai balik." ucap Bela yang sudah berenti menangis.
" emang pak Arga kenapa lagi?" Tanya Lula dengan sabar.
" g-gue tadi di tinggal di pinggir jalan sama pak Arga demi dia nemuin ceweknya." Bela langsung menangis lagi.
" ANJIR YANG BENER LU BEL. LU DI TURUNIN DI PINGGIR JALAN?" kaget Lula. dan Bela hanya mengganggu kan kepalanya saja, dia sudah tidak kuat lagi untuk cerita.
" udah lo tenangin dulu, kalo lo udah enakan baru cerita ke gue." titah Lula. " duh kasian sahabat gue." Lula langsung memeluk Bela dan makin bertambah lah nangis nya Bela.
setelah Bela sudah lebih baik baru dia menceritakan semua dari awal dia melihat Arga ada di rumahnya lalu Arga mengajak pergi sampai tragedi di tinggal di pinggir komplek.
" sekarang gini deh Bel. lu bisa nolak kan tentang pertunangan lo?". dan hanya di angguki oleh Bela.
" yaudah dari pada hubungan lo sama pak Arga makin jauh mending lo udahin sekarang. sebelum ke jenjang yang lebih serius Bel, itu bakal lebih ribet." saran Lula
"T-tapi gue ngga mau bikin ayah gue sedih karena gue ngga mau di jodohin." cicit Bela.
" astagfirullah Bel. kan lu yang cerita sendiri kalo ortu lu ngga maksa sama sekali. berarti ini mutlak keputusan lo sendiri." gemas Lula.
"tapi gue suka sama pak Arga la." rengek Bela.
Lula hanya menghembuskan nafas kasar.
" oke sekarang lu maunya gimana?"
" gue tetep mau tunangan sama pak Arga. mungkin tadi pak Arga panik karena rasa kemanusiaan aja mau nolong jadi dia ngga berfikir panjang dan berujung ninggalin gue." pikiran positif Bela.
Lula lagi lagi menghembuskan nafas kasarnya karena lelah dengan sifat bulol nya Bela.
" yaudah terserah lo, saran gue kalo lo emang udah ngga kuat lepasin aja. jangan kebanyakan mikir positif kali-kali negatif, ngga baik juga nyimpen perasaan ke cowok kaya pak Arga."
" loh emang kenapa ngga baik." Tanya polos Bela.
" ihhh lu tuh bulol apa emang tol**. ya cowok kayak pak Arga itu cowok yang belum selesai sama masa lalunya, jadi itu bisa jadi racun buat hubungan lo sama pak Arga." geram Lula.
-----
setelah menurunkan Bela di pinggir komplek. Arga langsung tancap gas ke apartemen Ratna.
setelah sampai dia mencoba menekan Bel apartemen, tapi sudah hampir 5 menit dia menunggu Ratna ngga kunjung keluar. jadi mau ngga mau dia meminta kunci cadangan Ratna ke resepsionis. saat Arga berhasil membuka pintunya, Arga di kejutkan dengan Ratna yang sudah tergeletak dan di tangannya banyak sayatan.
Arga langsung menggendong ala bridal styel, petugas apartemen yang melihat itu langsung ikut membantu membukakan mobil Arga. ngga pake lama dia langsung menuju rumah sakit.
Dan di sinilah Arga sedang menunggu Ratna sadar. dia merasa sangat bersalah kepada Ratna, seharusnya dia tidak usah berakting menjadi guru.
KRING.. KRING.. KRING.. tiba-tiba HP Arga berdering menandakan ada telpon masuk.
Arga: " Ya halo mih."
mamih: " kamu sama Bela ko belum sampai sampai, mamih sampai jamuran nih nungguin kalian."
Arga terkejut dengan ucapan mamih. -kalo Bela ngga kerumah mamih terus dia kemana-. hati Arga bertanya tanya, dan ngga tau kenapa perasaannya menjadi khawatir tapi dia juga ngga bisa pergi dari sini.
mamih: " halo.. halo Arga kok diam."
Arga: " e-eh oh ya mih kita lagi jalan jalan ke mall. jadi nggak apa apa kan kita ngga kerumah mamih dulu?"
mamih: " ya ampun kalian lagi jalan jalan ya. haduh maaf mamih ganggu, have fun ya.
KLIK. panggilan terputus sepihak.
pikiran Arga ngga tenang. takut Bela kenapa napa, dia baru sadar meninggalkan anak orang di jalan, dia merasa bod**.
" beg* banget si Ga. ngapain ninggalin anak orang di pinggir jalan." frustasi Arga. dan dia memutuskan besok bertanya kemana Bela pergi.
21:00 malam
Arga sedang menyuapi Ratna, Ratna sudah sadar sejak 2 jam yang lalu.
" beb kamu beneran kan mau balikan sama aku." ucap Ratna dengan suara yang masih lemah.
Arga hanya tersenyum dan buat Ratna itu adalah kata iya dari Arga.
" makasih ya beb." Ratna langsung memeluk Arga.
Arga hanya mengelus rambut Ratna. saat dia sedang di peluk Ratna dia tersadar, tidak ada debaran di jantung nya. berbeda saat Bela memeluk dirinya, Arga jadi merasa heran.
bukankah yang dia cintai Ratna, tapi mengapa ngga ada rasa debaran di jantung ini.
tapi Arga hanya diam dan tetap mengelus rambut Ratna, walaupun dalam hati dia masih terheran heran dengan dirinya sendiri.