NovelToon NovelToon
Dibeli Seharga 1 Miliar

Dibeli Seharga 1 Miliar

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Balik Topeng

Suara ledakan kedua mengguncang pondasi rumah tua itu, membuat debu langit‑langit berjatuhan halus. Alex tidak membuang waktu ia langsung menarik Aulia menjauh dari jendela, tangannya meraih senjata yang terselip di pinggang, sementara Rio memberi isyarat cepat pada dua pengawal yang datang bersama untuk mengamankan pintu belakang.

“Jangan lepaskan pandangan dariku,” bisik Alex di telinga Aulia, nadanya tegas namun tenang, berusaha menahan gelombang emosi yang meluap: kemarahan, kewaspadaan, dan rasa protektif yang membara. “Siapa pun sosok bertopeng itu, dia tidak akan bisa menyentuhmu selagi aku berdiri di sini.”

Aulia mengangguk kaku, matanya masih tak lepas dari sosok di luar yang memegang liontin serupa milik ibunya. Jantungnya berdegup kencang bukan hanya karena bahaya yang mengancam, tapi karena rasa aneh yang menyelinap masuk, seolah ada bagian dari masa lalunya yang tertahan di balik topeng itu.

“Rio, bawa Aulia keluar lewat lorong belakang yang ayahnya pernah ceritakan padaku,” perintah Alex sambil memeriksa peluru di senjatanya. “Aku akan menahan mereka di depan. Tapi hati‑hati lorong itu mungkin sudah tidak aman lagi.”

“Tidak, Alex,” potong Aulia cepat, tangannya mencengkeram lengan jas pria itu. “Aku tidak mau hanya lari dan menunggu. Aku juga ingin tahu siapa orang yang mengaku kenal masa lalu ibuku.”

Alex menatapnya tajam, namun di balik tatapan keras itu ada kekaguman diam‑diam. Keberanian Aulia bukanlah kebodohan, melainkan hasil dari keteguhan hati yang perlahan tumbuh di tengah dunia yang keras ini. Namun keselamatan tetap yang utama.

“Nanti kita cari tahu semuanya,” jawabnya lembut namun tegas. “Sekarang, selamatkan diri dulu. Itu perintahku.”

Sebelum sempat terjadi perdebatan lebih lanjut, suara tembakan melesat menembus kaca jendela, menancap di dinding kayu di samping kepala Alex. Pertempuran tak terelakkan lagi. Rio segera mengulurkan tangan pada Aulia. “Ayo, Nona Aulia. Kita tidak boleh membuang waktu.”

Sementara Aulia dan Rio bergerak menuju lorong belakang yang gelap dan berdebu, Alex melangkah menuju pintu depan. Di sana, suara langkah kaki berat terdengar mendekat, disertai tawa dingin yang samar namun menusuk. Pintu utama terbuka dengan keras, menampakkan sosok bertopeng yang berdiri di tengah kerumunan penyerang.

Sosok itu mengenakan jas panjang berwarna gelap, topeng menutupi separuh wajah, hanya menyisakan mata yang tajam dan penuh misteri. Di tangannya, liontin emas berbentuk bunga sama persis dengan yang pernah Aulia ceritakan sebagai peninggalan ibunya yang hilang berkilau di bawah cahaya matahari yang masuk dari celah atap.

“Alexandra Surya…” suara sosok itu berat, sedikit berubah nada seolah sengaja disamarkan. “Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Atau mungkin… kau belum pernah benar‑benar mengenal siapa aku sebenarnya.”

Alex berdiri tegak, senjata di tangan tetap terarah lurus ke dada sosok itu. “Siapa kau? Dan apa hubunganmu dengan ibunya Aulia?”

Sosok bertopeng itu tertawa pelan, suara tawanya bergema di ruang yang sempit. “Hubungan? Itu pertanyaan yang menarik. Tapi mari kita simpan itu untuk nanti. Saat ini, aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku dan juga untuk mengingatkanmu bahwa perjanjian lama antara ayahmu dan ayah Aulia tidak berakhir dengan damai.”

Tiba‑tiba, pertarungan meletus. Penyerang yang mengelilingi rumah menyerang serentak, namun anak buah Alex yang bersembunyi di sekitar halaman segera membalas dengan ketepatan yang mematikan. Suara tembakan, benturan tubuh, dan teriakan bercampur menjadi satu di udara. Alex bergerak lincah di antara lawan‑lawannya, setiap gerakannya penuh perhitungan gaya bertarung yang khas, warisan pelatihan keras masa kecilnya.

Di lorong belakang, Aulia dan Rio berjalan hati‑hati. Lorong itu sempit, berbau lembap, dan penuh debu. Namun Aulia yang hafal seluk‑beluk rumah masa kecilnya memimpin jalan dengan yakin. Di tengah perjalanan, mereka menemukan sebuah pintu besi kecil yang tertutup rapat, tidak ada di peta yang biasa dilihat orang lain.

“Ada ruangan tersembunyi di sini,” bisik Aulia. “Dulu ayahku melarang siapa pun masuk. Mungkin di sini ada jawaban yang kita cari.”

Saat mereka membuka pintu itu, terlihat ruangan kecil yang berisi tumpukan berkas, peta, dan benda‑benda peninggalan lama. Di sudut ruangan, ada meja kerja yang di atasnya tergeletak sebuah buku harian bersampul kulit merah. Aulia mengambilnya dengan tangan gemetar di halaman depan tertulis nama ibunya: Larasati.

Belum sempat membaca baris pertama, suara langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah belakang. Rio segera menempatkan diri di depan Aulia, senjatanya terarah ke sumber suara. Dari bayangan lorong, muncul sosok lain bukan penyerang yang sama, melainkan pria berbadan tegap dengan lengan penuh tato, yang wajahnya terlihat sedikit pucat namun penuh tekad.

“Jangan tembak,” ucap pria itu dengan suara terengah‑engah. “Aku bukan musuh. Aku dikirim oleh Pak Aris untuk melindungi Nona Aulia.”

Aulia mengenali nama Pak Aris, namun kewaspadaannya tidak hilang begitu saja. “Bukti apa yang kau punya?”

Pria itu mengeluarkan sebuah kartu identitas khusus dan pesan tertulis yang ditandatangani Pak Aris. Rio memeriksanya sebentar, lalu mengangguk pelan pada Aulia. “Bisa dipercaya untuk saat ini.”

Sementara itu, di bagian depan rumah, pertarungan semakin memuncak. Alex dan sosok bertopeng kini saling berhadapan sendirian, penyerang lain sudah dilumpuhkan atau mundur terpojok. Pertarungan mereka bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi juga strategi dan pengetahuan mendalam tentang gerakan lawan seolah mereka sudah pernah bertarung berkali‑kali sebelumnya.

“Kau bertarung seperti seseorang yang kukenal,” ucap Alex sambil menangkis serangan pisau dengan gagang senjatanya. “Tapi siapa pun kau, kau tidak akan bisa membawa Aulia pergi.”

Sosok bertopeng itu tersenyum miring di balik penutup wajahnya. “Aku tidak perlu membawanya pergi, Alex. Dia sendiri yang akan memilih berpihak padaku saat dia tahu kebenaran tentang siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.”

Kalimat itu seperti petir yang menyambar telinga Alex. Sebelum ia sempat merespons, sosok itu melompat mundur, melemparkan benda berasap ke lantai. Asap tebal segera memenuhi ruangan, menghalangi pandangan. Saat asap mulai menipis beberapa saat kemudian, sosok itu sudah menghilang tinggalkan hanya selembar kertas kecil yang tertancap di tiang kayu dengan pisau kecil.

Alex mengambil kertas itu. Isinya singkat dan mengancam: “Permainan baru saja dimulai. Aulia bukan hanya kunci, dia juga warisan yang diperebutkan dua dunia. Hati‑hati, Alex… cinta bisa menjadi kelemahan yang paling mematikan.”

Ketika Aulia, Rio, dan pria bernama Dimas itu kembali ke ruang utama, Alex masih berdiri diam memandangi tempat sosok bertopeng menghilang. Aulia mendekat, buku harian ibunya masih tergenggam erat di tangan.

“Ada banyak hal yang belum kita mengerti,” kata Aulia pelan. “Tapi di buku harian ini, ibu menulis tentang seseorang yang sangat ia cintai namun terpaksa ia tinggalkan demi keselamatan keluarganya. Dia menyebutnya ‘sahabat masa muda ayahmu yang membawa rahasia darah’.”

Alex memandang buku harian itu, lalu menatap Aulia dengan tatapan yang lebih lembut namun penuh pertimbangan. “Sosok bertopeng itu menyebutkan hal yang sama tentang ayah kandungmu yang mungkin bukan Herman, ayah yang kau kenal selama ini.”

Kabar itu membuat Aulia tertegun, namun rasa bingungnya perlahan berubah menjadi tekad. “Aku tidak takut kebenaran, Alex. Selama kita menghadapinya bersama, aku siap mencari tahu siapa diriku sebenarnya.”

Perjalanan pulang ke vila berjalan dalam keheningan yang penuh pemikiran. Di dalam mobil, di sela‑sela obrolan singkat tentang pengamanan tambahan, muncul percakapan yang menyentuh sisi rumah tangga dan cemburu halus.

“Tadi saat kau berhadapan dengan orang itu,” ucap Aulia tiba‑tiba, matanya menatap jalanan di luar jendela, “kau terlihat sangat… dingin. Seolah tidak ada yang bisa menghentikanmu. Kadang aku bertanya‑tanya, apakah sisi kejam itu akan berubah padaku jika aku melakukan kesalahan besar?”

Alex tersenyum tipis, lalu meraih tangan Aulia dan menggenggamnya erat. “Sisi kejamku hanya untuk musuh. Untukmu, aku tidak punya topeng itu. Cemburu yang kadang kau rasakan, atau kekhawatiranmu, itu bukti bahwa kita saling menjaga. Jangan biarkan masa lalu merusak apa yang kita bangun sekarang.”

Sesampainya di vila, suasana sudah diperketat berkali‑lipat. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat mereka memasuki ruang kerja, sekretaris pribadi Alex menyambut dengan wajah pucat.

“Tuan Alex… baru saja masuk laporan dari kantor pusat Surya Corp. Ada masalah besar di proyek kerja sama dengan grup internasional yang baru kita sepakati kemarin. Mitra utama kita tiba‑tiba menarik diri, dan ada laporan dana besar yang hilang dari rekening proyek tanpa jejak sah.”

Alex mengerutkan kening, rahangnya mengeras. “Siapa yang bertanggung jawab atas pengelolaan dana itu?”

“Menurut catatan… pengawas terakhir adalah orang yang direkomendasikan oleh… ayahmu, Tuan,” jawab sekretaris itu ragu‑ragu.

Belum sempat Alex memproses berita itu, ponselnya berdering lagi. Kali ini pesan datang dari nomor yang sama seperti sebelumnya nomor tanpa nama pengirim. Di layar tertulis:

“Selamat kembali ke istanamu, Alex. Tapi ingat, di dunia bisnis dan kekuasaan, musuh terbesar seringkali bukan orang asing, melainkan orang yang duduk di meja makan yang sama. Dan rahasia darah Aulia ternyata juga terikat erat dengan masa lalu bisnismu yang paling kau hindari… Buka lemari tua di kamar tidurmu malam ini, dan lihat apa yang tersembunyi di sana.”

Alex menatap pesan itu tajam, lalu menoleh ke arah Aulia yang juga mulai membaca buku harian ibunya dengan perasaan campur aduk. Di halaman yang baru saja ia buka, ada sketsa kecil sketsa wajah pria yang sangat mirip dengan sosok bertopeng tadi, dan di bawahnya tertulis: “Dia kembali… dan dia membawa perjanjian yang pernah ayah Alex tolak dengan harga mahal.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!