Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Chip Hitam dan Aliansi Bayangan
Embusan angin pagi di area parkir khusus Dirgantara High School terasa sedikit lebih dingin dari biasanya. Haena turun dari mobil jemputan dengan gerakan tenang yang konsisten. Tas ransel hitamnya tersampir di bahu kanan, sementara tangan kirinya merapikan letak kacamata transparannya.
Di bawah sinar matahari yang mulai naik, tahi lalat kecil di bawah dagunya tampak jelas, mempertegas ekspresi wajahnya yang datar namun sarat akan konsentrasi tingkat tinggi.
Lobi sekolah yang kemarin sempat gempar akibat pengumuman nilai mutlaknya kini mendadak senyap setiap kali Haena melintas. Tatapan para siswa yang semula dipenuhi rasisme sosial dan cemoohan, kini berubah menjadi rasa segan yang bercampur ketakutan. Mereka sadar, gadis berkacamata yang mereka sebut "anak kedai soto" itu memiliki kapasitas otak yang mampu melibas siapa saja di atas kertas.
Namun, fokus Haena pagi ini tidak berada di ruang kelas. Langkah kakinya sengaja berbelok melewati koridor belakang yang sepi, menuju area taman laboratorium botani yang jarang dikunjungi siswa jam segini. Sesuai dengan pesan singkat terenkripsi yang diterimanya subuh tadi, seseorang sedang menunggunya di sana.
Di balik rimbunnya tanaman hidroponik dan dinding kaca laboratorium, sosok Kaelen Arkananta sudah berdiri bersandar pada pilar beton.
Pemuda bertubuh tinggi tegap itu mengenakan jaket almamater hitamnya yang disampirkan di bahu, menatap lurus ke arah kedatangan Haena dengan sepasang mata elang yang sedingin es. Aura dominannya yang kuat seolah mampu membekukan udara di sekitarnya.
"Kamu terlambat dua menit, Haena," ucap Kaelen, suara baritonnya yang berat memecah keheningan taman.
Haena menghentikan langkahnya tepat dua langkah di depan Kaelen. Dia tidak tampak terintimidasi sedikit pun oleh tatapan tajam pemuda penguasa sekolah itu.
"Menghindari ekor-ekor yang dikirim Vanya membutuhkan waktu ekstra, Kaelen. Jadi, langsung saja pada intinya. Apa yang ingin kamu bicarakan mengenai pesta minggu depan?"
Kaelen menarik sudut bibirnya tipis, terkesan dengan ketidaksabaran yang elegan dari gadis di depannya. Tanpa banyak bicara, Kaelen merobek keheningan di antara mereka dengan merogoh saku jaketnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam pekat dan membukanya di hadapan Haena.
Di dalam kotak itu, bertengger sebutir cip mikroskopis berwarna perak keperakan yang ukurannya tidak lebih besar dari sebutir beras, lengkap dengan konektor mikro yang sangat halus.
"Apa ini?" Haena mengernyitkan dahi, otak jeniusnya langsung menganalisis komponen sirkuit terpadu pada cip tersebut.
"Ini adalah cip sensor frekuensi kinetik dengan pemancar enkripsi militer," jawab Kaelen, suaranya melembut namun menyiratkan nada protektif yang sangat kental.
"Gunakan ini, sembunyikan di balik aksesori atau jam tangan yang akan kamu kenakan di malam pesta perjamuan Dirgantara nanti."
Haena mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Kaelen yang misterius. "Berikan aku satu alasan logis kenapa aku harus memakai barang ini."
Kaelen melangkah satu langkah lebih maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Haena bisa mencium aroma maskulin yang khas dari tubuh pemuda itu. Kaelen menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di dekat telinga Haena dengan nada beraura dingin yang penuh konspirasi.
"Ibarmu, Nyonya Rosalind, dan Vanya... mereka telah menghubungi salah satu rumah mode desainer papan atas yang berada di bawah jaringan bisnis Arkananta Group. Mereka memesan sebuah gaun khusus untukmu, Haena. Gaun yang dirancang dengan benang polimer rapuh pada sambungan bahu dan dada, yang akan terlepas secara otomatis begitu terkena panas lampu sorot utama dan distorsi frekuensi audio tinggi dari sistem suara aula."
Meskipun Haena sudah mengetahui garis besar rencana sabotase itu melalui alat sadapnya semalam, dia tetap sedikit terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka kelicikan Nyonya Rosalind dan Vanya sampai melibatkan teknologi tekstil yang begitu spesifik untuk menghancurkan harga dirinya di depan ratusan kamera media dan kolega bisnis triliuner.
"Mereka ingin membuatmu telanjang dan menanggung malu seumur hidup di tengah lantai dansa, tepat saat ayahmu mengumumkan pengalihan aset," lanjut Kaelen, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.
"Mereka juga sudah menyiapkan stimulan saraf dosis rendah yang akan dicampur ke dalam minuman peredam gugupmu sebelum acara dimulai."
Haena menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Mental bajanya bekerja dengan sangat cepat, menekan gejolak emosi negatif menjadi sebuah kalkulasi taktis yang dingin. Jari telunjuknya mengetuk pelan tahi lalat di bawah dagunya.
"Lalu, apa hubungannya dengan cip mikroskopis ini, Kaelen?" tanya Haena, menatap cip di dalam kotak beludru itu dengan pandangan yang kini dipenuhi binar ketertarikan.
"Cip ini akan memblokir dan mengalihkan setiap sinyal frekuensi audio yang dikirim ke arah gaunmu. Tidak hanya itu, aku sudah memerintahkan tim siber Arkananta Group untuk membalikkan kendali sistem pencahayaan dan proyektor utama Grand Ballroom Hotel Dirgantara," Kaelen tersenyum sinis, sebuah senyuman kejam yang sangat menawan.
"Begitu mereka menekan tombol untuk mengaktifkan frekuensi perusak gaunmu, cip ini akan memicu overload pada proyektor utama dan memproyeksikan rekaman video CCTV kamar Vanya—tempat di mana dia dan ibumu menyusun rencana busuk ini—langsung ke layar raksasa di hadapan seluruh konglomerat dan wartawan."
Haena tertegun sesaat. Strategi pembalasan yang ditawarkan Kaelen benar-benar sangat rapi, kejam, dan mematikan. Itu bukan lagi sekadar pertahanan, melainkan sebuah pembantaian karakter publik yang akan menghancurkan reputasi Vanya dan Nyonya Rosalind hingga ke akar-akarnya dalam satu malam.
Namun, Haena tidak langsung menerima kotak tersebut. Dia menatap Kaelen dengan pandangan menyelidik dari balik kacamatanya.
"Arkananta Group adalah raksasa bisnis. Dan kamu, Kaelen, adalah pewaris yang tidak pernah melakukan sesuatu tanpa keuntungan. Katakan padaku, apa imbalan yang kamu inginkan dariku setelah membantu membalikkan keadaan menjadi pertunjukan berdarah bagi mereka?"
Kaelen menatap lekat-lekat ke dalam mata jernih Haena. Keberanian dan sikap skeptis gadis ini justru membuat rasa kagum di hatinya kian membara. Dia meletakkan kotak beludru hitam itu ke dalam telapak tangan Haena, lalu menggenggam jemari lentik gadis itu dengan lembut namun erat.
"Aku tidak butuh saham atau keuntungan finansial dari Dirgantara Corp, Haena," ucap Kaelen, suaranya terdengar sangat tulus dan dalam, membuat jantung Haena mendadak melewatkan satu detakan.
"Imbalan yang kuinginkan adalah dirimu. Aku ingin kamu berdiri di sampingku sebagai pasanganku, bukan hanya di malam pesta itu, tapi di puncak tertinggi dunia bisnis ini nanti. Aku ingin aliansi kita menjadi sesuatu yang tak tergoyahkan oleh siapa pun."
Haena merasakan kehangatan dari genggaman tangan Kaelen, sebuah rasa aman yang asing namun entah kenapa terasa sangat nyaman bagi mental bajanya yang selama ini selalu bertarung sendirian di kerasnya jalanan. Dia menarik tangannya perlahan, menggenggam kotak beludru itu dengan erat, lalu menatap Kaelen dengan seulas senyuman tipis yang sangat menawan.
"Aliansi disetujui, Kaelen," jawab Haena, nadanya tegas dan penuh komitmen.
"Aku akan memakai cip ini. Dan aku berjanji... malam pesta minggu depan tidak akan menjadi malam kepulanganku yang menyedihkan, melainkan malam eksekusi massal bagi siapa saja yang mencoba bermain api denganku."
Kaelen terkekeh rendah, matanya berkilat puas.
"Kesepakatan yang bagus, Putri Haena. Sekarang, kembalilah ke kelas sebelum wali kelasmu yang cerewet itu mencarimu."
Sementara itu, di sudut koridor lantai dua gedung akademik, Vanya berdiri di balik pilar dengan tangan mengepal erat. Dia telah mengutus Sherly untuk membuntuti Haena sejak turun dari mobil, dan laporan yang diterimanya barusan membuat hatinya kian terbakar api cemburu dan kedengkian.
"Vanya, aku bersumpah, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri! Murid baru itu menemui Kaelen di taman botani belakang!" bisik Sherly dengan wajah panik.
"Mereka kelihatan dekat sekali, bahkan Kaelen memberikan sebuah kotak hitam kecil kepadanya!"
"Kurang ajar!" desis Vanya, giginya bergeletuk menahan amarah. Wajah cantiknya yang dipoles riasan Korean Ulzzang kini tampak mengerikan karena distorsi kebencian.
"Bagaimana bisa jalang kampung itu mendekati Kaelen dalam waktu secepat ini?! Aku sudah mengejar Kaelen selama tiga tahun dan dia bahkan tidak pernah menatap mataku!"
"Tenang, Vanya. Ingat rencana Nyonya Rosalind minggu depan," Marta menimpali, mencoba menenangkan.
"Biarkan saja dia kegirangan sekarang. Makin tinggi dia terbang karena merasa didekati Kaelen, makin hancur mentalnya saat gaunnya terlepas dan rahasianya dibongkar di depan publik nanti. Kaelen pasti akan langsung merasa jijik melihatnya dipermalukan seperti itu."
Vanya menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Dia membetulkan letak tas jinjing mahalnya, lalu tersenyum kejam.
"Kamu benar, Marta. Nikmatilah hari-hari terakhirmu dengan kepala tegak, Haena. Karena minggu depan, aku sendiri yang akan memastikan kamu merangkak keluar dari istana Dirgantara seperti seekor anjing kurap."
Sore harinya, sesuai dengan jadwal yang diatur Nyonya Rosalind, sebuah mobil van mewah berlogo rumah mode eksklusif La Sposa tiba di kediaman utama Menteng. Seorang desainer pria paruh baya bertaraf internasional melangkah masuk ke dalam ruang tengah, diikuti oleh asistennya yang membawa pita pengukur dan sampel kain sutra tercanggih.
Nyonya Rosalind dan Vanya duduk di sofa dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin saat Haena turun dari tangga untuk melakukan pengukuran tubuh.
"Ah, Haena, perkenalkan ini desainer utama kita. Dia yang akan membuatkanmu gaun paling megah untuk malam pesta nanti," ucap Nyonya Rosalind dengan nada suara yang terdengar sangat keibuan, sebuah akting luar biasa yang menjijikkan di mata Haena.
"Selamat sore, Nona Haena. Suatu kehormatan bisa merancang gaun untuk putri kandung Keluarga Dirgantara," ucap desainer itu sembari membungkuk hormat, namun Haena bisa menangkap sekilas kegugupan di dalam gerak-gerik pria tersebut sebuah indikasi bahwa dia telah menerima instruksi khusus dari Nyonya Rosalind di bawah ancaman atau suapan.
Haena berdiri tegak di atas podium kecil bersisi cermin, membiarkan asisten desainer mengukur lingkar dada, pinggang, dan bahunya.
Pandangannya dari balik kacamata transparan menyapu wajah Nyonya Rosalind dan Vanya yang sedang berpura-pura sibuk melihat-lihat katalog kain di sofa.
Di dalam saku rok seragamnya, jemari Haena menyentuh permukaan dingin kotak beludru hitam pemberian Kaelen. Otak jeniusnya tersenyum sinis. Perangkap telah dipasang oleh musuh, umpan telah ditelan dengan sengaja, dan jaring aliansi bayangannya dengan Kaelen kini telah siap ditarik.
Malam pesta perjamuan Grand Debut minggu depan dipastikan tidak akan berjalan sesuai dengan skenario sutra milik Nyonya Rosalind, melainkan akan menjadi kuburan masal bagi ambisi busuk Vanya.
(Cliffhanger)
"Malam pesta perjamuan yang dinantikan akhirnya tiba. Grand Ballroom Hotel Dirgantara dipenuhi oleh ratusan kilatan lampu kamera wartawan dan deretan tamu konglomerat kelas atas. Saat Haena melangkah turun dari tangga utama mengenakan gaun sutra putih yang luar biasa anggun, Vanya yang berdiri di sudut ruangan diam-diam mengeluarkan sebuah perangkat kendali jarak jauh kecil dari dalam tasnya. Dengan senyuman iblis, Vanya menekan tombol aktivasi frekuensi, siap menyaksikan kehancuran fisik dan mental Haena di depan dunia."