Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.
Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Sisa Badai yang Tertinggal
Berita tentang bangkrutnya perusahaan keluarga Reno menyebar begitu cepat di kalangan pebisnis ibu kota. Di era saat informasi bergerak secepat kilat, runtuhnya dinasti bisnis yang selama ini berdiri di atas keangkuhan itu segera menjadi bahan perbincangan hangat di media massa. Namun, bagi Andini Larasati, kabar tersebut berlalu begitu saja bersama embusan angin sore di taman belakang rumahnya. Ia telah lama mengunci rapat-rapat seluruh lembaran masa lalunya.
Pemandangan yang jauh berbeda terlihat di sebuah kawasan padat penduduk di pinggiran Jakarta Barat. Suasana di sana sangat kontras dengan kemewahan kediaman Al-Fatih. Di dalam sebuah rumah kontrakan sempit berukuran tiga kali empat meter dengan cat dinding yang mulai mengelupas, mantan ibu mertua Andini, Ibu Ratna, hanya bisa terbaring tak berdaya di atas kasur lantai yang tipis.
Wanita paruh baya yang dulunya selalu tampil mewah dengan perhiasan emas yang melingkar di pergelangan tangannya itu kini tampak begitu merana. Serangan stroke akibat guncangan hebat setelah kebangkrutan telah membuat sisi kiri tubuhnya lumpuh total. Wajahnya tampak tidak simetris, dan matanya menatap langit-langit plafon dengan pandangan kosong yang menyiratkan penyesalan yang datang terlambat.
Di sudut ruangan yang remang-remang, Reno duduk meringkuk sambil memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah. Penampilannya sangat berantakan; rambutnya panjang tidak terurus, jenggotnya tumbuh liar, dan kemeja bermerek miliknya kini tampak kusam dan kotor.
"Ukh... Re... Reno..." suara Ibu Ratna terdengar sangat lirih, terbata-bata, dan tidak jelas karena bicaranya sudah pelo. Tangannya yang kanan mencoba menggapai udara, mengisyaratkan rasa sakit yang menyesakkan dada.
Reno menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat untuk memberikan seteguk air melalui sedotan ke mulut ibunya. "Sabar ya, Bu. Obat Ibu habis hari ini, dan rekening Reno benar-benar sudah diblokir oleh kurator bank. Reno sudah tidak tahu lagi harus mencari pinjaman ke mana."
Saat Reno sedang merenung dalam keputusasaan, pandangannya tidak sengaja tertuju pada layar televisi tabung tua berukuran empat belas inci yang menyala di sudut kontrakan. Sebuah acara berita singkat sedang menayangkan liputan eksklusif mengenai kesuksesan Andini’s Sanctuary dan ekspansi global Nadir Label.
Di layar kaca tersebut, Andini Larasati tampil begitu anggun dan berwibawa. Ia tersenyum bahagia di samping Farhan Al-Fatih yang merangkulnya dengan penuh rasa hormat. Sang narator televisi bahkan menyebutkan bahwa Andini kini telah melahirkan seorang putra sehat yang menjadi pewaris takhta Al-Fatih Group.
Jantung Reno seketika mencelos seperti dihantam godam besar. Kenyataan bahwa Andini bisa memiliki anak dengan pria lain menjadi tamparan keras yang membuktikan bahwa kesalahan di masa lalu bukan ada pada Andini, melainkan pada dirinya sendiri.
Namun, di tengah rasa bersalah yang sempat melintas, pikiran licik Reno perlahan mulai menguasai akal sehatnya yang sudah terdesak oleh kemiskinan.
Reno menatap ibunya yang terbaring lumpuh, lalu kembali memandangi layar televisi yang menampilkan wajah mantan istrinya. 'Andini itu wanita yang berhati lembut dan selalu penuh belas kasihan,' bisik hati kecil Reno yang mulai diracuni keputusasaan. 'Jika aku datang padanya, merendahkan diriku sedalam-dalamnya, dan memohon bantuan atas nama kemanusiaan demi mengobati Ibu... dia pasti tidak akan tega. Dia pasti akan memberikan beberapa ratus juta untukku.'
Reno berdiri, matanya berkilat penuh tekad yang nekat. Ego dan harga dirinya yang setinggi langit runtuh demi lembaran uang. Ia tidak menyadari bahwa wanita yang akan ditemuinya esok bukan lagi sosok Andini yang bisa ia manipulasi dengan air mata buaya, melainkan seorang Andini Larasati yang kini memiliki benteng perlindungan yang sangat kokoh.