NovelToon NovelToon
Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.

Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.

Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Lima Tetes

Lima ekor Wagyu. Lima tetes Air Suci. Satu per satu, ia teteskan ke lidah masing-masing sapi sebelum matahari terbit, saat CCTV masih merekam dalam mode infrared dan ia bisa berpura-pura sedang memberi vitamin. Dosisnya sudah ia hitung dengan cermat. Satu tetes per ekor, tidak lebih. Cukup untuk membantu adaptasi mereka terhadap pakan lokal dan mengurangi stres pasca perjalanan.

Tapi lima tetes berarti lima kali pengurasan. Lima kali tarikan di bagian dalam dadanya yang terasa seperti ada tangan tak terlihat meremas jantungnya. Lima kali rasa dingin yang menjalar dari ujung jari ke seluruh tubuh.

Dan sekarang, pukul sembilan pagi, ia duduk menyandar di dinding kandang dengan wajah sepucat kertas.

"Ndut," panggilnya pelan pada Limosin tua yang setia berdiri di kandang sebelah. "Aku istirahat dulu ya. Lima menit saja."

Ndut melenguh rendah. Matanya yang besar menatap Saskia dengan ekspresi yang anehnya terlihat khawatir. Tapi Saskia tahu itu hanya proyeksi pikirannya sendiri. Sapi tidak bisa khawatir.

Atau bisakah?

Belum sempat ia memejamkan mata, suara klakson dari depan pagar membuatnya tersentak. Suara klakson yang mulai ia kenali. Terlalu halus untuk truk pakan. Terlalu mahal untuk angkutan desa.

Alphard hitam.

Tapi bukan Daniel yang turun. Hanya Budi, dengan setelan yang lebih santai dari biasanya, kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku. Di tangannya, sebuah tas kertas besar dengan logo restoran yang tidak Saskia kenali.

"Selamat pagi, Mbak Saskia."

"Budi." Saskia bangkit dengan susah payah. Lututnya gemetar, tapi ia memaksakan diri berdiri tegak. "Pak Daniel kirim apa lagi sekarang? CCTV tambahan? Sensor gerak? Drone pengintai?"

Budi terkekeh. Bukan tawa mengejek. Tawa yang tulus, seperti seseorang yang sudah terbiasa dengan humor pahit. "Bukan, Mbak. Kali ini Bapak kirim katering."

"Apa?"

Budi mengangkat tas kertas itu. "Ini. Makan siang. Dari restoran langganan Bapak di Surabaya. Mereka antar langsung tiap hari, mulai sekarang."

Saskia menatap tas itu seperti menatap benda asing dari planet lain. "Katering. Setiap hari."

"Betul."

"Atas perintah Pak Daniel."

"Betul."

"Kenapa?"

Budi meletakkan tas itu di meja kayu di depan kandang. Jemarinya mulai mengeluarkan kotak-kotak makanan dari dalamnya. Nasi merah. Ayam panggang tanpa kulit. Sayuran kukus. Buah potong. Semuanya dikemas rapi dalam wadah-wadah terpisah.

"Saya tidak bisa jawab pertanyaan itu, Mbak. Bapak cuma bilang: 'Kirim makanan sehat ke peternakan itu. Jangan sampai pengelolanya sakit.'"

"Itu..." Saskia berhenti. "Itu bukan karena peduli. Itu karena beliau tidak mau asetnya terganggu."

"Terserah Mbak menafsirkan bagaimana."

Saskia menatap makanan di depannya. Nasi merah yang masih hangat. Ayam panggang yang aromanya membuat perutnya langsung melilit. Perutnya yang sejak tadi hanya diisi air putih dan setengah bungkus biskuit murahan.

"Ada syaratnya?" tanyanya.

"Syarat?"

"Biasanya Pak Daniel tidak memberi sesuatu tanpa syarat."

Budi tersenyum tipis. "Syaratnya cuma satu: makan sampai habis. Dan jangan makan mie instan lagi."

Saskia menegang. "Beliau tahu saya makan mie instan?"

"CCTV, Mbak."

Tentu saja. Delapan kamera yang merekam setiap sudut kandangnya. Termasuk sudut di mana ia biasanya duduk makan mie instan cup dengan air panas dari termos. Daniel pasti melihatnya. Mungkin sambil minum kopi di kantornya yang mewah di lantai dua puluh tujuh, menonton seorang gadis desa menyeduh mie instan di kandang sapi.

Rasanya memalukan. Sekaligus menjengkelkan.

"Bilang ke Pak Daniel, terima kasih." Suara Saskia datar. "Tapi saya bisa urus makan sendiri."

"Saya akan sampaikan."

Budi berpamitan dan kembali ke Alphard. Mesin mobil menyala, dan kendaraan mewah itu menghilang di tikungan jalan desa.

Saskia menatap makanan di depannya. Perutnya kembali melilit. Kali ini lebih keras.

"Makanan gratis," gumamnya. "Makanan mahal. Dikirim dari Surabaya."

Ia mengambil sendok plastik yang disediakan. Menusuk potongan ayam panggang. Mengunyah pelan. Rasanya... enak. Sangat enak. Jauh lebih enak dari mie instan cup yang biasa ia makan. Jauh lebih bergizi.

Tapi rasanya juga sedikit pahit. Pahit karena ia tidak bisa memastikan apakah ini benar-benar perhatian, atau sekadar investasi untuk menjaga aset tetap produktif.

Malamnya, Daniel muncul lagi.

Kali ini tanpa Budi. Tanpa teknisi. Hanya dia sendiri, dengan jas abu-abu yang sama, sepatu kulit yang sama, dan ekspresi wajah yang sama tidak terbacanya.

Saskia sedang duduk di depan kandang, semangkuk mie instan cup di tangannya. Makanan katering tadi sudah habis sejak siang. Ia masih lapar. Badannya yang anemia butuh lebih banyak kalori daripada yang disediakan oleh ayam panggang dan sayuran kukus.

Daniel melihat mie instan itu. Matanya menyipit.

"Apa itu?"

"Mie instan."

"Saya tahu itu mie instan. Maksud saya, kenapa Anda makan itu?"

"Karena saya lapar."

"Kateringnya kurang?"

Saskia meletakkan sumpit plastiknya. "Kateringnya habis. Saya masih lapar. Jadi saya makan mie instan."

Daniel melangkah mendekat. Gerakannya cepat, tidak terduga. Sebelum Saskia bisa bereaksi, tangannya sudah meraih cup mie instan dari tangannya.

"Hei!"

"Makanan sampah begitu merusak kualitas pikir." Daniel berjalan ke tempat sampah di sudut kandang. "Kalau otak Anda rusak, sapi-sapi saya yang rugi."

"Jangan dibuang!"

Terlambat. Cup mie instan itu sudah masuk ke tempat sampah. Mienya tumpah. Kuahnya mengotori plastik sampah.

Saskia menatap mie instannya yang sekarang tergeletak di dasar tempat sampah. Lalu menatap Daniel. Matanya menyala.

"Itu makanan saya."

"Itu sampah."

"Itu uang saya. Tiga ribu rupiah. Saya yang beli."

Daniel mengeluarkan dompet dari saku jasnya. Ia mengambil selembar uang lima puluh ribuan, meletakkannya di meja. "Ganti. Beli makanan yang benar."

"Ini bukan soal uang."

"Lalu soal apa?"

Saskia tidak menjawab. Ia hanya menatap laki-laki di depannya dengan ekspresi yang campur aduk antara marah, lelah, dan sesuatu yang lain yang ia sendiri tidak bisa identifikasi.

Daniel menatapnya balik. Lima detik. Sepuluh detik. Lalu ia berbalik dan berjalan menuju Alphard hitamnya.

"Katering besok porsinya akan saya tambah," katanya tanpa menoleh. "Jangan sampai saya lihat Anda makan mie instan lagi."

Pintu mobil dibuka. Ditutup. Mesin menyala. Alphard hitam menghilang di kegelapan jalan desa.

Saskia berdiri sendirian di depan kandangnya. Delapan CCTV terus merekam. Lampu merah kecilnya berkedip-kedip di kegelapan.

"Kenapa kau buang makananku?" bisiknya pada tidak ada siapa-siapa.

Lalu ia berjalan ke tempat sampah. Menatap mie instannya yang sudah dingin dan berantakan. Jemarinya terulur, hampir menyentuh cup yang sudah miring.

Ia menarik tangannya kembali.

Bukan karena jijik. Tapi karena ia menyadari sesuatu. Di balik semua sikap kasarnya, di balik semua kata-kata tajamnya, di balik semua CCTV dan kontrak dan klausul-klausul yang mencekik, Daniel Hardjono baru saja membuang makanannya.

Karena menurutnya itu sampah. Karena menurutnya Saskia layak makan yang lebih baik. Mie instan dingin itu ia tatap di dasar tempat sampah.

Kenapa dadanya terasa sedikit hangat?

1
4revenge
aku suka bagian ini
Lini Krisnawati
bagus
gina altira
Suka nie sama Saskia tegassss
gina altira
semangat SASKIA
gina altira
jadi Dilema ya Saskia,
sukensri hardiati
baru mulai buka mata dah banyak banget masalah saskia yg harus diurus....smangatttt....
gina altira
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!