NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Pencarian Yang Sia-sia

Tiga hari telah berlalu sejak kepergian Kinara, dan bagi Arlan, waktu seolah berjalan melambat dengan cara yang menyiksa. Mansion mewahnya kini tak lebih dari sekadar tumpukan beton dan marmer yang dingin. Setiap sudut ruangan seolah berbisik, mengingatkannya pada sosok wanita yang dulu selalu ada di sana, namun kini menghilang tanpa jejak.

​Pagi ini, Arlan berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mendengus kesal saat mendapati kerah kemeja putihnya sedikit lecek. Biasanya, Kinara akan memastikan setiap helai pakaiannya disetrika dengan sempurna, bahkan menyemprotkan parfum favoritnya dengan dosis yang pas. Kini, Arlan harus berurusan dengan asisten rumah tangga baru yang tampak gemetar setiap kali ia tatap.

​"Di mana dasi biru dongkerku?" bentak Arlan dari dalam kamar.

Seorang pelayan paruh baya berlari terengah-engah. "Maaf, Tuan... saya sudah mencarinya di seluruh lemari, tapi tidak ketemu."

Arlan menggeram. Ia merenggut asal dasi lain dan mencoba memasangnya sendiri. Namun, entah kenapa, simpul dasi yang biasanya terlihat mudah dilakukan Kinara, kini terasa begitu rumit di tangannya. Setelah tiga kali mencoba dan gagal, Arlan menyentak dasi itu hingga lepas dan melemparnya ke lantai.

Sialan! Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini?" umpatnya.

Pikirannya kembali melayang pada Kinara. Ia yakin wanita itu bersembunyi di suatu tempat, menunggu Arlan menjemputnya dengan permintaan maaf.

Paling-paling dia ada di rumah temannya, mengadu sambil menangis, batin Arlan.

Namun, saat ia diam-diam menyuruh orang untuk mengecek rumah orang tua Kinara di desa, laporannya nihil. Kinara tidak ada di sana.

Di bagian kota yang lain, Kinara sedang duduk di sebuah kafe kecil dengan laptop tua di depannya. Ia baru saja menyelesaikan draf artikel pertamanya untuk sebuah platform kepenulisan lepas. Pelipisnya sedikit berkeringat karena kafe itu tidak memiliki AC yang dingin, hanya sebuah kipas angin plafon yang berputar malas.

Namun, ada binar di mata Kinara yang tidak pernah terlihat selama tiga tahun terakhir. Ia baru saja mendapatkan bayaran pertamanya sebesar lima ratus ribu rupiah. Jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan uang saku yang dulu Arlan berikan, namun bagi Kinara, uang ini nilainya jauh lebih berharga. Ini adalah bukti bahwa ia bisa bertahan hidup tanpa harus menengadahkan tangan pada pria yang tidak menghargainya.

Kerja bagus, Kinara," gumamnya sambil menyeruput es kopi susu paling murah di menu.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal memanggil.

Kinara ragu sejenak, lalu mengangkatnya.

​"Halo?"

​"Kinara! Ini aku, Arlan." Suara di seberang sana terdengar sangat tidak sabar dan penuh perintah.

​Jantung Kinara berdegup kencang, tapi bukan karena cinta.

Itu adalah sisa-sisa trauma dari tiga tahun tekanan batin. Ia menarik napas panjang, menenangkan dirinya.

"Ada apa, Arlan?"

​"Ada apa? Kamu tanya ada apa?!" Arlan berteriak di telepon.

"Sudah tiga hari kamu menghilang dan mengirim surat konyol itu! Pulang sekarang juga! Aku butuh jadwal pertemuan dengan klien dari Singapura, dan aku tahu kamu yang menyimpannya di ruang kerja rumah!"

​Kinara tersenyum pahit.

Dia mencariku hanya karena jadwal klien? pikirnya.

"Arlan, aku sudah meninggalkan surat cerai itu. Semua dokumen pekerjaanmu sudah aku rapihkan di laci kedua meja kerjamu. Kalau kamu tidak bisa menemukannya, itu bukan lagi urusanku. Cari saja sendiri."

​"Kinara! Jangan berani-berani memutus telepon ini atau aku ak—"

​Klik.

​Kinara mematikan ponselnya.

Ia bahkan langsung mencabut kartu SIM-nya dan mematahkannya menjadi dua.

Ia tidak ingin lagi ada celah bagi Arlan untuk mengusik kedamaiannya yang baru saja ia bangun. Ia tahu Arlan tidak mencarinya karena rindu, melainkan karena ego pria itu terusik saat pelayanannya hilang.

​Arlan terpaku menatap ponselnya yang kini hanya menampilkan layar gelap.

"Dia... dia berani mematikan teleponku?"

​Wajahnya merah padam.

Rasa marah dan tidak percaya bercampur menjadi satu. Selama ini, Kinara tidak pernah membantah satu kata pun darinya. Sekarang, wanita itu memperlakukannya seperti orang asing yang mengganggu.

​"Maya!" panggil Arlan, memanggil sekretarisnya dengan kasar.

​"Iya, Pak?"

​"Cari tahu di mana Kinara sekarang. Gunakan semua koneksi kita. Lacak transaksi kartu kreditnya, cek semua hotel di kota ini!"

​Maya tampak ragu.

"Maaf, Pak Arlan... tapi sejak kemarin malam, Ibu Kinara sudah menutup semua rekening bank atas nama beliau dan membatalkan semua kartu tambahan dari Bapak. Beliau bahkan sudah menarik semua sisa tabungan pribadinya secara tunai."

​Arlan terdiam.

Rahangnya mengeras.

Kinara benar-benar telah memutus semua akses yang bisa digunakan Arlan untuk melacaknya. Ia ingin menghilang sepenuhnya.

​"Apa dia pikir dia bisa hidup di jalanan?" desis Arlan.

"Siapkan mobil. Aku akan mendatangi semua teman-temannya. Dia tidak mungkin bisa pergi jauh tanpa bantuanku."

​Sepanjang sore itu, Arlan berkeliling seperti orang gila. Ia mendatangi butik langganan Kinara, salon tempat Kinara biasa merawat diri, hingga rumah beberapa kerabat jauh.

Namun, jawabannya tetap sama: tidak ada yang melihat Kinara.

​Arlan berakhir di sebuah taman kota saat matahari mulai tenggelam.

Ia duduk di dalam mobil mewahnya, menatap orang-orang yang berjalan kaki di trotoar.

Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat kecil.

Kekuasaan dan uangnya yang melimpah ternyata tidak bisa membeli satu hal: keberadaan seorang wanita yang selama ini ia sia-siakan.

​Ia menatap kursi penumpang di sampingnya yang kosong.

Biasanya, di jam-jam seperti ini, Kinara akan duduk di sana, bercerita tentang hal-hal kecil yang tidak pernah Arlan dengarkan—tentang bunga yang mekar di taman, tentang resep kue baru, atau tentang betapa ia mencintai Arlan.

​Dulu, Arlan akan menyuruhnya diam karena dianggap berisik.

Sekarang, ia merindukan suara itu hingga telinganya terasa sakit oleh kesunyian.

​"Ke mana kamu pergi, Kinara?" bisik Arlan lirih, suaranya parau karena rasa frustrasi yang mulai berubah menjadi ketakutan yang nyata.

​Ia belum menyadari bahwa ini baru permulaan dari penderitaannya. Dan bagi Kinara, ini adalah awal dari kebangkitannya yang luar biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!