Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita itu
Aroma seduhan biji kopi hitam yang pekat bertemu dengan semilir hawa dingin dari mesin pendingin ruangan di sudut Kafe Amanta. Siang itu, tempat tersebut tergolong lengang. Hanya ada alunan musik instrumental piano klasik yang mengalun samar di latar belakang, mencoba mencairkan ketegangan yang justru membeku di salah satu meja paling pojok dekat jendela kaca besar. Di luar, terik matahari siang memantul di atas aspal jalan raya, namun di dalam sini, atmosfer terasa begitu dingin dan mencekam.
Neya duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya di atas meja kayu yang mengilat. Sepasang mata bulatnya menatap lurus ke arah wanita yang duduk tepat di hadapannya. Wanita itu tampak sangat anggun dan matang, usianya mungkin berada tiga atau empat tahun di atas Neya. Ia mengenakan blus sutra premium berwarna pastel yang dipadukan dengan celana bahan berpotongan elegan. Rambut hitamnya disanggul rapi ke belakang, memperlihatkan garis leher yang jenjang. Namun, riasan tipis di wajah cantiknya tidak mampu menyembunyikan gurat keletihan batin yang teramat dalam. Sepasang matanya tampak sembap, menyimpan mendung yang sewaktu-waktu bisa pecah menjadi badai.
Zalwa—wanita itu—awalnya hanya terdiam membisu. Jemarinya yang dihiasi cincin pernikahan emas terus memutar-mutar sendok kecil di dalam cangkir teh kamomilnya yang sudah mendingin. Tidak ada sedikit pun niat darinya untuk meminum cairan tersebut. Sorot matanya dipenuhi kabut keraguan yang besar. Sejak sepuluh menit lalu mereka duduk berhadapan, Zalwa terus menatap Neya dengan pandangan menyelidik. Ia memperhatikan setiap inci wajah Neya, mencoba mencari-cari celah kesalahan, kesombongan, atau keburukan dari wanita muda yang telah merebut seluruh perhatian suaminya. Namun, semakin ia mencari, semakin ia merasa frustrasi. Sebab, yang ia temukan hanyalah sepasang mata bulat polos tanpa dosa, kulit pucat yang tampak rapuh, dan aura kebingungan yang teramat murni.
"Aku... sebenarnya tidak pernah berniat untuk menemuimu seperti ini, Neya," suara Zalwa akhirnya pecah, memecah keheningan di antara mereka. Suaranya terdengar serak, bergetar hebat menahan luapan emosi yang telah mengendap begitu lama di dalam dadanya. "Aku sudah berjanji pada Aris dan Ibu Rana untuk menutup rapat mulutku seumur hidup mengenai keberadaanmu. Tapi... aku tidak bisa lagi menanggung siksaan ini sendirian di rumah sepi itu. Ini benar-benar tidak adil bagiku."
Neya tidak menyela sedikit pun. Ia tidak menunjukkan kepanikan atau ketakutan. Sebaliknya, ia justru memajukan tubuhnya sedikit ke depan meja, memasang ekspresi wajah yang terkejut, bingung, sekaligus dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam. Dalam hitungan detik, ia membiarkan sepasang matanya berkaca-kaca, menciptakan genangan air mata buatan yang siap jatuh. Ia menatap Zalwa dengan pandangan seolah-olah ia adalah sosok paling berdosa di ruangan ini karena telah merusak kebahagiaan wanita lain tanpa ia sengaja.
"Mbak Zalwa... apa maksud dari semua ini?" tanya Neya, suaranya sengaja dibuat bergetar tipis, terdengar begitu rapuh dan menuntut penjelasan dengan kepolosan yang memikat.
Zalwa meletakkan sendok kecilnya dengan denting kasar di atas tatakan porselen, lalu menyeka ujung matanya yang mulai basah. "Sejak hari Aris membawamu pulang ke rumah bernuansa abu-abu itu dan menikahimu, dia tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumahku, Neya. Satu tahun... sudah satu tahun penuh aku dibuang dalam kesunyian, hidup seperti hantu kelaparan di rumah mewah yang dibeli oleh suamiku sendiri. Dan puncaknya adalah semalam. Ketika Aris pulang ke rumahku dengan wajah penuh binar bahagia yang belum pernah aku lihat selama tiga tahun ini, hanya untuk mengabarkan bahwa kamu... kamu sedang mengandung anaknya."
Zalwa tersenyum getir, sebuah tawa hambar yang sarat akan kepedihan meluncur begitu saja dari bibirnya yang bergetar. "Kamu tahu betapa hancurnya hatiku saat mendengar itu? Aku dan Aris sudah menikah selama tiga tahun, Neya! Tiga tahun kami berjuang, mendatangi berbagai dokter kandungan, mencoba segala macam terapi, namun rahimku belum juga diberkahi keturunan. Dan kamu... wanita asing yang datang entah dari mana dengan kondisi ingatan yang rusak, mendadak merebut suamiku, merebut posisiku, dan sekarang memberikan apa yang paling aku impikan di hidup ini kepada Aris dalam waktu sesingkat itu."
Neya langsung menurunkan pandangannya ke bawah meja. Ia meremas jemari tangannya sendiri di atas pangkuan seolah ia sedang ketakutan, merasa sangat terpukul, dan merasa tidak berdaya oleh kenyataan pahit yang baru saja didengarnya.
"Maafkan aku, Mbak... aku benar-benar tidak tahu," bisik Neya lirih, suaranya parau seolah menahan tangis yang menyakitkan. "Ingatanku... memori masa laluku hilang sepenuhnya akibat kecelakaan itu. Kak Aris dan Bunda tidak pernah menceritakan ini padaku. Mereka bilang aku adalah satu-satunya..."
Zalwa menghapus air matanya dengan kasar menggunakan selembar tisu, dadanya naik-turun menahan sesak yang kian mencekik. "Tentu saja mereka tidak akan menceritakannya padamu. Semuanya diatur dengan sangat rapi oleh kedua keluarga. Kamu ingin tahu bagaimana kamu bisa berakhir di pelukan suamiku, hah?"
"Ibuku dan Ibu Rana, ibunya Aris, adalah sahabat karib sejak mereka masih muda. Dan ibumu, Ibu Imelda, juga bagian dari lingkaran pertemanan itu," ujar Zalwa dengan suara yang kian merendah, membawa penekanan dramatis yang mencekam ke atas meja. "Satu tahun lalu, ibumu sudah benar-benar putus asa. Beliau tidak tahu lagi harus berbuat apa menghadapi kekejaman dan intimidasi luar biasa dari keluarga besar Kinan Kusuma yang ingin melenyapkanmu dari muka bumi ini. Tepat di hari Kinan pergi meninggalkanmu sendirian di rumah sakit dalam kondisi sekarat, kritis, dan berdarah-darah, ibumu menemui Ibu Rana dengan air mata darah. Beliau menceritakan semua teror, peluru, dan ancaman nyawa yang mengincarmu jika kamu tetap berada di dekat Kinan."
Zalwa menarik napas dalam, menatap Neya dengan pandangan yang sulit diartikan—perpaduan antara rasa benci dan kasihan. "Keluarga Kusuma terlalu kuat untuk dihadapi sendirian oleh ibumu. Saat itulah, Ibu Rana memberikan sebuah tawaran yang mereka sebut sebagai penyelamatan. Beliau berkata bahwa satu-satunya cara melindungimu adalah dengan menyembunyikanmu di bawah payung perlindungan konglomerat lain yang kekuasaannya setara—yaitu keluarga mereka. Ibu Rana menyuruh Aris untuk menikahimu secara sah, memanfaatkan kondisi amnesiamu agar kamu memiliki identitas baru yang aman dari jangkauan intelijen keluarga Kinan."
Neya meremas kain rok kerjanya di bawah meja, otaknya menangkap satu informasi krusial yang paling ia butuhkan: Kinan meninggalkanku karena terpaksa oleh kekejaman keluarganya. Dia tidak pernah mengkhianatiku. Fakta itu membuat setitik kehangatan muncul di hatinya, namun di saat yang sama memicu bara dendam yang luar biasa besar kepada keluarga Kusuma.
"Lalu... bagaimana denganmu, Mbak? Kenapa Kak Aris menyetujuinya?" tanya Neya, memancing sisa cerita.
"Ibu Rana memanfaatkan fakta bahwa aku belum bisa memberikan keturunan setelah tiga tahun pernikahan," jawab Zalwa dengan bahu yang merosot layaknya wanita yang telah kehilangan seluruh harga dirinya di depan mertua. "Beliau menekan Aris menggunakan hak waris perusahaan. Dan Aris... pria itu yang memang sejak awal sudah terobsesi pada kecantikanmu saat pertama kali melihat fotomu yang ditunjukkan oleh ibumu, langsung menyetujui rencana itu tanpa memikirkan perasaanku. Aku dipaksa mundur ke belakang layar, menjadi istri sah yang disembunyikan di rumah lain demi keselamatan nyawamu dan demi ambisi keturunan keluarga mereka. Kamu dilindungi dengan segala kemewahan dan cinta semu dari Aris, sementara aku mati perlahan dalam kecemburuan di rumah sepi."
Zalwa mencengkeram cangkir tehnya hingga buku-buku jarinya memutih, menatap Neya dengan sisa-sisa harga dirinya yang terluka. "Sekarang kamu sudah tahu segalanya, Neya. Kamu hidup di dalam sangkar emas yang dibangun di atas penderitaanku."
Keheningan kembali menyelimuti meja mereka selama beberapa menit. Di hadapan Zalwa, Neya kembali menundukkan wajahnya, membiarkan pundaknya sedikit berguncang seolah-olah ia sedang menangis tersedu-sedu, hancur berkeping-keping akibat kebenaran masa lalunya yang terbongkar.
Neya perlahan mendongak. Ia mengulurkan kedua tangan halusnya di atas meja, meraih tangan Zalwa yang gemetar, lalu menggenggamnya dengan kehangatan yang tampak begitu tulus. Sorot mata Neya menatap Zalwa dengan binar kepasrahan dan pengorbanan yang teramat dalam.
Mbak Zalwa..." ucap Neya lembut, suaranya terdengar begitu tipis dan sarat akan penderitaan. "Aku tidak pernah meminta semua ini terjadi di hidupku. Aku tidak ingin hidup di dalam kemewahan yang ternyata dibangun di atas air mata wanita sebaik Mbak. Tapi aku juga tidak bisa membohongi hatiku sendiri... aku tersiksa berada di pernikahan yang dipaksakan ini. Aku tidak mencintai Aris. Aku ingin pergi, Mbak. Aku ingin membebaskan diri."
Zalwa tertegun, menatap genggaman tangan Neya dengan pandangan tidak percaya. "Kamu... kamu ingin pergi? Tapi kamu sedang hamil anak Aris, Neya! Aris tidak akan pernah melepaskanmu, apalagi ibunya!"
Neya menggelengkan kepalanya perlahan, membiarkan satu titik air mata jatuh melewati pipinya yang pucat.
"Anak di dalam rahimku ini... akan menjadi milik Mbak Zalwa dan Kak Aris setelah lahir nanti. Aku akan memberikan bayi ini pada kalian secara cuma-cuma sebagai penebus salahku karena telah merusak rumah tangga kalian. Rawatlah dia sebagai anak kandungmu sendiri, Mbak. Aku tidak akan menuntut hak apa pun atas anak ini setelah dia lahir. Dan setelah itu, aku ingin Kak Aris menceraikanku."
Zalwa memekik tertahan, menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar hebat. "Neya, kamu serius? Tapi... Aris itu pria yang keras kepala. Dia tidak akan pernah mau menceraikanmu secara sukarela, terlebih jika kamu bersedia menyerahkan anak itu padaku!"
Neya meremas tangan Zalwa sedikit lebih erat, menatapnya dengan tatapan mata yang dalam dan sarat akan manipulasi emosi.
"Karena itu, Mbak... bukan aku yang akan meminta perceraian ini pada Kak Aris," bisik Neya dengan nada suara yang terdengar seperti sebuah kepasrahan tak berdosa, "Ibuku sangat menyayangi Kak Aris karena mengira dia adalah malaikat penyelamatku. Jika aku yang meminta cerai atau melarikan diri, ibuku akan sangat kecewa, hancur, dan Kak Aris akan memburuku sampai ke ujung dunia. Aku tidak mau menyakiti ibuku."
Neya mengambil napas pendek, lalu melanjutkan dengan tatapan yang mengunci mangsanya. "Dunia harus melihat bahwa aku adalah pihak yang tersakiti di sini. Aku yang dibuang, aku yang terzalimi, aku yang malang. Mbak Zalwa yang harus bergerak maju menghancurkan pernikahan ini dari luar. Mbak harus mendatangi Kak Aris, bawa nama besar keluarga Mbak, dan ancam dia atas pernikahan rahasia yang ilegal ini. Tuntut Kak Aris di depan ibunya, katakan bahwa Mbak tahu semuanya dan paksa Kak Aris untuk menceraikanku demi mempertahankan nama baik serta saham perusahaan keluarganya dari skandal publik. Buat skenario seolah-olah Mbak yang merebut Aris kembali karena kemandulan Mbak sudah teratasi dengan adanya anak di rahimku yang akan menjadi milikmu."
Zalwa menelan ludah, dadanya bergemuruh hebat mendengarkan setiap deret kalimat Neya. Rencana itu terdengar sangat brilian dan menguntungkan bagi logikanya yang sedang kalap oleh rasa cemburu dan ambisi memiliki anak.
Tapi... ada satu hal mutlak yang harus Mbak pastikan saat menuntut perceraian itu nanti ke Kak Aris," lanjut Neya, suaranya merendah, terdengar begitu tenang namun penuh penekanan yang tak boleh dibantah. "Mbak harus memastikan bahwa lima puluh persen aset pribadi milik Kak Aris dialihkan sepenuhnya atas namaku sebagai kompensasi atas perpisahan ini. Katakan pada Kak Aris bahwa itu adalah harga mati yang aku minta melalui Mbak, agar aku tetap diam, tidak menuntut balik, dan tidak membongkar kejahatan pemalsuan identitas yang dilakukan keluarganya ke publik."
Zalwa mengernyitkan dahi, sedikit terkejut dengan nominal tersebut. "Lima puluh persen aset Aris? Itu jumlah yang sangat fantastis, Neya. Kenapa kamu meminta sebanyak itu?"
Neya kembali mengulas senyuman paling canggung dan sedih, memasang topeng kerapuhannya dengan kecepatan kilat. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi setelah keluar dari rumah itu, Mbak. Aku harus bertahan hidup di luar sana sendirian dalam persembunyian setelah memberikan bayiku pada Mbak. Uang itu... adalah satu-satunya jaminan agar aku bisa menyambung hidup secara layak di tempat baru tanpa pernah perlu merepotkan atau menyusahkan ibuku lagi."
Mendengar alasan yang begitu malang, logis, dan penuh pengorbanan tersebut, benteng keraguan terakhir di dada Zalwa seketika runtuh total. Ia menatap Neya dengan pandangan haru, takjub, sekaligus berterima kasih yang teramat sangat. Di dalam benak Zalwa, wanita muda di hadapannya ini benar-benar seorang malaikat berhati mulia yang rela menyerahkan tubuh, anak, dan statusnya demi mengembalikan kebahagiaan rumah tangga orang lain.
Baik, Neya. Aku bersumpah... aku yang akan mengurus semuanya dari luar. Aku akan menyewa pengacara terbaik keluarga kami, menekan Aris, dan memastikan dia menceraikanmu dengan statusmu sebagai korban yang suci. Dan aku akan merebut lima puluh persen aset itu untukmu.
Neya melepaskan genggaman tangannya perlahan dengan senyum penuh terima kasih. Ia berpamitan dengan sopan untuk kembali ke kantor, melangkah keluar dari kafe dengan sisa-sisa gerakan tubuh yang sengaja dibuat tampak lemas dan rapuh di depan pandangan mata Zalwa yang melepasnya dengan rasa iba.
Neya berjalan menyusuri trotoar sembari perlahan meraba perut ratanya di balik kemeja kerja putihnya. Sudut bibir cantiknya perlahan terangkat, membentuk sebuah seringai dingin.
lalu Kinan ?