Alya terbangun di tubuh Sabrina—seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri. Dalam novel yang pernah ia baca, Sabrina akan mati tragis setelah melahirkan.
Kini hidup sebagai Sabrina, Alya berusaha mengubah takdirnya dan menjauh dari Leon, suami dingin yang tak pernah mencintainya. Namun semakin ia mencoba pergi, semakin Leon mulai memperhatikannya.
Di balik kebencian, perlahan tumbuh rasa yang tak seharusnya ada. Tapi apakah cinta bisa lahir dari hubungan yang sejak awal dipenuhi luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Penyesalan yang Terlambat
Malam sudah larut saat mobil Leon memasuki halaman mansion Ardian. Setelah tiga hari penuh menghadiri urusan pekerjaan di luar kota, tubuhnya terasa lelah dan kepalanya penuh dengan rapat yang tidak ada habisnya.
Namun entah kenapa…
Sejak tadi ia merasa gelisah.
Tatapannya langsung mencari sosok Sabrina begitu memasuki rumah.
Biasanya wanita itu akan menunggunya pulang.
Sekadar menyambut di ruang tengah atau bertanya apakah ia sudah makan.
Meski Leon sering mengabaikannya, Sabrina tidak pernah berhenti melakukan itu.
Tapi malam ini rumah terasa terlalu sunyi.
“Tuan Leon.”
Bibi Mina berjalan mendekat dengan wajah pucat.
Leon langsung mengernyit.
“Di mana Sabrina?”
Wanita tua itu terlihat ragu.
“Nyonya… pergi.”
Deg.
Tatapan Leon berubah tajam.
“Apa maksudmu pergi?”
Bibi Mina menunduk gugup sebelum menyerahkan sebuah amplop putih.
“Tadi sore Nyonya pergi membawa beberapa barang…”
Entah kenapa jantung Leon berdetak keras saat menerima amplop itu.
Ia langsung membuka isinya.
Surat cerai.
Dan cincin pernikahan mereka jatuh pelan ke lantai marmer.
Untuk beberapa detik Leon hanya diam.
Tatapannya membaca setiap tulisan di kertas itu perlahan.
Mungkin saat kamu membaca ini, aku sudah pergi.
Jadi kali ini biar aku yang pergi lebih dulu.
Rahang Leon menegang.
Aura dingin langsung memenuhi ruangan.
“Dia pergi ke mana?”
“Saya tidak tahu, Tuan…”
“Siapa yang antar dia?!”
Nada suara Leon meninggi untuk pertama kalinya membuat para pelayan langsung ketakutan.
Bibi Mina hampir menangis.
“N-Nyonya tidak bilang apa-apa…”
Leon mengepalkan surat itu kuat-kuat.
Perasaan aneh memenuhi dadanya.
Marah.
Kesal.
Dan… kosong.
Wanita itu benar-benar pergi.
---
Satu jam kemudian mobil Leon melaju cepat menuju kediaman keluarga Elvara.
Rumah besar keluarga Sabrina masih terlihat megah seperti biasa. Namun suasana di dalamnya terasa dingin dan formal.
Pelayan segera mempersilakan Leon masuk.
Tak lama kemudian seorang pria paruh baya muncul dari ruang kerja dengan wajah serius.
Armand Elvara.
Ayah Sabrina.
Tatapan pria itu langsung berubah dingin melihat Leon.
“Ada apa malam-malam ke sini?”
Leon berdiri tegak sambil menahan emosinya.
“Sabrina ada di sini?”
Armand langsung mengernyit.
“Bukannya dia sama kamu?”
Hening.
Dan dari raut wajah ayah Sabrina itu, Leon langsung sadar—
Mereka benar-benar tidak tahu Sabrina pergi ke mana.
“Dia ninggalin rumah,” ucap Leon akhirnya.
Kalimat itu membuat Armand membeku sesaat.
“Apa?”
Leon menyerahkan surat cerai itu tanpa banyak bicara.
Tatapan Armand langsung membaca isi surat dengan perlahan. Semakin lama wajah pria itu berubah semakin pucat.
“Apa yang kamu lakukan sampai anak saya pergi?” suaranya rendah penuh amarah.
Leon diam.
Untuk pertama kalinya ia tidak punya jawaban.
Armand menatap surat itu cukup lama sebelum akhirnya tertawa pahit.
“Sabrina benar-benar pergi…”
Nada suaranya terdengar tidak percaya.
Dan entah kenapa…
Ada penyesalan besar di wajah pria itu.
Leon memperhatikan diam-diam.
“Aku pikir dia membenci keluarga ini,” ujar Leon dingin.
Armand menatap tajam.
“Dia bukan membenci. Dia kecewa.”
Suasana ruang tamu mendadak sunyi.
Pria paruh baya itu perlahan duduk di sofa sambil memijat pelipisnya.
“Sejak malam pernikahan itu…” suaranya melemah pelan. “Aku terlalu marah buat bicara sama dia.”
Leon sedikit mengernyit.
Armand menghela napas panjang.
“Sabrina itu keras kepala. Dia rela nolak semua rencana keluarga demi kamu.” Tatapannya berubah tajam. “Dan aku membiarkan ego bikin hubungan kami hancur.”
Leon terdiam.
Dalam pikirannya tiba-tiba muncul wajah Sabrina beberapa hari terakhir.
Tatapan tenangnya.
Caranya menjauh perlahan.
Dan senyum kecil yang terasa asing.
Semua itu ternyata bukan perubahan sesaat.
Wanita itu benar-benar sudah memutuskan pergi.
“Dia anak yang manja,” lanjut Armand lirih. “Dari kecil selalu cerita apa pun ke ibunya. Tapi setelah menikah…” pria itu tertawa pahit. “Dia nggak pernah pulang lagi.”
Untuk pertama kalinya Leon merasa dadanya sedikit sesak.
Karena tanpa sadar…
Ia baru menyadari Sabrina benar-benar sendirian selama ini.
Keluarganya menjauh.
Dan dirinya sendiri tidak pernah benar-benar ada untuk wanita itu.
“Kalau saya tahu dia bakal seperti ini…” suara Armand mulai bergetar sedikit. “Saya nggak akan diam terlalu lama.”
Tatapan pria itu jatuh pada surat cerai di tangannya.
Ada penyesalan yang terlambat.
Dan itu membuat suasana terasa semakin berat.
Leon akhirnya berdiri perlahan.
“Kalau Sabrina menghubungi Anda…”
Tatapannya berubah gelap.
“Beri tahu saya.”
Armand tidak menjawab.
Sementara Leon berjalan keluar rumah dengan langkah berat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ia merasa benar-benar kehilangan sesuatu.