NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Penyelamatan dari Si Mulut Pedas

​Setelah bayangan jubah linen compang-camping milik Ji Huang dan rombongan Keluarga Utama yang megah itu akhirnya menghilang di balik tikungan koridor batu, keheningan sesaat melanda halaman paviliun. Suara langkah kaki berisik dan sandal rumah kayu yang diseret perlahan-lahan memudar, menyisakan debu yang mengendap kembali di tanah.

​Namun, efek menenangkan dari kalimat santai Ji Huang tidak bertahan lama bagi sang ayah.

​Begitu kesadarannya kembali ke realita bahwa anak semata wayangnya baru saja dibawa menuju Aula Utama—tempat berkumpulnya para serigala politik keluarga cabang dan harimau arogan dari pusat kota—Ji Tian mendadak mengalami kepanikan susulan yang luar biasa dramatis.

​"TIDAK BISAAAA! HUUUAANNGGG-ERRR!"

​Ji Tian mendadak berteriak histeris, suaranya melengking tinggi hingga membuat burung-burung di pohon buah liar berterbangan ketakutan. Pria paruh baya bertubuh tambun itu mulai berlarian melingkar di halaman paviliun dengan gaya yang sangat konyol. Tangan kanannya mengacung-acungkan pelindung panci dapur yang tebal ke udara, seolah-olah dia sedang bersiap memimpin pasukan pemberontak bersenjata peralatan masak.

​"Bagaimana kalau kursi di Aula Utama itu kursi listrik kuno?! Bagaimana kalau lantainya dipenuhi paku karat?! Anakku itu kulitnya selembut tahu sutra, dia hanya suka tidur siang! Tidak bisa, aku harus menyerbu ke sana sekarang dan menghancurkan kepala orang berbahu sutra putih itu dengan panci ini!" ceracau Ji Tian dengan derai air mata yang kembali mengalir deras di pipi tembamnya.

​Melihat pamannya mulai bertingkah gila dan kehilangan akal sehat karena terlalu cemas, Ji Lan yang awalnya sempat terpaku oleh aura misterius Ji Huang langsung tersadar dari lamunannya. Gadis itu mendengus kencang, melangkah cepat, lalu menahan kedua pundak Ji Tian dengan cengkeraman yang cukup kuat untuk menghentikan putaran konyol sang paman.

​"Paman Tian! Tenanglah! Berhenti bertingkah memalukan dengan penutup panci dapur itu!" bentak Ji Lan dengan gaya jutek dan ketusnya yang khas, mencoba mengembalikan kewarasan pria paruh baya di depannya. "Jika Paman menyerbu ke Aula Utama dengan tubuh gemuk dan pelindung panci seperti itu, Paman tidak akan menyelamatkan Ji Huang! Paman hanya akan berakhir menjadi samsak tinju gratis bagi pengawal berbaju abu-abu dari pusat kota!"

​Ji Tian menghentikan langkahnya, napasnya tersengal-sengal. Dia menatap keponakannya dengan mata bulat yang sembab dan ingus yang kembang kempis secara dramatis. "L-Lalu... lalu bagaimana dengan Huang-er, Lan-er? Dia sendirian di sana... mereka sangat kejam..."

​Melihat wajah rapuh sang paman yang begitu tulus menyayangi anaknya, kilat kecemasan yang sama berkilat di dalam sepasang mata jernih Ji Lan. Gadis itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mencoba menekan rasa takut yang mulai merayap di dadanya sendiri.

​Dia melepaskan pegangannya di pundak Ji Tian, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi dingin yang dipaksakan. "Tenang saja, Paman. Si bodoh pemalas itu memang sangat menyebalkan, mulutnya blak-blakan minta dijahit, dan kerjaannya cuma membuat orang naik darah. Tapi... bagaimanapun juga, dia tetap sepupuku. Aku tidak akan membiarkan orang-orang dari pusat kota itu menyentuh sehelai rambutnya di tanah cabang ini."

​"Kamu punya rencana, Lan-er?" tanya Ji Tian, matanya mendadak berbinar penuh harapan bodoh.

​"Paman tunggu saja di sini dan jangan membuat kekacauan lagi. Aku tahu siapa yang bisa menahan intervensi dari Keluarga Utama," ucap Ji Lan tegas. Tanpa membuang waktu lebih lama, gadis bertubuh atletis itu berbalik dan langsung melesat keluar dari halaman paviliun dengan kecepatan penuh.

​Ji Lan berlari secepat kilat melewati koridor-koridor dalam kediaman cabang. Tujuannya hanya satu: Paviliun Anggrek Hitam, ruang kerja pribadi milik ayahnya sendiri, Ji Feng.

​Ayah Ji Lan bukan sekadar tetua biasa; dia adalah Kepala Urusan Internal Keluarga Cabang Huang di Kota Amerta, satu-satunya orang yang memiliki otoritas politik dan pengaruh yang cukup kuat untuk berbicara sejajar dengan utusan dari pusat kota, tanpa harus langsung tunduk berlutut.

​Di sepanjang jalan, sambil merapatkan jubah berburunya yang tertiup angin, Ji Lan tidak bisa berhenti mengomeli dirinya sendiri di dalam hati. Pikiran jiwanya dipenuhi oleh rasa kesal yang campur aduk.

​“Kenapa aku harus sepeduli ini pada si babi malas itu? Ah! Ini pasti karena kemarin dia sudah menghina kebaikan sup ayamku! Ya, benar! Aku menyelamatkannya hari ini murni hanya agar dia tetap hidup, sehingga aku bisa menuntut ganti rugi atas rantang kayu dan ginseng seratus tahun milikku yang sudah dia telan habis! Tidak ada alasan lain!” batin Ji Lan dengan pembelaan khas seorang tsundere yang menolak mengakui perasaan khawatirnya.

​Namun, bayangan tatapan mata teduh namun penuh misteri milik Ji Huang saat berbisik di halaman tadi kembali terlintas di benaknya. Kalimat Ji Huang tentang “menggunakan kepala orang sok keren itu sebagai bantal siang” entah mengapa terus terngiang, membuat dada Ji Lan berdegup kencang dengan kombinasi rasa merinding sekaligus penasaran yang aneh.

​Brak!

​Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ji Lan mendobrak masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Di dalam ruangan yang dipenuhi aroma kayu cendana itu, seorang pria paruh baya berwajah tegas dengan jubah biru tua sedang membaca gulungan perkamen. Dialah Ji Feng.

​"Lan-er? Ada apa dengan tata kramamu? Kenapa kamu terengah-engah seperti dikejar binatang buas?" Ji Feng mengernyitkan dahi, menaruh gulungannya dengan heran melihat anak gadisnya yang biasanya tenang dan sedingin es kini tampak begitu berantakan dan panik.

​"Ayah! Tolong hentikan persidangan di Aula Utama sekarang juga!" Ji Lan langsung menuntut tanpa basa-basi, melangkah mendekati meja kerja ayahnya dengan mata yang memancarkan ketegasan. "Huang Fu dari Keluarga Utama baru saja menyeret Ji Huang ke sana. Mereka berniat melumpuhkannya atas tuduhan palsu terkait masalah Huang Jian!"

​Ji Feng menghela napas panjang, bersandar di kursi kayunya. "Lan-er, Ayah sudah mendengar tentang masalah itu. Tapi ini adalah urusan Keluarga Utama. Huang Fu membawa mandat resmi untuk memeriksa insiden turnamen kemarin. Sebagai kepala cabang, tidak bijaksana bagi kita untuk memicu konflik politik dengan pusat hanya demi seorang... Ji Huang."

​"Tapi Ji Huang tidak bersalah! Huang Jian yang menantangnya duluan!" bentak Ji Lan, emosinya menyala. "Dan ada hal lain yang Ayah tidak tahu. Ji Huang... dia bukan lagi sampah yang dulu!"

​Ji Feng mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudmu?"

​"Dua hari lalu, dantian-nya benar-benar kosong dan rapuh. Tapi tadi pagi, dengan mata kepalaku sendiri, aku merasakan aliran energinya. Dia... dia sudah menembus Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-2! Dan dia melakukannya hanya dengan tidur siang!" Ji Lan menyampaikan fakta itu dengan nada menggebu-gebu.

​Mendengar frasa “menembus Lapis ke-2 dengan tidur siang”, ekspresi santai di wajah Ji Feng seketika lenyap. Pria paruh baya itu langsung berdiri dari kursinya, matanya berkilat tajam penuh keterkejutan. Seseorang yang tiba-tiba bangkit dari kondisi cacat dan menembus dua lapisan kultivasi dalam dua hari tanpa bantuan pil luar biasa adalah sebuah anomali yang sangat mengerikan. Jika kabar ini benar, maka Ji Huang adalah seorang jenius tersembunyi yang sah dari garis keturunan Ji mereka!

​"Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu rasakan, Lan-er?" Ji Feng memastikan dengan suara berat.

​"Aku berani bertaruh dengan nyawaku, Ayah! Ji Huang memiliki rahasia besar, dan jika kita membiarkan Keluarga Utama menghancurkannya hari ini, kita tidak hanya kehilangan anggota keluarga, tapi kita membiarkan garis keturunan utama Klan Ji dihina di depan mata kita sendiri!" Ji Lan menegaskan, menggunakan kartu silsilah keluarga mereka untuk mendesak ayahnya.

​Ji Feng terdiam selama tiga detik, menimbang risiko politik, sebelum akhirnya mengangguk mantap. "Bagus. Mari kita pergi ke Aula Utama dan melihat pertunjukan macam apa yang sedang dimainkan oleh bocah-bocah dari pusat kota itu."

​Dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, Ji Lan dan ayahnya segera berjalan cepat menuju pusat kediaman cabang.

​Sambil menyamai langkah lebar ayahnya, Ji Lan mengepalkan kedua tangan indahnya di samping tubuh. Di dalam hatinya, kecemasan kembali membubung tinggi seiring mereka mendekati bangunan megah di ujung koridor.

​“Ji Huang, dasar bajingan malas... kamu harus bertahan dan menutup mulut lancangmu itu sampai aku datang! Jangan sampai kepalamu beneran dijadikan bantal oleh orang pusat, atau aku bersumpah tidak akan pernah memasakkan sup ayam lagi untukmu!” batin Ji Lan penuh harap dan kekesalan yang mendalam.

​Di ujung koridor, gerbang kayu raksasa Aula Utama Keluarga Cabang Huang kini tampak berdiri kokoh dan tertutup rapat. Dari celah-celah pintu besarnya, atmosfer ketegangan yang pekat dan dingin perlahan merembes keluar, menandakan bahwa di dalam ruangan luas itu, sebuah "badai" interogasi yang dibawa oleh sang pemalas Ji Huang telah resmi dimulai.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!