NovelToon NovelToon
KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."

Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Nafkah Sang Suami dan Jeratan Manis

BAB 26: Nafkah Sang Suami dan Jeratan Manis

​Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah gorden kaca penthouse, memantulkan cahaya berkilau di atas permukaan lantai marmer. Di area dapur yang bernuansa modern, suara gemercik air wastafel beradu dengan denting halus piring porselen. Kiara berdiri menghadap wastafel, sedang mencuci sisa peralatan masak sarapan mereka dengan gerakan telaten.

​Pagi ini, Kiara tampak begitu segar sekaligus cantik. Ia mengenakan kemeja rajut putih berkerah turtleneck tinggi tanpa lengan, menyembunyikan dengan rapat mahakarya tanda kemerahan yang Adrian cetak dengan brutal semalam di atas kulit lehernya. Sifat tangguh yang biasa melekat pada dirinya perlahan melembut, digantikan oleh gurat senyuman tipis yang sesekali terukir di bibir ranumnya saat mengingat bagaimana cara Adrian memeluknya hingga subuh tadi.

​Sret.

​Sebuah sekat hangat mendadak mengunci pergerakan pinggang ramping Kiara dari belakang. Kiara tersentak pelan, namun ia tidak memberontak saat mencium aroma maskulin mint bercampur sabun beraliran maskulin yang teramat ia kenal.

​Adrian sudah berdiri di sana, menempelkan dada bidangnya yang keras tanpa celah pada punggung polos Kiara. Pria berumur dua puluh sembilan tahun itu tampaknya sengaja belum merapikan setelan kerjanya dengan sempurna. Kemeja kerja berwarna hitam miliknya dibiarkan terbuka setengah dada, mengekspos deretan otot perut dan urat-urat menonjol di lengan kekarnya yang seksi. Rambut hitam tebalnya mencuat acak-acakan, memberikan kesan nakal yang teramat menggoda.

​"Adrian, lepaskan dulu... aku sedang mencuci piring, nanti bajumu basah," lirih Kiara, wajahnya seketika merona merah jambu di bawah tatapan mata elang Adrian yang begitu intens memindai profil samping wajahnya.

​"Biarkan saja basah, Mahasiswaku," bisik Adrian rendah. Suara baritonnya yang serak pasca bangun tidur bergaung seksi tepat di ceruk leher Kiara.

​Adrian menundukkan kepalanya perlahan. Bibir panasnya mulai mendaratkan kecupan-kecupan pendek yang basah dan menuntut di sepanjang pundak mulus Kiara yang tidak tertutupi kain rajut, lalu merayap naik menelusuri garis rahang gadis itu. Setiap sentuhan bibir Adrian mengirimkan sengatan listrik panas yang seketika melumpuhkan seluruh otot kaki Kiara, membuatnya hanya bisa bersandar pasrah pada topangan tubuh tegap sang profesor.

​Tangan kekar Adrian yang dipenuhi urat-urat seksi merayap turun, mematikan kran air dengan cekatan sebelum memutar tubuh mungil Kiara dengan satu sentakan lembut agar menghadap sepenuhnya ke arahnya. Kini, posisi Kiara benar-benar terkunci di antara meja konter marmer yang dingin dan kukuhnya raga telanjang dada Adrian yang membakar birahi.

​Adrian menatap lekat-lekat manik mata Kiara, jemari panjangnya bergerak naik, menarik sedikit kerah tinggi kemeja Kiara hingga tanda pekat semalam kembali terlihat di bawah siraman cahaya pagi. Seringai tengil dan nakal yang teramat tampan terukir di sudut bibirnya.

​"Tanda ini terlihat sangat cantik di kulitmu, Kiara. Membuatku ingin menambahkan beberapa lagi di tempat lain," goda Adrian dengan nada baritonnya yang sarat akan dominasi pria alpha.

​"Adrian! Berhenti bersikap mesum, ini sudah pagi dan kamu ada kelas jam sembilan nanti," ketus Kiara, menyembunyikan debaran jantungnya yang menggila dengan cara memukul pelan dada keras Adrian.

​Adrian terkekeh sangat tipis, sebuah kekehan sensual yang membuat batin Kiara meleleh seada-adanya. Pria itu menunduk, meraup bibir ranum Kiara dalam sebuah ciuman pagi yang lambat, dalam, dan penuh kelembutan yang memabukkan rasa, menghisap manisnya bibir sang mahasiswi seolah ia tidak akan pernah merasa kenyang.

​Setelah beberapa saat melumat bibir Kiara hingga gadis itu kehabisan napas dan mencengkeram erat bahu kokohnya, Adrian menyudahi ciumannya secara perlahan. Ia merengkuh pinggang Kiara, membiarkan jemarinya merayap masuk ke dalam saku celana kerjanya sendiri, lalu mengeluarkan sebuah benda persegi tipis berwarna hitam berkilau dengan logo metalik yang mewah.

​Sebuah Black Card. Kartu kredit tanpa limit atas nama pribadi Adrian Alkatiri.

​Adrian meraih tangan kanan Kiara, meletakkan kartu mewah itu di atas telapak tangan mungilnya, lalu menutup jemari Kiara agar menggenggamnya dengan erat.

​"Apa ini, Adrian?" tanya Kiara, dahinya berkerut dalam. Sifat tangguhnya seketika siaga. Ia menatap kartu itu dengan binar mata yang tidak suka. "Jika ini adalah bagian dari uang kontrak gelap kita, aku tidak membutuhkannya. Uang tiga ratus lima puluh juta yang kamu berikan di awal sudah lebih dari cukup untuk biaya pengobatan ibuku dan kuliahku."

​Mendengar penolakan tegas dari Kiara, tatapan mata elang Adrian mendadak meredup, berganti dengan kilat keseriusan yang teramat dalam dan protektif. Ia menangkup kedua sisi wajah Kiara dengan tangan besarnya yang hangat, memaksa gadis itu membaca seluruh kejujuran yang terpancar dari manik matanya.

​"Dengarkan aku baik-baik, Kiara," bisik Adrian, suaranya mendadak berubah menjadi sangat berat, parau, dan sarat akan penekanan kepemilikan yang mutlak. "Ini bukan uang kontrak sialan itu. Ini adalah nafkah dari suami sahmu. Kartu ini terhubung langsung dengan rekening pribadi rahasia milikku, bukan di bawah pengawasan Alkatiri Group atau ibuku."

​Adrian memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka bersentuhan, mengunci pandangan Kiara sepenuhnya. "Aku tahu ibuku dan Clarissa tidak akan tinggal diam setelah kejadian kemarin. Aku sedang menyusun strategi untuk memindahkan sebagian besar aset riset utamaku agar ibuku tidak bisa berkutik. Tapi sebelum perang itu dimulai, aku ingin memastikan duniaku aman. Dan duniaku adalah kamu, Kiara."

​Ibu jari Adrian mengusap lembut bibir bawah Kiara yang sedikit bengkak akibat keliarannya semalam. "Ambil kartu ini, gunakan untuk membeli apa saja yang kamu mau. Jangan pernah menolaknya, karena aku egois, Mahasiswaku. Jika kamu berani mengembalikannya atau menolaknya lagi..." Adrian menjeda kalimatnya, seringai tengilnya kembali muncul bercampur binar birahi yang berbahaya, "...kupastikan aku akan menghukummu di atas meja konter dapur ini sekarang juga sampai kamu lemas dan tidak bisa berjalan ke kampus hari ini."

​Deg.

​Ancaman mesum namun super posesif itu seketika membuat wajah Kiara memerah sempurna hingga ke leher. Ketangguhan batinnya runtuh tak berbekas di bawah perlindungan mutlak dan jeratan manis sang dosen keren. Tanpa mereka berdua sadari, di balik kebahagiaan dan keintiman yang teramat padat pagi itu, detak bom waktu konflik besar yang melibatkan dr. Calista, Tante Miranda, dan rahasia janin yang kelak akan dikandung Kiara... sudah mulai berjalan mendekati angka nol.

1
cynth
KIND OF NOVEL I'VE BEEN LOOKING FOR (ToT)! Ini jatuhnya kayak dark romance kah, Thor? Gragas banget si Adrian 😭
Yolan Manik: yasudah, semangat ya thor💪
total 4 replies
cynth
Serem 😭
gendiz: ayo kita ngumpet kak 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!