NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Berondong

Terjerat Pesona Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Obsesi / Enemy to Lovers
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘

Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Jam dinding besar di ruang tengah rumah keluarga Permana berdentang samar, menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Suasana di dalam rumah mewah itu terasa sangat mencekam, seolah udara hangat telah disedot habis dan digantikan oleh ketegangan yang membeku.

Marco melangkah masuk setelah mendorong pintu jati utama. Langkah kakinya terdengar berat di atas lantai marmer, jaket bomber hitamnya disampirkan sembarangan di bahu sebelah kanan. Wajah tampannya tampak luar biasa lelah setelah seharian membelah diri antara tugas kuliah dan mengangkat ratusan kardus album K-Pop di ruko Haura.

Namun, baru saja kakinya hendak menapak anak tangga pertama, suara dingin nan melengking dari arah sofa ruang tengah langsung menghentikan gerakannya.

"Bagus... jam segini baru pulang, Marco Permana."

Andi Permana duduk tegak di sana, melipat kedua tangannya dengan wajah yang mengeras. Di sampingnya, Anggun bersandar manja sembari memegang cangkir teh porselen, menatap anak tirinya dengan pandangan meremehkan yang amat pekat.

Marco menghentikan langkah, menoleh malas tanpa membalikkan seluruh tubuhnya. "Habis kerja, Pa."

"Kerja apa kamu? Packing jastip itu?" Anggun mendesis sinis, menaruh cangkir tehnya ke atas meja kaca dengan ketukan yang sengaja dinyaringkan. Senyum mengejek terukir di bibir berlipstik merah menyalanya. "Pekerjaan murah... Cuma buruh angkut barang dagangan perempuan tua. Mau ditaruh di mana muka Papa kamu kalau relasi bisnisnya tahu anak laki-laki satu-satunya keluarga Permana cuma jadi babu murahan?"

DEG. Kata "pekerjaan murah" dan "babu murahan" yang ditujukan untuk ruko milik Haura seketika memicu pemantik api di dalam dada Marco. Kelelahan fisik dan emosinya yang tertahan sejak semalam melejit ke ubun-ubun. Rasa murka yang luar biasa liar menguasai akal sehatnya dalam sekejap mata.

Marco berbalik dengan sentakan kasar, melangkah lebar menghampiri sofa dengan sepasang mata cokelat gelap yang mendadak memerah padam, berkilat bagai predator yang siap mencabik mangsanya.

"Jaga mulut lo, Tante!!" bentak Marco dengan suara baritonnya yang menggelegar, bergetar hebat memenuhi seisi ruangan. Ia menunjuk tepat ke depan wajah Anggun dengan jari gemetar menahan amarah. "Lo gak tahu apa-apa soal kerjaan gue! Dan lo gak punya hak sedikit pun buat ngehina Haura atau ruko itu pake mulut sampah lo! Lo itu cuma penumpang di rumah ini, gak usah sok ngatur hidup gue!!"

"Marco! Kurang ajar kamu—" Anggun memekik kaget, wajahnya mendadak pias, refleks mundur merapat ke lengan suaminya karena ketakutan melihat aura membunuh Marco yang begitu pekat.

PLAK!!!

Suara hantaman keras yang memekakkan telinga memotong kalimat Anggun seketika.

Andi Permana sudah berdiri dengan napas memburu, tangan kanannya yang kekar masih melayang di udara setelah melayangkan pukulan tangan terbuka yang sangat keras tepat ke arah pipi kiri Marco. Sentakan itu begitu kuat hingga membuat kepala Marco terparang ke samping, dan sudut bibir bawahnya langsung pecah, meneteskan setitik darah segar.

"Dasar anak nggak tahu diuntung kamu ya! Bangsat kamu, Marco!!" bentak Andi Permana dengan urat-urat leher yang menegang keras. Suaranya bergemuruh dipenuhi murka yang tak terbendung. "Berani kamu membentak Mama kamu di depan mata Papa?! Sudah hilang kewarasan kamu karena perempuan tua itu, hah?! Mau jadi apa kamu kalau berani kurang ajar begini di rumah sendiri?!"

Sisi kiri wajah Marco terasa kebas, panas, dan berdenyut menyakitkan. Darah segar perlahan mengalir di dagunya. Namun, bukannya menunduk takut atau membalas makian ayahnya, Marco justru perlahan menegakkan kepalanya kembali.

Ia menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap Andi Permana dengan seulas senyum miring yang teramat pahit, dingin, dan penuh dengan rasa muak yang sudah mencapai batas akhir. Tidak ada air mata, tidak ada ketakutan. Hanya ada kekosongan yang mengerikan di dalam matanya.

"Mama?" desis Marco, suaranya kini mendadak berubah menjadi sangat rendah dan tenang—ketenangan yang justru jauh lebih menakutkan daripada bentakannya tadi. "Dia bukan nyokap gue, Pa. Dan rumah ini... sejak malam ini, bukan lagi tempat gue."

Tanpa memedulikan teriakan histeris Anggun atau bentakan Andi yang kembali memanggil namanya, Marco berbalik dengan sentakan cepat. Langkah kakinya yang semula ingin menuju kamar di lantai atas langsung berubah arah. Ia berlari lebar memotong ruang tengah, menerobos pintu utama, dan membantingnya dengan kekuatan penuh hingga menimbulkan suara dentuman keras.

BRAK!

Marco menyambar helmnya di atas rak teras, melompat ke atas jok motor sport hitamnya, dan langsung menghidupkan mesin. Suara raungan knalpot bisingnya bergemuruh hebat membelah keheningan malam kompleks perumahan elit itu saat Marco menarik gas dalam-dalam, tancap gas membelah jalanan kota Jakarta dengan kecepatan gila. Pikirannya kosong, dadanya sesak, dan hanya ada satu nama serta satu koordinat yang tersisa di otaknya: Mansion Widjaja. Tempat di mana satu-satunya "rumah" aslinya berada.

Sementara itu, di halaman depan Mansion Widjaja, sedan putih milik Haura baru saja berhenti dengan sempurna. Haura mematikan mesin, menyambar tas tangannya, lalu melangkah keluar dari pintu kemudi. Tubuhnya sedikit meremang saat angin malam menerpa kulitnya, mengingatkannya pada kejadian manis bersama Marco di taman samping semalam.

Namun, baru saja tumit heels-nya hendak melangkah menaiki anak tangga teras menuju pintu utama mansion, sebuah suara raungan mesin motor sport yang melaju ugal-ugalan mendadak terdengar mendekat dari arah gerbang luar.

CIIIITTTTT!

Suara decitan ban yang bergesekan kasar dengan aspal terdengar begitu memekakkan telinga saat motor sport hitam itu mengerem mendadak, berhenti tak jauh dari mobil Haura.

Haura membalikkan tubuhnya dengan kerutan dalam di dahi, siap memarahi siapa pun orang gila yang berani berisik di halaman rumahnya malam-malam begini. Namun, begitu pengendara itu membuka kaca helm full-face-nya dan melompat turun dari motor tanpa bahkan mematikan mesinnya, jantung Haura langsung mencelos ke dasar perut.

"Marco..." bisik Haura, matanya membelalak lebar melihat penampilan pemuda itu.

Marco berjalan terseok-seok mendekatinya, langkah kakinya tampak goyah. Jaket bomber-nya berantakan, rambutnya acak-acakan, dan di bawah temaram lampu teras mansion, Haura bisa melihat dengan jelas adanya bekas lebam merah keunguan yang membengkak di pipi kiri Marco, lengkap dengan aliran darah kering yang menempel di sudut bibir tampannya.

Belum sempat Haura membuka mulutnya untuk bertanya, Marco sudah mengambil langkah besar terakhir dan langsung menubrukkan seluruh tubuh jangkungnya ke arah depan.

Grep!

Kedua lengan kekar Marco melingkar begitu erat, mencengkeram pinggang Haura dengan keputusasaan yang teramat pekat. Ia menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di ceruk leher Haura, menyembunyikan luka dan kerapuhannya di sana. Tubuh jangkung setinggi 180 senti itu tampak bergetar halus di dalam pelukan Haura, seolah seluruh kekuatannya telah habis menguap di jalanan tadi.

Haura terperanjat, tas tangan di genggaman kirinya nyaris terjatuh ke atas lantai teras. Merasakan pelukan yang begitu erat dan bergetar dari pemuda yang biasanya selalu tampil tengil dan dominan ini membuat dada Haura seketika dihantam rasa sesak yang luar biasa.

"Marco... kamu kenapa? Marco?!" tanya Haura panik, suaranya bergetar hebat saat kedua tangannya perlahan naik, membalas dekapan Marco dengan tidak kalah erat, mengusap punggung tegap pemuda itu yang terasa begitu tegang. "Bicara sama aku, Marco... Siapa yang bikin kamu kayak gini? Pipi kamu... sudut bibir kamu berdarah, Marco!"

Marco tidak langsung menjawab. Ia justru semakin mempererat lingkar tangannya di pinggang Haura, menghirup dalam-dalam aroma parfum herbal dari ceruk leher wanita itu yang mendadak menjadi obat penenang paling mujarab bagi saraf-saraf kepalanya yang hampir putus.

"Bentar, Ra... Tolong jangan lepasin dulu," bisik Marco, suaranya terdengar sangat parau, pecah, dan lirih di dekat telinga Haura—kehilangan seluruh keangkuhan berondong brat-nya. "Gue gak punya tempat pulang lagi malam ini... Gue cuma punya lo, Haura. Tolong jangan usir gue..."

Mendengar kalimat rapuh yang keluar dari mulut singa muda di pelukannya, setetes air mata Haura tanpa sadar meluncur melewati pipinya. Rasa protektif yang teramat besar bergejolak di dalam dadanya. Di bawah siraman lampu teras mansion, Ratu Jastip itu merapatkan dekapannya, berjanji dalam hati bahwa malam ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti berandalan berharga miliknya ini lagi.

***

Masalah mereka ternyata sama ya. Dari orang tua Dajjal mereka😭😡

1
apiii
yg sabar ya mar🥹
apiii
ditunggu bucinya tante haura🤣
apiii
manis bngt sihh berondongnya mau satu kaya marco bolehhh🤣
apiii
jangan pindah lapak🥲 thor soalnya cuma cerita dari novel author yg paling aku tunggu🥹
Penulis GenZ: nggak pindah lapak kak cuma aku nulis juga cerita disana hehe. yang disini tetep aku tamatin kok tenang aja ya😍
total 1 replies
apiii
kenapa sih itu mbah" ga bisa berkaca dari kejadian si cegill
Penulis GenZ: mbah² bgt nih kak🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya up lagi❤️
apiii
semangat cogill🤣
apiii
emng bener berondong lebih menarik buktinya si haura sampai nggak berkutik🤣
apiii
sangat bagus alur ceritanya tidak membosankan dan membuat pembaca jadi penasaran
Indra P.
lannjutttt thorrr...
semangattt
apiii
semangat ya thor aku suka bangt semua novel yg author tulis
Penulis GenZ: jadi terharu mau nangis 🥺
total 1 replies
apiii
ngga kak asik bngt loh alur ceritanya aja bagus dan ya emg sekarang lagi musim kakak" pacaran sama berondong🤣
apiii
emng berondong itu bikin mabok kepayang🤣
apiii
berondong kesayangan🥲
apiii
mulai terpikat pesona berondong🤣
apiii
kayanya lucu klo mereka tbtb nikah🤭
apiii
jodohin haura sama si berondong tengil itu🤣
apiii
semangat up nya thor❤️
apiii
thor kenapa haura ketemu tua bangt🥲
Penulis GenZ: apanya yang tua🤣🤣
total 1 replies
English Lesson
menarik💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!